23 May 2012

PRAMUGARI MAKAN RUJAK

Minggu lalu saya melintas di Jl Polisi Istimewa Surabaya, tepat di depan SMAK Sint Louis. Wow, ada 4 pramugari Lion Air memakai kostum kabin yang anggun itu sedang membeli rujak di kaki lima. Jl Polisi Istimewa dan dr Soetomo memang sangat terkenal dengan rujak manis.

Para cewek cantik itu, U25 alias di bawah 25 tahun, rupanya sangat menikmati rujak itu. Sumringah. "Pramugari ayu kok mangan rujak?" celetuk seorang pengendara motor. Saya ketawa dalam hati mendengar celetukan ala suroboyoan itu. Cantik-cantik kok makan rujak di pinggir jalan!

Bagi orang kampung, apalagi dari kawasan timur seperti NTT, pramugari atau pilot sering dianggap dari dunia lain. Menu makanan harus beda dengan orang kebanyakan. Pramugari setiap malam tinggal di hotel berbintang. Makan di restoran hotel yang mahal.

Ketika melintas di Bandara Kupang misalnya, para pramugari ini ibarat dewi-dewi kahyangan. Dianggap beda dan lebih ketimbang orang lain. Maka ketika si peri ini makan rujak di pinggir jalan kayak orang biasa rasanya memang tidak lazim.

Kita sering lupa bahwa banyak pramugari itu berasal dari keluarga sederhana. Tinggal di rumah sempit di kampung. Saya pernah kenal seorang pramugari Garuda ketika sama-sama ikut kursus bahasa Belanda di YPKIB Surabaya. Rumahnya di kawasan Kebonsari, masuk gang sempit.

Bahwa sekarang hampir tiap malam pramugari tidur di hotel mewah, makan mahal di restoran... semata-mata karena profesi. Standar internasionalnya memang begitu.

Tapi sayang, tidak sedikit pramugari yang lupa daratan, lupa asal-usul. Khususnya ketika bertugas ke kawasan Indonesia timur. Kurang komunikatif, kurang senyum, kurang menghargai penumpang yang sudah membeli tiket. Jauh dari image pramugari profesional yang harus memperlakukan penumpang tanpa diskriminasi.

Mungkin karena terlalu sering tidur di hotel, berada di lingkungan high class, si oknum pramugari lupa bahwa dia pun sejatinya berasal dari keluarga sederhana. Moga-moga setelah makan rujak di pinggir jalan pramugari kita bisa memperbaiki servisnya.

2 comments:

  1. Tulisan menarik dengan kandungan pujian dan kritik pedas sesuai dengan rujak yang dimakan mbak pramugari nan cantik ada rasa manis dan pedas.

    ReplyDelete
  2. Hua..haa..haa...kalau kesabaran sudah habis dan iblisnya yg tinggal, saya sering memperaktek hal ini ke front line operator seperti pramugari2 tipe diatas (yg lupa kalau tugas utama mereka adl service):
    Pasang muka sombong, sorot mata merendahkan lawan bicara, suara angkuh dgn kesan bossy. Hasilnya mereka lebih tanggap dan lebih melayani. Tapi kalau disenyumin, disopanin & dihargai
    malah meremehkan customer. Aneh yah...

    ReplyDelete