16 May 2012

HKBP pun ditolak di Bekasi




Terlalu banyak resistensi terhadap gereja-gereja di Jawa Barat dan Banten. Agak aneh karena Bekasi, Tangerang, Depok sudah menyatu dengan Jakarta, kota paling modern dan penuh keragaman.

Kasus-kasus di Jawa Barat ini membuat saya semakin bangga sebagai warga Jawa Timur. Karena provinsi ini paling asyik, terbuka, suka guyon ala srimulat. Orang bebas beribadah kapan saja sampai capek di gereja atau masjid atau kelenteng atau vihara.

Saya sebetulnya malas membaca laporan majalah TEMPO terbaru tentang kasus jemaat gereja yang mengadakan kebaktian di lapangan, trotoar, atau jalan raya. Kemudian pemkab Bekasi membubarkan paksa jemaat HKBP (Huria Kristen Batak Potestan) Filadelfia tanpa kasih solusi. Pokoknya jemaat harus bubar atau dipentungi!

Pemkab Bekasi rupanya tidak butuh kaum minoritas macam HKBP dan sejenisnya. Sebab, secara politik tidak signifikan. Jika si pejabat semakin keras terhadap kaum minoritas, maka peluang menang dalam pemilukada semakin besar. Umat HKBP yang beribadah pada hari Minggu dianggap pemerintah Bekasi sebagai gangguan terhadap kamtibmas.

Membaca berita-berita majalah TEMPO, yang sangat kritis dan objektif, saya bisa simpulkan bahwa orang Bekasi plus pemkabnya tidak paham anatomi gereja-gereja. Seakan-akan semua gereja itu punya misi mengkristenkan atau 'mengkafirkan' warga setempat yang beragama Islam. Karena itu, gereja-gereja harus dipersulit dengan cara apa pun sampai capek sendiri. Seberapa kuat sih stamina umat HKBP bikin kebaktian di jalan atau lapangan? Toh, suatu saat nanti akan menyerah juga.

Saya hanya ketawa dalam hati melihat kebebalan yang luar biasa di Bekasi ini. Kenapa? HKBP itu gereja etnis Batak yang sangat tidak ekspansif. HKBP itu khusus untuk orang Batak yang Protestan. Kalau anda pentakosta, katolik, adven, baptis... mustahil ikut HKBP. HKBP itu ibarat paguyuban atau komunitas orang Batak di rantau. Batak + Protestan = HKBP.

Andai saja orang Bekasi plus pemdanya yang Sunda paham hakikat HKBP, mereka niscaya tak cemas dengan kehadiran gereja HKBP. Jangankan orang Islam atau Buddha, umat Nasrani dari denominasi lain sama sekali tidak tertarik bergabung dengan HKBP. Sebaliknya, orang HKBP pun tak akan mau orang Sunda atau Jawa atau Dayak masuk HKBP.

Saya kira apa yang terjadi di Bekasi adalah paranoia berlebihan terhadap si liyan alias THE OTHERS. Seakan HKBP (dan sejenisnya) itu virus penyebar kekufuran di masyarakat Bekasi yang punya kultur dan agama sendiri.

Di sisi lain, resistensi terhadap gereja-gereja yang kian marak di berbagai daerah, khususnya Jawa Barat + Banten, harus menjadi bahan introspeksi dan refleksi bagi umat kristiani. Ini menunjukkan bahwa gereja-gereja belum menjadi BERKAT dan pembawa terang bagi masyarakat setempat.

Kita, umat kristiani (dari gereja apa saja), perlu merenung dan merenungkan lagi Kisah Para Rasul 2:41-47 untuk menimba pengalaman cara hidup jemaat gereja perdana. Berikut kutipannya dalam bahasa Inggris:


Each day, with one heart, they regularly went to the Temple
but met in their houses for the breaking of bread;
they shared their food gladly and generously;
they praised God and were looked up to by everyone.

9 comments:

  1. izin mendirikan membangun gereja HKBP pasti keluar setelah semua umat HKBP di bekasi jadi mualaf. hehehehehehe....

    ReplyDelete
  2. bisa jadi krn pengurus gereja gak bisa komunikasi dgn pemerintah dan masyarakat, kurang membuka diri... kalau ada dialog biasanya akan ada titik temu.

