15 June 2012

Iklan kematian orang Tionghoa




Mengapa orang Tionghoa disukai pekerja media? Salah satunya karena orang Tionghoa punya budaya beriklan. Sejak era Hindia Belanda orang Tionghoa sudah kenal media khususnya surat kabar dan majalah.

Sebagai pebisnis, orang Tionghoa tahu betul manfaat dan efektivitas iklan bagi pengembangan usaha. Beda dengan orang pribumi yang kebanyakan petani, nelayan, pegawai negeri, atau tentara/polisi yang tidak punya budaya beriklan.

Segala macam produk diiklankan orang Tionghoa. Sabun, kecap, makanan minuman, film hingga dukacita. Nah, iklan kematian atawa dukacita inilah yang menurut saya sangat menonjol. Tidak ada etnis di Indonesia yang aktif menginformasikan berita kematian di surat kabar ketimbang Tionghoa.

Tak hanya orang kaya, Tionghoa yang biasa pun berusaha pasang iklan ketika keluarganya ada yang meninggal. Saat ini perusahaan jasa pemakaman dan peti mati melayani iklan kematian secara paketan.

Ketika taipan LIEM SIOE LIONG meninggal dunia, wuih.. media besar panen iklan besar berhalaman-halaman. Dan berhari-hari. Berapa miliar yang masuk ke media cetak khususnya.

Mana ada orang kita (pribumi) yang mau pasang iklan besar seharga ratusan juta untuk woro-woro kematian? Ada orang pribumi yang merasa aneh menghabiskan uang banyak untuk iklan dukacita.

Mengapa budaya iklan kematian sangat kuat di kalangan Tionghoa? Saya kira ini terkait dengan statusnya sebagai masyarakat diaspora. Orang Tionghoa tersebar di mana-mana, punya keluarga di mana-mana, tak terpusat di suatu tempat.

Maka, iklan di media massa jadi sangat penting untuk menginformasikan kematian salah satu anggota keluarga kepada sanak kerabatnya... di mana saja.

6 comments:

  1. Haiya, lu pintel, lah Hulek. Memang kita olang Tionghoa bisanya dagang, dan sodala semua ada mana-mana. Makanya kita olang pellu pasang iklan itu kalo ada yang mati, kalo mau jual balang. Olang pelibumi sebenalnya juga pintal, tapi polofesinya meleka itu banyak. Kalo kita olang dali dulu itu tidak dikasi jalan, balu belakangan ini dikasi bole masuk polofesi yang lain. Jadi kita olang dagang saja pintal. Kamsia lu, haiyaaaa.

    ReplyDelete
  2. haiya... kamsia yg byk sudah kasih komentar.

    ReplyDelete
  3. turut berduka cita...
    selamat jalan, opa Liem!

    ReplyDelete
  4. kalau membaca iklan kematian orang tionghoa di indonesia, gua jadi pusing. diseluruh dunia yang memakai nama marga ( she ) pertama kalinya adalah kita orang cina. lalu ditiru oleh orang eropa dan diteruskan ke bangsa2 dan suku2 lainnya. she gua sudah ada sejak 4000 tahun yang lalu. sekarang di indonesia, disimak dari iklan kematian orang tionghoa, ada sesama saudara kandung yang nama keluarganya ber-beda2. engkongnya she oei atau tan, tetapi anak cucunya ada yang sutanto, tanoto, tanoe, tani, widodo, widjaja, wilopo....dst. kalau sudah ganti nama, mengapa tidak memakai nama famili yang seragam ? masakah kalah sama orang2 batak.
    setelah 3 generasi berikutnya, bagaimana para anak cucu bisa mengetahui, bahwa mereka sebenarnya masih saudara sepupu ? khan akibatnya bisa terjadi inzest. kita orang cina biasanya memiliki nama yang terdiri dari suku.
    suku pertama she, suku kedua tingkatan generasi, jadi praktis nama kita cuma satu, yaitu suku terachir. jika kesalahkaprahan yang terjadi tidak direvisi secepat mungkin, maka para tionghoa-indonesia generasi2 selanjutnya akan punya otak cuman secangkir, akibat inzest.

    ReplyDelete
  5. owh,,, seperti itu toh,,
    Adakah alasan yang lain??

    ReplyDelete
  6. Klo beberapa suku2 pribumi biasanya ngasi tau melalui surat yg diantar ke kerabat dekat atau jauh. Ini masih dipakai bahkan hingga jaman ponsel dan internet sekarang.

    ReplyDelete