31 May 2012

Jolotundo sudah berubah



Enam bulan saya tidak menyepi ke kawasan Jolotundo di kampung Seloliman Trawas Mojokerto. Kemarin saya balik ke sana, menemui Mbok Jono, Mbak Gembuk, Pak Gatot... dalam suasana yang berubah. Kesunyian suasana Penanggungan yang sejuk sirna.

Selepas magrib warung-warung sederhana memutar musik koplo. Gubuk lain memutar di televisi. Ramai kayak taman hiburan. Hal yang sudah lama dicemaskan almarhum Pak Haryaji, seniman yang pertama kali membawa saya ke PPLH dan Jolotundo.

"Jolotundo itu tempat sakral, kolam pemandian Prabu Airlangga. Kita harus menjaga spiritualitasnya," pesan Pak Haryaji kepada saya dan rombongan dari Sidoarjo, 2005.

Tujuh tahun ternyata telah mengubah suasana Jolotundo. Kalau dulu hanya 4 warung, sekarang belasan. Pemiliknya pun bukan lagi Mbok Jono dkk yang notabene keluarga Perhutani tapi macam-macam. Ada gula ada semut!

Suasana yang gelap dengan penerangan lampu minyak merupakan daya tarik utama Jolotundo. Kita menikmati suara angin, jangkrik, landak dan aneka satwa hutan. Begitu banyak pencinta alam, kejawen, pramuka, hingga pengusaha sengaja bermalam di gazebo yang disediakan di situ.

Tapi beberapa bulan lalu Pak Samuri mendatangkan genset. Listrik hidup selepas magrib hingga 1:00. Belasan warung bisa menarik setrum seharga Rp6000 sehari. Maka semua warung, kecuali Mbok Jono, memanfaatkan listrik itu.

Selama 7 jam, malam itu, saya menikmati suara bising genset dari warung Pak Samuri. Beberapa warung memutar dangdut koplo diselingi canda tawa. Saya kira hantu-hantu Jolotundo pun tak lagi betah tinggal di kaki Gunung Penanggungan itu.

Dulu Mbok Jono dkk menolak tawaran listrik dari PPLH Seloliman yang menggunakan tenaga air mikrohidro. Demi menjaga kesakralan Jolotundo dan petilasan lain seperti Narotama. Anehnya, belakangan mereka rame-rame jadi pengguna listrik genset yang bising itu.

Begitulah. Logika kota dan desa sering bertolak belakang. Orang kota senang menikmati kampung eksotis, sementara wong desa ingin koplo dan sinetron. Piye maneh?

28 May 2012

Lady Gaga batal, antidemokrasi menang


Orang nasrani tentu risi dengan syair lagu Lady Gaga yang menghujat Yesus Kristus dan memuji Yudas Iskariot. Tapi di alam demokrasi, konser artis Gaga dan sejenisnya tidak bisa dilarang. Industri musik punya logika sendiri. The show must go on!

Orang Islam haram makan daging babi. Tapi tidak berarti restoran yang jual babi atau peternakan babi dilarang. Saya berpuasa tapi warung dan restoran tidak perlu ditutup. Itulah kira2 contoh sederhana tentang demokrasi yang telah kita perjuangkan sejak 1998.

Maka menjadi masalah SANGAT SERIUS di Indonesia ketika pemerintah (polisi) tidak memberikan izin untuk konser Lady Gaga. Polisi kita adalah kepolisian RI bukan polisi syariah atau satpol di Aceh. Ketika polisi, politisi, ormas, dan siapa pun tidak paham hakikat demokrasi, maka jadinya seperti sekarang.

Sangat konyol kalau konser musik harus minta izin dulu dari ormas2 agama, termasuk MUI. Makin terlihat polisi semakin gamang di era globalisasi dan demokratisasi ini. Polisi pun terlihat tak berdaya ketika ditekan oleh ormas2 dan elemen antidemokrasi yang makin subur di negara yang makin antikebinekaan ini.

Lady Gaga benar ketika membatalan konsernya di Jakarta. Terlalu besar risikonya. Ancaman ormas itu tidak main2 karena anggotanya sudah memborong tiket untuk mengacau dan merusak konser. Nyawa Lady Gaga dan krunya jadi taruhan di arena konser.

Siapa yang bisa jamin Gaga tidak diapa-apakan di atas panggung? Kita tahu selama ini polisi tidak bisa berbuat apa2 ketika massa ormas merusak kafe, tempat ibadah, dan apa saja yang dianggap sarang maksiat dan kekufuran.

Gagalnya konser Gaga di Jakarta adalah kemenangan antidemokrasi. Juga kemenangan elemen2 garis keras yang berhasil mendiktekan agenda kelompoknya kepada pemerintah dan kepolisian.

Maka betul kata sejumlah pengamat: Indonesia bukan lagi negara mayoritas muslim yang bisa dijadikan contoh negara demokrasi. Diskusi ilmiah bisa dibubarkan ormas. Presiden pun takluk pada elemen2 antidemokrasi, termasuk menteri2 di kabinet.

26 May 2012

Tedja Suminar pameran tunggal HUT 76



Oleh Lambertus Hurek

Berbeda dengan ayahnya, The Kiem Liong, yang sukses menjadi pedagang palawija di Ngawi, Tedja Suminar alias The Tiong Tien memilih menekuni seni rupa. Sejak 1957 Tedja Suminar menggeluti skesta dan masih tetap berkarya sampai sekarang.

Belum lama ini Tedja Suminar menggelar pameran tunggal di Bentara Budaya Bali dan dilanjutkan di Balai Pemuda Surabaya. Pameran untuk merayakan hari jadinya ke-76 ini dimeriahkan pertunjukan reog, melukis on the spot, pemutaran film perjalanan Tedja, hingga sarasehan budaya.

Kehadiran para seniman, pengusaha, aneka komunitas, saat itu semakin mempertegas posisi Tedja sebagai legenda hidup sketser Jawa Timur sepeninggal Lim Keng, sahabat dekatnya. Berikut petikan wawancara saya dengan Tedja Suminar:

Apa kegiatan Anda setelah pameran tunggal dalam rangka ulang tahun Anda kemarin?


Saya baru saja pulang dari Bojonegoro, jalan-jalan sambil mencari inspirasi, karena saya tidak bisa diam saja di rumah. Yah, sekalian refreshing dan ketemu teman-teman di sana.

Apakah pameran tunggal Anda di Balai Pemuda itu sukses?


Sukses, bahkan sangat sukses. Saya tidak menyangka kalau pameran yang hanya berlangsung selama tiga hari itu dikunjungi begitu banyak orang. Mulai upacara pembukaan, pertunjukan reog, saya bikin sketsa reog di lokasi, pemutaran film, sampai sarasehan... selalu ramai.

Saya berterima kasih atas dukungan dan sambutan berbagai pihak di Surabaya dan sekitarnya yang antusias dengan pameran saya kemarin. Bahkan, boleh dikata pameran di Balai Pemuda itu paling sukses dibandingkan pameran-pameran saya sebelumnya.

Lantas, dari segi koleksi bagaimana? Apakah ada sketsa Anda yang dikoleksi orang?

Ada dan benar-benar di luar perkiraan saya. Pada hari terakhir ada orang Korea yang punya galeri di daerah Pandaan datang, dan ternyata dia meminati dua sketsa saya tentang orang Irian Jaya (Papua). Gambar itu saya buat ketika berkunjung ke Irian Jaya tahun 1983. Saya tidak menyangka kalau ada kolektor yang mengapresiasi karya saya itu. Ada lagi beberapa sketsa lain yang diminati kolektor.

Apa rencana Anda dalam waktu dekat ini?


Saya mau ajak dua anak saya (Swandayani dan Natalini) jalan-jalan ke Tiongkok. Saya ingin melihat tempat-tempat bersejarah, wisata, dan seni budaya di sana.

Sekalian bikin sketsa di sana?


Tentu saja, karena saya selalu membuat sketsa langsung di lapangan atau on the spot. Yang jelas, ke mana pun saya pergi, saya selalu bergairah untuk membuat sketsa.

Sudah berapa kali Anda ke Tiongkok?


Belum pernah. Makanya, saya ingin datang ke sana. Saya sudah pernah keliling Eropa dan beberapa negara Asia. Tahun lalu saya sempat mengunjungi Thailand dan terkagum-kagum dengan bangunan-bangunan tua yang sangat terawat.

Kabarnya Anda makin bergairah membuat sketsa kalau sedang merokok?


Hehehe... ada benarnya. Kalau nggak merokok saya justru nggak bisa berkarya dan bisa sehat sampai sekarang. Saya juga heran karena teman-teman saya yang nggak merokok wis gak ono kabeh. Tapi, nanti dulu, merokok itu menurut dokter bisa merugikan kesehatan kita lho. Jadi, bagi orang yang belum merokok, sebaiknya tidak usah merokok. Nanti gara-gara saya ngomong begini, banyak orang yang ikut merokok. Saya yang akan disalahkan.

Apa makna melukis bagi seorang Tedja Suminar?


Bagi saya, melukis itu romantisme. Seperti orang jatuh cinta. Jadi, setiap apa yang saya lihat, saya tuangkan dalam sketsa. (*)





Tiong Tien Cilik Suka Bolos

SELAIN karya-karya dan gaya hidupnya, yang tak kalah menarik adalah menulik asal-usul Tedja Suminar. Ayahnya The Kiem Liong berasal dari Provinsi Fujian, Tiongkok, suka berpetualang hingga terdampar di Ngawi.


"Kiem Liong itu artinya naga emas," tutur Tedja Suminar. The Kiem Long kemudian menikahi perempuan peranakan bernama Ie Hoen Nio dan melahirkan 10 anak, 5 laki-laki dan 5 perempuan.

Berkat kemahirannya di bidang sastra dan bahasa Belanda, The Kiem Liong diterima sebagai wartawan beberapa surat kabar. Kiem Liong juga sukses bekerja sebagai pedagang palawija. Anak ke-10 pasangan Kiem Liong-Hoen Nio bernama The Tiong Tien yang kemudian dikenal sebagai Tedja Suminar.

