27 June 2012

Menkes Nafsiah Mboi kurang sensitif





Belum dua minggu jadi menteri kesehatan, Nafsiah Mboi sudah bikin polemik gara-gara kondom. Pernyataannya tak baru. Dari dulu semua penggiat LSM anti-HIV/AIDS bicara macam itu. Tapi rupanya Nafsiah lupa bahwa sekarang dia bukan lagi aktivis LSM melainkan menteri.

Menteri itu jabatan politis. Dus semua ucapan, tindakan, kebijakan menkes pasti punya dimensi politis. Apa yang disampaikan Nafsiah soal kondom untuk masyarakat rentan tak masalah ketika dia belum jadi menteri. Tapi setelah jadi menteri, Nafsiah tidak bisa seperti itu.

Nafsiah rupanya lupa bahwa Indonesia ini negara yang unik. Ngono yo ngono tapi jangan begitu. Sebagian besar politisi, tokoh masyarakat, apalagi agamawan menolak kondom di luar fungsi kontrasepsi. Kondom hanya dipakai suami, titik. Hubungan seksual hanya boleh dilakukan suami-istri.

Bagaimana dengan pelacuran? Hubungan seks di luar nikah? Hubungan seks dengan pacar?

Tidak dibenarkan! Begitu pandangan konservatif yang berlaku di Indonesia. Bahkan, banyak rohaniwan menolak segala macam alat kontrasepsi, termasuk kondom untuk pasutri.

Nah, rupanya Nafsiah Mboi lupa bahwa sekarang ini dia menkes, bukan orang LSM dan sejenisnya. Dia buta politik dan kurang sadar bahwa statemennya menimbulkan perlawanan keras kalangan agamawan. Salah sendiri bu menkes!

Menkes Nafsiah seharusnya fokus mengurusi masalah kesehatan rakyat miskin. Biaya berobat terlalu mahal. Angka kematian masih tinggi. Masih banyak orang terpaksa ke dukun karena tak mampu bayar rumah sakit, obat, dokter.

Setiap kali ada bakti sosial, ratusan bahkan ribuan orang datang untuk berobat secara gratis. Mengapa? Pemerintah dan menkes belum bisa menyediakan layanan kesehatan gratis untuk orang miskin. Seandainya pelayanan kesehatan sudah menjangkau rakyat miskin, gratis, kontinu, berkualitas... baksos-baksos itu tak ada lagi.

Seharusnya Menkes Nafsiah fokus pada pelayanan kesehatan rakyat miskin. Gratiskan rumah sakit! Berikan makanan sehat! Bukan malah membahas masalah kondom yang tidak urgen.

Semoga kontroversi kondom ini ada hikmahnya.

25 June 2012

Orang Flores di Malaysia




Saya sering menerima email atau komentar dari remaja keturunan Flores, NTT, yang tinggal di Malaysia. Mereka ternyata sering membaca tulisan di blog ini tentang cerita ringan di pelosok Flores Timur.

"Bapak saya orang Lembata (Flores Timur) tapi saya belum pernah ke sana," tulis Alice dari Labuan. "Saya suka lihat foto-foto kampung halaman orangtua saya di Ileape," tulis remaja dari Sabah.

Anak-anak muda ini tidak bisa berbahasa Indonesia, apalagi Lamaholot, bahasa daerah Flores Timur. Mereka menulis dalam bahasa Melayu Malaysia campur British. Alice bahkan selalu berbahasa Inggris.

Alice, Catherine, Maria dan kawan-kawan termasuk generasi kedua dan ketiga perantau Flores di Sabah dan Serawak. Sebab, orang Flores mulai mengadu nasib di Malaysia Timur (sangat jarang di Malaysia Barat karena rumit) sejak 1950an ketika Malaysia belum merdeka. Orang-orang Flores Timur ini jadi pekerja kasar di kebun, hutan, dan sebagainya karena tidak punya skill.

Dulu banyak yang buta huruf. Kalaupun sekolah hanya sampai SD, sekadar bisa membaca dan menulis sederhana. Sekali engkau merantau ke Sabah, kata orang Flores, engkau tak akan balik kampung. Hidup di Sabah jauh lebih enak. Ringgit banyak. Bisa makan enak.

"Kalau pulang kampung, kita makan apa?" kata orang Flores yang sudah karatan di Malaysia Timur. Lebih enak hujan ringgit di negara jiran daripada makan batu di Flores.

Di Sabah dan Serawak perantau Flores tentu tidak bisa leluasa bergaul dengan penduduk tempatan. Banyak yang ilegal alias pendatang haram. Belum lagi kendala bahasa, budaya, status sosial, pendidikan, agama. Maka, orang Flores punya semacam komunitas sendiri, seakan-akan memindahkan kultur Flores ke Malaysia.

Gaya bahasanya beda dengan Melayu Malaysia, tapi juga beda dengan bahasa Indonesia. Tapi di rantau mereka melestarikan seni budaya Lamaholot seperti tarian, upacara adat, dan nyanyian.

Mungkin 20 atau 50 tahun ke depan seni budaya Flores akan diterima jadi bagian dari budaya Malaysia. Siapa tahu?

24 June 2012

Dirikan telur di Pak Kik Bio



Puluhan umat Kelenteng Pak Kik Bio Surabaya Sabtu (23/6/2012) mengadakan perayaan Pecun atau Toan Ngo. Selain sembahyang bersama, sebagian jemaat mendirikan telur ayam.

Surya Aji menjelaskan, perayaan Pecun setiap tanggal 5 bulan kelima Imlek ini sangat khas karena posisi bulan, bumi, dan matahari berada pada garis lurus. Gravitasi yang ditimbulkan pun paling besar. Karena itulah, telur bisa didirikan dengan mudah.

"Paling efektif mulai jam 11.00 sampai 13.00," jelas pengurus kelenteng di Jl Jagalan ini.

Tak ingin melewatkan momentum pecun yang cuma sekali setahun, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia mencoba mendirikan telur ayam yang sudah disiapkan panitia. Ternyata butuh ketenangan dan ketelatenan. Ada yang bisa dengan mudah mendirikan telur, ada yang cuma satu dua butir, dan ada yang tak mampu mendirikan sebutir pun.

"Kalau dicoba pelan-pelan pasti bisa," kata Surya kepada saya. Maklum, selama satu jam saya tak mampu mendirikan sebutir telur pun.

Selain mendirikan telur, perayaan pecun atau duan wu juga ditandai dengan pesta bacang. Masyarakat Tionghoa umumnya memesan makanan yang terbuat dari ketan berisi daging ini bersama keluarga.

"Kalau zaman dulu hampir semua keluarga memasak sendiri di rumah. Tapi sekarang bisa dipesan di toko-toko tertentu," kata Gunawan, warga Tionghoa yang selalu mengadakan pesta bacang di rumahnya.

Menurut dia, secara harfiah pecun berarti mendayung perahu. Karena itu, komunitas Tionghoa di daerah-daerah tertentu seperti Singkawang atau Cisadane biasa mengadakan lomba dayung perahu setiap tanggal 5 bulan kelima Imlek. Acara tahunan ini biasa disaksikan ribuan orang dan menjadi daya tarik pariwisata.

"Kalau di Jatim pecun ini kurang begitu menonjol karena hanya diadakan di lingkungan kelenteng atau rumah tangga," kata Gunawan.

Harvey Malaiholo tidak dikenal



Minggu lalu Harvey Malaiholo dan rombongan dari Jakarta mampir di Surabaya. Berdiri, ngobrol, di depan sebuah gedung bertingkat yang sangat terkenal. Kebetulan Harvey akan mengisi konser jazz di Surabaya.

Begitu banyak orang melintas masuk keluar gedung. Tapi saya perhatikan agak lama; tak ada seorang pun yang mengenali Harvey Malaiholo. Tidak minta tanda tangan. Tak minta foto bareng. Atau hanya sekadar bersalaman.

Harvey sih santai saja. Dia kelihatan senang bisa nyanyi lagi setelah cukup lama tak manggung di Surabaya. "Kegiatan saya tetap padat, nyanyi di mana-mana," katanya.

Hanya saja, artis lawas macam Harvey Malaiholo ini sudah tak dapat tempat di televisi dalam 15 tahun terakhir. Tak dapat tempat di industri hiburan. Maka, wajar jika masyarakat baik yang muda dan tua tak kenal siapa gerangan Harvey Malaiholo. Saya lihat Harvey tak ubahnya rakyat biasa, bukan artis penyanyi dengan suara yang sangat berkualitas.

