26 May 2012

Tedja Suminar pameran tunggal HUT 76



Oleh Lambertus Hurek

Berbeda dengan ayahnya, The Kiem Liong, yang sukses menjadi pedagang palawija di Ngawi, Tedja Suminar alias The Tiong Tien memilih menekuni seni rupa. Sejak 1957 Tedja Suminar menggeluti skesta dan masih tetap berkarya sampai sekarang.

Belum lama ini Tedja Suminar menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Bali dan dilanjutkan di Balai Pemuda Surabaya. Pameran untuk merayakan hari jadinya ke-76 ini dimeriahkan pertunjukan reog, melukis on the spot, pemutaran film perjalanan Tedja, hingga sarasehan budaya.

Kehadiran para seniman, pengusaha, aneka komunitas, saat itu semakin mempertegas posisi Tedja sebagai legenda hidup sketser Jawa Timur sepeninggal Lim Keng, sahabat dekatnya. Berikut petikan wawancara saya dengan Tedja Suminar:

Apa kegiatan Anda setelah pameran tunggal dalam rangka ulang tahun Anda kemarin?


Saya baru saja pulang dari Bojonegoro, jalan-jalan sambil mencari inspirasi, karena saya tidak bisa diam saja di rumah. Yah, sekalian refreshing dan ketemu teman-teman di sana.

Apakah pameran tunggal Anda di Balai Pemuda itu sukses?


Sukses, bahkan sangat sukses. Saya tidak menyangka kalau pameran yang hanya berlangsung selama tiga hari itu dikunjungi begitu banyak orang. Mulai upacara pembukaan, pertunjukan reog, saya bikin sketsa reog di lokasi, pemutaran film, sampai sarasehan... selalu ramai.

Saya berterima kasih atas dukungan dan sambutan berbagai pihak di Surabaya dan sekitarnya yang antusias dengan pameran saya kemarin. Bahkan, boleh dikata pameran di Balai Pemuda itu paling sukses dibandingkan pameran-pameran saya sebelumnya.

Lantas, dari segi koleksi bagaimana? Apakah ada sketsa Anda yang dikoleksi orang?

Ada dan benar-benar di luar perkiraan saya. Pada hari terakhir ada orang Korea yang punya galeri di daerah Pandaan datang, dan ternyata dia meminati dua sketsa saya tentang orang Irian Jaya (Papua). Gambar itu saya buat ketika berkunjung ke Irian Jaya tahun 1983. Saya tidak menyangka kalau ada kolektor yang mengapresiasi karya saya itu. Ada lagi beberapa sketsa lain yang diminati kolektor.

Apa rencana Anda dalam waktu dekat ini?


Saya mau ajak dua anak saya (Swandayani dan Natalini) jalan-jalan ke Tiongkok. Saya ingin melihat tempat-tempat bersejarah, wisata, dan seni budaya di sana.

Sekalian bikin sketsa di sana?


Tentu saja, karena saya selalu membuat sketsa langsung di lapangan atau on the spot. Yang jelas, ke mana pun saya pergi, saya selalu bergairah untuk membuat sketsa.

Sudah berapa kali Anda ke Tiongkok?


Belum pernah. Makanya, saya ingin datang ke sana. Saya sudah pernah keliling Eropa dan beberapa negara Asia. Tahun lalu saya sempat mengunjungi Thailand dan terkagum-kagum dengan bangunan-bangunan tua yang sangat terawat.

Kabarnya Anda makin bergairah membuat sketsa kalau sedang merokok?


Hehehe... ada benarnya. Kalau nggak merokok saya justru nggak bisa berkarya dan bisa sehat sampai sekarang. Saya juga heran karena teman-teman saya yang nggak merokok wis gak ono kabeh. Tapi, nanti dulu, merokok itu menurut dokter bisa merugikan kesehatan kita lho. Jadi, bagi orang yang belum merokok, sebaiknya tidak usah merokok. Nanti gara-gara saya ngomong begini, banyak orang yang ikut merokok. Saya yang akan disalahkan.

Apa makna melukis bagi seorang Tedja Suminar?