Berbeda dengan kakak-kakaknya, Tiong Tien senang bermain dan membaur dengan anak-anak kampung. Mandi di sungai dan naik kerbau adalah kegemarannya. Dia juga gandrung wayang kulit. "Saya sering ditampar kakak karena pulang larut malam," kenang Tedja.

Keluarga besar The mendapat pukulan besar ketika Kiem Liong, sang ayah asal Hokkian itu, meninggal ketika Tiong Tien berusia enam tahun. Sang ibu, Hoen Nio, pun harus banting tulang untuk menghidupi 10 anak itu,

Situasi ekonomi yang sulit memaksa mereka pindah ke Surabaya pada 1949 untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik. Meski fasilitas lebih baik, Tiong Tien tidak lantas menjadi lebih semangat dalam mengikuti pelajaran di sekolah.

"Saya malah sering bolos karena nggak suka pelajaran," katanya.
Hanya pelajaran kesenian yang disukai Tiong Tien kecil. Namun, dia bisa meluluskan SMA dengan nilai lumayan.

Didorong rasa cinta tanah air Indonesia, The Tiong Tien mengganti namanya menjadi Tedja Suminar dan mendaftarkan diri ke Akademi Kesenian Surakarta pada 1957 sebagai mahasiswa angkatan pertama. Di kampus kesenian itu kehidupan Tedja menjadi lebih bergairah, punya banyak kawan, seakan lahir kembali.

Gairah berkesenian itu tetap dia pelihara sampai hari ini. Saat kuliah di Surakarta itulah, Tedja makin bermetamorfosa sebagai peranakan Tionghoa yang njawani.

Dia makin gandrung wayang kulit. Dia juga banyak menghabiskan waktu untuk membaca kisah Ramayana, Bharatayudha, dan sastra Jawa.

Kerinduannya akan sosok kepahlawanan ayahnya dari Tiongkok diimpaskan Tedja dengan membaca berbundel-bundel cerita silat karya Kho Ping Hoo. Karena pengarang cersil legendaris ini tinggal di Surakarta, Tedja sangat mudah mendapat buku-buku cersil terbaru dari Kho Ping Hoo. (rek)



Down Ditinggal Sang Garwa

URIP nang dunyo mung mampi ngombe! Kata-kata bijak ini sudah dibuktikan Tedja Suminar yang kini berusia 76 tahun.


Selama 46 tahun Tedja membina kehidupan rumah tangga dengan Anastasia Moentiana hingga ajal menjemput sang garwa pada 30 Oktober 2007. Tak ada kehilangan yang lebih besar kecuali kehilangan garwa, separo jiwa. Begitu banyak pengalaman manis, pahit, suka, duka, selama hampir lima dekade menjalin kebersamaan.

Tapi Tuhan akhirnya memanggil kembali Moentiana dari sisi Tedja. Mereka dikaruniai dua anak, yakni Swandayani (penari) dan Natalini Widhiasi (pelukis). Sempat down setelah ditinggal istri tercinta, Tedja akhirnya kembali mendapat kekuatan untuk bangkit lagi berkat dorongan kedua putrinya.

Tedja Suminar mengaku bahagia karena di usia senja dia sering dihibur enam cucu. Salah satu cucunya, Sabathania, tahun lalu bahkan terpilih sebagai Ning Surabaya 2011.

"Thania ini juga sudah lulus sebagai dokter gigi," kata Tedja sambil menunjuk sang cucu tercantik itu.

25 May 2012

Lady Gaga dan Piala Thomas



Selama sebulan ini energi kita habis untuk bahas (rencana) konser Lady Gaga. Argumentasi polisi, menteri agama, ormas, politisi makin absurd. Kita rugi besar kalau ikut larut dalam permainan genderang ormas anarkistis itu.

Kita lupa memperhatikan pemain2 kita yang berlaga di Piala Thomas di Tiongkok. Kita terpuruk luar biasa. Sebagai penggemar bulutangkis, saya benar2 sedih melihat kenyataan ini. Satu-satunya olahraga yang pernah jadi kebanggan kita itu pun tinggal sejarah.

Apa lagi yang masih bisa kita banggakan setelah 14 reformasi? Padahal bulutangkis ini bisa menjadi perekat bangsa... jika Indonesia juara Piala Thomas dan Piala Uber.

Hancurnya bulutangkis di negara kita sebetulnya sudah mulai terlihat sejak medio 1990an. Pelan2 olahraga yang asyik ini ditinggalkan anak muda. Maka regenerasi tidak jalan. Ketika Tiongkok punya begitu banyak pemain muda yang hebat, sampai kita tak tahu nama2 mereka, Indonesia justru tak memanen pemain bagus. Bagaimana bisa panen kalau kita tidak lagi menanam bibit2 unggul di ladang bulutangkis?

Saya sudah keliling kampung2 di Surabaya dan 353 desa di Sidoarjo. Ternyata tidak ada kampung yang punya lapangan bulutangkis. Kita tidak menjumpai anak-anak main bulutangkis di lapangan. Anak2 justru asyik main PS di warnet dan semacamnya sampai larut malam.

Lapangan bulutangkis sederhana di kampung? Tidak ada. Padahal, kita tahu, Surabaya pernah melahirkan legenda bulutangkis macam Rudi Hartono dan Alan Budikusumah. Klub-klub bulutangkis di Jawa Timur pun senen kemis.

Saya ingat zaman dulu ketika Indonesia menang Thomas Cup masyarakat ramai-ramai turun ke jalan untuk mengelu-elukan Liem Swieking, Hastomo Arbi, Lius Pongoh. Saya dan kawan-kawan di pelosok NTT jalan kaki 20an km demi menonton Liem Swieking di televisi hitam putih.

Dulu di kampung saya, Lembata, NTT, selalu ada turnamen bulutangkis antarkampung dalam rangka Natal dan Paskah. Ramai nian, padahal listrik belum masuk desa. Penerangan pakai petromaks.

Itu semua hanya kisah masa silam. Nostalgia. Saat ini anak-anak kecil di pelosok NTT sudah tidak pernah melihat yang namanya pertandingan bulutangkis antardesa.

23 May 2012

Pop Mandarin HUT 719 Surabaya



Sibuk sebagai wakil rakyat di Senayan, Jakarta, Indah Kurnia tak bisa lepas dari dunia hiburan. Dalam sebulan terakhir anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI inh wira-wiri ke Surabaya untuk mengurus lomba menyanyi pop Mandarin Piala Wali Kota Surabaya.

Perhelatan tahunan ini masih terkait dengan perayaan hari jadi Kota Surabaya. "Tahun ini sudah masuk penyelenggaraan kelima. Kami ingin ikut berpartisipasi untuk memeriahkan hari jadi kota kita tercinta Surabaya," kata Ning Indah kepada saya.

Sekadar mengingatkan, beberapa tahun lalu Indah Kurnia menggelar konser tunggal membawakan ratusan 714 lagu tanpa teks untuk memeriahkan HUT ke-714 Surabaya. Setelah itu, Indah kian semangat mengajak warga untuk mengikuti lomba pop Mandarin. Sekaligus merayakan keberagaman warga Surabaya yang multietnis tapi tetap guyub dan rukun.

"Yang pasti, setiap tahun selalu ada peningkatan dari sisi kualitas dan keberagaman latar belakang peserta," kata penyanyi serbabisa ini.

Kalau awalnya lomba pop Mandarin yang selalu diadakan di ITC Surabaya ini didominasi orang Tionghoa, menurut Indah, makin lama warga non-Tionghoa makin banyak berpartisipasi. Kualitas mereka pun sangat bagus.

"Jangan salah, orang pribumi pun banyak yang bisa nyanyi Mandarin lebih bagus daripada yang asli Tionghoa. Hehehe," kata Ning Indah.

Dari sisi kuantitas pun terus meningkat. Namun, karena alokasi waktu yang terbatas, panitia terpaksa membatasi jumlah peserta. Penyanyi-penyanyi rekaman misalnya tidak boleh ikut. Juara dua kali berturut-turut pun dilarang ikut. Sebab, panitia ingin memunculkan bakat-bakat baru penyanyi berkualitas dari kalangan generasi muda.

"Harus ada regenerasi di dunia hiburan Surabaya," tegasnya.

Yang menarik, lomba menyanyi tiga hari yang dimulai pada 25 Mei 2012 itu diikuti peserta dari Malaysia dan sejumlah daerah di tanah air. Selama ini Malaysia dikenal sebagai salah ratu gudang penyanyi pop Mandarin di Asia Tenggara selain Singapura. Cukup banyak penyanyi Malaysia yang mengisi tempat-tempat hiburan di Surabaya.

PRAMUGARI MAKAN RUJAK

Minggu lalu saya melintas di Jl Polisi Istimewa Surabaya, tepat di depan SMAK Sint Louis. Wow, ada 4 pramugari Lion Air memakai kostum kabin yang anggun itu sedang membeli rujak di kaki lima. Jl Polisi Istimewa dan dr Soetomo memang sangat terkenal dengan rujak manis.

Para cewek cantik itu, U25 alias di bawah 25 tahun, rupanya sangat menikmati rujak itu. Sumringah. "Pramugari ayu kok mangan rujak?" celetuk seorang pengendara motor. Saya ketawa dalam hati mendengar celetukan ala suroboyoan itu. Cantik-cantik kok makan rujak di pinggir jalan!

Bagi orang kampung, apalagi dari kawasan timur seperti NTT, pramugari atau pilot sering dianggap dari dunia lain. Menu makanan harus beda dengan orang kebanyakan. Pramugari setiap malam tinggal di hotel berbintang. Makan di restoran hotel yang mahal.

Ketika melintas di Bandara Kupang misalnya, para pramugari ini ibarat dewi-dewi kahyangan. Dianggap beda dan lebih ketimbang orang lain. Maka ketika si peri ini makan rujak di pinggir jalan kayak orang biasa rasanya memang tidak lazim.

Kita sering lupa bahwa banyak pramugari itu berasal dari keluarga sederhana. Tinggal di rumah sempit di kampung. Saya pernah kenal seorang pramugari Garuda ketika sama-sama ikut kursus bahasa Belanda di YPKIB Surabaya. Rumahnya di kawasan Kebonsari, masuk gang sempit.

