25 June 2012

Orang Flores di Malaysia




Saya sering menerima email atau komentar dari remaja keturunan Flores, NTT, yang tinggal di Malaysia. Mereka ternyata sering membaca tulisan di blog ini tentang cerita ringan di pelosok Flores Timur.

"Bapak saya orang Lembata (Flores Timur) tapi saya belum pernah ke sana," tulis Alice dari Labuan. "Saya suka lihat foto-foto kampung halaman orangtua saya di Ileape," tulis remaja dari Sabah.

Anak-anak muda ini tidak bisa berbahasa Indonesia, apalagi Lamaholot, bahasa daerah Flores Timur. Mereka menulis dalam bahasa Melayu Malaysia campur British. Alice bahkan selalu berbahasa Inggris.

Alice, Catherine, Maria dan kawan-kawan termasuk generasi kedua dan ketiga perantau Flores di Sabah dan Serawak. Sebab, orang Flores mulai mengadu nasib di Malaysia Timur (sangat jarang di Malaysia Barat karena rumit) sejak 1950an ketika Malaysia belum merdeka. Orang-orang Flores Timur ini jadi pekerja kasar di kebun, hutan, dan sebagainya karena tidak punya skill.

Dulu banyak yang buta huruf. Kalaupun sekolah hanya sampai SD, sekadar bisa membaca dan menulis sederhana. Sekali engkau merantau ke Sabah, kata orang Flores, engkau tak akan balik kampung. Hidup di Sabah jauh lebih enak. Ringgit banyak. Bisa makan enak.

"Kalau pulang kampung, kita makan apa?" kata orang Flores yang sudah karatan di Malaysia Timur. Lebih enak hujan ringgit di negara jiran daripada makan batu di Flores.

Di Sabah dan Serawak perantau Flores tentu tidak bisa leluasa bergaul dengan penduduk tempatan. Banyak yang ilegal alias pendatang haram. Belum lagi kendala bahasa, budaya, status sosial, pendidikan, agama. Maka, orang Flores punya semacam komunitas sendiri, seakan-akan memindahkan kultur Flores ke Malaysia.

Gaya bahasanya beda dengan Melayu Malaysia, tapi juga beda dengan bahasa Indonesia. Tapi di rantau mereka melestarikan seni budaya Lamaholot seperti tarian, upacara adat, dan nyanyian.

Mungkin 20 atau 50 tahun ke depan seni budaya Flores akan diterima jadi bagian dari budaya Malaysia. Siapa tahu?

3 comments:

  1. Menyedihkan membaca artikel diatas. Begitulah kehidupan manusia, selalu merasa kurang puas, beranggapan, hujan emas dinegeri orang, hujan batu dinegeri sendiri. Padahal pulau2 di Kepulauan Sunda Ketjil adalah Paradies. Mungkin seandainya saya seorang asli Lomblen, saya setelah pension akan kembali kepulau yang indah itu. Atau tidak akan meninggalkan pulau itu.
    Sayangnya nasib-ku seumur hidup ditakdirkan sebagai perantau atau tamu belaka. Aku hoakiao-bali, lalu hoakiao-jawa, hoakiao-eropa. Sekarang pun dinegeri leluhur-ku, aku dicap oleh orang Tiongkok sebagai hoakiao. Memang sudah suratan.

    ReplyDelete
  2. apa jadinya kalo budaya flores diakuin di malaysia? pastinya byk org2 kita yg blg bahwa flores itu asli indonesia timur. malaysia lg2 mengkalim budaya indonesia sbg bagian dari kebudayaan mereka. brani tanggung jawab ane gan, pasti kalimat itu yg kluar dari mulut org2 kita.. ane btul2 sedih baca artikel ne, tp mang bgtu knyataannya. byk org merantau utk memperbaiki ekonomi kluarga, dgn modal pas2an pekerjaan yg didapat pun pas2an.. ntah kapan indonesia ne mengalami kemajuan yg signifikan dan balance di tiap daerah.. :(

    ReplyDelete
  3. ekonomi memang jadi motif utama perantau. kalo ekonomi di kampung asal tak berkembang sulit menghentikan migrasi. itu juga yg dilakukan orang china jaman dulu yg membentuk budaya tionghoa yg khas.

    ReplyDelete