18 May 2012

Doa bersama WPA di Surabaya


Bertepatan dengan peringatan kenaikan Yesus Kristus, Kamis (17/5/2012) malam, ribuan umat kristiani mengikuti World Prayer Assembly (WPA). Di Surabaya, kegiatan doa bersama ini dipusatkan di JX International Expo, Jalan Ahmad Yani. Sementara di Sidoarjo doa bersama untuk perdamaian dunia itu digelar di GOR Sidoarjo.

"Jemaat sangat antusias mengikuti WPA karena ajang ini termasuk baru di Sidoarjo," ujar Ellen Pantouw, salah satu panitia WPA Sidoarjo. Tak hanya orang dewasa, anak-anak dan kaum remaja pun meramaikan perhelatan akbar ini.

Saat Pendeta Kayhatu mengajak berdoa bersama, ribuan jemaat di JX Expo Surabaya secara spontan mengangkat tangan dan memejamkan mata. "Saya bingung harus berdoa dalam bahasa Jawa atau bahasa Madura. Soalnya, orang Jawa Timur itu berbicara dalam bahasa Jawa dan Madura," kata Kayhatu disambut tepuk tangan jemaat.

"Tapi, supaya semua orang bisa mengerti, baiklah saya berdoa dalam bahasa nasional, bahasa Indonesia, saja," kata pendeta berdarah Maluku itu.

Lalu, Kayhatu mendoakan puluhan pendoa di atas panggung, kemudian mendoakan segenap jemaat yang hadir, khususnya anak-anak dan kaum muda. Sebab, menurut dia, saat ini kaum muda di tanah air sedang mengalami berbagai pergumulan hidup yang tidak ringan.

"Tapi kita percaya bahwa Tuhan pasti bisa memberikan jalan keluar," kata pendeta yang bertugas di Gereja Sidang Jemaat Allah Surabaya ini.

Menurut Ellen Pantouw, umat kristiani di Indonesia mendapat kepercayaan untuk menyelenggarakan WPA setelah 28 tahun lalu kegiatan ini kali pertama dihelat di Korea Selatan. Secara nasional, WPA dilaksanakan secara serentak di 373 kabupaten/kota mulai pada 14-18 Mei 2012.

Acara bertajuk New Wave is Coming ini juga untuk mendoakan keselamatan bangsa dan negara kita. “Musibah yang kerap terjadi di Indonesia menggerakkan umat kristiani berdoa bersama untuk keselamatan Indonesia dan seluruh dunia,” kata Ellen.

Dia berharap, dengan doa bersama ini, musibah-musibah seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, longsor, konflik sosial, hingga kecelakaan lalu lintas, tidak kerap terjadi lagi di tanah air. Diawali di Korea Selatan pada 1984, gerakan doa ini berkembang luas ke seluruh dunia.

1 comment:

  1. Ga salah tuch yang di-shoot tim HUREK..
    yang mengaku Milanisti koq malahan UP DATE STATUZ..

    ReplyDelete