25 May 2012

Lady Gaga dan Piala Thomas



Selama sebulan ini energi kita habis untuk bahas (rencana) konser Lady Gaga. Argumentasi polisi, menteri agama, ormas, politisi makin absurd. Kita rugi besar kalau ikut larut dalam permainan genderang ormas anarkistis itu.

Kita lupa memperhatikan pemain2 kita yang berlaga di Piala Thomas di Tiongkok. Kita terpuruk luar biasa. Sebagai penggemar bulutangkis, saya benar2 sedih melihat kenyataan ini. Satu-satunya olahraga yang pernah jadi kebanggan kita itu pun tinggal sejarah.

Apa lagi yang masih bisa kita banggakan setelah 14 reformasi? Padahal bulutangkis ini bisa menjadi perekat bangsa... jika Indonesia juara Piala Thomas dan Piala Uber.

Hancurnya bulutangkis di negara kita sebetulnya sudah mulai terlihat sejak medio 1990an. Pelan2 olahraga yang asyik ini ditinggalkan anak muda. Maka regenerasi tidak jalan. Ketika Tiongkok punya begitu banyak pemain muda yang hebat, sampai kita tak tahu nama2 mereka, Indonesia justru tak memanen pemain bagus. Bagaimana bisa panen kalau kita tidak lagi menanam bibit2 unggul di ladang bulutangkis?

Saya sudah keliling kampung2 di Surabaya dan 353 desa di Sidoarjo. Ternyata tidak ada kampung yang punya lapangan bulutangkis. Kita tidak menjumpai anak-anak main bulutangkis di lapangan. Anak2 justru asyik main PS di warnet dan semacamnya sampai larut malam.

Lapangan bulutangkis sederhana di kampung? Tidak ada. Padahal, kita tahu, Surabaya pernah melahirkan legenda bulutangkis macam Rudi Hartono dan Alan Budikusumah. Klub-klub bulutangkis di Jawa Timur pun senen kemis.

Saya ingat zaman dulu ketika Indonesia menang Thomas Cup masyarakat ramai-ramai turun ke jalan untuk mengelu-elukan Liem Swieking, Hastomo Arbi, Lius Pongoh. Saya dan kawan-kawan di pelosok NTT jalan kaki 20an km demi menonton Liem Swieking di televisi hitam putih.

Dulu di kampung saya, Lembata, NTT, selalu ada turnamen bulutangkis antarkampung dalam rangka Natal dan Paskah. Ramai nian, padahal listrik belum masuk desa. Penerangan pakai petromaks.

Itu semua hanya kisah masa silam. Nostalgia. Saat ini anak-anak kecil di pelosok NTT sudah tidak pernah melihat yang namanya pertandingan bulutangkis antardesa.

4 comments:

  1. Saya penggemar tulisan Anda, betul sekali miris ya dengan olah raga ini. Dari kacamata saya sih saya membandingkan dengan hingar bingar sepakbola negeri orang yang dijunjung tinggi di sini sementara prestasi bola tanah air mandul.
    Parahnya porsi pemberitaannya jauh lebih besar daripada bulutangkis, tak heran ga ada apresiasi.
    Buat saya biar sedih tahun ini karena Thomas dan Uber cuma di impian, setidaknya saya bangga olah raga ini pernah punya prestasi. duh.. ngenes kalo ngomongin olah raga di Indonesia :(

    ReplyDelete
  2. Tidak usah sedih lah tentang bulutangkis. Prestasi naik turun. Indonesia bagus dan dominan tahun 1950-1980 dimotori Ferry/Tan Joe Hok kemudian Rudy/King/Tjun-Tjun/Christian/Sumirat/Ade Chandra, karena RRT tidak ikut IBF.

    Sejak RRT masuk IBF, mereka bagus dan keket dengan RI sampai 1990. Setelah itu, Indonesia 5 kali juara Piala Thomas berturut-turut, dengan dimotori Alan, Ardy, Joko, Hermawan, Ricky/Rexy, Tony/Chandra/Sigit, kemudian Taufik dan Markis/Hendro. Bahkan mengawinkan Thomas Cup dengan Uber Cup yang dimenangkan Susi dkk. Tidak lepas sumbangan para pelatih Tong Sinfu dan Liang Chiu-hsia.

    Setelah itu RRT bangkit kembali dan menang 5 kali berturut-turut hingga sekarang. Nanti akan ada masanya Indonesia bangkit lagi. Pengurus PBSI harus mau melibatkan mantan pemain, terutama yang masih muda-muda seperti Susi, Rexy, dll. Beri mereka gaji yang layak yang bersaing dengan luar negeri.

    ReplyDelete
  3. Wah wah... pakai nama Goei Ren Fang, kawan satu ini!

    Saya jadi ingat masa kecil ketika numpang nonton TV hitam putih di rumah Pak Simon Sanga di Lohayong, Larantuka, Flores. Acara Dari Gelanggang ke Gelanggang hari Minggu siang, reporternya Nus Tuwanakota dari TVRI Surabaya, yang sekarang bisa saya kenal dari dekat. Waktu itu Renfang masih pemain yunior yang sudah terlihat bakatnya. Di kemudian hari Goei Ren Fang ini kita kenal dengan nama baru: Alan Budikusuma, pebulutangkis yang dapat emas olimpiade.

    Komentar2 macam ini membuat wawasan kita semakin luas. Dan so pasti bikin blog ini lebih berkualitas. Hehehehe.... Salam sukses untuk Goei Ren Fang baik yang asli (Alan Budikusuma) maupun palsu.

    ReplyDelete
  4. sangat memprihatinkan pak. malah sekarang anak2 muda lebih suka ke :
    nonton konser
    nobar
    dugem

    ReplyDelete