Dulu Harvey macan festival. Langganan juara satu sehingga panitia sampai melarang dia ikut festival yang sama. Kasih kesempatan untuk yang lain. Kedahsyatan vokal Harvey akan terasa luar biasa jika dia membawakan komposisi dan aransemen karya Elfa Secioria.

Sayang, Indonesia tak memberi tempat untuk artis senior. Artis kita tak boleh tua. Usia artis kita harus tetap di bawah 30. Ketika usia si artis merambat naik, maka dia segera digantikan artis muda tak peduli kualitasnya. Maka, bakat sebesar Harvey pun hanya bisa ngamen kecil-kecilan sekadar bisa tetap dapat duit.

"Harvey itu sopo? Bekas pejabat ya?" kata seorang mahasiswa saat saya tes pengetahuannya tentang Harvey Malaiholo.

Pejabat endasmu, Cak!

21 June 2012

Hilangnya pengobatan tradisional kita



Sejak puskesmas masuk desa pada 1980an, tabib atau pengobat tradisional perlahan-hilang di kampung. Aneka tanaman obat kini makin jarang digunakan. Sakit sedikit lari ke puskesmas atau polindes.

Belum lama ini saya kaget melihat seorang ibu di kampung saya pulang dari polindes membawa 8 macam obat. Padahal dia cuma demam ringan akibat flu. Kok banyak betul obatnya?

"Kata bidan, saya harus minum semua agar cepat sembuh," katanya. Orang-orang desa sekarang memang dijejali obat dalam jumlah kelewat banyak.

Saya ingat ketika masih anak-anak, sakit macam ibu tadi cukup minum air rebusan daun kalanidi (bahasa Flores Timur) dan sembuh. Tidak perlu jauh-jauh ke puskesmas. Ada toga, tanaman obat, yang bisa dipakai untuk menyembuhkan diri.

Setiap kali melihat iklan TCM di televisi, yang sangat dominan, saya ingat pengobatan herbal ala wong kampung tempo doeloe. Hampir semua penyakit ada obatnya.

Mengapa Tiongkok bisa mengembangkan pengobatan tradisional warisan leluhur, sementara kita tidak? Indonesia terlalu gandrung semua yang datang dari barat dan cenderung melecehkan pengobatan tradisional. Alih-alih mengembangkan tanaman obat yang sangat kaya, kita malah melumpuhkan metode pengobatan herbal pusaka leluhur.

Kini, ketika Tiongkok membawa klinik-klinik TCM di sekitar kita, pemerintah pun gelagapan. Ngambang. Meremehkan TCM tapi diam-diam mengakui kehebatan sistem pengobatan ala Cungkuo. Pemerintah belum juga sadar untuk mengembangkan pengobatan tradisional Indonesia.

Belum lama ini belasan anak muda Jatim berangkat ke Zhejiang untuk kuliah khusus TCM. Kapan Indonesia punya fakultas khusus pengobatan tradisional untuk mengimbangi fakultas kedokteran yang sangat barat itu?

Jangan-jangan orang Tiongkok diam-diam sudah membawa tanaman obat kita ke Cungkuo, meneliti dan mengembangkannya, kemudian diklaim sebagai obat Tiongkok.

Yonathan Purnomo pencipta shuanguan qixia



Suhu Yonathan Purnomo terus menyebarluaskan shuangguan qixia atau senam otak ala Tiongkok ke berbagai daerah. Belum lama ini dia menggelar pelatihan di kawasan Bangkalan, Madura.

"Antusiasme masyarakat di sana luar biasa. Mulai santri, alim ulama, guru ngaji datang dari lima kecamatan," kata Yonathan Purnomo kemarin.

Menurut dia, senam otak shuangguan qixia dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan otak kiri dan otak kanan secara seimbang. Sepasang otak ini dilatih untuk mengembalikan kinerja otak yang telah menurun akibat usia atau gangguan kesehatan.

"Shuangguan qixia ini saya ciptakan untuk dipelajari anak-anak hingga lanjut usia," katanya.

Senam yang dikembangkan sejak tujuh tahun silam ini sejatinya terdiri dari gerakan-gerakan sederhana. Seperti memainkan jari kedua tangan layaknya anak-anak. Namun, jika dilakukan secara benar dan kontinu, Yonathan optimstis dapat memperbaiki kualitas otak seseorang.

Nah, di Bangkalan dia memperkenalkan beberapa gerakan dasar shuangguan qixia. Yonathan sendiri mampu mengerjakan perkalian hingga 13 digit tanpa bantuan apa pun.

Jika kinerja otak sudah diperbaiki, menurut dia, belajar apa pun menjadi sangat mudah. "Bahkan, ketika saya belajar bahasa Mandarin di Guangzhou, saya mampu menguasainya dalam tiga bulan," kata penulis beberapa buku senam otak ala Tiongkok kuno itu.

Kepada ratusan peserta seminar di Gedung LDII Bangkalan, Yonathan mengatakan, otak manusia itu ibarat komputer yang bisa ditingkatkan kemampuannya. Shifu ini kemudian mendemonstrasikan ilmu fisika dan matematika berkat shuang guan. Para peserta pun memberikan tepuk tangan meriah.

Selain senam otak, Yonathan tak lupa membagikan wawasan tentang wirausaha untuk masyarakat kecil. Saat ini dia membuka jaringan minimarket dengan segmen usaha kecil dan menengah.

TCM melejit, dokter resah



Sejak ratusan tahun lalu kita sudah mengenal metode pengobatan Tionghoa alias TCM. Namun, tcm-tcm lawas ini bekerja diam-diam dan hampir tidak pernah beriklan dI media.

Kini, setelah era reformasi, tcm asal Tiongkok ramai-ramai menyerbu Indonesia dan sangat gencar beriklan di televisi. TCM-TCM itu mengklaim bisa menyembuhkan segala macam penyakit, termasuk penyakit-penyakit berat seperti kanker, diabetes, hingga serangan jantung. Bukan itu saja. TCM-TCM baru ini juga gencar memperkenalkan berbagai alat kesehatan.

Fenomena TCM mutakhir ini tak ayal membuat para dokter resah. Mereka menilai klaim iklan-iklan TCM itu bisa menyesatkan masyarakat karena sering bertentangan dengan ilmu kesehatan. Sejumlah pihak kemudian meminta pemerintah untuk menertibkan klinik-klinik TCM di berbagai kota.

Budi Sampurna, staf ahli menkes, mengatakan sampai sekarang belum ada peraturan tegas mengenai pendirian klinik tcm. Kemenkes tidak pernah mengeluarkan izin. "Yang ada hanya registrasi," kata Budi.

Pemberian nomor registrasi ini, menurut dia, untuk memantau kinerja klinik, khasiat obat, efek samping, serta kemungkinan bahaya dari praktik yang dilakukan. Sayangnya, registrasi ini kemudian dianggap sebagai izin resmi. Bahkan, nomor registrasi ini dijadikan dasar untuk beriklan secara masif di media massa.

"Padahal, untuk mendapatkan izin harus ada uji klini dulu dan caranya tidak gampang," kata Budi Sampurna.

Nah, soal uji klinis inilah yang jadi masalah di tcm. Dr Dharma Kumara Widya menyebut belum ada penelitian ilmiah yang bisa menjawab metode pengobatan Tiongkok. "Satu-satunya metode yang paling bisa diterima logika medis dan dibuktikan secara empiris baru akupunktur," ujar dokter akupunktur di RSCM Jakarta ini.

Meski susah dibuktikan secara medis, tcm sebenarnya jauh lebih tertata dari pengobatan tradisional lainnya. TCM pun punya standar yang sudah teruji ribuan tahun. Maka kita perlu arif dalam menyikapi keberadaan TCM.

17 June 2012

Hilangnya tulisan tangan miring



Setelah menyaksikan film SOEGIJA, saya tertarik dengan model tulisan tangan sang uskup. Pakai pulpen dengan tinta botolan, tulisan beliau sangat rapi, mirip ke kanan. Kata-katanya sangat inspiratif.

Tak hanya Uskup Soegijapranata, gaya tulisan tangan orang-orang lama, pemikir dan pejuang kemerdekaan rata-rata sama: rapi, miring kanan, bertali. Ada halus kasarnya. Meski bukan kaligrafi, tulisan tangan jadul ini punya nilai seni.

Lalu, sejak kapan tulisan tangan indah miring kanan itu hilang dari Indonesia?

Saya amati pola menulis indah ini mulai tergusur tahun 1980an. Bahkan orang yang lahir pada awal 1970 menulis tegak lurus dengan huruf balok.

Orang-orang Indonesia kelahiran di bawah 1960 konsisten menulis miring kanan, rapi, bagus. Mungkin karena saat itu masih menggunakan pena dan pulpen yang lebih efektif untuk menulis huruf miring. Setelah pena dan pulpen tergusur oleh bolpoin, huruf tegak jadi populer sampai sekarang.