Bahwa sekarang hampir tiap malam pramugari tidur di hotel mewah, makan mahal di restoran... semata-mata karena profesi. Standar internasionalnya memang begitu.

Tapi sayang, tidak sedikit pramugari yang lupa daratan, lupa asal-usul. Khususnya ketika bertugas ke kawasan Indonesia timur. Kurang komunikatif, kurang senyum, kurang menghargai penumpang yang sudah membeli tiket. Jauh dari image pramugari profesional yang harus memperlakukan penumpang tanpa diskriminasi.

Mungkin karena terlalu sering tidur di hotel, berada di lingkungan high class, si oknum pramugari lupa bahwa dia pun sejatinya berasal dari keluarga sederhana. Moga-moga setelah makan rujak di pinggir jalan pramugari kita bisa memperbaiki servisnya.

21 May 2012

Bahasa Kanton dan TKI di Hongkong


Orang Indonesia yang ingin bekerja di Hongkong WAJIB mempelajari bahasa Kanton (Cantonese) ketimbang Mandarin. Sebab, bahasa Mandarin sebetulnya jarang dipakai dalam kehidupan sehari-hari di rumah.

"Memang untuk acara-acara formal bahasa Mandarin dipakai di Hongkong. Tapi kalau untuk komunikasi sehari-hari dengan majikan di rumah ya harus Cantonese. Kalau kita nggak bisa Cantonese ya nggak bisa bekerja," kata Rini Hidayat, mantan buruh migran Hongkok, belum lama ini.

Saat ini ribuan warga negara Indonesia bekerja di Hongkok. Sebagian besar menjadi pekerja domestik alias pembantu rumah tangga. Tak sekadar memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak majikan, hampir semua TKW harus mengurusi lansia yang tidak lain orangtua majikan.

Nah, lansia-lansia ini tidak bisa berbahasa Inggris atau Mandarin, tapi bahasa Kanton. Bahasa Cantonese ini sebetulnya serumpun dengan bahasa Mandarin, tapi lebih rumit karena nadanya jauh lebih banyak. Kalau bahasa Mandarin hanya punya empat nada, bahasa Kanton punya sembilan nada. Karena itu, nada bicara masyarakat Hongkong jauh lebih keras daripada bahasa Mandarin di daratan Tiongkok.

"Karena kerja di Hongkong, maka mau tidak mau kita harus belajar bahasa Cantonese. Tulisannya mirip Mandarin tapi ucapannya jauh berbeda dengan bahasa Mandarin," kata Rini.

Beberapa mantan TKW Hongkong menyebut Cantonese itu ibarat bahasa Jawa, sedangkan Mandarin sebagai bahasa Indonesia baku. Meskipun bahasa Indonesia adalah bahasa resmi di Indonesia, kenyataannya orang-orang Surabaya dan kota-kota lain lebih banyak menggunakan bahasa Jawa di rumah.

"Bahkan, saat saya kerja di HK, saya tidak pernah mendengar bahasa Mandarin di rumah. Acara-acara televisi juga pakai bahasa Cantonese," tambah Fatma, mantan TKW asal Madiun.

Sejak 1997 Hongkong kembali ke pangkuan Tiongkok. Sejak itu Beijing terus melakukan mandarinisasi dengan tujuan menyatukan bahasa nasional dengan bahasa Tionghoa dialek Beijing yang dikenal sebagai bahasa Mandarin. Namun, warga HK cuek saja.

18 May 2012

Doa bersama WPA di Surabaya


Bertepatan dengan peringatan kenaikan Yesus Kristus, Kamis (17/5/2012) malam, ribuan umat kristiani mengikuti World Prayer Assembly (WPA). Di Surabaya, kegiatan doa bersama ini dipusatkan di JX International Expo, Jalan Ahmad Yani. Sementara di Sidoarjo doa bersama untuk perdamaian dunia itu digelar di GOR Sidoarjo.

"Jemaat sangat antusias mengikuti WPA karena ajang ini termasuk baru di Sidoarjo," ujar Ellen Pantouw, salah satu panitia WPA Sidoarjo. Tak hanya orang dewasa, anak-anak dan kaum remaja pun meramaikan perhelatan akbar ini.

Saat Pendeta Kayhatu mengajak berdoa bersama, ribuan jemaat di JX Expo Surabaya secara spontan mengangkat tangan dan memejamkan mata. "Saya bingung harus berdoa dalam bahasa Jawa atau bahasa Madura. Soalnya, orang Jawa Timur itu berbicara dalam bahasa Jawa dan Madura," kata Kayhatu disambut tepuk tangan jemaat.

"Tapi, supaya semua orang bisa mengerti, baiklah saya berdoa dalam bahasa nasional, bahasa Indonesia, saja," kata pendeta berdarah Maluku itu.

Lalu, Kayhatu mendoakan puluhan pendoa di atas panggung, kemudian mendoakan segenap jemaat yang hadir, khususnya anak-anak dan kaum muda. Sebab, menurut dia, saat ini kaum muda di tanah air sedang mengalami berbagai pergumulan hidup yang tidak ringan.

"Tapi kita percaya bahwa Tuhan pasti bisa memberikan jalan keluar," kata pendeta yang bertugas di Gereja Sidang Jemaat Allah Surabaya ini.

Menurut Ellen Pantouw, umat kristiani di Indonesia mendapat kepercayaan untuk menyelenggarakan WPA setelah 28 tahun lalu kegiatan ini kali pertama dihelat di Korea Selatan. Secara nasional, WPA dilaksanakan secara serentak di 373 kabupaten/kota mulai pada 14-18 Mei 2012.

Acara bertajuk New Wave is Coming ini juga untuk mendoakan keselamatan bangsa dan negara kita. “Musibah yang kerap terjadi di Indonesia menggerakkan umat kristiani berdoa bersama untuk keselamatan Indonesia dan seluruh dunia,” kata Ellen.

Dia berharap, dengan doa bersama ini, musibah-musibah seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir, longsor, konflik sosial, hingga kecelakaan lalu lintas, tidak kerap terjadi lagi di tanah air. Diawali di Korea Selatan pada 1984, gerakan doa ini berkembang luas ke seluruh dunia.

16 May 2012

HKBP pun ditolak di Bekasi




Terlalu banyak resistensi terhadap gereja-gereja di Jawa Barat dan Banten. Agak aneh karena Bekasi, Tangerang, Depok sudah menyatu dengan Jakarta, kota paling modern dan penuh keragaman.

Kasus-kasus di Jawa Barat ini membuat saya semakin bangga sebagai warga Jawa Timur. Karena provinsi ini paling asyik, terbuka, suka guyon ala srimulat. Orang bebas beribadah kapan saja sampai capek di gereja atau masjid atau kelenteng atau vihara.

Saya sebetulnya malas membaca laporan majalah TEMPO terbaru tentang kasus jemaat gereja yang mengadakan kebaktian di lapangan, trotoar, atau jalan raya. Kemudian pemkab Bekasi membubarkan paksa jemaat HKBP (Huria Kristen Batak Potestan) Filadelfia tanpa kasih solusi. Pokoknya jemaat harus bubar atau dipentungi!

Pemkab Bekasi rupanya tidak butuh kaum minoritas macam HKBP dan sejenisnya. Sebab, secara politik tidak signifikan. Jika si pejabat semakin keras terhadap kaum minoritas, maka peluang menang dalam pemilukada semakin besar. Umat HKBP yang beribadah pada hari Minggu dianggap pemerintah Bekasi sebagai gangguan terhadap kamtibmas.

Membaca berita-berita majalah TEMPO, yang sangat kritis dan objektif, saya bisa simpulkan bahwa orang Bekasi plus pemkabnya tidak paham anatomi gereja-gereja. Seakan-akan semua gereja itu punya misi mengkristenkan atau 'mengkafirkan' warga setempat yang beragama Islam. Karena itu, gereja-gereja harus dipersulit dengan cara apa pun sampai capek sendiri. Seberapa kuat sih stamina umat HKBP bikin kebaktian di jalan atau lapangan? Toh, suatu saat nanti akan menyerah juga.

Saya hanya ketawa dalam hati melihat kebebalan yang luar biasa di Bekasi ini. Kenapa? HKBP itu gereja etnis Batak yang sangat tidak ekspansif. HKBP itu khusus untuk orang Batak yang Protestan. Kalau anda pentakosta, katolik, adven, baptis... mustahil ikut HKBP. HKBP itu ibarat paguyuban atau komunitas orang Batak di rantau. Batak + Protestan = HKBP.

Andai saja orang Bekasi plus pemdanya yang Sunda paham hakikat HKBP, mereka niscaya tak cemas dengan kehadiran gereja HKBP. Jangankan orang Islam atau Buddha, umat Nasrani dari denominasi lain sama sekali tidak tertarik bergabung dengan HKBP. Sebaliknya, orang HKBP pun tak akan mau orang Sunda atau Jawa atau Dayak masuk HKBP.

Saya kira apa yang terjadi di Bekasi adalah paranoia berlebihan terhadap si liyan alias THE OTHERS. Seakan HKBP (dan sejenisnya) itu virus penyebar kekufuran di masyarakat Bekasi yang punya kultur dan agama sendiri.

Di sisi lain, resistensi terhadap gereja-gereja yang kian marak di berbagai daerah, khususnya Jawa Barat + Banten, harus menjadi bahan introspeksi dan refleksi bagi umat kristiani. Ini menunjukkan bahwa gereja-gereja belum menjadi BERKAT dan pembawa terang bagi masyarakat setempat.

Kita, umat kristiani (dari gereja apa saja), perlu merenung dan merenungkan lagi Kisah Para Rasul 2:41-47 untuk menimba pengalaman cara hidup jemaat gereja perdana. Berikut kutipannya dalam bahasa Inggris:


Each day, with one heart, they regularly went to the Temple
but met in their houses for the breaking of bread;
they shared their food gladly and generously;
they praised God and were looked up to by everyone.

