11 May 2012

Geisha, pelacur, gundik


Saya baru saja menikmati novel MEMOAR SEORANG GEISHA karya Arthur Golden. Terbitan 1997 tapi baru saya baca 2012. Sangat ketinggalan tent saja.

Tapi saya bersyukur bisa menikmati buku yang sangat bagus ini. Saya jadi tahu budaya geisha, proses rekrutmen, pendidikan, magang, hingga jadi geisha beneran. Apa yang saya pahami tentang geisha selama ini akhirnya dikoreksi setelah membaca memoar Sayuri, geisha top dari Kyoto, ini.

Apakah geisha = pelacur alias pekerja seks? Dulu saya menganggapnya begitu. Tapi ternyata, setelah baca cerita ini, saya jadi tahu posisi geisha di tengah masyarakat tradisional Jepang. Buku ini merujuk geisha tahun 1930an yang tentu saja sangat berbeda dengan masa sekarang.

Geisha ternyata seorang artis alias seniwati. Tinggal di okiya alias wisma khusus, calon geisha harus menjalani latihan ketat untuk menguasai seni musik, tari, busana tradisional kimono, upacara teh, kuliner, puisi, cerita rakyat, unggah-ungguh, fengshui dan sebagainya.

Mana mungkin pelacur harus mempelajari sedemikian banyak tradisi yang rumit? Cuma memang ada sedikit kemiripan, yakni punya semacam mucikari. Germo ini kejam dan tiap hari memeras bocah-bocah geisha dengan utang yang sangat sulit dibayar kalau kelak si geisha tak punya danna.

Geisha juga menjalani inisiasi yang disebut MIZUAGE alias belah duren alias upacara menjebol keperawanan. Terjadi perang di antara pengusaha kaya, dokter, pejabat, bangsawan untuk membeli mizuage. Perang harga gila-gilaan.

Dr Kepiting dalam buku ini digambarkan sebagai raja mizuage. Dia koleksi begitu banyak darah perawan di dalam kotak khusus. Setelah belah duren, si geisha harus punya danna alias pria khusus yang menjamin nafkah seumur hidup. Semacam gundik atau istri simpanan.

Geisha tetap bekerja sebagai wanita penghibur di kedai-kedai teh di Jepang, tapi tidak bisa diajak tidur oleh laki-laki hidung belang layaknya pelacur biasa. Dia hanya mau melayani si danna yang telah memberinya dana besar.

Sayuri kemudian didanai dannya untuk minggat di New York.

2 comments:

  1. kayaknya ini saya pernah lihat film semacam ini ya? Dulu pernah ditayangin di rct* kalau gak salah..

    ReplyDelete
  2. Aq belum pernah baca bukunya, tp pernah lihat film nya..
    Ya, geisha bukan pelacur, mereka adalah seniman yang menghibur para tamu dengan nyanyian dan permainan alat musik tradisional..

    ReplyDelete