07 June 2012

Daging landak gurih nian

Orang-orang desa di kawasan Seloliman, Trawas, Mojokerto, punya kebiasaan memburu landak. Binatang berduri tajam ini rupanya banyak mendiami lereng Gunung Penanggungan yang sejuk itu.

Tapi tidak mudah menangkap si landak. Ada unsur hoki dan ciongnya. "Kalau nasib baik dapatnya gampang, kalau jelek ya gak dapat sama sekali," kata seorang pemburu kepada saya.

Para pemburu ini punya anjing-anjing terlatih. Begitu mengendus landak ramailah para anjing itu. Tapi populasi landak tak sebanyak 10 tahun lalu. Maklum, daging landak banyak penggemarnya. Sangat laris.

Landak yang besar dijual Rp100 ribu, yang sedang 80 ribu. Mbak Hasanah pasti beli karena warungnya punya banyak peminat landak. "Jualan landak itu gak kiro rugi," kata kenalan dekat saya ini.

Kemarin saya berada di Seloliman. Kebetulan ada krengsengan landak. Gurih rasanya. Lebih enak lagi kalo dibuat rawon sama Mbak Hasanah.

Ada 8 orang dari Tulangan Sidoarjo menikmati sajian landak ditemani bir hitam dan bir biasa. Minuman2 kayak begitu memang banyak tersedia di kawasan wisata Trawas, Pacet dan Tretes. Sebaiknya anda tidak minum karena harganya mahal dan fungsinya pun tak ada.

Setelah mendapat pencerahan dari aktivis lingkungan, saya pun sadar bahwa berburu landak sebetulnya merusak keseimbangan alam. Jelek-jelek begitu landak tentu punya fungsi dalam rantai makanan. Apa jadinya kalau landak2 itu punah hanya demi memenuhi nafsu makan orang kota yang kadang aneh-aneh itu?

Tapi melarang perburuan landak jelas tidak mudah. Nilai ekonomisnya terlalu tinggi dan cara mendapatkannya pun mudah - bagi orang2 Trawas yang berpengalaman.

Kasus landak ini sama dengan ular yang juga diburu untuk konsumsi sejumlah orang yang doyan makanan eksotis. Kalau populasi ular berkurang, apalagi sampai habis, tikus2 akan merajalela di sawah.

2 comments:

  1. Sayang sekali kl. landak diburuh untuk dimakan.Dia menjaga keseimbangan alam, kalau manusia tambah lama tambah rakus.Seperti karena tidak ada ular bakal datang "wabah" tikus.Disini landak dilindungi,dan ada stasiun-2 tertentu yang merawat mereka,biasanya musuhnya bukan manusia,melainkan kendaraan bermotor.
    Kami harus belajar mencintai alam,terutama untuk anak-cucu kita.

    ReplyDelete
  2. Dikebun rumah saya, malam hari kalau musim panas dan musim gugur, sering kedatangan landak yang memangsa bekicot dan cacing. Ya, biarkan saja binatang itu berkeliaran.
    Waktu muda saya sering kepantai Kenjeran, disana saya selalu melihat bibik2 menjual binatang laut yang disebut Mimi. Saya dulu tidak tahu, mau diapakan binatang itu, siapa yang mau beli ?
    Pertama kali saya makan mimi, cacing laut, ular dan daging anjing, yaitu 12 tahun lalu ketika diundang makan oleh para pejabat pemerintah Tiongkok, sebagai tamu negara.
    Yang enak cuma daging Mimi, dimasak asam-manis-pedas. Kalau makan seefood direstoran cina, 8 - 10 orang, ada ikan bawal, udang, kepiting, kerang, sayur, dll paling2 habis 700 renminbi, namun kalau mau ditambah ikan Mimi, maka habisnya bisa 1400 renminbi. Jadi mimi tidak bakal punah, atau sudah hampir punah, sebab harganya mahal sekali.
    Sebelum punah, silahkan Bung Hurek coba sekali, pasti kepitingnya Cak Gundul kalah.

    ReplyDelete