15 May 2012

Senam otak dengan membaca keras


Semalam (14/5/2012) saya mampir di Kampoeng Ilmu, pusat buku bekas Surabaya. Cukup ramai, ada 9 mahasiswa lagi main laptop, membaca, diskusi filsafat. Asyiklah nongkrong di kafe itu.

Saya beli buku bekas karya Prof Kawashima dari Universitas Tohoku Jepang. Harganya cuma Rp10.000. Prof Kawashima membahas senam otak atawa brain training. Salah satu caranya adakah ini: BIASAKAN MEMBACA DENGAN SUARA KERAS! Metode sederhana ini bisa memperbaiki memori, daya ingat, menunda kepikunan.

Kalau anda sering lupa lokasi kendaraan anda di parkir, cepat lupa nama orang, lupa lokasi barang yang disimpan sendiri.. ada baiknya mulai senam otak dengan MEMBACA NYARING.

Membaca dalam hati atau tanpa suara juga mengaktifkan otak kanan dan kiri. Juga bikin kita membaca lebih banyak halaman dengan sangat cepat. Tapi menurut Prof Kawashima, membaca keras membuat otak kita jauh lebih aktif. Anda akan mengingat lebih banyak.

Saya jadi ingat kebiasaan kita di SD atau sekolah menengah saat belajar atau menghafalkan pelajaran. Suara pasti dikeraskan. Hafal perkalian dengan suara keras dan ritmis. Hafalkan puisi Chairil Anwar atau sajak-sajak Pujangga Baru dengan suara keras.

Hasilnya? Sampai tua kita tak akan lupa deklamasi, dialog sandiwara hingga petikan ayat kitab suci. Orang Islam bisa hafal Alquran karena sering berlatih membaca atau mengaji dengan suara nyaring dan lagu yang khas.

Seorang aktor atau pemain drama tidak mungkin bisa menghafal dialognya kalau dia hanya membaca dalam hati. Dan biasanya puisi atau drama yang kita mainkan saat SD tetap membekas sampai tua.

Membaca dengan suara keras juga mutlak diperlukan ketika belajar bahasa asing. Kita perlu mendengar suara kita sendiri. Intonasi, jeda, ucapan dan sebagainya. Orang yang pernah ke Tiongkok bercerita bagaimana mahasiswa-mahasiswi seakan berlomba bicara keras seorang diri di taman ketika belajar bahasa Inggris.

Kita di Indonesia sering melupakan TRADISI membaca keras khas ala jadul gara-gara fokus ke speead reading. Dan memang membaca dengan suara merupakan musuh utama speed reading karena kedua metode membaca ini punya kelebihan dan kekurangannya sendiri.

Untung, kita diingatkan oleh Bapak Prof Kawashima! Arigato!

Apa agama anda?


NI DE ZONGJIAO XINYANG SHI SHENME?

Ini pertanyaan biasa di Indonesia yang mewajibkan rakyatnya punya agama. Itu pun harus agama resmi yang diakui pemerintah. Tapi sebaiknya jangan melontarkan pertanyaan ini kepada orang Eropa atau Amerika atau Tiongkok.

Di negara-negara Barat atau Tiongkok agama itu soal privat. Orang tidak harus punya agama. Tidak ada kolom agama di KTP atau sejenisnya. Pernikahan tidak harus melalui agama atau gereja.

Di buku saku percakapan bahasa Mandarin yang dibagikan kedutaan atau konsulat Tiongkok, saya menemukan topik menarik tentang agama. Kita tahu Tiongkok negara komunis sehingga agama benar-benar tidak diurus negara. Karena itu, orang Indonesia akan geli atau mungkin geleng-geleng kepala membaca contoh percakapan tentang agama itu.

Saya kutip halaman 58:

NI DE ZONGJIAO XINYANG SHI SHENME?
Apa agamamu?


Jawabannya:

WO MEI YOU ZONGJIAO XINYANG.
Saya tidak punya agama.


Hehehe...

Sulit dibayangkan ada orang Indonesia menjawab seperti itu. Bisa-bisa dicap komunis, PKI, atau tuduhan lain yang menakutkan. Dan sudah pasti tidak akan dapat KTP, paspor, SIM, dan sebagainya. Juga tidak akan bisa menikah karena pernikahan di Indonesia harus berdasarkan agama.

Contoh kalimat bahasa Mandarin ini rupanya cocok dengan jawaban beberapa orang Tiongkok di Surabaya. Saya pernah iseng-iseng bertanya kepada Nona Shanghai dan Nona Beijing apakah dia juga sembahyang di kelenteng.

"Saya tidak pernah ke kelenteng. Saya kan masih muda. Hehehehe," kata gadis 25 tahun asal Shanghai itu.

Nona Beijing heran melihat anak-anak muda di Surabaya rajin ke gereja, masjid, kelenteng atau tempat ibadah lain. Sebab, di kotanya kelenteng itu hanya didatangi orang-orang tua alias laoren. "Tapi saya pasti akan ke kelenteng kalau sudah tua," kata si Beijing.

Saya menghargai pandangan kedua nona ini, Namun saya meminta agar mereka pura-pura mengaku beragama Konghucu atau Buddha (yang sudah jadi bagian dari tradisi panjang kebudayaan Tiongkok) kalau ditanya orang Indonesia apa agamanya supaya lebih aman. Sebab, orang Indonesia umumnya tidak bisa menerima orang yang tak punya agama. Urusannya bisa panjang meimei!

14 May 2012

Musim giling tebu di Sidoarjo



Sejak minggu lalu empat pabrik gula di Sidoarjo ramai dengan hajatan buka giling tebu. Wayang kulit, ludruk, pengajian, mantenan tebu, dan bermacam pesta rakyat lain. Meriah sekali.

Begitulah suasana buka giling ketika tebu dikirim ke PG untuk digiling, diproses jadi gula. Sidoarjo memang salah satu sentra tebu di Jawa Timur. Ada 4 PG di Sidoarjo: Candi, Tulangan, Krembung, Watutulis. Tempo doeloe ada PG Krian tapi kemudian tutup karena terus merugi.

Sejak dulu bupati-bupati Sidoarjo meminta agar pabrik gula yang ada tetap dipertahankan. Jangan sampai tutup macam di Krian. Tapi bisnis punya hukum sendiri yang tidak bisa diintervensi oleh pejabat. Bagaimana mempertahankan pabrik gula warisan Belanda kalau tidak lagi ekonomis?

Semua pabrik gula di Sidoarjo memang warisan Belanda. Mesin-mesin lawas, bisa beroperasi dengan baik, meskipun tidak akan sebagus mesin baru. Tapi berkat perawatan yang baik, mesin-mesin lawas itu bisa bertahan sampai hari ini.

Yang jadi masalah sebenarnya bukan soal mesin yang tua tapi pasokan tebu. Biasakah petani-petani di kawaran barat seperti Porong, Krembung, Tulangan, Prambon, Krian, Wonoayu mampu mempertahankan pasokan tebu ke pabrik? Masihkan usaha tebu diminati petani, khususnya generasi muda? Pabrik-pabrik gula akan mati sendiri kalau pasokan tebu kurang.

Saat ini kawasan barat yang sejak dulu jadi sentra tebu sudah ditumbuhi perumahan-perumahan baru. Bahkan lahan tebu dijadikan perumahan. Lha, kalau konversi lahan pertanian ini terus terjadi bisa dibayangkan keadaan 10 tahun ke depan. Ketika petani-petani semakin tua dan anak-anaknya tak tertarik bertani, kemudian menjual tanah warisan.

Tutupnya PG Krian yang sangat bersejarah itu perlu jadi pelajaran bagi kita di Sidoarjo. Bukan tidak mungkin kejadian yang sama menimpa 4 pabrik gula lain yang masih bertahan.

Syukurlah, Menteri BUMN Dahlan Iskan akhir-akhir ini sangat serius memperhatikan pabrik-pabrik gula di tanah air yang hidupnya senen kemis. Jangan sampai kita hanya jadi pengimpor gula pasir.

13 May 2012

Pengemis pakai blackberry


Saya kaget ketika melintas di perempatan Wonokromo, Surabaya, dekat pintu air Jagir, pagi tadi (13/5/2012). Seorang pengemis berusia 60an sedang sibuk memainkan jarinya di blackberry. Kondisi smartphone yang lagi ngetren itu masih bagus.

Bapak itu duduk di atas tembok pinggir kali, kruknya dipangku. Ahad pagi ini dia kelihatan cerah. "Wah, pengemis di Surabaya sekarang sudang canggih. Saya sendiri malah gak punya bb, cuma punya hp lawas," kata seorang pengendara motor di sebelah saya saat lampu merah.

Tak ayal para pengendara motor memperhatikan pengemis yang lagi BBM-an itu. Seorang lagi pengemis remaja juga sibuk mengirim SMS pakai ponsel biasa.

Tentu saja pengemis yang pakai BBM ini merupakan pemandangan langka. Tapi paling tidak ini memberi gambaran kepada kita bahwa para gepeng alias gelandangan dan pengemis di kota besar itu tidak sekere yang kita bayangkan. Blackberry itu gak murah lho! Lebih mahal ketimbang upah minimum buruh yang rata-rata kurang dari Rp2 juta.

Lantas, kalau bisa membeli bb kenapa harus mengemis di lampu merah? Tampaknya dinas sosial perlu lebih serius mengkaji fenomena pengemis-pengemis kaya ini. Sebab, sudah jadi rahasia umum bahwa banyak pengemis di Surabaya ini hanya main sandiwara di jalan untuk meminta sedekah dari masyarakat. Padahal, sejatinya rumah mereka itu bagus-bagus dan luas.

Melihat pengemis pakai blackberry di Wonokromo, juga pemandangan serupa di tempat lain, saya akhirnya setuju dengan imbaukan pemkot agar warga tidak memberikan uang kepada komplotan itu. Dan, sesuai pasal 34 konstitusi, para pengemis, gelandangan, fakir miskin, anak telantar... WAJIB dientaskan oleh negara.

Dus, tidak hanya sekadar melakukan razia secara sporadis tanpa ada tindak lanjut yang jelas. Sayang, tadi saya tidak membawa kamera untuk memotret si pengemis yang pakai blackberry itu.

