14 May 2012

Musim giling tebu di Sidoarjo



Sejak minggu lalu empat pabrik gula di Sidoarjo ramai dengan hajatan buka giling tebu. Wayang kulit, ludruk, pengajian, mantenan tebu, dan bermacam pesta rakyat lain. Meriah sekali.

Begitulah suasana buka giling ketika tebu dikirim ke PG untuk digiling, diproses jadi gula. Sidoarjo memang salah satu sentra tebu di Jawa Timur. Ada 4 PG di Sidoarjo: Candi, Tulangan, Krembung, Watutulis. Tempo doeloe ada PG Krian tapi kemudian tutup karena terus merugi.

Sejak dulu bupati-bupati Sidoarjo meminta agar pabrik gula yang ada tetap dipertahankan. Jangan sampai tutup macam di Krian. Tapi bisnis punya hukum sendiri yang tidak bisa diintervensi oleh pejabat. Bagaimana mempertahankan pabrik gula warisan Belanda kalau tidak lagi ekonomis?

Semua pabrik gula di Sidoarjo memang warisan Belanda. Mesin-mesin lawas, bisa beroperasi dengan baik, meskipun tidak akan sebagus mesin baru. Tapi berkat perawatan yang baik, mesin-mesin lawas itu bisa bertahan sampai hari ini.

Yang jadi masalah sebenarnya bukan soal mesin yang tua tapi pasokan tebu. Biasakah petani-petani di kawaran barat seperti Porong, Krembung, Tulangan, Prambon, Krian, Wonoayu mampu mempertahankan pasokan tebu ke pabrik? Masihkan usaha tebu diminati petani, khususnya generasi muda? Pabrik-pabrik gula akan mati sendiri kalau pasokan tebu kurang.

Saat ini kawasan barat yang sejak dulu jadi sentra tebu sudah ditumbuhi perumahan-perumahan baru. Bahkan lahan tebu dijadikan perumahan. Lha, kalau konversi lahan pertanian ini terus terjadi bisa dibayangkan keadaan 10 tahun ke depan. Ketika petani-petani semakin tua dan anak-anaknya tak tertarik bertani, kemudian menjual tanah warisan.

Tutupnya PG Krian yang sangat bersejarah itu perlu jadi pelajaran bagi kita di Sidoarjo. Bukan tidak mungkin kejadian yang sama menimpa 4 pabrik gula lain yang masih bertahan.

Syukurlah, Menteri BUMN Dahlan Iskan akhir-akhir ini sangat serius memperhatikan pabrik-pabrik gula di tanah air yang hidupnya senen kemis. Jangan sampai kita hanya jadi pengimpor gula pasir.

1 comment:

  1. Masalah Tebu di Banyuwangi. Perkebunan letaknya diplosok. Jalan tak beraspal. Jembatan tonasinya kelas III atau maximal kelas II. Truck pengangkut tebu, musim hujan selalu terbelowok dilumpur, Ass-kendaraan sering patah. Polisi Polsek dan Polres selalu mencegat, sebab Truck melewati jembatan yang tonasinya terbatas.
    Panen tebu caranya manual, kulinya harian dan borongan. Kalau ada kerjaan yang lebih enak, mereka tidak mau potong tebu. Truck, sopir dan kernet nganggur ditengah hutan.
    Pabrik tebu warisan Belanda tidak mempunyai timbangan yang canggih. Tebu dari Truck diturunkan dan ditimbang secara kwintalan. Sampai selesai Truck yang antree harus nunggu 3 hari- 3 malam lamanya. Tebu jadi kering, timbangannya sungsut. Pengusaha Truck, Sopir dan Kernet rugi, kerena mereka dibayar sesuai tonasi.
    Pungli ada dijalan, diparkiran dan didalam pabrik gula. Untuk mendapatkan izin pengangkutan tebu, korupsinya berjemaah. Sebenarnya kasihan para pengusaha pengangkutan truck, sopir dan kernet, juga para petani tebu.
    Pak Dahlan sudah tahu dari dulu, sayang baru sekarang pempunyai kekuasaan untuk merombak.
    Republik kita adalah Republik Terlambat. Semuanya serba terlambat. Mosok ngusir beberapa gelintir orang2 VOC ( pedagang kongsi ), membutuhkan waktu 350 tahun ? Ngurus bentrokan antar warga di Sampang, Mesuji, Poso, Ambon,
    Sampit.... dll. terlambat. Penegakan Keadilan Sosial sesuai Pantjasila terlambat atau gagal.

    ReplyDelete