06 June 2012

Buku dangdut Prof Andrew Weintraub




Dangdut itu musik rakyat. Anehnya, tidak ada ada ahli kita yang melakukan kajian secara mendalam baik dari aspek sosial, budaya, sejarah, dsb. Yang serius melakukan penelitian justru orang Amerika.

Prof Andrew Weintraub PhD dari dari University of Pittsburgh USA baru saja meluncurkan buku DANGDUT versi bahasa Indonesia di Unair Surabaya. Buku ini aslinya berbahasa Inggris berjudul DANGDUT STORIES pada 2010. Peneliti yang sangat gemar dangdut, khususnya Rhoma Irama, ini memberikan kontribusi besar pada literatur musik kita yang memang sangat minim.

Andrew, begitu pak profesor botak ini minta disapa, menelusuri jejak dangdut sejak masih cikal-bakal protomelayu, kemudian melayu deli, orkes melayu, gebrakan Rhoma Irama, hingga masyarakat mulai kenal musik genre dangdut. Andre bahkan membahas juga dangdut daerah, koplo, hingga artis-artis erotis macam Inul atau Trio Macan.

"Jangan panggil saya Profesor atau Doktor! Panggil saja Andrew supaya lebih akrab," kata Andrew Weintraub kepada saya dalam beberapa kesempatan. Inilah bedanya orang USA yang rendah hati meskipun hebat ketimbang orang kita yang cenderung gila gelar, suka mencantumkan banyak titel, meskipun penelitiannya tidak jelas. Banyak juga lho doktor dan profesor palsu di Indonesia.


Mana ada buku cerita dangdut sedetail dan selengkap ini? Andrew memburu rekaman-rekaman awal berupa piringan hitam sejak era Hindia Belanda hingga masa kini. Dia menyimak dan menganalisis struktur lagu, instrumentasi, cara nyanyi, syair, hingga penampilan musisi.

Saya pastikan orang Indonesia sekalipun, termasuk orang dangdut, tidak punya bahan-bahan yang dipunyai Andrew Weintraub. Rhoma Irama sendiri kaget melihat koleksi rekaman Andrew yang luar biasa. "Suatu saat kita belajar dangdut di Amerika," gurau Abdul Malik Buzaid (sekarang almarhum), personel OM Sinar Kemala Surabaya.

Saya beruntung diajak Andre mengikuti proses wawancara dan pengumpulan bahan-bahan dangdutnya di Surabaya. Dia temui musisi Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala yang sangat terkenal pada 1960an. Mula-mula diskusi bersama di Hotel Hyatt, kemudian Andre menemui satu per satu pemusik di rumah masing-masing. "Supaya mereka bisa bicara lebih jujur dan bebas," katanya.

Dia juga survei orkes dangdut di Gang Dolly tempat prostitusi. Bahkan dia jadi vokalis dadakan dengan lagu-lagu Rhoma. Totalitas yang luar biasa.

Saya pun terkagum-kagum dengan cara kerja pakar USA. Dia harus bertemu muka one on one dengan sumber. Dan harus sumber pertama kecuali yang sudah meninggal dunia. Maka dia keliling Indonesia untuk menggali dangdut yang fenomenal itu.

Kapan ahli-ahli kita bisa ngelutus kayak Amrik?

Oh ya, saya juga berterima kasih karena Andrew mencamtumkan nama saya di kata pengantar buku dangdutnya baik yang versi bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

"Setelah ini saya akan melakukan penelitian tentang musik KOPLO. Sangat unik dan menarik," kata profesor yang ramah ini.

2 comments:

  1. kak L. Hurek, bangsa kita kurang suka yang berbau ilmiah seperti penelitian dsb, tapi lebih suka dengar lagu dangdutnya, perlu satu generasi untuk menjadikan bangsa kita menghargai sesuatu yang ilmiah.

    ReplyDelete
  2. Untuk bisa menyokong peneliti mahir macam Pak Andrew Weintraub ini, masyarakatnya harus makmur dulu. Kalau tidak bisa makan, dan punya sandang papan yang cukup, mana mau rakyat mendukung orang untuk meneliti. Agar makmur, perlu adil dulu. Kalau tidak ada keadilan, orang tidak mau bekerja keras, karena dirampok oleh yang berkuasa. Maka itu, bekerjalah dan berjuanglah untuk keadilan.

    ReplyDelete