Sialan!

Barongsai HUT Surabaya, Jakarta Juara Umum



Sebanyak 20 peserta mengikuti kejuaraan barongsai tonggak Piala Wali Kota di atrium ITC Surabaya, 5-6 Mei 2012. Kejuaraan tahunan ini untuk memeriahkan Hari Jadi ke-719 Kota Surabaya.

Selain tuan rumah Surabaya, peserta berasal dari Pamekasan, Malang, Tuban, Jakarta, Makassar, Tarakan, dan Kudus. "Tahun ini kami menggunakan sistem kompetisi penuh. Masing-masing tim harus bermain dua kali. Nantinya nilai yang diperoleh dijumlahkan kemudian dibagi dua," kata Anies Rungkat, ketua panitia, kemarin.

Selama kompetisi penuh ini, menurut Anies, dirasa lebih menjamin fairness dan objektivitas penilaian mengingat barongsai adalah olahraga yang tidak terukur. Tim-tim yang tampil kurang optimal pada hari pertama bisa memperbaiki penampilan pada hari kedua. Selain itu, penonton bisa lebih puas menyaksikan atraksi pemain-pemain barongsai di atas tonggak.

"Barongsai tonggak itu memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi ketimbang barongsai lantai. Apalagi tim-tim yang tampil kali ini sudah punya reputasi baik di tingkat nasional maupun internasional," kata Anies Rungkat.

Tahun lalu, kejuaraan barongsai tonggak Piala Wali Kota dimenangi tim Jakarta dan Tarakan. Dengan full competition, Anies berharap pemenang pertama bisa diraih satu peserta.

"Katakanlah nilai dua peserta sama tinggi pada hari pertama. Maka, di hari kedua pasti nilai yang diperoleh tidak akan sama. Kita menggunakan sistem yang ditetapkan Internation Lion Dance di Beijing," tambah Chandra Wurianto, ketua Persatuan Seni dan Olahraga Barongsai Indonesia (Persobarin) Jatim.

Untuk lebih menarik perhatian masyarakat, menurut Chandra, kejuaraan barongsai tonggak ini tidak lagi digelar di SIBEC ITC, tapi di atrium. Dengan demikian, warga lebih mudah menjangkau lokasi pertandingan. "Kejuaraan ini bisa dinikmati secara gratis. Sejak dulu Persobarin tidak pernah menjual tiket untuk kejuaraan barongsai," kata Chandra.

Meski ada tim Kong Ha Hong Jakarta dan PSMTI Tarakan yang punya reputasi nasional, Chandra Wurianto menegaskan, 20 peserta memiliki peluang yang sama untuk merebut Piala Wali Kota 2012. Pasalnya, tim-tim yang ikut kejuaraan tahunan ini sudah berlatih keras dan sudah mengetahui peta kekuatan barongsai di tanah air. "Bagi saya, 20 peserta ini sama-sama tim unggulan," kata Chandra.

Surabaya diwakili empat tim, yakni Adhi Dharma, Lima Naga, Surya Naga, dan Sumber Mulya. Kelenteng Eng An Kiong Malang menurunkan dua tim, sementara Naga Langit Makassar menyertakan tiga tim sekaligus. "Kami sudah sering ikut kejuaraan di Surabaya, semoga kali ini hasilnya tidak mengecewakan," ujar Sutomo, ofisial PSMTI Tarakan.

Seperti diperkirakan, PSMTI Tarakan dan Kong Ha Kong Jakarta bersaing ketat sejak hari pertama. Kualitas kedua tim, yang sama-sama punya reputasi nasional ini, jauh di atas peserta lain. Tapi akhirnya Kong Ha Hong Jakarta mendominasi kejuaraan ini dan keluar sebagai juara umum. Kong Ha Hong menduduki juara pertama, kedua, dan ketiga. Ini sekaligus mengakhiri dominasi PSMTI Tarakan yang selama tiga tahun berturut-turut memenangi Piala Wali Kota Surabaya.

12 May 2012

Kompleks PSK pinggir kali jadi taman kota



Tidak mudah menghapus pelacuran di kota besar seperti Surabaya. Siapa pun wali kotanya. Maka program Gubernur Soekarwo untuk menghapus semua kompleks pelacuran di Jawa Timur merupakan tantangan berat bagi para bupati dan wali kota.

Sebagai kota besar, Surabaya punya banyak lokalisasi pelacuran. Semuanya liar alias ilegal termasuk di Dolly. Tapi menutup secara hantam kromo jelas susah. Sebab ada banyak kepentingan (dan beking) yang terlibat.

Karena itu, saya mengapresiasi tindakan pemkot yang membuat taman baru di stren kali kawasan Ngagel alias BAT sejak beberapa hari terakhir. Sejak dulu stren kali itu dijadikan lokalisasi PSK kelas teri. Bolak-balik dirazia tapi besoknya muncul lagi. PSK-PSK tua ditangkap, dijebloskan ke Liponsos Keputih tapi tetap saja balik kucing.

Saya kira satpol pp akan capek melihat kenyataan ini. Sangat sulit membersihkan stren kali BAT Ngagel dari prostitusi kelas teri.

Sekarang saya lihat pemkot menempuh cara yang jitu. Kawasan stren kali ditanami pohon-pohon. Warung-warung darurat sudah tidak kelihatan. Kita tinggal memantau perkembangannya. Akankah bibit-bibit tanaman itu bertahan atau malah dicabuti para pengelola usaha pelacuran girli itu?

Belajar dari pengalaman selama ini, pemkot seharusnya menempatkan petugas satpol untuk piket di situ. Tidak hanya sekadar operasi sporadis seperti yang terjadi selama ini.

Selanjutnya, para PSK lawas yang sudah didata itu dikasih pelatihan untuk membuka usaha produktif agar mereka bisa survive tanpa harus terjerumus lagi dalam pekerjaan yang sama. Bisa saja mereka bedhol desa atau buka praktik di lokasi yang lain.

Irwan Pontoh tokoh Buddhayana Jatim



Hari Waisak yang jatuh pada 6 Mei 2012 dirayakakan umat Buddha dengan melakukan meditasi di vihara dan sejumlah kompleks candi. Irwan Pontoh (49 tahun), ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Jawa Timur, merupakan salah satu tokoh yang giat mengajak umat Buddha, khususnya Buddhayana, untuk mengadakan ritual di kawasan candi dan bangunan cagar budaya.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Sejak kapan umat Buddhayana mengadakan perayaan Waisak di kompleks candi?

Sebetulnua sudah cukup lama umat Buddha di tanah air mengadakan ritual di candi-candi. Khusus di lingkungan Buddhayana, kami mulai sejak reformasi dan makin intensif sejak lima tahun lalu. Kita di Jawa Timur bahkan dipercaya menjadi tuan rumah perayaan Waisak tingkat nasional di Candi Brahu, Mojokerto. Saat itu ribuan umat dari berbagai daerah di tanah air hadir. Sejumlah pejabat di Jatim juga datang untuk mengikuti resepsi seperti Wagub Syaifullah Yusuf, kemudian wali kota dan bupati Mojokerto.

Apa sebetulnya tujuan mengadakan ritual kolosal di lingkungan candi?


Kita ingin mengingatkan masyarakat untuk kembali ke akar budaya kita. Supaya masyarakat Indonesia, khususnya umat Buddha, tidak lupa dengan tradisi dan kearifan lokal kita yang punya nilai dan kearifan yang luar biasa.

Ingat, kita punya begitu banyak bangunan cagar budaya, situs-situs, candi-candi yang tersebar di berbagai wilayah tanah air. Apakah kita sudah memelihara dan memberdayakan bangunan-bangunan cagar budaya itu? Nah, berangkat dari pertimbangan itulah kami memutuskan untuk menggelar upacara Waisak di kompleks candi-candi. Tentu saja, kami tetap berkoordinasi dengan pemerintah dan dinas purbakala sebagai pengelola dan penanggung jawab bangunan cagar budaya.

Perayaan di candi itu diadakan di tingkat provinsi atau nasional?


Nasional. Acaranya digilir dari provinsi ke provinsi. Tahun lalu Jatim jadi tuan rumah, kami adakan di Candi Brahu Mojokerto. Sedangkan tahun ini dipusatkan di Candi Sewu, Jawa Tengah. Setiap provinsi mengirim perwakilan untuk mengikuti perayaan Waisak tingkat nasional itu. Umat Buddha yang lain tentu mengikuti detik-detik Waisak di vihara masing-masing.

Ada pertimbangan memilih candi-candi yang ada kaitan historis dengan perkembangan agama Buddha?


Tentu saja ada. Candi Brahu di Mojokerto misalnya memang punya kaitan erat dengan upacara-upacara buddhis di masa lalu. Dan, menurut catatan sejarah, Candi Brahu itu memang candi buddhis. Tidak jauh dari Candi Brahu juga ada Mahavihara Majapahit yang punya patung Sleeping Buddha. Jadi, rangkaian prosesi Waisak bisa dilakukan dari mahavihara ke kompleks candi dengan bagus. Nuansa tradisi Majapahit atau Jawa Timur sangat terasa.

Mengapa Anda dan pengurus Buddhayana getol menyerukan agar orang Indonesia kembali ke akar budaya?


Begini. Kalau kita perhatikan secara cermat ada kecenderungan bahwa masyarakat kita mulai melupakan akar budaya dan tradisi lokal. Di era globalisasi dan modernisasi ini orang Indonesia cenderung menerima begitu saja berbagai tradisi dan budaya yang bertentangan dengan kearifan lokal. Semakin sedikit orang yang benar-benar peduli budaya lokal dan mau mengembangkannya. Padahal, kita ini bangsa besar yang sangat kaya akan tradisi budaya dan kearifan lokal. Lha, kalau kita terlalu asyik dengan budaya luar, jangan-jangan kita menjadi orang Indonesia yang berbudaya asing. Kita terlalu asyik dengan budaya luar dan cenderung mengabaikan kebudayaan sendiri.

Sekalian mempopulerkan candi-candi di tanah air?


