13 April 2012

Tionghoa sebelum abad 19


Oleh Dr ONGHOKHAM


Ketika Belanda datang ke Indonesia, mereka tidak serta-merta menguasai Pulau Jawa. Pegawai-pegawai VOC hingga residen tidak lain adalah pegawai-pegawai VOC. Baru sesudah Perang Diponegoro sistem kolonial Belanda seperti yang kita ketahui itu disempurnakan.

Sebelum abad ke-19 golongan yang tertinggi atau elite adalah bumiputra. Jadi, bagi orang-orang Tionghoa, ada rangsangan untuk melebur ke dalam masyarakat nusantara, melebur ke dalam elite, seperti kita juga dapat melihat dari kejadian-kejadian di masa lalu.

Pada abad ke-19 elite yang memerintah bukan lagi bumiputra melainkan orang Belanda. Dan mitos sistem kolonial ini tentu juga membawa suatu prasangka bahwa orang-orang yang diperintah itu inferior, tak cakap atau belum cakap memerintah.

Selain itu, politik kolonial Belanda memang sengaja memisahkan golongan-golongan rasial, ingat saja wijkenstelsel dan passenstelsel. Jadi, bila sebelum abad ke-19 ada kemungkinan melakukan hubungan yang erat di antara Tionghoa dan bumiputra, hal itu tidak mungkin lagi sesudahnya karena politik yang memisah-misahkan golongan-golongan bangsa itu.

Maka, pada abad ke-19 orang Tionghoa tidak lagi mencoba, tidak punya suatu rangsangan, untuk melebur ke dalam masyarakat bumiputra. Mereka hanya ingin memasuki golongan elite pada waktu itu. Tetapi, karena tidak dapat diterima dalam golongan elite Belanda, dan tidak dapat menikah dalam golongan gubernur jenderal, seperti yang mereka dapat lakukan pada golongan bangsawan Indonesia, orang Tionghoa akhirnya menjadi golongan tersendiri dan menjadi minoritas.

Di daerah-daerah di mana kekuasaan Belanda berlangsung mutlak selama 300 tahun, keinginan orang Tionghoa untuk berintegrasi ke dalam masyarakat bumiputra sedikit sekali. Di Batavia tak pernah terjadi ada seorang Tionghoa menikah dengan bangsawan bumiputra. Hal itu karena di Batavia tak ada elite bumiputra pada masa itu. Tetapi di Batavia pun orang-orang Tionghoa menikah dengan perempuan bumiputra pada awalnya karena tak ada seorang pun perempuan Tionghoa totok.

Pada abad ke-17 hanya sekali terjadi seorang perempuan Tionghoa totok datang di Batavia. Kejadian tersebut menimbulkan keheranan penduduk. Perempuan totok ini menjadi tontonan penduduk. Kira-kira sama menggemparkan jika saat ini orang mars datang ke bumi.

No comments:

Post a Comment