21 May 2012

Bahasa Kanton dan TKI di Hongkong


Orang Indonesia yang ingin bekerja di Hongkong WAJIB mempelajari bahasa Kanton (Cantonese) ketimbang Mandarin. Sebab, bahasa Mandarin sebetulnya jarang dipakai dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

"Memang untuk acara-acara formal bahasa Mandarin dipakai di Hongkong. Tapi kalau untuk komunikasi sehari-hari dengan majikan di rumah ya harus Cantonese. Kalau kita nggak bisa Cantonese ya nggak bisa bekerja," kata Rini Hidayat, mantan buruh migran Hongkok, belum lama ini.

Saat ini ribuan warga negara Indonesia bekerja di Hongkok. Sebagian besar menjadi pekerja domestik alias pembantu rumah tangga. Tak sekadar memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak majikan, hampir semua TKW harus mengurusi lansia yang tidak lain orangtua majikan.

Nah, lansia-lansia ini tidak bisa berbahasa Inggris atau Mandarin, tapi bahasa Kanton. Bahasa Cantonese ini sebetulnya serumpun dengan bahasa Mandarin, tapi lebih rumit karena nadanya jauh lebih banyak. Kalau bahasa Mandarin hanya punya empat nada, bahasa Kanton punya sembilan nada. Karena itu, nada bicara masyarakat Hongkong jauh lebih keras daripada bahasa Mandarin di daratan Tiongkok.

"Karena kerja di Hongkong, maka mau tidak mau kita harus belajar bahasa Cantonese. Tulisannya mirip Mandarin tapi ucapannya jauh berbeda dengan bahasa Mandarin," kata Rini.

Beberapa mantan TKW Hongkong menyebut Cantonese itu ibarat bahasa Jawa, sedangkan Mandarin sebagai bahasa Indonesia baku. Meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa resmi di Indonesia, kenyataannya orang-orang Surabaya dan kota-kota lain lebih banyak menggunakan bahasa Jawa di rumah.

"Bahkan, saat saya kerja di HK, saya tidak pernah mendengar bahasa Mandarin di rumah. Acara-acara televisi juga pakai bahasa Cantonese," tambah Fatma, mantan TKW asal Madiun.

Sejak 1997 Hongkong kembali ke pangkuan Tiongkok. Sejak itu Beijing terus melakukan mandarinisasi dengan tujuan menyatukan bahasa nasional dengan bahasa Tionghoa dialek Beijing yang dikenal sebagai bahasa Mandarin. Namun, warga HK cuek saja.

2 comments:

  1. hongkong itu dari penampilan, seperti negara maju, tapi soal bahasa, sorry aja, agak -agak kampungan (medok bahasa mandarinnya) dan terlihat konyol. (suka jadi bahan ledekan bule..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika ada orang Indonesia yang berpendapat, bahwa kebanyakan Cina Hongkong arogan dan tidak mengenal sopan santun, saya menyetujui pendapatnya 100%. Namun, jika mereka se-hari2 menggunakan bahasa daerah, kantonese, disebut konyol dan kampungan, saya tidak setuju. Terlebih lagi, jika orang bule berani meledek bangsa lain, itu namanya kurang-ajar. Orang bule harus bercermin pada sejarah. Faktanya bahasa mandarin Tionghoa Indonesia lah yang ngawur.
      Guru2 saya dulu disekolah THHK, adalah Tionghoa kelahiran Badung, Tabanan, Rogojampi, Temoegoeroeh, mereka sendiri ucapan putonghua-nya ngawur, sebab mereka dipergaulan se-hari2 selalu berbahasa Bali atau Jawa, bagaimana sang murid mampu berbahasa secara benar ? Walaupun demikian jasa dan budi seorang guru tidak boleh dilupakan seumur hidup.

      Delete