02 April 2012

Sama-sama ngaku bela rakyat

Presiden SBY ngotot ingin menaikkan harga minyak (bbm). Kalau subsidi minyak dikurangi, bahkan dihapus total, maka pemerintah punya uang untuk bikin infrastruktur macam2. Rakyat miskin di desa, begitu asumsi pemerintah, pelan2 tidak miskin lagi kalau minyak dinaikkan.

SBY: Makin tinggi harga minyak dinaikkan makin bagus. Cadangan anggaran lebih banyak.

Logika ini kontras total dengan cara berpikir para pengunjuk rasa yang menolak kenaikan harga minyak. Termasuk PDIP, Hanura, Gerindra yang diikuti belakangan oleh PKS.

Kata barisan oposisi ini: Harga minyak dinaikkan, rakyat makin sengsara. Harga bahan2 kebutuhan pokok dan semuanya ikut naik, sementara penghasilan tidak naik.

Kalau subsidi minyak dikurangi, kemudian dihapus, rakyat Indonesia yang sudah miskin tambah sengsara, kata PDIP dkk. Mereka seolah tak pusing dengan subsidi minyak yang sebetulnya hanya dinikmati orang2 kaya bermobil itu.

Dua logika ini tidak akan pernah ketemu: satu ke utara satunya ke selatan. Sama2 ngotot paling membela rakyat. Bagaimana bisa menyamakan persepi tentang membangun bangsa yang makmur sejahtera? Taktahulah awak!

Pertanyaanya: apakah nanti ketika PDI Perjuangan, Gerindra, PKS, Hanura di posisi SBY tidak akan menaikkan harga minyak meski ada kenaikan di pasar dunia? Adakah cara lain untuk menghapus kemiskinan, bangun infrastruktur desa, tanpa menaikkan harga minyak?

Yang pasti, unjuk rasa buruh, mahasiswa, LSM, politisi, seniman, dan rakyat miskin jumat lalu itu berhasil menunda kenaikan harga minyak. Dan yan untung justru orang2 kaya pemilik mobil yang kerjanya memaki2 demonstran lewat radio, twitter, fb, dan jejaring sosial lainnya.

Orang kaya atau kelas menengah-atas sejak dulu memang hanya mau enaknya saja, tapi tidak mau capek2 ikut gerakan yang sebenarnya sangat menguntungkan dirinya. Menurut hitungan Menteri Dahlan Iskan, pemilik mobil altis selama ini menikmati subsidi bbm Rp5 juta setahun.

Rakyat miskin yang turun ke jalan tetap saja melarat. Kalau ingin mengubah nasib, jadilah ia TKI di Malaysia.

No comments:

Post a Comment