26 April 2012

Sutaman tokoh TITD Jatim berpulang


Warga Tionghoa di Jawa Timur kehilangan salah satu tokohnya. Bapak Sutaman, ketua Perkumpulan Tempat Ibadat Tridharma (TITD) Provinsi Jawa Timur, meninggal dunia usai menjalani operasi jantung di Malaysia pada 13 april 2012.

Setelah disemayamkan di Adijasa, Jalan Demak Surabaya, jenazah pria yang sangat aktif di berbagai kegiatan sosial ini dimakamkan di Sukorejo, Pasuruan, Sabtu (21/4/2012). Begitu banyak pelayat yang memberikan penghormatan terakhir kepada pria yang murah senyum ini. "Selama hidupnya beliau sudah banyak berbuat kebajikan untuk sesama," kata Yayuk, staf Yayasan Sahabat Sinoman, kepada saya.

Selama hidupnya Pak Sutaman aktif mengurus yayasan rukun kematian di Jalan Kalisari III/22 Surabaya itu. Di kompleks itu juga ada sebuah kelenteng yang dikelola Pak Sutaman.

Almarhum juga aktif di Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa, Persatuan Olahraga dan Seni Barongsai Indonesia, serta perkumpulan-perkumpulan sosial budaya lain di Surabaya.

"Beliau itu benar-benar bekerja untuk orang lain. Orangnya selalu terlihat sehat dan semangat meskipun sudah dua kali operasi jantung. Nah, saat operasi ketiga ini rupanya Tuhan berkehendak lain," kata Yayuk.

Sebagai ketua perkumpulan kelenteng di Jatim, Pak Sutaman tentu saja selalu hadir dalam hajatan-hajatan yang diadakan TITD-TITD di 38 kabupaten/kota. Selepas reformasi kegiatan-kegiatan kelenteng makin padat dan meriah. Acara-acara yang dulu hanya diadakan di kompleks kelenteng kinh bisa diadakan di jalan raya atau tempat umum.

"Ini semua merupakan berkah dari reformasi yang diperjuangkan mahasiswa. Kita harus isi reformasi ini untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat," kata Pak Sutaman suatu ketika.

Pak Sutaman juga aktif dalam kegiatan lintas budaya dan lintas agama. Dia sering hadir di acara-acara yang diadakan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia dan Masjid Cheng Hoo Surabaya. "Lha, pengurus PITI dan Cheng Hoo itu kan teman-teman saya semua. Kita ini bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu," katanya.

Selamat jalan Pak Sutaman!

No comments:

Post a Comment