01 June 2012

Pilot asing lebih asyik



Pesawat Susi Air saat mendarat di Bandara Wunopito Lewoleba, Lembata, NTT. [Foto: Lambertus Hurek]



Susi Pudjiastuti mempekerjakan 175 pilot asing, khususnya bule. Tak banyak pilot Indonesia yang bekerja di maskapai Susi Air milik wanita kelahiran Pangandaran 15 Januari 1965 itu.

Mengapa? "Pilot asing itu baik, profesional, gak sok. Mereka biasa mencuci pesawat sendiri, bersihin kokpit kalau habis pakai. Kalau pilot lokal mana mau seperti itu?" kata Susi kepada Jawa Pos.

Saat ini Susi Air punya sekitar 50 pesawat kecil yang melayani berbagai rute di tanah air. Termasuk di NTT, bahkan menjangkau kampung saya di pelosok Lembata. Susi Air bolak-balik Kupang-Lewoleba dan kota-kota lain di Flores dua kali sehari.

Saya selalu menyebut Susi Pudjiastuti sebagai pahlawan yang berjasa membuka isolasi NTT. Saya beruntung menikmati penerbangan yang asyik ke kampung bersama Susi Air dengan pilot dan kopilot bule.

Benar-benar ramah dan hangat pilot bule itu. "Bapak-bapak dan ibu-ibu selamat menikmati penerbangan kira-kira 40 menit. Kalau ada yang perlu bantuan silakan hubungi saya," kata si pilot Susi Kupang-Lewoleba.

Pilot bule Susi Air memang asyik-asyik. Meski penumpangnya hanya orang NTT, wong kampung, kami merasa diperlakukan layaknya tamu hotel bintang lima di kota. Bule-bule itu juga kelihatannya senang terbang di kawasan terbelakang macam NTT, Maluku, Papua.

Kontras banget saat kita terbang dari Kupang ke Surabaya dengan pesawat jet besar. Jangankan pilot, pramugari-pramugari itu hanya wajahnya saja yang cantik tapi tidak asyik. Kata-katanya sering ketus dan kurang bersahabat. Seakan-akan pesawat itu milik embahnya.

Ungkapan bahwa orang Indonesia ramah-tamah, menurut saya, cuma pemanis bibir. Di dalam pesawat rupanya tidak berlaku. Orang kita punya penyakit lupa daratan, sok gengsi, kurang asyik, kalau sudah menempati posisi tinggi.

Anehnya, orang-orang Indonesia itu biasanya sangat hormat dan tunduk sama bule-bule Eropa atau Amerika. Itulah mental inlander bangsa yang terlalu lama dijajah Belanda.

10 comments:

  1. pilot kita sebenarnya sangat handal, tapi keramahtamahannya memang masih kalah dengan pilot asing,kita harus banyak berkaca pada mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju! salam kenal mas, bgmn kesan - kesan terbang di susi? saya sekarang PPL holder dan sedang menjalani cpl+ir program dan tertarik dengan penerbangan susi air.. mohon infonya, trims.

      Delete
    2. setuju! salam kenal mas, bgmn kesan - kesan terbang di susi? saya sekarang PPL holder dan sedang menjalani cpl+ir program dan tertarik dengan penerbangan susi air.. mohon infonya, trims.

      Delete
  2. Salam kenal,..
    Saya sangat tertarik dng tulisan diatas. Sangat terkesan bisa mendengar kesan2 yg baik dari pengalaman teman Hurek bersama susi air. Harap pelayanan susi air bisa lebih baik lagi dari hari ke hari.

    Saya adalah salah satu captain pilot indonesia di susi air,. Memang kami tidak banyak di bandingkan bule2, tapi dengan tulisannya kawan Hurek, khususnya saya pasti akan memberikan pelayanan yg terbaik kepada semua penumpang yg masuk ke pesawat.

    Sekali lg, trima kasih buat kesan2nya bersama susi air.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Mas.

      Saya gak nyangka ada kawan captain pilot Indonesia dari Susi Air yang ikut membaca curhat saya di blog sederhana ini.

      Terima kasih untuk anda dan manajemen Susi Air yang mau berkorban ke NTT, khususnya Lembata, ketika maskapai lain (Trans Nusa) memilih cabut dari Lembata. Semoga makin sukses.

      Salam dari Kota Pahlawan

      Delete
  3. Mas, on the page http://hurek.blogspot.com/2010/08/bung-karno-di-flores.html I've found your photo from the pohon sukun + Bung's statue in Ende.

    I've lived from the end of April 2004 till the end of March 2009 on Flores. In Moni. I've been a volunteer for the Dinas Pariwisata in Ende.
    Istri saya is born and raised in Ende.

    Now back in The Netherlands I try to make some publicity for Flores, Ende as well as for Bung Karno.

    Are you so nice to mail me your photo so that I can us it free of rights. I mention the source: Photo©: Lambertus L. Hurek | Jakarta. OK???
    A eventual publication I will mail to you.

    Looking forward to hear from you.


    Pieter de Hart.

    F. Wiedijk Jznstraat 6
    NL-1843 JS Grootschermer
    The Netherlands | Europe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meneer Pieter de Hart,

      Bedankt voor uw bezoek mijn blog.
      I've answered your question by your email.

      Dank u wel

      Delete
    2. trims. I've contacted yesterday later in the evening the photographer. I'm waiting for his response.
      So thanks for your answer and all the best from here for you in the Archipelago!

      Met hartelijke groet en dank u wel, alstublieft,


      Pieter de Hart.

      Delete
  4. masalah kita memang sense of service dan human relations yg kurang baik. ini juga gak lepas dr sistem pendidikan. tapi kualitas teknik n skill pilot kita gak kalah lho sama bule.

    mungkin juga krn gaji pilot indonesia yg jauh lebih rendah ketimbang si bule itu.

    ReplyDelete
  5. Gaji lagi, gaji lagi. Janganlah gaji dijadikan alasan. Kalau memang tidak suka ya jangan kerja di sana, carilah maskapai yang lebih mampu bayar. Jikalau pelayananmu baik, penumpang senang dan kembali jadi pelanggan ulang, tentunya penjualan perusahaan akan naik, dan gajimu naik juga.

    Manusia Indonesia tidak dididik dengan budi pekerti yang baik. Pendidikan agama hanya menekankan ritual dan menjelekkan agama lain, bukannya menekankan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

    ReplyDelete