Makin lama gaya tulisan tangan makin bebas dan jauh dari artistik. Huruf besar yang hanya dipakai di awal kata, nama orang, nama tempat, nama negara dsb mulai dioplos secara bebas. 

Anak muda sekarang lazim memasang huruf besar di mana saja, bahkan dalam satu kata. Aturan EYD diabaikan begitu saja.

Asyik juga membaca tulisan tangan tokoh-tokoh besar macam Sukarno, Hatta, Natsir, Sjahrir, Soegija dan sebagainya. Gaya yang indah ketika mesin ketik masih jarang, komputer belum ada, smartphone jauh dari bayangan.

Ketika komputer, laptop, smartphone sudah jadi barang massal macam sekarang, mungkin suatu saat kelak orang Indonesia tidak bisa lagi menulis tangan, tapi cukup mengetik di keyboard laptop atau smartphone. 

Seperti orang di luar Tiongkok yang belajar bahasa Mandarin secara instan. Daripada membuat 7 goresan dengan tangan, dan belum tentu benar, lebih baik memilih karakter hanzi yang sudah disediakan komputer atau smarphone.

Dan itu berarti seni menulis indah ala Bung Karno hanya menjadi catatan sejarah belaka.

16 June 2012

Rebutan kelenteng di Jatim





Setelah reformasi, posisi konghucu makin kuat. Diakui sebagai agama resmi keenam. Majelis konghucu alias matakin pun makin eksis dalam pengelolaan kelenteng.

Yang jadi masalah adalah kelenteng2 di Indonesia selama orde baru bernaung di bawah majelis tridarma, bagian dari majelis agama buddha. Memang dulu untuk amannya orang tionghoa yang bukan islam, kristen atau hindu menyebut dirinya beragama buddha agar bisa dapat ktp dan sebagainya. Padahal tridarma atau sanjiao itu sebetulnya tidak sama persis dengan agama buddha di vihara.

Nah, geger rebutan kelenteng ini baru saja terjadi di Tuban, TITD terkemuka di Jatim. Pengurus dan umat Kwan Sing Bio demo ke kemenag meminta matakin atau majelis konghucu keluar dari kelenteng itu. Sebab selama ini kelenteng di Tuban ikut majelis tridarma.

Tridarma dianggap sudah mencakup konghucu sehingga tidak perlu ada matakin. Benar2 tidak elok menyaksikan sesama orang tionghoa gegeran sendiri berebut kelenteng. Apalagi kasus ini mencuat keluar dan bisa bergulir ke pengadilan.

Saya tahu kasus ini sangat sensitif dan tidak mudah dicari jalan keluarnya. Mengapa? Majelis2 dan pengurusnya punya banyak kepentingan ekonomi, budaya, sosial, agama, hingga politik ketika sudah menguasai tempat ibadah. Para pihak sama2 ngotot dengan argumentasinya.

Lalu apakah pemerintah bisa menyelesaikannya? TIDAK BISA. Karena pemerintah yang notabene bukan tionghoa sangat sulit memahami tradisi dan religi tionghoa yang sinkretis. Orang pribumi dari dulu tidak paham mengapa seorang tionghoa memeluk 3 agama sekaligus. Mengapa umat kelenteng tridharma tidak pernah merayakan waisak padahal ktp-nya ditulis beragama buddha. Dan sebagainya dan sebagainya.

Maka, agar kasus rebutan kelenteng ini terus meluber ke luar, para pengurus majelis atau orang2 tionghoa sendiri yang menyelesaikannya. Tak guna mengadu ke pemerintah atau pengadilan. Bikin malu saja. Hanya orang tionghoa yang paham tradisi serta religi leluhurnya dari tiongkok.

JRIH TRESNA KAWULA lagu rohani di film SOEGIJA




Saya baru saja nonton film SOEGIJA di CITO Surabaya. Film bagus tentang ketokohan Uskup ALBERTUS SOEGIJAPRANATA SJ dalam masa transisi tahun 1940an. Peminat film ini cukup banyak, khususnya dari kalangan gereja Katolik.

Saya terharu melihat adegan-adegan masa perjuangan yang sulit. Chaos. Perang dunia, kedatangan Jepan, kemerdekaan, kemudian Belanda datang lagi bersama sekutu.

Melihat film itu kita dibuat jengkel dengan penjajah Belanda yang luar biasa kejam. Dan itu membuat saya kehilangan minat untuk mendukung tim Belanda di Piala Eropa sekarang. Syukur, kesebelasan Belanda sekarang babak belur, sulit lolos, kata seorang penonton film tentang Romo Kanjeng ini.

Sebagai bekas pelatih paduan suara di gereja Katolik saat mahasiswa, saya terkesan dengan musik yang digarap Mas Djadug. Sangat familiar di kalangan umat Katolik, khususnya di Jawa.

Ada VENI CREATOR saat Romo Soegija ditahbiskan sebagai uskup. Kemudian NDEREK DEWI MARIA dan JRIH TRESNA KAWULA yang sangat dominan di film ini. Di Flores lagu ini berjudul MENGASIH MARIA KERINDUANKU yang mengingatkan masa kecil saya di kampung. Sayang, di Surabaya lagu ini sudah jarang terdengar saat misa di gereja.

Ketika dinyanyikan kor kampung dengan rumah-rumah gedhek, saat Mgr mengunjungi umat di pengungsian, mata saya basah. Ingat mama-mama di pelosok NTT yang sederhana tapi sangat religius. Mengajak saya untuk tidak lupa Tuhan.

JRIH TRESNA KAWULA KATUR NJENG IBU
WIT PADUKA KENYA IBUNING WIDI
DHUH IBU ING SWARGA PUTRANTA NEDYA
NIMBANGI TRESNANTA ING SALAMINYA

YEN MBA TAN KUWAWI LUMAWAN ING PRANG
KARSAA MARINGI KIYAT LAN KWAGANG
DHUH IBU ING SWARGA...

YEN SUKMA NGONCATI RAGA KAWULA
PADUKA TIMBALI SOWAN MRING RAMA
DHUH IBU ING SWARGA....

15 June 2012

Iklan kematian orang Tionghoa




Mengapa orang Tionghoa disukai pekerja media? Salah satunya karena orang Tionghoa punya budaya beriklan. Sejak era Hindia Belanda orang Tionghoa sudah kenal media khususnya surat kabar dan majalah.

Sebagai pebisnis, orang Tionghoa tahu betul manfaat dan efektivitas iklan bagi pengembangan usaha. Beda dengan orang pribumi yang kebanyakan petani, nelayan, pegawai negeri, atau tentara/polisi yang tidak punya budaya beriklan.

Segala macam produk diiklankan orang Tionghoa. Sabun, kecap, makanan minuman, film hingga dukacita. Nah, iklan kematian atawa dukacita inilah yang menurut saya sangat menonjol. Tidak ada etnis di Indonesia yang aktif menginformasikan berita kematian di surat kabar ketimbang Tionghoa.

Tak hanya orang kaya, Tionghoa yang biasa pun berusaha pasang iklan ketika keluarganya ada yang meninggal. Saat ini perusahaan jasa pemakaman dan peti mati melayani iklan kematian secara paketan.

Ketika taipan LIEM SIOE LIONG meninggal dunia, wuih.. media besar panen iklan besar berhalaman-halaman. Dan berhari-hari. Berapa miliar yang masuk ke media cetak khususnya.

Mana ada orang kita (pribumi) yang mau pasang iklan besar seharga ratusan juta untuk woro-woro kematian? Ada orang pribumi yang merasa aneh menghabiskan uang banyak untuk iklan dukacita.

Mengapa budaya iklan kematian sangat kuat di kalangan Tionghoa? Saya kira ini terkait dengan statusnya sebagai masyarakat diaspora. Orang Tionghoa tersebar di mana-mana, punya keluarga di mana-mana, tak terpusat di suatu tempat.

Maka, iklan di media massa jadi sangat penting untuk menginformasikan kematian salah satu anggota keluarga kepada sanak kerabatnya... di mana saja.

12 June 2012

Wisata kampung tambak di Sidoarjo




Ada beberapa kampung terpencil di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Di antaranya, Pucukan, Bromo, Dem, dan Kepetingan alias Ketingan. Namun, Kepetingan dianggap punya nilai lebih karena kampung kecil di Dusun Sawohan, Kecamatan Buduran, itu terdapat makam Dewi Sekardadu. Dewi Sekardadu tak lain ibunda Raden Patah alias Sunan Giri.