Bagi saya, melukis itu romantisme. Seperti orang jatuh cinta. Jadi, setiap apa yang saya lihat, saya tuangkan dalam sketsa. (*)





Tiong Tien Cilik Suka Bolos

SELAIN karya-karya dan gaya hidupnya, yang tak kalah menarik adalah menulik asal-usul Tedja Suminar. Ayahnya The Kiem Liong berasal dari Provinsi Fujian, Tiongkok, suka berpetualang hingga terdampar di Ngawi.


"Kiem Liong itu artinya naga emas," tutur Tedja Suminar. The Kiem Long kemudian menikahi perempuan peranakan bernama Ie Hoen Nio dan melahirkan 10 anak, 5 laki-laki dan 5 perempuan.

Berkat kemahirannya di bidang sastra dan bahasa Belanda, The Kiem Liong diterima sebagai wartawan beberapa surat kabar. Kiem Liong juga sukses bekerja sebagai pedagang palawija. Anak ke-10 pasangan Kiem Liong-Hoen Nio bernama The Tiong Tien yang kemudian dikenal sebagai Tedja Suminar.

Berbeda dengan kakak-kakaknya, Tiong Tien senang bermain dan membaur dengan anak-anak kampung. Mandi di sungai dan naik kerbau adalah kegemarannya. Dia juga gandrung wayang kulit. "Saya sering ditampar kakak karena pulang larut malam," kenang Tedja.

Keluarga besar The mendapat pukulan besar ketika Kiem Liong, sang ayah asal Hokkian itu, meninggal ketika Tiong Tien berusia enam tahun. Sang ibu, Hoen Nio, pun harus banting tulang untuk menghidupi 10 anak itu,

Situasi ekonomi yang sulit memaksa mereka pindah ke Surabaya pada 1949 untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik. Meski fasilitas lebih baik, Tiong Tien tidak lantas menjadi lebih semangat dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

"Saya malah sering bolos karena nggak suka pelajaran," katanya.
Hanya pelajaran kesenian yang disukai Tiong Tien kecil. Namun, dia bisa meluluskan SMA dengan nilai lumayan.

Didorong rasa cinta tanah air Indonesia, The Tiong Tien mengganti namanya menjadi Tedja Suminar dan mendaftarkan diri ke Akademi Kesenian Surakarta pada 1957 sebagai mahasiswa angkatan pertama. Di kampus kesenian itu kehidupan Tedja menjadi lebih bergairah, punya banyak kawan, seakan lahir kembali.

Gairah berkesenian itu tetap dia pelihara sampai hari ini. Saat kuliah di Surakarta itulah, Tedja makin bermetamorfosa sebagai peranakan Tionghoa yang njawani.

Dia makin gandrung wayang kulit. Dia juga banyak menghabiskan waktu untuk membaca kisah Ramayana, Bharatayudha, dan sastra Jawa.

Kerinduannya akan sosok kepahlawanan ayahnya dari Tiongkok diimpaskan Tedja dengan membaca berbundel-bundel cerita silat karya Kho Ping Hoo. Karena pengarang cersil legendaris ini tinggal di Surakarta, Tedja sangat mudah mendapat buku-buku cersil terbaru dari Kho Ping Hoo. (rek)



Down Ditinggal Sang Garwa

URIP nang dunyo mung mampi ngombe! Kata-kata bijak ini sudah dibuktikan Tedja Suminar yang kini berusia 76 tahun.


Selama 46 tahun Tedja membina kehidupan rumah tangga dengan Anastasia Moentiana hingga ajal menjemput sang garwa pada 30 Oktober 2007. Tak ada kehilangan yang lebih besar kecuali kehilangan garwa, separo jiwa. Begitu banyak pengalaman manis, pahit, suka, duka, selama hampir lima dekade menjalin kebersamaan.

Tapi Tuhan akhirnya memanggil kembali Moentiana dari sisi Tedja. Mereka dikaruniai dua anak, yakni Swandayani (penari) dan Natalini Widhiasi (pelukis). Sempat down setelah ditinggal istri tercinta, Tedja akhirnya kembali mendapat kekuatan untuk bangkit lagi berkat dorongan kedua putrinya.

Tedja Suminar mengaku bahagia karena di usia senja dia sering dihibur enam cucu. Salah satu cucunya, Sabathania, tahun lalu bahkan terpilih sebagai Ning Surabaya 2011.

"Thania ini juga sudah lulus sebagai dokter gigi," kata Tedja sambil menunjuk sang cucu tercantik itu.

No comments:

Post a Comment