02 May 2012

TITD Krian baksos pengobatan


Sekitar 300 warga Krian dan sekitarnya antre dengan tertib di depan aula Kelenteng Teng Swie Bio Krian, Ahad (29/4/2012) pagi. Setelah mendaftarkan diri, mereka satu per satu langsung dilayani tim dokter dan paramedis asal Surabaya.

"Coba Bapak jalan kaki, saya mau lihat," pinta dokter kepada pria 60-an tahun. Laki-laki asal Krian itu tampak tertatih-tatih meski masih bisa berjalan. Dia memang mengaku punya keluhan berat di bagian kaki.

Sang dokter kemudian melakukan pemeriksaan singkat, kemudian menulis resep obat. Pasien itu tersenyum lebar saat pulang membawa beberapa macam obat. "Alhamdulillah, saya akhirnya bisa ditangani langsung oleh dokter," katanya.

Selain warga Krian, menurut Liliana, salah satu panitia, peserta bakti sosial pengobatan massal ini berasal dari Balongbendo, Tarik, Mojosari, dan Wonoayu. Dua pekan sebelumnya, para relawan dan relasi telah turun ke lapangan untuk mendata sekaligus membagikan kupon.

Sistem jemput bola ini agar layanan kesehatan gratis ini tepat sasaran. "Kebetulan kami sudah sering mengadakan baksos seperti ini. Jadi, kami sudah tahu warga mana saja yang harus diprioritaskan," kata Liliana yang juga pengurus TITD Teng Swie Bio Krian.

Baksos yang berlangsung hingga petang ini bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Jawa Timur, Yayasan Prayogo, serta RSUD Soetomo Surabaya. Pengurus Inti Jatim yang bermarkas di Jl Karet Surabaya bahkan membawa sejumlah sinse yang melayani pengobatan akupunktur. Juga ada tim pijat refleksi serta pengobatan alternatif Tiongkok.

"Kami sengaja menawarkan beberapa macam pilihan kepada masyarakat. Silakan berobat dengan sistem medis Barat (modern) atau tradisional," kata Liliana seraya tersenyum.

Tak ayal, peserta pun tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Mula-mula mereka dilayani dokter biasa, kemudian meminta diterapi oleh sinse. "Saya baru pertama kali ini menjalani terapi tusuk jarum. Badan saya pegal-pegal, jalan saja susah," kata Siti, asal Balongbendo.

Sang sinhe senior ini menyebut sistem metabolisme di tubuh wanita 50-an tahun itu kurang baik. Dan itu tidak lepas dari berat badannya yang berlebihan. Dia kemudian menceramahi pasiennya untuk membatasi asupan makanan. "Mulai sekarang Anda tidak boleh makan yang enak-enak," kata sinshe.

Stan pijat refleksi pun tak kalah ramainya. Warga memanfaatkan peluang itu untuk diterapi para pemijat dari Surabaya. "Pijat refleksi ini cukup efektif kalau kita tahu titik-titik refleksi," kata Joko, salah satu terapis.

Menurut Liliana, baksos kesehatan di Teng Swie Bio ini biasa dilakukan beberapa kali dalam setahun. Tak perlu menunggu event khusus, pihaknya menggelar baksos jika pihak rekanan seperti tim dokter menyatakan siap.

"Kami hanya ingin sedikit meringankan beban masyarakat kurang mampu yang sering kali kesulitan mendapat layanan kesehatan," katanya.

Selama baksos berlangsung tampak beberapa anggota Polsek Krian berjaga-jaga di depan kelenteng. Maklum, lokasi kelenteng berada di dua titik persimpangan jalan sekaligus yang sangat padat volume kendaraan. Ini membuat warga kesulitan menyeberang ke lokasi pengobatan massal.

No comments:

Post a Comment