17 June 2012

Hilangnya tulisan tangan miring



Setelah menyaksikan film SOEGIJA, saya tertarik dengan model tulisan tangan sang uskup. Pakai pulpen dengan tinta botolan, tulisan beliau sangat rapi, mirip ke kanan. Kata-katanya sangat inspiratif.

Tak hanya Uskup Soegijapranata, gaya tulisan tangan orang-orang lama, pemikir dan pejuang kemerdekaan rata-rata sama: rapi, miring kanan, bertali. Ada halus kasarnya. Meski bukan kaligrafi, tulisan tangan jadul ini punya nilai seni.

Lalu, sejak kapan tulisan tangan indah miring kanan itu hilang dari Indonesia?

Saya amati pola menulis indah ini mulai tergusur tahun 1980an. Bahkan orang yang lahir pada awal 1970 menulis tegak lurus dengan huruf balok.

Orang-orang Indonesia kelahiran di bawah 1960 konsisten menulis miring kanan, rapi, bagus. Mungkin karena saat itu masih menggunakan pena dan pulpen yang lebih efektif untuk menulis huruf miring. Setelah pena dan pulpen tergusur oleh bolpoin, huruf tegak jadi populer sampai sekarang.

Makin lama gaya tulisan tangan makin bebas dan jauh dari artistik. Huruf besar yang hanya dipakai di awal kata, nama orang, nama tempat, nama negara dsb mulai dioplos secara bebas. 

Anak muda sekarang lazim memasang huruf besar di mana saja, bahkan dalam satu kata. Aturan EYD diabaikan begitu saja.

Asyik juga membaca tulisan tangan tokoh-tokoh besar macam Sukarno, Hatta, Natsir, Sjahrir, Soegija dan sebagainya. Gaya yang indah ketika mesin ketik masih jarang, komputer belum ada, smartphone jauh dari bayangan.

Ketika komputer, laptop, smartphone sudah jadi barang massal macam sekarang, mungkin suatu saat kelak orang Indonesia tidak bisa lagi menulis tangan, tapi cukup mengetik di keyboard laptop atau smartphone. 

Seperti orang di luar Tiongkok yang belajar bahasa Mandarin secara instan. Daripada membuat 7 goresan dengan tangan, dan belum tentu benar, lebih baik memilih karakter hanzi yang sudah disediakan komputer atau smarphone.

Dan itu berarti seni menulis indah ala Bung Karno hanya menjadi catatan sejarah belaka.

7 comments:

  1. First of all apology for writing in English, but my Indonesian is very very bad (writing wise).

    I was just talking with a Chinese friend a few days back. By what I got told is that becayse most people are using smartphone and computers to type up letter and notes, ada banyak anak muda yang kadang2 lupa bagaimana menulis Chinese characters by hand.

    untuk kata2 sehari2 they are ok, but for specific terms, they have to check their smartphones to see if they have written the characters correctly.

    So the problem is not limited to "orang orang di luar Tiongkok" saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. no problem sir.
      please write in english. thanks.

      Delete
  2. ini kan perkembangan jaman yg bagus. org modern lebih byk mengetik bukan menulis dg tangan kayak jaman dulu. tapi tulisan tangan gak mungkin hilang meski makin sedikit digunakan dlm kehidupan sehari2. now is computers age man!

    ReplyDelete
  3. more faster more eassier to type than write. handwriting is past i think

    ReplyDelete
  4. Generasi saya, yang di Eropa lazim disebut generasi 68, adalah generasi yang menciptakan PC. Generasi ini juga mengalami belajar menulis disekolah rakyat dengan batu-tulis, potlot, pen-tutul, pulpen, lalu dengan bolpen, mesin ketik dan PC. Selain itu saya juga harus belajar menulis dengan mao-bi (毛笔), kadang2 dengan arang atau kapur diatas lantai semen. Mungkin generasi ini yang terachir, yang masih mau menghargai tulisan tangan yang indah dan rapi. Orang2 tua generasi Bung Karno, sangat indah tulisannya, walaupun sebagian besar hanya lulusan MULO, setingkat SMP.
    Tiap zaman memiliki generasi-nya masing2. Tiap generasi memiliki kenangan sendiri2.
    Generasi saya ini, tiap hari, kecuali minggu, masih mengalami kerinduan me-nanti2-kan kedatangan pak pos. Betapa senangnya hati menerima sepucuk surat cinta dari pujaan hati, yang sebenarnya teman sekelas dan sekota.
    Di Kantor Pos, kita bisa membeli kartu-pos, warkat-pos atau prangko untuk amplop.
    Lagu2 top zaman itu banyak yang bersangkutan dengan surat, yang sudah tentu ditulis dengan tangan dan pulpen. Misalnya, please mr. postman,
    mr. postman, sepucuk surat cinta, sesampul surat,...dll.
    Zaman sekarang suami-istri mau bercerai, cukup SMS saja dengan telepon genggam. Dulu kita harus tulis surat, sajak atau pantun, yang sering tercantum kata2, dunia tak sedaun kelor.

    ReplyDelete
  5. Walaupun usia saya baru 42, saya menulis tangan seperti generasi Bung Karno. Kenapa? Karena guru2 saya di sekolah katolik di kawasan Kepanjen dulu lulusan SPG, SGA pendidikan ala Belanda, dan menekankan "penmanship" yang baik. Sekarang pun walaupun saya lancar menggunakan iPhone, iPad, PC/Mac, saya tetap mampu menulis dengan halus. Terima kasih Pak Frans, guru Bahasa Indonesia dan Seni Musik di SMPK AC periode 80-an.

    ReplyDelete