Petilasan ini sering menjadi jujukan para peziarah dari berbagai daerah, khususnya komunitas nelayan. Bahkan, setiap tahun ribuan nelayan asal Bluru Kidul dan Balongdowo mengadakan ritual nyadran ke makam ini.

Karena itu, Kepetingan menjadi kampung yang sangat terkenal di kalangan nelayan Sidoarjo. Ketika mereka mencari kerang, kupang, atau ikan, mereka selalu mampir di Kepetingan untuk minum atau istirahat. Bahkan, sejak dulu ada ikatan perkawinan antara warga Kepetingan dengan Bluru Kidul serta Balongdowo.

Menurut Ansori, putra asli Kepetingan, kampung halamannya ini sejatinya merupakan permukiman nelayan dan penjaga tambak. Mereka sejak dulu bekerja sebagai buruh atau penjaga tambak milik juragan-juragan asal Buduran, Sidoarjo, dan sebagainya. Lama-kelamaan berkembang menjadi kampung atau dusun seperti sekarang.

"Orang-orang di kampung saya itu sangat sederhana," kata Ansori yang mantan ketua KPU Sidoarjo itu.

Rumah-rumah penduduk khas gubuk-gubuk penjaga tambak. Ini juga tak lepas dari ketiadaan akses jalan sehingga sulit membawa bahan bangunan ke Kepetingan. Sementara jalur sungai pun tidak mulus karena harus melihat air pasang dan air surut.

Persoalan lain yang tak kalah serius adalah pendidikan anak-anak. Tidak mudah membuka SD di Kepetingan yang terisolasi itu. Sebab, mencari guru-guru pamong yang mau mengabdi di pelosok terpencil memang tidak gampang. Syukurlah, dengan makin populernya Ketingan, perhatian pemkab pun semakin membaik.

Pada awal tahun 2000-an pemkab membuat makam Dewi Sekardadu secara permanen. Dermaga kecil pun dibuat karena kawasan muara ini digadang-gadang sebagai salah satu andalan wisata Sidoarjo.

Sayang, konsep wisata pantai yang dikombinasikan dengan wisata mangrove dan wisata ziarah ternyata tidak jalan. Hingga Bupati Win Hendrarso lengser pada 2010 lalu, impian menjadikan Kepetingan sebagai primadona wisata Sidoarjo boleh dikatakan gagal. Padahal, sudah ada sejumlah pihak untuk mempromosikan potensi Kepetingan.

Jumaadi alias Gepenk, pelukis Sidoarjo yang tinggal di Sydney, pernah membawa beberapa orang Australia untuk menggelar workshop bersama anak-anak. Pelukis Djoko Lelono pun mengajak anak-anak Kepetingan melukis bersama dalam rangka pemecahan rekor Muri. Tapi upaya seniman nekat ini pun belum ada tindak lanjut sampai sekarang.

"Butuh kerja ekstra untuk menjadikan Kepetingan sebagai objek wisata," kata Joko.

Kendala paling serius adalah ketiadaan akses jalan darat. Ini membuat pengunjung kesulitan dalam memprediksi waktu ke sana.

Di saat Kepetingan tetap stagnan, antara lain karena pemkab tak punya uang, BPLS berhasil membuka akses ke Tlocor, kawasan tambak yang dulu lebih terpencil ketimbang Kepetingan. Citra Tlocor pun berubah drastis. Kini, Telocor bahkan telah menjadi jujukan utama wisatawan yanh ingin menikmati wisata mangrove atau pantai di Kabupaten Sidoarjo.

Dusun Kepetingan pun kian tenggelam saja. Kepetingan baru terasa marak hanya pada musim nyadran komunitas nelayan Bluru Kidul atau Balongdowo.

Agustinus Heri Sugianto penata tari Sidoarjo




Oleh Lambertus Hurek
Dimuat di Radar Sidoarjo

Sidoarjo beruntung punya Agustinus Heri Sugianto (48). Pria yang berdomisi di Semambung ini berhasil mengangkat nama Sidoarjo ke tingkat nasional berkat sejumlah tari kreasi ciptaannya. Hampir semua tari ciptaan Agus sangat kental dengan nuansa Sidoarjo yang rancak, energik, serta dinamis.

Salah satunya Tari Banjarkemuning. Tarian yang diangkat dari kehidupan nelayan di Banjarkemuning, Sedati, ini sudah dipelajari dan dimainkan berbagai sanggar di Sidoarjo dan kota-kota lain di Jatim. Bahkan, di luar Jatim. Tarian berdurasi sekitar tujuh menit ini juga kerap dipuji dalam festival tari tingkat regional maupun nasional.

Bagaimana ceritanya Anda membuat tarian khas Sidoarjo seperti Banjarkemuning?


Saya ini kan warga Sidoarjo yang kebetulan berkecimpung di kesenian. Maka, saya harus menciptakan sesuatu untuk bisa mengangkat potensi Sidoarjo. Yang bisa saya lakukan ya menciptakan tarian yang punya karakter Sidoarjo yang kuat.

Anda melakukan riset ke kampung nelayan di Banjarkemuning?


Otomatis, karena saya sering jalan-jalan ke sana, melihat keseharian nelayan dan keluarganya. Saya lihat spirit ibu-ibu nelayan, putra-putri nelayan yang tinggi. Ketika suami atau ayah mereka melaut untuk mencari ikan, mereka tidak santai, tapi sibuk bekerja. Tidak diam. Nah, kondisi inilah yang saya serap dan olah dalam Tari Banjarkemuning.

Kapan tarian itu diperkenalkan ke publik?


Tahun 1999 dalam lomba karya tari se-Jatim. Saya bersama Sanggar Sekartaji memperkenalkan di ajang lomba itu. Dan sejak itu Tari Banjarkemuning mulai dikenal masyarakat, khususnya para praktisi tari dan kalangan remaja. Tarian ini juga sering ditampilkan dalam acara-acara di Sidoarjo.

Setelah Banjarkemuning, Anda rupanya makin intens mengeksplorasi potensi Sidoarjo?


Betul sekali. Saya kemudian menangkap spirit masyarakat seperti yang saya lakukan di Banjarkemuning. Dalam waktu yang tidak terlalu lama saya menciptakan beberapa tari kreasi bernuansa Sidoarjo seperti Solah Ketingan, Bangbang Wetan, Celipir (tarian anak-anak), Bandeng Nener, Udang Windu, Solah Cemanden.

Mengapa semua tarian ini berbau nelayan?


Karena Sidoarjo ini memang punya banyak kampung nelayan dan tambaknya. Kehidupan masyarakat pesisir di Kota Delta tentu berbeda dengan kehidupan masyarakat petani yang setiap hari mengolah sawah. Ketika saya angkat sebagai karya tari, maka gerakan-gerakannya menjadi lebih hidup, energik, dan dinamis.

Karakternya sangat khas nelayan yang sangat dinamis dan berani menghadapi gelombang dan badai di lautan. Karena itu, musiknya pun bernuansa Jawa, Madura, Banyuwangi. Saya memang suka mengeksplorasi kehidupan nelayan dan masyarakat tambak.

Kapan biasanya Anda berkarya?


Kapan saja saya berusaha menciptakan tarian baru. Istilahnya, tiada hari tanpa berkarya. Sebab, terlalu banyak inspirasi yang ada di kepala saya yang harus diwujudkan dalam bentuk seni tari. Malam hari ketika istri saya sudah tidur, saya duduk di depan gamelan dan mulai mengetuk perlahan-lahan. Dan... beberapa saat kemudian sudah ada karya baru.

Berarti Anda mendapat dukungan penuh dari keluarga?


Oh iya, spirit dari istri saya memang luar biasa. Dia tahu dan sangat sangat mendukung profesi saya. Anak saya yang dua orang juga begitu. Malah anak kedua saya, Rahmi, ikut mengoreksi cikal bakal tarian saya, misalnya Celipir. Dia bilang kok gak enak ya. Dari komentar Rahmi, saa kemudian mengubah sedikit agar lebih enak ditarikan oleh anak-anak seusia dia.

Kabarnya Anda baru pentas di luar negeri?


Betul. Festival ini bukan lomba, tapi membawa nama dan gengsi negara. Kami membawakan tarian berjudul Kidung Syair Berdendang dari Jejer Banyuwangi. Ini menarik karena baru pertama kali Jatim yang tidak punya tradisi Melayu ikut festival tari Melayu, di luar negeri pula. Maka, kami mengambil referensi dari Pulau Bawean yang masyarakatnya sangat heterogen dengan elemen Melayunya. Syukurlah, dibandingkan negara-negara lain seperti Malaysia, Brunei, atau Singapura, kita nggak jeleklah.