Benar sekali. Kita di Jawa Timur ini punya begitu banyak candi yang tersebar di berbagai kota/kabupaten. Di Mojokerto saja ada berapa candi. Belum candi-candi di Malang, Singosari, Blitar, Sidoarjo. Candi-candi itu merupakan bangunan cagar budaya yang punya potensi besar untuk pariwisata, penelitian sejarah, dan sebagainya. Kalau bukan kita yang menjaga dan mengembangkannya, siapa lagi?

Kalau tidak salah beberapa waktu lalu Anda bersama umat Buddha di Surabaya pernah melakukan acara Waisak di kompleks arca Joko Dolog. Apa pertimbangannya?


Jangan lupa, arca Joko Dolog itu juga termasuk bangunan cagar budaya yang penting di Kota Surabaya. Arca Joko Dolog itu tidak lain merupakan Raja Kertanegara yang sedang bermanifestasi sebagai Buddha Mahasobya. Raja Kertanegara sendiri seorang tokoh agama Buddha yang terkenal pada masanya. Maka, dengan mengadakan ritual di kompleks Joko Dolog, kami secara tidak langsung mempopulerkan kembali situs-situs bersejarah yang kita miliki di Kota Surabaya.

Bagaimana respons Pemprov Jatim dengan terobosan yang dilakukan Buddhayana mengingat Jatim punya banyak peninggalan Majapahit?


Baik sekali. Waktu menghadiri acara Waisak nasional di Candi Brahu Mojokerto, Gus Ipul dan sejumlah bupati sangat antusias. Pejabat-pejabat itu senang karena kami bisa membuat kawasan candi menjadi lebih hidup dan populer. Bahkan, sebelumnya pemprov berkeinginan agar kampung-kampung di Mojokerto, khususnya yang di kawasan situs Majapahit, Trowulan, didesain layaknya kampung-kampung di era Kerajaan Majapahit tempo doeloe.

Rumah-rumah penduduk didesain ulang ala Majapahit. Kemudian situs-situs yang ada dibuat lebih menarik lagi. Juga ada atraksi budaya yang mencerminkan budaya Majapahit. Kalau program ini bisa direalisasikan, maka Jawa Timur akan menjadi provinsi yang luar biasa. Ini akan menjadi daya tarik pariwisata yang sangat besar.

Rupanya, Buddhyana sudah memulai dengan Mahavihara Majapahit di Trowulan?


Yang jelas, kami (Buddhayana) adalah pelopor agama Buddha di nusantara (Indonesia). Jadi, kami memang punya kewajiban untuk merawat nilai-nilai luhur, tradisi, serta kearifan lokal itu. Kami juga sedang bekerja keras mengajak generasi muda untuk menggali lebih jauh kearifan-kearifan lokal yang ada di sekitar kita. Jangan sampai kita terlalu mendewa-dewakan segala sesuatu yang berbau asing.

Dalam beberapa tahun terakhir cukup banyak tokoh buddhis dari luar negeri berkunjung ke Vihara Buddhayana dan situs-situs Buddha di Jatim. Apa mereka itu diundang?

Tidak. Kami tidak pernah undang, tapi mereka yang datang sendiri. Kenapa? Orang-orang dari luar negeri itu sebetulnya ingin menggali dan mendalami agama Buddha di Indonesia. Kita sering lupa bahwa Indonesia itu sebetulnya sudah lama menjadi kiblat bagi negara-negara lain yang belajar agama Buddha. Jadi, bukan hanya India. Kita pernah punya Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit yang wilayahnya justru jauh lebih luas daripada negara Indonesia saat ini. Karena itulah, orang-orang luar sangat tertarik untuk mendalami itu semua. (rek)

11 May 2012

Geisha, pelacur, gundik


Saya baru saja menikmati novel MEMOAR SEORANG GEISHA karya Arthur Golden. Terbitan 1997 tapi baru saya baca 2012. Sangat ketinggalan tent saja.

Tapi saya bersyukur bisa menikmati buku yang sangat bagus ini. Saya jadi tahu budaya geisha, proses rekrutmen, pendidikan, magang, hingga jadi geisha beneran. Apa yang saya pahami tentang geisha selama ini akhirnya dikoreksi setelah membaca memoar Sayuri, geisha top dari Kyoto, ini.

Apakah geisha = pelacur alias pekerja seks? Dulu saya menganggapnya begitu. Tapi ternyata, setelah baca cerita ini, saya jadi tahu posisi geisha di tengah masyarakat tradisional Jepang. Buku ini merujuk geisha tahun 1930an yang tentu saja sangat berbeda dengan masa sekarang.

Geisha ternyata seorang artis alias seniwati. Tinggal di okiya alias wisma khusus, calon geisha harus menjalani latihan ketat untuk menguasai seni musik, tari, busana tradisional kimono, upacara teh, kuliner, puisi, cerita rakyat, unggah-ungguh, fengshui dan sebagainya.

Mana mungkin pelacur harus mempelajari sedemikian banyak tradisi yang rumit? Cuma memang ada sedikit kemiripan, yakni punya semacam mucikari. Germo ini kejam dan tiap hari memeras bocah-bocah geisha dengan utang yang sangat sulit dibayar kalau kelak si geisha tak punya danna.

Geisha juga menjalani inisiasi yang disebut MIZUAGE alias belah duren alias upacara menjebol keperawanan. Terjadi perang di antara pengusaha kaya, dokter, pejabat, bangsawan untuk membeli mizuage. Perang harga gila-gilaan.

Dr Kepiting dalam buku ini digambarkan sebagai raja mizuage. Dia koleksi begitu banyak darah perawan di dalam kotak khusus. Setelah belah duren, si geisha harus punya danna alias pria khusus yang menjamin nafkah seumur hidup. Semacam gundik atau istri simpanan.

Geisha tetap bekerja sebagai wanita penghibur di kedai-kedai teh di Jepang, tapi tidak bisa diajak tidur oleh laki-laki hidung belang layaknya pelacur biasa. Dia hanya mau melayani si danna yang telah memberinya dana besar.

Sayuri kemudian didanai dannya untuk minggat di New York.

07 May 2012

Toko Arloji Biang Macet di Wadungasri


Selama hampir enam tahun Pemkab Sidoarjo belum berhasil membebaskan sebuah bangunan di Jl Raya Wadungasri, Kecamatan Waru. Akibatnya, jalan strategis untuk akses keluar Bandara Internasional Juanda Surabaya itu selalu macet.

Maklum, jalan yang sebenarnya sudah lebar itu tiba-tiba menyempit di depan bangunan yang dijadikan toko arloji itu. Para pengguna jalan selama ini tak habis pikir mengapa pemerintah tidak berdaya membebaskan satu dua bangunan itu demi kepentingan umum.

"Saya heran kok bisa negosiasi selama bertahun-tahun tidak ada hasil. Padahal, pemerintah kan punya mekanisme konsinyasi kalau pemilik bangunan ngotot dengan harga tinggi," kata Ahmad, warga Pondok Candra, yang hampir setiap hari melintas di Jl Wadungasri, kemarin.

Ahmad membandingkan sikap pemerintah yang sangat ngotot membebaskan tanah dan bangunan di kawasan Porong dan Tanggulangin untuk pembuatan jalan arteri. Meski pemilik tanah enggan melepas lahannya, pemerintah menggunakan sistem konsinyasi dengan menitipkan uang di Pengadilan Negeri Sidoarjo. Eksekusi pun dilakukan sehingga jalan arteri itu sudah bisa dipakai sejak 15 Maret 2012.

"Lha, yang di Wadungasri ini cuma ada satu atau dua bangunan kecil. Kok tidak bisa dibebaskan selama bertahun-tahun?" tambah Gunadi, warga Rungkut, Surabaya, yang juga selalu melintas di situ.

Dalam berbagai kesempatan, para pengguna jalan memang meminta agar pemerintah segera membebaskan bangunan toko arloji itu. Sebab, bangunan-bangunan lainsudah lama dibebaskan. "Kesannya pemilik bangunan itu seperti punya kekuatan yang luar biasa, sehingga pemerintah tidak berkutik," tambah Gunadi.

Bukan hanya warga pengguna jalan yang geram. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah pun mengaku jengkel melihat bottleneck di Jl Raya Wadungasri. Saat roadshow Sidoarjo Peduli Jalan, Abah Ipul selalu mengangkat kasus toko arloji ini sebagai contoh betapa tidak mudahnya membebaskan tanah dan bangunan untuk jalan raya.

"Saya juga heran bangunan itu (toko arloji) sulit sekali dibebaskan. Padahal, keberadaan bangunan itu mengganggu kelancaran lalu lintas," katanya. Bupati Saiful kemudian meminta dinas terkait untuk segera melakukan pendekatan dan negosiasi agar bottleneck di Wadungasri bisa segera diatasi.

"Dulu, zaman Orde Baru, pembebasan tanah dan bangunan seperti itu tentu sangat mudah oleh pemerintah. Sekarang sangat sulit karena harus melalui pendekatan-pendekatan dan warga sering meminta harga yang tidak masuk akal," katanya.

Meski begitu, menurut Abah Ipul, pemerintah bisa saja menempuh cara konsinyasi seperti yang terjadi saat pembebasan tanah untuk arteri di Porong dan Tanggulangin. "Sudah ada aturan perundang-undangannya," kata Abah Ipul.

Proyek pelebaran Jl Raya Wadungasri itu dimulai sekitar tahun 2006. Namun, prosesnya mandek karena pemilik aset tanah dan bangunan di sisi utara Plaza Wadungasri belum bersedia dibebaskan karena meminta harga di atas patokan Pemkab Sidoarjo.

Kepala Dinas PU Bina Marga Sidoarjo Sigit Setyawan beberapa waktu lalu mengatakan, pembebabasan lahan untuk pelebaran Jl Raya Wadungasri dianggarkan tahun ini. Tapi dia tidak mengetahui secara rinci berapa besarnya anggaran untuk Wadungasri.

"Anggaran pembebasan Jl Raya Wadungasri ikut secara global pada anggaran Rp 7 miliar yang akan digunakan untuk pembebasan lanjutan beberapa pelebaran jalan di Kabupaten Sidoarjo," ucapnya.

