28 May 2012

Lady Gaga batal, antidemokrasi menang


Orang nasrani tentu risi dengan syair lagu Lady Gaga yang menghujat Yesus Kristus dan memuji Yudas Iskariot. Tapi di alam demokrasi, konser artis Gaga dan sejenisnya tidak bisa dilarang. Industri musik punya logika sendiri. The show must go on!

Orang Islam haram makan daging babi. Tapi tidak berarti restoran yang jual babi atau peternakan babi dilarang. Saya berpuasa tapi warung dan restoran tidak perlu ditutup. Itulah kira2 contoh sederhana tentang demokrasi yang telah kita perjuangkan sejak 1998.

Maka menjadi masalah SANGAT SERIUS di Indonesia ketika pemerintah (polisi) tidak memberikan izin untuk konser Lady Gaga. Polisi kita adalah kepolisian RI bukan polisi syariah atau satpol di Aceh. Ketika polisi, politisi, ormas, dan siapa pun tidak paham hakikat demokrasi, maka jadinya seperti sekarang.

Sangat konyol kalau konser musik harus minta izin dulu dari ormas2 agama, termasuk MUI. Makin terlihat polisi semakin gamang di era globalisasi dan demokratisasi ini. Polisi pun terlihat tak berdaya ketika ditekan oleh ormas2 dan elemen antidemokrasi yang makin subur di negara yang makin antikebinekaan ini.

Lady Gaga benar ketika membatalan konsernya di Jakarta. Terlalu besar risikonya. Ancaman ormas itu tidak main2 karena anggotanya sudah memborong tiket untuk mengacau dan merusak konser. Nyawa Lady Gaga dan krunya jadi taruhan di arena konser.

Siapa yang bisa jamin Gaga tidak diapa-apakan di atas panggung? Kita tahu selama ini polisi tidak bisa berbuat apa2 ketika massa ormas merusak kafe, tempat ibadah, dan apa saja yang dianggap sarang maksiat dan kekufuran.

Gagalnya konser Gaga di Jakarta adalah kemenangan antidemokrasi. Juga kemenangan elemen2 garis keras yang berhasil mendiktekan agenda kelompoknya kepada pemerintah dan kepolisian.

Maka betul kata sejumlah pengamat: Indonesia bukan lagi negara mayoritas muslim yang bisa dijadikan contoh negara demokrasi. Diskusi ilmiah bisa dibubarkan ormas. Presiden pun takluk pada elemen2 antidemokrasi, termasuk menteri2 di kabinet.

6 comments:

  1. Pengamat Demokrasi4:04 PM, May 28, 2012

    Perlu Presiden yang arek Surabaya, yang egaliter dan benar-benar paham demokrasi. Yang Islam tapi toleran. Dahlan Iskan for President.

    ReplyDelete
  2. Gak main babar blas rek. Negoro koq gak dianggep babar blas.

    ReplyDelete
  3. Yth. Bpk. L. Hurek.
    Kita semua tahu kalau Lady Gaga itu pemuja setan. Lihat setiap atribut yang dipakainya. Lihat perilakunya. Lihat bagaimana dia memanggil fansnya dengan sebutan "little monster". Itu semua sudah membuktikan 1 hal. Dia BERBAHAYA!! Untuk apa kita tetap mengizinkan dia datang ke negara kita? Apa mau Setan menjadi penguasa bangsa yang kita kasihi ini? Ini bukan masalah demokrasi atau politik. Ingat selalu bahwa ada ungkapan serigala berbulu domba. Setan dapat datang dan mengacau dengan memakai berbagai cara, apalagi industri musik yang sekarang adalah berhala tersirat. Ingat bahwa satu-satunya yang harus kita sembah adalah TUHAN. Ketika kita mengagungkan satu hal lebih dari Dia, maka kita telah menyembah berhala. Saya bukan politikus apalagi aliran keras tertentu. Tapi saya yakin TUHAN begitu mengasihi bangsa ini karena itu saya percaya kegagalan Lady Gaga-l itu ke sini adalah rancanganNya untuk menjaga bangsa ini dari penyesatan yang lebih dahsyat. Saya berharap kita semua jangan langsung menjadi pro dan kontra akan sesuatu tanpa lebih dahulu mengetahui latar belakangnya. Mari kita gunakan hikmat yang telah dianugrahkan TUHAN kepada kita. Terimakasih dan Salam.

    ReplyDelete
  4. negara tidak akan menjadi lebih baik apabila kemusrikan - kesyirikan merajalela.

    ReplyDelete
  5. kita hrs tetap menjaga demokrasi yg sesuai dg kepribadian bangsa. merdeka!

    ReplyDelete
  6. hehehe gak lucu aja. lady gaga kok jadi isu nasional sementara tempe aja masih impor.

    ReplyDelete