Ngomong-ngomong apakah Anda ingin tarian-tarian ciptaan Anda seperti Banjarkemuning, Solah Ketingan, atau Udang Windu diakui sebagai tarian resmi Kabupaten Sidoarjo?


Itu sih terserah pemkab dan masyarakat saja. Sebagai seniman, saya hanya berkarya sebanyak-banyaknya, mengangkat potensi lokal di Sidoarjo, menjadi karya seni yang bisa diapresiasi oleh sebanyak mungkin orang. Masalah diakui atau tidak, bukan urusan saya.




Dapat Banyak Penghargaan

Kerja keras Agustinus Heri Sugianto sebagai koreografer dan pencipta begitu banyak tari kreasi bernuansa Sidoarjo ternyata tidak sia-sia. Gubernur Jawa Timur Soekarwo pada 2010 memberikan penghargaan kepada Agus sebagai seniman yang berdedikasi di Jatim.


Lumayan, selain piagam, Agus diberi uang pembinaan Rp 10 juta. "Uangnya dipotong pajak. Hehehe," kata guru SDN Pucang I yang suka bercanda itu.

Tentu saja, suami Dwi Wahyuningsih beroleh award dari gubernur. Karena itu, dia semakin tertantang untuk menciptakan karya-karya tari baru dengan karakter Jatim, khususnya Sidoarjo.

Hanya berselang setahun, 2011, Agus kembali beroleh penghargaan tingkat provinsi. Kali ini sebagai guru berprestasi di bidang kesenian. Hadiahnya piala dan uang pembinaan Rp 5 juta.

Dipotong pajak juga? Hehehe... Agus kembali tertawa lepas.

Sebagai guru mata pelajaran seni budaya dan keterampilan di SD, Agus mengaku tidak mudah membina kesenian di sekolah. Sebab, guru-guru di Indonesia masih bekerja dengan sistem borongan. Belum spesialisasi. Apalagi guru kesenian yang benar-benar berlatar belakang pendidikan kesenian, plus praktisi seni, memang tidak banyak.

"Untuk Kabupaten Sidoarjo baru saya sendiri yang tercatat sebagai guru kesenian," katanya.

Di sekolah-sekolah lain banyak guru nonkesenian terpaksa mengajar kesenian karena ketiadaan guru seni itu. Ada guru olahraga yang mengajar teater atau tari. Guru agama mengajar musik atau seni suara dan seterusnya. Karena itu, sulit diharapkan pembinaan kesenian melalui sekolah bisa berjalan dengan baik di Jawa Timur, khususnya Sidoarjo.

"Sebab, mencetak guru kesenian itu memang tidak gampang," kata pria yang juga berlatar belakang Sekolah Pendidikan Guru (SPG) itu.

Sebagai guru kesenian di SD, Agus justru senang karena ada tantangan besar untuk memperkenalkan tarian sederhana kepada murid-muridnya. Mengapa? Anak-anak sekolah itu tidak punya latar belakang sebagai penari. Seni tari hanya sekadar pelajaran tambahan yang tentu tidak diujikan di unas. Beda dengan anak-anak sanggar yang minat dan bakat lebih besar.

Agus kemudian mencontohkan gerakan anak-anak sanggar yang gemulai dengan kuda-kuda yang kuat. Beda dengan anak-anak sekolah yang kaku dan terkadang goyah arena tumpuan kakinya tidak sempurna.

"Tapi saya justru senang dengan anak-anak didik saya di sekolah. Mereka itu yang menjadi inspirasi saya untuk terus berkarya. Setiap kali melihat gerakan mereka, saya tertantang untuk membuat karya-karya yang baru," katanya. (hurek)

10 June 2012

Mengapa Oprah begitu hebat




Saya sudah lama kecanduan Oprah Winfrey Show yang disiarkan di metrotv. Rugi rasanya kalau melewati acara bicang2 ini. Sebab, selalu ada hikmah, pelajaran hidup, yang bisa kita petik dari acara Mbak Oprah.

Potongan Oprah benar-benar tidak masuk kriteria selebriti atau pesohor televisi Indonesia. Kita tahulah artis-artis Indonesia kayak apa. Kulit yang terang, langsing, muda, jago bahasa gaul campur english... jadi tuntutan televisi kita.

Mbak Oprah ini lain sama sekali. Dengan gaya sederhana, biasa-biasa saja, mirip mama-mama di rumah tapi pesonanya luar biasa. Oprah jelas tidak tertarik dengan pemutih, sedot lemah, diet macam-macam dan sebagainya.

Opah menjadi bagian dari kita. Kulitnya yang gelap, rambut ikal, badan subur... wow, mirip wanita-wanita sederhana di kampung saya pelosok Flores, NTT.

Panggungnya sendiri simpel. Meja dan kursi lalu omong-omong akrab layaknya sahabat atau keluarga. Oprah bukan tipe presenter SCTV (lawas) macam Ira Koesno atau Rosianna Silalahi yang lebih mirip polwan sedang menginterogasi tersangka di ruang interogasi. Nyaman banget. Mengalir lancar. Kita jadi masuk dalam persoalan si tamu itu.

Tadi saya baru menyaksikan rekaman Oprah Show. Tamunya Fantasia juara American Idol 2004 yang terjerat masalah keuangan. Dia mama tunggal, harus menanggung biaya hidup enam orang. Pernah sangat ngetop, Fantasia kemudian bangkrut.

"Saya bahkan tidak bisa bayar pizza di restoran. Padahal harganya berapa sih? Cuma 20 dolar," kata Fantasia lantas tertawa.

Oprah sering bikin humor kering. Humor cerdas tanpa jadi badut ala Srimulat atau pesohor-pesohor kita di acara Dahsyat atau Inbox. Kita makin cerdas kalau sering menonton Oprah Winfrey Show.

Di Indonesia Andy Flores Noya juga punya acara bagus sejenis Oprah Show di metrotv. Tapi cara berbincang, mengorek informasi, mengungkap empati, humor sangat berbeda. Ini juga karena perbedaan bahasa. English dan bahasa-bahasa Barat rupanya lebih efektif untuk humor-humor cerdas ala Oprah.

Andy sering pakai jurus ngeledek untuk mengundang tawa penonton. Oprah tak pakai jurus macam-macam selain menjadi diri sendiri.

Oprah Winfrey seorang wanita yang sangat inspiratif, khususnya bagi orang berkulit gelap dan tidak cakep (kayak saya).

09 June 2012

Malam Jumat Legi di Kelenteng Cokro



Setelah rutin mengadakan tradisi suroan dalam beberapa tahun terakhir, kini Kelenteng Hong San Ko Tee menghidupkan kembali tradisi sembahyang bersama setiap malam Jumat Legi. Acara ritual khas masyarakat Jawa tradisional ini juga ternyata kian diminati masyarakat Tionghoa di Surabaya.

“Acara sembahyang malam Jumat Legi ini sudah kami adakan tiga kali. Kami ingin melestarikan tradisi yang sudah mengakar di kalangan masyarakat Jawa,” kata Juliani Pudjiastuti.

Menurut pengurus Kelenteng Hong San Ko Tee ini, pihaknya sepakat menghidupkan tradisi legian mengingat kelenteng di Jl Cokroaminoto 12 Surabaya ini sejak dulu memiliki altar khusus untuk menghormati Dewi Sri, yang dikenal sebagai dewi padi atau dewi kesuburan.

Setiap tanggal 1 Suro jemaat mengadakan sembahyang dan tumpengan di depan altar itu. Karena itu, Kelenteng Cokro, nama populer TITD Hong San Ko Tee, dinilai sebagai kelenteng yang sangat njawani.

“Bagaimanapun juga kami ini lahir di tanah Jawa meskipun keturunan Tionghoa. Jadi, kami pun harus ikut melestarikan tradisi budaya Jawa,” katanya.

Pada malam Jumat Legi lalu tampak puluhan jemaat berdatangan ke kelenteng. Setelah melakukan sembahyang secara pribadi, umat berkumpul dan menikmati tumpeng bersama (bancakan). Setiap malam Jumat Legi pengurus kelenteng memang menyiapkan tumpeng untuk bancakan sekaligus makan malam.

Sebagian tumpeng diberikan kepada masyarakat kurang mampu di sekitar kompleks kelenteng. “Biarpun sedikit, tapi bisa dinikmati bersama-sama,” kata Budi, salah satu jemaat.

Menurut dia, ritual legian kemarin juga sekaligus mendoakan mendiang Susanto yang meninggal dunia tujuh hari sebelumnya. Almarhum Susanto tak lain suami Juliani Pudjiastuti. “Mudah-mudahan mendiang Pak Santo mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi Tuhan,” kata Budi.

