09 June 2012

Malam Jumat Legi di Kelenteng Cokro



Setelah rutin mengadakan tradisi suroan dalam beberapa tahun terakhir, kini Kelenteng Hong San Ko Tee menghidupkan kembali tradisi sembahyang bersama setiap malam Jumat Legi. Acara ritual khas masyarakat Jawa tradisional ini juga ternyata kian diminati masyarakat Tionghoa di Surabaya.

“Acara sembahyang malam Jumat Legi ini sudah kami adakan tiga kali. Kami ingin melestarikan tradisi yang sudah mengakar di kalangan masyarakat Jawa,” kata Juliani Pudjiastuti.

Menurut pengurus Kelenteng Hong San Ko Tee ini, pihaknya sepakat menghidupkan tradisi legian mengingat kelenteng di Jl Cokroaminoto 12 Surabaya ini sejak dulu memiliki altar khusus untuk menghormati Dewi Sri, yang dikenal sebagai dewi padi atau dewi kesuburan.

Setiap tanggal 1 Suro jemaat mengadakan sembahyang dan tumpengan di depan altar itu. Karena itu, Kelenteng Cokro, nama populer TITD Hong San Ko Tee, dinilai sebagai kelenteng yang sangat njawani.

“Bagaimanapun juga kami ini lahir di tanah Jawa meskipun keturunan Tionghoa. Jadi, kami pun harus ikut melestarikan tradisi budaya Jawa,” katanya.

Pada malam Jumat Legi lalu tampak puluhan jemaat berdatangan ke kelenteng. Setelah melakukan sembahyang secara pribadi, umat berkumpul dan menikmati tumpeng bersama (bancakan). Setiap malam Jumat Legi pengurus kelenteng memang menyiapkan tumpeng untuk bancakan sekaligus makan malam.

Sebagian tumpeng diberikan kepada masyarakat kurang mampu di sekitar kompleks kelenteng. “Biarpun sedikit, tapi bisa dinikmati bersama-sama,” kata Budi, salah satu jemaat.

Menurut dia, ritual legian kemarin juga sekaligus mendoakan mendiang Susanto yang meninggal dunia tujuh hari sebelumnya. Almarhum Susanto tak lain suami Juliani Pudjiastuti. “Mudah-mudahan mendiang Pak Santo mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi Tuhan,” kata Budi.

Kelenteng Hong San Ko Tee ini didirikan pada era Hindia Belanda. Sebelum menempati lahan di Jl Cokroaminoto, kelenteng ini berada di Pandegiling kemudian pindah ke Keputran. Izin bangunan keluar pada 24 September 1919.

Pada awal abad ke-19 itu kawasan Jl Cokroaminoto dikenal sebagai kompleks pemakaman. Makam-makam itu kemudian direlokasi untuk dibangun kelenteng dan sejumlah bangunan lain karena Kota Surabaya saat itu mulai berkembang ke arah selatan.

Nah, saat relokasi ke Cokro, pengurus kelenteng menemukan sebuah arca pemujaan dari batu yang belakangan diketahui sebagai Dewi Sri. Masyarakat kejawen saat itu pun kerap melakukan pemujaan atau semadi di lokasi arca Dewi Sri. Para pengurus kelenteng akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah altar khusus untuk menghormati Dewi Sri.

Arca yang dulu berada di kompleks kuburan pun diletakkan di altar. Ini merupakan sinkretisme yang menarik karena tak lazim mengingat kelenteng merupakan rumah ibadat Tionghoa.

"Bagaimanapun juga kami-kami ini kan lahir di tanah Jawa, sehingga perlu menghayati tradisi dan budaya Jawa," kata Budi.

No comments:

Post a Comment