24 June 2012

Harvey Malaiholo tidak dikenal



Minggu lalu Harvey Malaiholo dan rombongan dari Jakarta mampir di Surabaya. Berdiri, ngobrol, di depan sebuah gedung bertingkat yang sangat terkenal. Kebetulan Harvey akan mengisi konser jazz di Surabaya.

Begitu banyak orang melintas masuk keluar gedung. Tapi saya perhatikan agak lama; tak ada seorang pun yang mengenali Harvey Malaiholo. Tidak minta tanda tangan. Tak minta foto bareng. Atau hanya sekadar bersalaman.

Harvey sih santai saja. Dia kelihatan senang bisa nyanyi lagi setelah cukup lama tak manggung di Surabaya. "Kegiatan saya tetap padat, nyanyi di mana-mana," katanya.

Hanya saja, artis lawas macam Harvey Malaiholo ini sudah tak dapat tempat di televisi dalam 15 tahun terakhir. Tak dapat tempat di industri hiburan. Maka, wajar jika masyarakat baik yang muda dan tua tak kenal siapa gerangan Harvey Malaiholo. Saya lihat Harvey tak ubahnya rakyat biasa, bukan artis penyanyi dengan suara yang sangat berkualitas.

Dulu Harvey macan festival. Langganan juara satu sehingga panitia sampai melarang dia ikut festival yang sama. Kasih kesempatan untuk yang lain. Kedahsyatan vokal Harvey akan terasa luar biasa jika dia membawakan komposisi dan aransemen karya Elfa Secioria.

Sayang, Indonesia tak memberi tempat untuk artis senior. Artis kita tak boleh tua. Usia artis kita harus tetap di bawah 30. Ketika usia si artis merambat naik, maka dia segera digantikan artis muda tak peduli kualitasnya. Maka, bakat sebesar Harvey pun hanya bisa ngamen kecil-kecilan sekadar bisa tetap dapat duit.

"Harvey itu sopo? Bekas pejabat ya?" kata seorang mahasiswa saat saya tes pengetahuannya tentang Harvey Malaiholo.

Pejabat endasmu, Cak!

No comments:

Post a Comment