Kelenteng Hong San Ko Tee ini didirikan pada era Hindia Belanda. Sebelum menempati lahan di Jl Cokroaminoto, kelenteng ini berada di Pandegiling kemudian pindah ke Keputran. Izin bangunan keluar pada 24 September 1919.

Pada awal abad ke-19 itu kawasan Jl Cokroaminoto dikenal sebagai kompleks pemakaman. Makam-makam itu kemudian direlokasi untuk dibangun kelenteng dan sejumlah bangunan lain karena Kota Surabaya saat itu mulai berkembang ke arah selatan.

Nah, saat relokasi ke Cokro, pengurus kelenteng menemukan sebuah arca pemujaan dari batu yang belakangan diketahui sebagai Dewi Sri. Masyarakat kejawen saat itu pun kerap melakukan pemujaan atau semadi di lokasi arca Dewi Sri. Para pengurus kelenteng akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah altar khusus untuk menghormati Dewi Sri.

Arca yang dulu berada di kompleks kuburan pun diletakkan di altar. Ini merupakan sinkretisme yang menarik karena tak lazim mengingat kelenteng merupakan rumah ibadat Tionghoa.

"Bagaimanapun juga kami-kami ini kan lahir di tanah Jawa, sehingga perlu menghayati tradisi dan budaya Jawa," kata Budi.

Ciamsi di Mbah Ratu - Jumat Legi



Selepas magrib suasana di kompleks Kelenteng Sam Poo Tay Jien, Jalan Demak Surabaya, lebih meriah dari biasanya. Tak hanya orang Tionghoa, sebagian besar pengunjung justru bukan Tionghoa.

Mereka langsung menuju ke konter ciamsi di pojok depan tempat ibadah Tridharma yang biasa dikenal dengan Kelenteng Mbah Ratu itu. Si pengunjung menggoyang-goyangkan bambu untuk mengetahui nomor kuponnya. Kertas kecil itu kemudian dibawa ke Suhu Tan yang duduk di depan kelenteng.

"Nomormu berapa?"  suhu  76 tahun ini bertanya. Begitu pengunjung menyebut nomornya, Suhu Tan secara spontan menyampaikan wejangannya.

"Kamu ini ibarat pohon kering yang meranggas. Hidupnya sangat sulit, tapi masih bisa hidup karena disayangi Tuhan," kata suhu bernama lengkap Tan Go Ie ini. "Kamu bisa paham?"

Si wanita 30-an tahun ini menggeleng. Maka, sang suhu pun menjelaskan dengan bahasa yang lebih gamblang. Menurut Suhu Tan, situasi ekonomi orang itu tergolong sangat sulit karena penghasilan yang sudah sedikit dikelola dengan tidak bijak.

"Kamu itu terlalu boros. Jadi, mulai sekarang kamu harus benar-benar hemat," kata suhu yang praktik sejak 1990 di Kelenteng Mbah Ratu ini.

Begitulah. Sepanjang malam Jumat Legi itu puluhan pengunjung berdatangan untuk mengetahui peruntungannya lewat ciamsi. Metode peramalan ala Tiongkok kuno ini ternyata punya banyak penggemar. Ini terbukti dari banyaknya pengunjung yang sudah menjadi langganan tetap Mbah Ratu setiap Kamis Kliwon. Banyak di antara mereka yang datang dari luar kota seperti Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, hingga Madiun.

"Saya sudah tiga kali datang ke sini karena ramalan suhu biasanya cocok. Saya ingin tahu ramalan beliau agar lebih hati-hati," kata seorang ibu yang datang bersama anak gadisnya.

Tak hanya ciamsi, Suhu Tan juga membaca garis tangan pengunjung Mbah Ratu. Pria yang tinggal di kawasan Wonosari, Surabaya, ini juga memberikan banyak wejangan kepada pengunjung yang tangannya dianggap bocor.

"Tangan bocor itu maksudnya punya sifat boros. Suka membeli barang-barang yang sebenarnya tidak benar-benar dibutuhkan,"  Suhu Tan menjelaskan.

07 June 2012

Daging landak gurih nian

Orang-orang desa di kawasan Seloliman, Trawas, Mojokerto, punya kebiasaan memburu landak. Binatang berduri tajam ini rupanya banyak mendiami lereng Gunung Penanggungan yang sejuk itu.

Tapi tidak mudah menangkap si landak. Ada unsur hoki dan ciongnya. "Kalau nasib baik dapatnya gampang, kalau jelek ya gak dapat sama sekali," kata seorang pemburu kepada saya.

Para pemburu ini punya anjing-anjing terlatih. Begitu mengendus landak ramailah para anjing itu. Tapi populasi landak tak sebanyak 10 tahun lalu. Maklum, daging landak banyak penggemarnya. Sangat laris.

Landak yang besar dijual Rp100 ribu, yang sedang 80 ribu. Mbak Hasanah pasti beli karena warungnya punya banyak peminat landak. "Jualan landak itu gak kiro rugi," kata kenalan dekat saya ini.

Kemarin saya berada di Seloliman. Kebetulan ada krengsengan landak. Gurih rasanya. Lebih enak lagi kalo dibuat rawon sama Mbak Hasanah.

Ada 8 orang dari Tulangan Sidoarjo menikmati sajian landak ditemani bir hitam dan bir biasa. Minuman2 kayak begitu memang banyak tersedia di kawasan wisata Trawas, Pacet dan Tretes. Sebaiknya anda tidak minum karena harganya mahal dan fungsinya pun tak ada.

Setelah mendapat pencerahan dari aktivis lingkungan, saya pun sadar bahwa berburu landak sebetulnya merusak keseimbangan alam. Jelek-jelek begitu landak tentu punya fungsi dalam rantai makanan. Apa jadinya kalau landak2 itu punah hanya demi memenuhi nafsu makan orang kota yang kadang aneh-aneh itu?

Tapi melarang perburuan landak jelas tidak mudah. Nilai ekonomisnya terlalu tinggi dan cara mendapatkannya pun mudah - bagi orang2 Trawas yang berpengalaman.

Kasus landak ini sama dengan ular yang juga diburu untuk konsumsi sejumlah orang yang doyan makanan eksotis. Kalau populasi ular berkurang, apalagi sampai habis, tikus2 akan merajalela di sawah.

06 June 2012

Buku dangdut Prof Andrew Weintraub




Dangdut itu musik rakyat. Anehnya, tidak ada ada ahli kita yang melakukan kajian secara mendalam baik dari aspek sosial, budaya, sejarah, dsb. Yang serius melakukan penelitian justru orang Amerika.

Prof Andrew Weintraub PhD dari dari University of Pittsburgh USA baru saja meluncurkan buku DANGDUT versi bahasa Indonesia di Unair Surabaya. Buku ini aslinya berbahasa Inggris berjudul DANGDUT STORIES pada 2010. Peneliti yang sangat gemar dangdut, khususnya Rhoma Irama, ini memberikan kontribusi besar pada literatur musik kita yang memang sangat minim.

Andrew, begitu pak profesor botak ini minta disapa, menelusuri jejak dangdut sejak masih cikal-bakal protomelayu, kemudian melayu deli, orkes melayu, gebrakan Rhoma Irama, hingga masyarakat mulai kenal musik genre dangdut. Andre bahkan membahas juga dangdut daerah, koplo, hingga artis-artis erotis macam Inul atau Trio Macan.

"Jangan panggil saya Profesor atau Doktor! Panggil saja Andrew supaya lebih akrab," kata Andrew Weintraub kepada saya dalam beberapa kesempatan. Inilah bedanya orang USA yang rendah hati meskipun hebat ketimbang orang kita yang cenderung gila gelar, suka mencantumkan banyak titel, meskipun penelitiannya tidak jelas. Banyak juga lho doktor dan profesor palsu di Indonesia.


Mana ada buku cerita dangdut sedetail dan selengkap ini? Andrew memburu rekaman-rekaman awal berupa piringan hitam sejak era Hindia Belanda hingga masa kini. Dia menyimak dan menganalisis struktur lagu, instrumentasi, cara nyanyi, syair, hingga penampilan musisi.

Saya pastikan orang Indonesia sekalipun, termasuk orang dangdut, tidak punya bahan-bahan yang dipunyai Andrew Weintraub. Rhoma Irama sendiri kaget melihat koleksi rekaman Andrew yang luar biasa. "Suatu saat kita belajar dangdut di Amerika," gurau Abdul Malik Buzaid (sekarang almarhum), personel OM Sinar Kemala Surabaya.