Sigit menolak melakukan sistem konsinyasi meski pembebasan hanya tinggal dua atau tiga pemilik bangunan. Pihak Bina Marga akan melakukan pendekatan untuk pembebasannya dari tahap awal. "Pemilik lahan akan kami didekati atau diajak musyawarah. Kami belum berpikir untuk konsinyasi," tandasnya.

Waisak di Sidoarjo - ingat meditasi



Seperti biasa, saya diundang Pak Nugroho, rohaniwan buddhis untuk meliput perayaan Waisak di Vihara Dharma Bakti Sidoarjo. Vihara kecil yang nunut di rumah dedengkot barongsai itu. Meliput sekaligus ramah-tamah bersama aneka komunitas kesenian serta tokoh lintas agama dan etnis.

Pukul 10.34 detik-detik Waisak dimulai. Acara meditasi bersama. Anak-anak TK hingga lansia duduk bersila, relaks, pejamkan mata, lalu tenggelam dalam semadi.

"Kita meditasi 10 menit," kata Pak Nugroho. Suasana pun hening. Umat Buddha memperingati trisuci dengan cara yang unik. Tidak ramai-ramai tapi tenggelam dalam sepi.

Saya perhatikan beberapa bocah TK di samping saya. Oh, anak itu ternyata sudah pandai meditasi. Tidak bikin acara sendiri layaknya bocah-bocah seusianya yang sering kali sulit diatur.

Saya kira inilah salah satu kekhasan umat Buddha: sudah berlatih meditasi sejak balita. Latihan rohani yang kelihatan sederhana tapi sebetulnya tidak gampang mengosongkan pikiran, fokus pada ketenangan di zaman yang gegap gempita seperti sekarang.

Malu ah sama beberapa bocah Tionghoa mungil itu. Saya yang setua ini agak sulit melakukan meditasi secara rutin. Saya sempat mencoba meditasi tapi pikiran saya melayang ke mana-mana.

Saya jadi teringat latihan meditasi mahasiswa Katolik di pertapaan (biara) Ngadireso, Tumpang, Malang tahun 1990-an. Suster-suster karmelit mengajari kami, para mahasiswa, untuk melakukan meditasi. Duduk yang nyaman, relaks, atur napas, fokus ke satu titik.. pejam mata dan hening.

Tekniknya saya rasa mirip meditasi yang dilakukan umat Buddha saat Waisak di Sidoarjo, Minggu (6/5/2012). Atau di Candi Brahu Mojokerto tahun lalu. Sayang, latihan meditasi yang berharga itu tidak pernah saya lakukan sepulang dari retret di Ngadireso. Saya kembali ke rutinitas biasa.

Menyaksikan saudara-saudara kita umat Buddha melakukan meditasi, saya kembali diingatkan akan silentium. Saat teduh. Berdiam diri, tak banyak cakap, untuk mendengarkan suara HATI.

SELAMAT WAISAK
SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA

06 May 2012

JANDA dan SINGLE PARENT

Saya pernah tinggal cukup lama di samping Pengadilan Agama Surabaya, kawasan Ketintang. Setiap hari kerja puluhan orang antre mengurus kasus perceraian, isbat, waris, dan sebagainya.

"Lihat itu, banyak sekali calon janda," kata Cak Harto menunjuk belasan wanita 30-an tahun yang nongkrong di warkop. Saat itu gedung PA Surabaya belum sebagus dan sebesar sekarang. Maka, banyak orang antre sambil ngopi di warung-warung sekitar.

Saking banyaknya perceraian yang diputus di PA, teman-teman sering menjuluki PA sebagai pabrik janda. Kok bukan pabrik duda ya? Dan makin lama jumlah janda di tanah air makin banyak karena ikatan pernikahan makin longgar. Komitmen untuk setia sampai mati kian sulit ditepati karena banyak alasan.

JANDA sudah merupakan kata atau istilah yang lazim. Bahasa Jawanya RONDO. Ada RONDO TELES yang kaya-raya, RANDA KEMBANG yang cantik menggoda, ada juga RONDO GARING yang tak puna harta kekayaan.

Tapi akhir-akhir ini kalangan perempuan karier dan aktivis perempuan mulai menolak kata janda. Terlalu vulgar alias kasar. "Sebaiknya pakai istilah SINGLE PARENT saja ya," kata seorang aktivis kepada wartawan.

Apa beda janda dan single parent? Tak ada. Cuma rasa bahasa serta nuansanya yang lain. Single parent lebih disukai janda dari kalangan wanita karier yang terdidik di perkotaan. Sementara wanita di desa yang kehilangan suami (bercerai atau meninggal) biasa-biasa saja.

"Single parent itu lebih tepat karena dia menjadi orangtua tunggal. Istilah janda itu kedengaran gak enak blas," kata seorang aktivis 30-an tahun yang single parent.

Masukan beberapa aktivis ini rasanya bisa diterima mengingat bahasa itu tidak bisa lepas dari rasa dan kesan. Dalam bahasa Inggris pun orang tidak menggunakan kata WIDOW tapi memilih SINGLE PARENT, SINGLE MOM, SINGLE DAD.

Kasus ini mirip dengan sebagian orang Tionghoa di Indonesia, khususnya Jatim, yang tidak suka disebut CINA atau CINO melainkan TIONGHOA atau CHINESE. Atau orang Indonesia di Malaysia yang merasa terhina jika disebut INDON.

Nah!

CHRIS JOHN TIDAK MENARIK


Chris John menang lagi. Kalau tidak salah mempertahankan gelar juara dunia 16 kali. Tapi saya sudah lama kehilangan minat menonton pertandingan Chris John di televisi.

Saat siaran langsung di RCTI tadi (5 Mei 2012) saya asyik treadmill. Hanya dua tiga teman yang menonton tv. Boring! kata anak-anak sekarang.

Mengapa pertarungan CHRIS JOHN tak pernah menarik, menurut saya? Karena tidak pernah menang KO. Selalu main sampai 12 ronde penuh. Tak ada pukulan si juara dunia dari Indonesia ini yang benar-benar mematikan. Bosan!

Bagi saya, tinju profesional itu harus ada KO atau TKO. Sesekali menang angka bolehlah, tapi KO-nya harus lebih banyak. Kalau tidak pernah menang KO, maka seorang juara dunia tinju sekalipun akan kehilangan pesona. Jangankan membeli karcis untuk nonton langsung, lihat pertandingan di tv saja orang sudah malas.

Dulu saya tergila-gila menonton tinju karena petinju-petinju hebat dikenal sebagai raja-raja KO. Sebut saja Elyas Pical, Galaxy, Mike Tyson, Muhammad Ali, Holmes, Chaves, La Hoya, Ilham Lahia, Adrianus Taroreh.

Di Jawa Timur juga ada banyak petinju-petinju brutal macam Suwarno, Nurhuda, Hengky Gun, Monod, Little Holmes, hingga M Rahman. Orang rame-rame nonton tinju karena peluang KO sangat besar. Tapi Chris John? Hehehe... Ibarat sayur tanpa garam alias hambar.

Saya sering bilang bahwa tinju itu olahraga keras untuk memfasilitasi naluri berkelahi atau fighting laki-laki. Karena itu, harus ada jual beli pukulan, saling tonjok, dan salah satunya ambruk alias KO. Apa jadinya kalau semua pertandingan tinju tak ada KO?

Karena Chris John tidak pernah meng-KO-kan lawan, saya berharap dalam waktu dekat ada petinju yang bisa meng-KO-kan Chris John. Dengan begitu, kejuaraan dunia tinju akan lebih menarik.

Saya sendiri tidak pernah fanatik mendukung petinju mana pun. Petinju yang main bagus, punya killing punch, bisa meng-KO lawan akan saya dukung entah dia dari Indonesia, Jepang, USA, Thailand, Inggris, Australia.

05 May 2012

Bahasa Mandarin di Madura



Pemerintah Kabupaten Pamekasan menyambut gembira program pelatihan bahasa Mandarin untuk 38 SMA/MA swasta. Ini merupakan program rintisan di Madura yang dikembangka Indonesia Tionghoa Cultur Center (ITCC) Surabaya.

Selain Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman, pembukaan program ini dihadiri sejumlah pejabat penting di Pamekasan. Bupati menyebut program khusus untuk guru-guru bahasa ini merupakan terbosan penting dalam pembelajaran bahasa Mandarin di Pamekasan. "Saya kira baru pertama kali ini program Mandarin masuk Pamekasan, bahkan Madura," kata Bupati Pamekasan.

Karena itu, Kholil meminta para guru di wilayahnya memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk menguasai bahasa nasional Tiongkok itu. Kemudian bisa menularkan ilmunya kepada anak-anak didik di sekolah masing-masing.

Bukan itu saja. Bupati Kholil berharap penguasaan bahasa Mandarin bisa membantu pengembangan investasi dari negara-negara bebahasa Mandarin seperti Tiongkok, Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Dengan adanya Jembatan Suramadu, yang dibangun investor asal Tiongkok, saat ini sejumlah investor asing sudah mulai melirik Pulau Madura, termasuk Pamekasan. Sebagian di antaranya dari Tiongkok. "Maka, bahasa Mandarin menjadi sangat penting di era globalisasi sekarang," katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Pamekasan Achmad Hidayat pun tak kalah semangat. Dia menyatakan akan membantu pengembangan bahasa Mandarin dengan menjadikannya muatan lokal di Pamekasan. Sebab, saat ini bahasa Mandarin makin penting peranannya di dunia internasional selain bahasa Inggris.

Andre Su dari ITCC Surabaya menjelaskan, guru-guru dari 38 sekolah swasta itu akan mendapat pendidikan dan pelatihan Mandarin selama 8 bulan. Guru-guru itu tidak perlu ke Surabaya. Pihak ITCC akan mengirim instruktur ke Pamekasan untuk mengajar guru-guru itu.

"Mereka tidak perlu bayar biaya pelatihan karena ITCC menyediakan laoshi secara cuma-cuma. Yan penting, mereka aktif mengikuti semua program yang sudah kami susun," kata Andre.