    ReplyDelete
  3. Prihatin Diskriminasi3:50 AM, May 17, 2012

    Di mana-mana orang Islam takut kristenisasi. Tapi kalau sebaliknya orang Kristen masuk Islam, langsung dimuat di majalah, disebut mualaf teladan. Di dunia barat yang secara historis Kristen (walaupun 90% sudah sekuler), umat muslim bebas membuka mesjid dan beribadah dengan dilindungi undang-undang dasar. Sedangkan di negara-negara yang mayoritas muslim, umat minoritas baik Kristen maupun lainnya diusir-usir dan dianiaya secara mental bahkan fisik. Kalau ada diskriminasi, bukan salah yang minoritas rek, tapi yang mayoritas harus membuka mata, hati, dan jangan takut yang tidak berdasar.

    ReplyDelete
  4. salah satu tugas bupati bekasi adalah menutup gereja2. makanya gak usah kaget

    ReplyDelete
  5. Sekuler Humanis6:48 AM, May 18, 2012

    Menanggapi Sdr Prihatin: kalau kita lihat sejarah, di abad2 15-18 setelah gerakan reformasi di gereja Romawi, yang menghasilkan gereja2 sempalan protestan dengan berbagai alirannya, pun banyak terjadi penindasan dan bunuh2an antara yang berkuasa dan yang minoritas. Bila yang mayoritas Katolik, yang Protestan ditindas (di Prancis, google "St Bartholomew's Day Massacre). Bila yang mayoritas Protestan dari satu aliran (taruhlah Anglikan di Inggris) yang minoritas (misalnya Puritan) ditindas. Dari situ lah kaum Puritan melarikan diri ke Amerika. Sampai di Amerika, setelah mereka berkuasa di daerah New England dan jadi WASP (White Anglo Saxon Protestants), eh giliran mereka menindas kristen dari aliran lain, sampai yang muak dengan kekerasan berdasarkan agama tsb mendirikan negara bagian lain yang menghargai kebebasan agama, misalnya Pennsylvania.

    Apa yang membebaskan negara2 maju dari siklus setan penindasan berdasarkan agama ini? Tinggalkanlah agama dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat: cerahkanlah pikiranmu dari kepicikan interpretasi kitab suci dan pemuka agama yang suka menghasut. Hargailah manusia sebagaimana mereka dilahirkan, apa adanya, tanpa peduli agama mereka.

    Saya kira orang Islam pada umumnya belum sampai ke sana, dan entah kapan akan sampai ke sana, seperti Bung Hatta, Bung Karno, Gus Dur, yang semuanya sangat terbuka pikiran karena mereka berPENDIDIKAN dan banyak membaca.

    Mungkin tidak dalam generasi kita (yg berumur 30-an dan 40-an sekarang). Kita hanya bisa berharap dan berdoa. Sementara itu, kalau jadi minoritas di Indonesia, ya mengelus dada saja. Kalau punya kemampuan, cabutlah ke luar negeri.

    ReplyDelete
  6. di indonesia pemerintah dan aparat makin tidak netral. di banyak polsek ada semacam kewajiban ikut yasinan dan khataman qur'an setiap hari. sekarang ini ucapin salam pake selamat pagi sudah gak boleh, harus assalamualikum wr wrb... kondisi ini membuat aparat negara yg harusnya netral menjadi sangat condong ke islam. di mana2 polisi terlihat seperti melindungi perusuh yg merusak gereja ketimbang membubarkan perusuh. jaman wuedaaan!

    haryanto arek malang

    ReplyDelete
  7. saya pernah undang pejabat kecamatan untuk menghadiri acara natalan di perumahan saya. dia gak mau datang katanya natal itu hari raya orang kafir. ada fatwa MUI melarang orang islam hadir di acara natalan meskipun hanya makan2 dan hiburan tari vocal group dan paduan suara.

    sejak itu saya makin sadar bahwa indonesia sudah beda dg saat saya kecil thn 80an ketika warga masih guyub meski beda agama. rupanya mindset itu sudah menyebar luas ke mana2. wong hanya ucapin selamat natal aja harap apalagi memberikan izin pembangunan gereja. moga2 ke depan ada perbaikan demi indonesia yg makin beradab.

    ReplyDelete
  8. ini masalah sangat serius, pelanggaran konstitusi. presiden sby harus bertindak krn sangat lemah. presiden membiarkan dan menikmati persecution yg dialami kaum minoritas.

    ReplyDelete
  9. INI MAH GAK SEBERAPA. JAMAN DULU ORG KRISTEN DISIKSA DIANIAYA BAHKAN DIBAKAR KRN MEMPERTAHANKAN IMAN DAN KEYAKINAN. KALO CUMAN DILARANG BIKIN GEREJA MAH KECIIIIIL... YG PENTING TETAP MENJAGA IMAN. SELAMAT BERJUANG UTK TEMAN-TEMAN HKBP.

    ReplyDelete