Saya beruntung diajak Andre mengikuti proses wawancara dan pengumpulan bahan-bahan dangdutnya di Surabaya. Dia temui musisi Orkes Melayu (OM) Sinar Kemala yang sangat terkenal pada 1960an. Mula-mula diskusi bersama di Hotel Hyatt, kemudian Andre menemui satu per satu pemusik di rumah masing-masing. "Supaya mereka bisa bicara lebih jujur dan bebas," katanya.

Dia juga survei orkes dangdut di Gang Dolly tempat prostitusi. Bahkan dia jadi vokalis dadakan dengan lagu-lagu Rhoma. Totalitas yang luar biasa.

Saya pun terkagum-kagum dengan cara kerja pakar USA. Dia harus bertemu muka one on one dengan sumber. Dan harus sumber pertama kecuali yang sudah meninggal dunia. Maka dia keliling Indonesia untuk menggali dangdut yang fenomenal itu.

Kapan ahli-ahli kita bisa ngelutus kayak Amrik?

Oh ya, saya juga berterima kasih karena Andrew mencamtumkan nama saya di kata pengantar buku dangdutnya baik yang versi bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia.

"Setelah ini saya akan melakukan penelitian tentang musik KOPLO. Sangat unik dan menarik," kata profesor yang ramah ini.

From Larantuka to Ile Ape - Lembata




By ERIC ROSE, Switzerland
http://asiatrip.erose.ch


From Larantuka we took a ferry to Lembata, a small island in far eastern Indonesian archipelago. On the way we passed smoking volcanoes rising awesomely from the sea. A group of adolescents on the ferry were excited to be with tourists that could speak Indonesian. They tweaked our noses and asked us jokingly if we would like to trade skin colors.

Everyone wanted our light skin and “sharp” noses. Lewoleba, the main town on Lembata, was blisteringly hot during the day but surprisingly chilly at night. Bright red and yellow cashew fruit was on sale at the small market outside of town. The central market had recently burned down. All that was left were a few charred bamboo poles.



We soon set out to visit some traditional ikat-weaving villages and to climb a nearby volcano: ILE APE. After a bumpy bemo ride along a rutted dirt track we stopped at the first village, wandered around until we found someone weaving and watched as they worked, explaining the process to us. We drank coffee, chatted and sampled the local delicacy: “jagung titi”, or smashed popcorn.

The kernels are first cooked over a fire in a clay pot until they pop, then smashed with a flat rock. It doesn't sound like much, but it tasted surprisingly good. The villagers, especially the village headman, were so friendly that we were reluctant to leave.

We wanted to climb the volcano the following day, so we continued to the next village, where we knew that we could find a guide. Unfortunately, when we arrived we discovered that people were not as welcoming as at the previous place. They seemed more used to tourists. The prices to climb the volcano were far above what it was worth, so, to their surprise, we turned them down.

There was a festival in a neighboring village the next day, so we decided to stay. It was sweltering hot at night and the only thing we had to drink was salty well water, drawn at dusk by casting plastic bottles on strings into the deep well in the center of the village.

There were no other sources of fresh water other than a few remaining bottles of mineral water in the local kiosk that we quickly purchased and drank. On this part of the island, in the shadow of Ile Ape, only corn, tubers and a few scraggly vegetables can grow. Weaving provides reliable income.



Traditionally, a woman is expected to make her wedding sarong completely from scratch: grow the cotton, comb, prepare and spin into thread, then string it on the loom, create the “ikat” patterns by tying off sections, dye it over and over again, and then, finally, weave the material. Years of intermittent work are required to make one piece.

We asked the women to show us their “adat” (traditional) wedding sarongs. The colors, although dull in the strong sunlight, were natural and earthy. The patterns were interesting and complex. Once we had seen these traditional works of art, the sarongs sold in the tourist shops, with their gaudy colors and monotonous patterns, ceased to hold our interest.

The next morning, rising early, we wandered into the hills before it became too hot. We found the old village, famous for its annual bean festival, and stopped for a taste of “arak”, or distilled palm wine, from an elderly farmer. The sea, dark blue with crests of white, stood out from the parched, brown hillside under the blazing sun. We walked down the slope, getting lost in the dry, scruffy palm trees and dense undergrowth.

Almost a hundred years ago, a man had killed another man from the neighboring village, starting a feud. Eventually, peace was made. In order to maintain that peace, a small ceremony was held every few years. The “dukun”, or witch doctor, presided over the peacemaking ritual.

A young man from each village, chosen to play a symbolic role, offered their right hands to be bound together. The dukun waved a pair of green coconuts, two live chickens, two of this and two of that in turn over the clasped hands before pulling them right and left, then unclasping them over a small pile of cotton and flowers. All the while, children cracked homemade noisemakers.

After the ceremony everyone sat down to eat a special meal and drink “tuak”, or palm wine. After chatting for a while with the locals and taking some pictures, we returned along the dirt track to the weaving village we had visited the day before.




The village headman was in the church for choir practice when we arrived. He rushed home, excited to have guests. Dinner was simple: rice, boiled vegetables, fresh tomatoes, instant noodles and fried peanuts. The whole family was at the table: the village head, his wife, sister and mother. It was the first time we had eaten a meal together with a family in Indonesia.

Before eating, he turned to Eric and asked him to say grace in “our” language. Eric managed to compose a short speech in English. The village chief then turned and said grace in his way, intoning reverently as he bent deeply over his clasped hands.

Breaking into a huge grin, he began loading his plate with an immense pile of rice. His mug, twice as large as the others, was filled to the brim with sweet rainwater from their cistern. We gulped down large quantities of sweet water ourselves and talked with them about Indonesia and Switzerland.

They couldn't believe that we didn't have rice, bananas or coconuts growing at home. What did we eat, then? It was hard to describe how we lived on bread, potatoes and pasta. When asked how the village head was elected, they told us that every adult in the village was given a kernel of corn to be cast in vote by putting it into a cup with the candidate's name written on it.

It was a long, hot night. The sweltering heat was barely stirred by a slight breeze from the ocean. It was quiet and dark. Early in the morning we were awakened by the sound of smashing popcorn from behind the house. One of the ladies had risen at 4am to prepare this special snack for us to take with us back to Lewoleba.

05 June 2012

Flores Pulau Pancasila



Dalam buku BUNG KARNO PENYAMBUNG LIDAH RAKYAT karya Cindy Adams, 1966, Bung Karno berkata;

"Di Pulau Bunga yang sepi dan tak berkawan aku telah menghabiskan waktu berjam-jam lamanya merenung di bawah pohon. Ketika itulah datang ilham yang diturunkan Tuhan mengenai lima dasar falsafah hidup yang sekarang dikenal dengan Pancasila."

Pulau Bunga itu nama lain Pulau Flores di NTT. Kita tahu Bung Karno pernah diasingkan selama empat tahun di Flores, 1934-38. Banyak pemikiran besar dilahirkan Sukarno di Flores, salah satunya Pancasila.

Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa Flores sedikit banyak punya kontribusi bagi republik ini. Flores sejak awal ikut dalam proyek besar bernama Indonesia. Flores sama sekali berbeda dengan Timor Timur yang dianeksasi pada 1975-76 kemudian lepas lagi menjadi negara sendiri.

Ketika Timtim alias Timor Leste merdeka, beberapa teman di Jawa iseng bertanya; kapan Flores merdeka? Kan orang Flores sama ras, budaya, dan agama dengan Timtim.

Saya mula-mula senyum kecut karena banyak orang yang tidak tahu sejarah Pancasila dan inspirasi Bung Karno di bawah pohon sukun di Ende, Flores. Saya bilang Flores tidak mungkin lepas dari Indonesia. Pancasila itu dikonsep Sukarno di Flores kemudian dipidatokan beliau di BPUPKI tangga 1 Juni 1945.

Bagaimana mungkin pulau yang 'melahirkan' Pancasila mengikuti jejak Timtim yang notabene bukan eks Hindia Belanda? Lalu saya ceritakan masa pembuangan Sukarno di Flores hingga persoalan Timtim.

Yah, sejelek-jeleknya Flores, ada satu sisi sejarah yang layak dibanggakan. Ketika orang bicara Pancasila, hari lahir Pancasila, dasar negara, falsafah bangsa... mau tidak mau orang ingat Bung Karno. Dan ingat ilham dari Pulau Bunga itu.

Sayang, setelah reformasi Pancasila semakin dilupakan orang, termasuk politisi, pejabat, tokoh masyarakat. Orang Indonesia yang dulu dikenal ramah, toleran, bersahabat kini makin sulit menerima si liyan. Pancasila hendak diganti dengan teokrasi yang melenceng jauh dari visi Sukarno dan para bapak bangsa.

