03 June 2012

Ka Kien di Kelenteng Mojosari



Selama 10 tahun lebih Ka Kien membaktikan hidupnya untuk mengurus Kelenteng Hiap Tian Kong, Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Meski tak punya istri anak, Ka Kien mengaku merasakan ketenangan tinggal di dalam kompleks tempat ibadah Tridharma itu.

Kegiatan rutin Ka Kien sangat teratur. Pagi-pagi buta dia sudah harus menyeduh teh tawar untuk disajikan kepada Dewa Kwan Kong, Dewi Kwan Im, dan dewa-dewi penghuni kelenteng. Teh yang digunakan pun teh kualitas terbaik. Masing-masing dewa mendapat jatah tiga cangkir kecil. Sebelum menyajikannya, Ka Kien harus melakukan sembahyang atau ritual khusus.

"Bekerja di sini membuat saya lebih banyak sembahyang. Beda dengan orang-orang lain yang lebih banyak berpikir bagaimana mencari uang," kata Ka Kie kepada saya pekan lalu
.
Sembahyang pagi di semua altar juga secara tidak langsung 'memaksanya' untuk mengelilingi seluruh areal kelenteng yang didirikan pada 1897 itu. Saat itulah dia memperhatikan bagian-bagian kelenteng yang rusak atau kotor. Kemudian Ka Kien bersama seorang pekerja lainnya membersihkan dan mengepel kelenteng. Rumah kita saja selalu dibersihan, apalagi kelenteng yang dipakai untuk sembahyang, kata pria asal Surabaya ini.

Usai melaksanakan tugas rutinnya, Ka Kien tetap standby di dalam kelenteng. Sebab, setiap saat ada saja pengunjung yang datang untuk sembahyang atau sekadar mampir. Bisa juga ada siswa sekolah Minggu yang datang untuk belajar agama Buddha. Maklum, para siswa buddhis kerap menggunakan salah satu ruangan kelenteng untuk belajar agama Buddha pengganti pelajaran di sekolah.

"Kalau saya pergi atau jalan-jalan, siapa yang akan melayani pengunjung?" tukasnya.

Meski sembahyang rutin dilakukan setiap tanggal 1 dan 15 bulan Imlek, kelenteng harus dibuka setiap hari. Sebab, banyak warga Tionghoa yang sengaja mampir ketika hendak menuju ke kawasan wisata Pacet atau Trawas.

"Ramainya sih pasti tanggal 1 dan 15 penanggalan Tionghoa. Biasanya sekitar 20 sampai 30 orang yang datang sembahyang," katanya.

Seperti kelenteng-kelenteng di tempat lain, menurut Ka Kien, jumlah jemaat yang datang ke TITD Hiap Tian Kiong mengalami penurunan tajam sejak era Orde Baru. Anak-anak muda Tionghoa saat itu enggan datang ke kelenteng seperti orangtua atau engkong mereka.

Bagaimana kondisi sekarang setelah reformasi?

"Lumayan, tapi tidak seperti zaman saya masih kecil. Zaman dulu umat yang datang sampai ratusan orang. Sekarang ini 20 orang saja sudah bagus," paparnya.

No comments:

Post a Comment