Setelah pendidikan selama delapan bulan di Madura, menurut Andre, peserta akan mengikuti pendidikan lanjutan di Guangzhou, Tiongkok. "Mereka akan digembleng selama 12 sampai 20 hari di Tiongkok. Kebetulan sekolah itu sudah punya ikatan kerja sama dengan ITCC," kata Andre Su.

Menurut Andre, guru-guru di kabupaten tetangga seperti Sampang dan Sumenep pun tertarik untuk bergabung. Pihak ITCC pun tak keberatan. "Jangankan di Madura, di Makassar saja kami layani," tegas Andre Su. (*)

TKW Hongkong jadi artis dadakan



Dibandingkan negara-negara lain, aktivitas tenaga kerja wanita (TKW) di Hongkong jauh lebih banyak dan dinamis. Para pekerja migran itu punya jatah libur rutin. Biasanya mereka jalan-jalan dan bikin acara di Victoria Park.

"Makanya, kalau kita mau bikin acara cukup gampang, apalagi TKW di Hongkong punya koordinator, majalah, dan situs di internet," kata James Chu, warga Tionghoa asal Banyuwangi, yang sejak 1970-an menetap di Hongkong. Selain berbisnis, James yang juga musisi ini sudah merilis beberapa album pop Jawa.

Belum lama ini James Chu dipercaya sebagai bintang tamu sekaligus juri lomba menyanyi yang diikuti para TKW alias buruh migran Hongkong. Antusiasme masyarakat Indonesia di sana luar biasa. "Mereka datang ramai-ramai untuk mendukung jagoannya masing-masing. Suasananya heboh kayak konser artis terkenal saja," cerita James ketika berlibur ke Surabaya.

Meski sehari-hari para wanita Indonesia itu bekerja sebagai pramuwisma alias pembantu rumah tangga, kemampuan bernyanyi sebagian besar peserta lomba karaoke itu di atas rata-rata. Bahkan, tidak kalah dengan penyanyi-penyanyi dangdut di tanah air. "Mereka memang sering nyanyi dan joget bareng di Victoria Park. Dandanan mereka pun bagus-bagus," puji James.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, para buruh migran ini paling banyak memilih lagu dangdut dan koplo. Jenis musik khas Indonesia ini sangat cocok untuk berjoget ria. Maka, ketika peserta lomba tampil di atas panggung para penonton dan suporter berjoget bersama. "Suasana seperti itu yang membuat kami di Hongkong sulit melupakan Indonesia," kata pria yang merantau sejak akhir 1960-an itu.

Siapa pemenangnya? James mengaku lupa nama-nama pemenang kontes karaoke itu. "Yang jelas, juara pertama gadis asal Indonesia timur yang hitam manis. Suaranya benar-benar bagus sehingga dia layak jadi juara," kata James yang pernah menggelar konser di Jakarta dan Surakarta itu.

Selain lomba karaoke, menurut James, warga Indonesia di Hongkong juga pernah beberapa kali mendatangkan artis dari Indonesia. Acara-acara hiburan seperti itu dinilai efektif untuk refreshing para TKW yang setiap hari sibuk dengan pekerjaan di rumah majikan. Mereka juga bisa bersosialisasi satu sama lain karena memang tidak mudah bisa bertatap muka meskipun sama-sama bekerja di kota yang sama.

Seperti James Chu, di Hongkok terdapat cukup banyak warga Tionghoa kelahiran Indonesia yang sukses jadi pengusaha. Mereka umumnya hijrah dari tanah air menyusul pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959 yang melarang warga negara asing melakukan bisnis di luar kota kabupaten. Nah, saat itu sebagian orang Tionghoa masih berstatus warga negara asing.

James sendiri merantau sebagai kuli di kawasan Wuhan, Tiongkok, sembari mengembangkan bakat musiknya. Dia kemudian menjadi warga negara Tiongkok sebelum pindah ke Hongkong. Meski berstatus WNA, James dan kawan-kawan selalu menyisihkan waktu untuk pulang ke Jawa Timur. "Kangen sekali kalau nggak berlibur ke Indonesia. Apalagi saya ini kan alumnus sekolah Tionghoa di Surabaya," katanya. (*)

02 May 2012

TITD Krian baksos pengobatan


Sekitar 300 warga Krian dan sekitarnya antre dengan tertib di depan aula Kelenteng Teng Swie Bio Krian, Ahad (29/4/2012) pagi. Setelah mendaftarkan diri, mereka satu per satu langsung dilayani tim dokter dan paramedis asal Surabaya.

"Coba Bapak jalan kaki, saya mau lihat," pinta dokter kepada pria 60-an tahun. Laki-laki asal Krian itu tampak tertatih-tatih meski masih bisa berjalan. Dia memang mengaku punya keluhan berat di bagian kaki.

Sang dokter kemudian melakukan pemeriksaan singkat, kemudian menulis resep obat. Pasien itu tersenyum lebar saat pulang membawa beberapa macam obat. "Alhamdulillah, saya akhirnya bisa ditangani langsung oleh dokter," katanya.

Selain warga Krian, menurut Liliana, salah satu panitia, peserta bakti sosial pengobatan massal ini berasal dari Balongbendo, Tarik, Mojosari, dan Wonoayu. Dua pekan sebelumnya, para relawan dan relasi telah turun ke lapangan untuk mendata sekaligus membagikan kupon.

Sistem jemput bola ini agar layanan kesehatan gratis ini tepat sasaran. "Kebetulan kami sudah sering mengadakan baksos seperti ini. Jadi, kami sudah tahu warga mana saja yang harus diprioritaskan," kata Liliana yang juga pengurus TITD Teng Swie Bio Krian.

Baksos yang berlangsung hingga petang ini bekerja sama dengan Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti) Jawa Timur, Yayasan Prayogo, serta RSUD Soetomo Surabaya. Pengurus Inti Jatim yang bermarkas di Jl Karet Surabaya bahkan membawa sejumlah sinse yang melayani pengobatan akupunktur. Juga ada tim pijat refleksi serta pengobatan alternatif Tiongkok.

"Kami sengaja menawarkan beberapa macam pilihan kepada masyarakat. Silakan berobat dengan sistem medis Barat (modern) atau tradisional," kata Liliana seraya tersenyum.

Tak ayal, peserta pun tak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Mula-mula mereka dilayani dokter biasa, kemudian meminta diterapi oleh sinse. "Saya baru pertama kali ini menjalani terapi tusuk jarum. Badan saya pegal-pegal, jalan saja susah," kata Siti, asal Balongbendo.

Sang sinhe senior ini menyebut sistem metabolisme di tubuh wanita 50-an tahun itu kurang baik. Dan itu tidak lepas dari berat badannya yang berlebihan. Dia kemudian menceramahi pasiennya untuk membatasi asupan makanan. "Mulai sekarang Anda tidak boleh makan yang enak-enak," kata sinshe.

Stan pijat refleksi pun tak kalah ramainya. Warga memanfaatkan peluang itu untuk diterapi para pemijat dari Surabaya. "Pijat refleksi ini cukup efektif kalau kita tahu titik-titik refleksi," kata Joko, salah satu terapis.

Menurut Liliana, baksos kesehatan di Teng Swie Bio ini biasa dilakukan beberapa kali dalam setahun. Tak perlu menunggu event khusus, pihaknya menggelar baksos jika pihak rekanan seperti tim dokter menyatakan siap.

"Kami hanya ingin sedikit meringankan beban masyarakat kurang mampu yang sering kali kesulitan mendapat layanan kesehatan," katanya.

Selama baksos berlangsung tampak beberapa anggota Polsek Krian berjaga-jaga di depan kelenteng. Maklum, lokasi kelenteng berada di dua titik persimpangan jalan sekaligus yang sangat padat volume kendaraan. Ini membuat warga kesulitan menyeberang ke lokasi pengobatan massal.

01 May 2012

Meity Piris dan Glenn Rozanno



Ada beberapa presenter dan MC yang menonjol di Surabaya. Dua di antaranya Meity Piris dan Glenn Rozanno. Keduanya sering tampil bareng di radio, televisi, hingga offair. Juga sekamar dan sekasur.

Yah, Meity-Glenn memang pasangan suami-istri yang kompak luar dalam. Selalu bersama sejak SMA, sejak cinta monyet, merintis karir sebagai penyiar radio EBS dan Hard Rock FM, mengelola acara musik gerejawi di SBO, kemudian sepakat mengucapkan ikrar sehidup semati di Gereja Bethany Surabaya, 17 Januari 2012.

Suara Julienta Carmentein Piris, full nama Meity Piris, sangat dikenal generasi muda di Surabaya yang senang nguping radio remaja macam Hard Rock. Guyonannya renyah, spontan, ceplas-ceplos.. tapi kadang nyelekit. Pernah seorang pelukis dari Sidoarjo, Cak Ugeng, terlihat bengong ketika dikerjain Meity soal rambut gondrongnya sudah banyak beruban.

"Wah, kalau aku jadi istrimu, ntar kerjaku cuma nyabutin ubanmu thok," sergah si Meity. Si pelukis ketawa pahit.

Saya baru membaca Jawa Pos cerita menarik bagaimana Glenn Rozanno melamar Meity di atas mobil travel Jakarta-Bandung. Travel hanya berisi 2 penumpang; Meity dan Glenn. Tiba-tiba Glenn mengajak dia menikah. Meity sempat ragu.

"Aku serius. Ayo kita nikah," tegas Glenn. Meity menangis haru karena teringat papanya yang sudah tiada. Kemudian lamaran formal dan menikahlah pasangan presenter dan mc kondang Surabaya ini.

Cukup banyak public figure yang datang ke resepsi pernikahan Meity-Glenn. Sebut saja Tantowi Yahya, Becky Tumewu, Fadly Padi, Lusy Rahmawati, hingga Helena Idol. "Saya bahagia menikah dengan pria yang kucintai dan mengadakan pesta yang berkesan," katanya.

Kini pasutri ini makin kompak dan tetap padat job, khususnya di akhir pekan.

Good luck untuk Meity & Glenn!