Quo vadis?

03 June 2012

Ka Kien di Kelenteng Mojosari



Selama 10 tahun lebih Ka Kien membaktikan hidupnya untuk mengurus Kelenteng Hiap Tian Kong, Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Meski tak punya istri anak, Ka Kien mengaku merasakan ketenangan tinggal di dalam kompleks tempat ibadah Tridharma itu.

Kegiatan rutin Ka Kien sangat teratur. Pagi-pagi buta dia sudah harus menyeduh teh tawar untuk disajikan kepada Dewa Kwan Kong, Dewi Kwan Im, dan dewa-dewi penghuni kelenteng. Teh yang digunakan pun teh kualitas terbaik. Masing-masing dewa mendapat jatah tiga cangkir kecil. Sebelum menyajikannya, Ka Kien harus melakukan sembahyang atau ritual khusus.

"Bekerja di sini membuat saya lebih banyak sembahyang. Beda dengan orang-orang lain yang lebih banyak berpikir bagaimana mencari uang," kata Ka Kie kepada saya pekan lalu
.
Sembahyang pagi di semua altar juga secara tidak langsung 'memaksanya' untuk mengelilingi seluruh areal kelenteng yang didirikan pada 1897 itu. Saat itulah dia memperhatikan bagian-bagian kelenteng yang rusak atau kotor. Kemudian Ka Kien bersama seorang pekerja lainnya membersihkan dan mengepel kelenteng. Rumah kita saja selalu dibersihan, apalagi kelenteng yang dipakai untuk sembahyang, kata pria asal Surabaya ini.

Usai melaksanakan tugas rutinnya, Ka Kien tetap standby di dalam kelenteng. Sebab, setiap saat ada saja pengunjung yang datang untuk sembahyang atau sekadar mampir. Bisa juga ada siswa sekolah Minggu yang datang untuk belajar agama Buddha. Maklum, para siswa buddhis kerap menggunakan salah satu ruangan kelenteng untuk belajar agama Buddha pengganti pelajaran di sekolah.

"Kalau saya pergi atau jalan-jalan, siapa yang akan melayani pengunjung?" tukasnya.

Meski sembahyang rutin dilakukan setiap tanggal 1 dan 15 bulan Imlek, kelenteng harus dibuka setiap hari. Sebab, banyak warga Tionghoa yang sengaja mampir ketika hendak menuju ke kawasan wisata Pacet atau Trawas.

"Ramainya sih pasti tanggal 1 dan 15 penanggalan Tionghoa. Biasanya sekitar 20 sampai 30 orang yang datang sembahyang," katanya.

Seperti kelenteng-kelenteng di tempat lain, menurut Ka Kien, jumlah jemaat yang datang ke TITD Hiap Tian Kiong mengalami penurunan tajam sejak era Orde Baru. Anak-anak muda Tionghoa saat itu enggan datang ke kelenteng seperti orangtua atau engkong mereka.

Bagaimana kondisi sekarang setelah reformasi?

"Lumayan, tapi tidak seperti zaman saya masih kecil. Zaman dulu umat yang datang sampai ratusan orang. Sekarang ini 20 orang saja sudah bagus," paparnya.

01 June 2012

Bahasa gado-gado Agnes Monica




Akhir-akhir ini saya mulai senang lagi menonton Indonesian Idol setelah absen cukup lama. Regina dkk pada 2012 ini menyanyi bagus. Kualitas vokal Regina memang di atas rata-rata penyanyi komersial kita sekarang.

Saya perhatikan tiga juri kasih komentar; Ahmad Dhani, Anang, Agnes Monica. Saya heran dengan gaya bahasa Agnes yang gado-gado. Ada kesan dia pamer kemampuan bahasa Inggrisnya meskipun audiens Indonesia Idol tentu orang Indonesia yang berbahasa Indonesia.

Ada kesan Agnes Monica ini sehari-hari lebih banyak berbahasa Inggris ketimbang Indonesia sehingga sebentar-sebentar di oplos english. Kayaknya kurang mantap kalau hanya Indonesia saja. Gaya bahasa Agnes juga kita temui pada Daniel, pembawa acara.

Mungkin inilah yang disebut penyakit NGINGGRIS atau KEMINGGRIS oleh Remy Sylado, penulis dan munsyi senior. Pak Remy ini bukan hanya menguasai bahasa Inggris tapi juga belasan bahasa asing, termasuk bahasa-bahasa sulit macam Mandarin, Arab, Ibrani, dan Yunani.

Hebatnya, ketika berbicara dalam bahasa Indonesia Remy Sylado tidak pernah mengoplosnya dengan english atau Belanda atau Prancis atau Jerman. Penulis favorit saya ini bicara sederhana, apa adanya. Beliau orang yang paling gigih mengkritik penyakit NGINGGRIS ala Agnes Monica yang makin menggila sejak akhir 1990an.

Saat masih anak-anak di pelosok Flores Timur, kami mengenal dekat Pater Geurtz dan Pater Willem van de Leur, keduanya pastor asal Belanda yang fasih bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Latin, Indonesia, dan Lamaholot alias bahasa Flores Timur. Tapi saat bicara atau khotbah di gereja keduanya berbahasa Indonesia dengan kata-kata sederhana dan terang. Bahkan Pater Geurtz sering berkhotbah dalam bahasa daerah Lamaholot layaknya orang kampung.

Maka, saya selalu heran melihat gaya bahasa para pesohor dan pejabat kita di televisi yang makin bergelemak peak. Bahasa gado-gado Indonesia-Inggris sekadar pamer-pameran.

Saya pun makin kagum dengan orang Tiongkok yang sangat fanatik pada bahasa mereka. Kecintaan terhadap bahasa Tionghoa versi PUTONGHUA alias Mandarin itu begitu besarnya sampai pemerintah Tiongkok menyisihkan dana besar untuk mengembangkan bahasanya di seluruh dunia.

Indonesia bagaimana?

Simak saja gaya bicara Presiden Susilo suatu ketika: "I don't care about my popularity!"

Yah, SBY meniru Agnes, atau Agnes meniru gaya gado-gado SBY... tidak jelas.

Pilot asing lebih asyik



Pesawat Susi Air saat mendarat di Bandara Wunopito Lewoleba, Lembata, NTT. [Foto: Lambertus Hurek]



Susi Pudjiastuti mempekerjakan 175 pilot asing, khususnya bule. Tak banyak pilot Indonesia yang bekerja di maskapai Susi Air milik wanita kelahiran Pangandaran 15 Januari 1965 itu.

Mengapa? "Pilot asing itu baik, profesional, gak sok. Mereka biasa mencuci pesawat sendiri, bersihin kokpit kalau habis pakai. Kalau pilot lokal mana mau seperti itu?" kata Susi kepada Jawa Pos.

Saat ini Susi Air punya sekitar 50 pesawat kecil yang melayani berbagai rute di tanah air. Termasuk di NTT, bahkan menjangkau kampung saya di pelosok Lembata. Susi Air bolak-balik Kupang-Lewoleba dan kota-kota lain di Flores dua kali sehari.

Saya selalu menyebut Susi Pudjiastuti sebagai pahlawan yang berjasa membuka isolasi NTT. Saya beruntung menikmati penerbangan yang asyik ke kampung bersama Susi Air dengan pilot dan kopilot bule.

Benar-benar ramah dan hangat pilot bule itu. "Bapak-bapak dan ibu-ibu selamat menikmati penerbangan kira-kira 40 menit. Kalau ada yang perlu bantuan silakan hubungi saya," kata si pilot Susi Kupang-Lewoleba.

Pilot bule Susi Air memang asyik-asyik. Meski penumpangnya hanya orang NTT, wong kampung, kami merasa diperlakukan layaknya tamu hotel bintang lima di kota. Bule-bule itu juga kelihatannya senang terbang di kawasan terbelakang macam NTT, Maluku, Papua.

Kontras banget saat kita terbang dari Kupang ke Surabaya dengan pesawat jet besar. Jangankan pilot, pramugari-pramugari itu hanya wajahnya saja yang cantik tapi tidak asyik. Kata-katanya sering ketus dan kurang bersahabat. Seakan-akan pesawat itu milik embahnya.

Ungkapan bahwa orang Indonesia ramah-tamah, menurut saya, cuma pemanis bibir. Di dalam pesawat rupanya tidak berlaku. Orang kita punya penyakit lupa daratan, sok gengsi, kurang asyik, kalau sudah menempati posisi tinggi.

Anehnya, orang-orang Indonesia itu biasanya sangat hormat dan tunduk sama bule-bule Eropa atau Amerika. Itulah mental inlander bangsa yang terlalu lama dijajah Belanda.