05 June 2012

Flores Pulau Pancasila



Dalam buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT karya Cindy Adams, 1966, Bung Karno berkata;

"Di Pulau Bunga yang sepi dan tak berkawan aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya merenung di bawah pohon. Ketika itulah datang ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila."

Pulau Bunga itu nama lain Pulau Flores di NTT. Kita tahu Bung Karno pernah diasingkan selama empat tahun di Flores, 1934-38. Banyak pemikiran besar dilahirkan Sukarno di Flores, salah satunya Pancasila.

Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa Flores sedikit banyak punya kontribusi bagi republik ini. Flores sejak awal ikut dalam proyek besar bernama Indonesia. Flores sama sekali berbeda dengan Timor Timur yang dianeksasi pada 1975-76 kemudian lepas lagi menjadi negara sendiri.

Ketika Timtim alias Timor Leste merdeka, beberapa teman di Jawa iseng bertanya; kapan Flores merdeka? Kan orang Flores sama ras, budaya, dan agama dengan Timtim.

Saya mula-mula senyum kecut karena banyak orang yang tidak tahu sejarah Pancasila dan inspirasi Bung Karno di bawah pohon sukun di Ende, Flores. Saya bilang Flores tidak mungkin lepas dari Indonesia. Pancasila itu dikonsep Sukarno di Flores kemudian dipidatokan beliau di BPUPKI tangga 1 Juni 1945.

Bagaimana mungkin pulau yang 'melahirkan' Pancasila mengikuti jejak Timtim yang notabene bukan eks Hindia Belanda? Lalu saya ceritakan masa pembuangan Sukarno di Flores hingga persoalan Timtim.

Yah, sejelek-jeleknya Flores, ada satu sisi sejarah yang layak dibanggakan. Ketika orang bicara Pancasila, hari lahir Pancasila, dasar negara, falsafah bangsa... mau tidak mau orang ingat Bung Karno. Dan ingat ilham dari Pulau Bunga itu.

Sayang, setelah reformasi Pancasila semakin dilupakan orang, termasuk politisi, pejabat, tokoh masyarakat. Orang Indonesia yang dulu dikenal ramah, toleran, bersahabat kini makin sulit menerima si liyan. Pancasila hendak diganti dengan teokrasi yang melenceng jauh dari visi Sukarno dan para bapak bangsa.

Quo vadis?

2 comments:

  1. Para pemuka agama Islam dulu mau berkompromi dengan para pemimpin bangsa yang lain, dengan antara lain membuang kalimat "... dengan kewajiban menjalankan syariah Islam bagi pemeluknya" dari sila pertama Piagam Jakarta, sehingga rumusan Pancasila diterima oleh wakil2 dari agama minoritas dan Indonesia bagian timur. Para pemuka agama Islam yang sekarang sebenarnya masih bervisi nasionalis dan mengakui keragaman juga, tetapi mereka takut terhadap mereka2 yang bersorban putih dan pakai parang. Pemerintah yang sekarang juga tidak punya gigi. Polisinya takut malah bersekutu dengan mereka yang berlagak Arab (se-akan2 semakin Arab semakin Islami). Keputusan MA tidak ditegakkan, malah dilecehkan. Payah, payah.

    ReplyDelete
  2. Bung Hurek, kali ini saya tidak ingin berpolemik tentang masyarakat kita yang tidak paham ajaran TRISAKTI Bung Karno, masyarakat yang ingin merubah dan mengganti Budaya Indonesia menjadi budaya Timur-Tengah, mereka2 yang tidak mau mengerti, Sabang sampai Merauke bukanlah hanya wujud geografi di atlas, melainkan wujud Kebangsaan yang diinginkan oleh Presiden Soekarno.
    Saya termasuk generasi yang ikut nongkrong didepan radio djadoel setiap tanggal 17 Agustus, mendengarkan pidato2 Bung Karno yang menggelegar.
    Rumah saya bertingkat 3 : tingkat 1 adalah wilayah saya, tingkat 2 wilayah istri, dan tingkat 3 wilayah putra saya. Tidak ada dari mereka yang mau berdiam lama2 ditingkat 1, sebab bau asap rokok yang menyengat.
    Setiap pagi istri-saya dengan wajah cemberut dan ter-gesa2 mengantarkan sarapan pagi, secangkir kopi dan roti bakar, lalu cepat2 meninggalkan ruangan
    ditingkat 1, sebab dia tidak tahan kena asap rokok.
    Anehnya pagi ini, istri-saya mengantar sarapan dengan wajah yang sangat gembira, tertawa ter-pingkal2, sampai mengeluarkan airmata.
    Saya heran, bertanya; opo-o lu guyu ?
    Istri-saya mengeluarkan Handphone-nya, dan berkata sambil masih ketawa cekikikan. Ini coba lu lihat video yang tadi malam gua dapat kiriman dari teman di Indonesia. Judulnya Sholeh belajar menghafal Pancasila.
    Baru Sila pertama, Sholeh sudah gagal. Selalu, berulangkali yang diucapkan:
    Kehutanan Yang Maha Esa. Achirnya Sholeh menyerah, berkata kepada Pak Guru,
    wis aku ora iso !
    Melihat video itu, saya otomatis ikut tertawa ter-pingkal2 sampai berlinang airmata.
    Kamsia Sholeh, gara2 lu, pertama kali istri-gua tertawa mengantarkan sarapan pagi.

    ReplyDelete