06 April 2012

Pastor tua dan pastor muda


BERWIBAWA: Romo Heribert Balhorn SVD (asal Jerman) di Gereja Salib Suci Waru, Sidoarjo.


Ketika masih anak2 di pelosok Lembata, Flores Timur, NTT, saya melihat Pater Geurtz SVD dan Pater Willem Van de Leur SVD sebagai dua kakek yang hebat. Pastor asal Belanda yang luar biasa dan serbabisa.

Punya motor antik yang tak dipunyai orang kampung. Punya radio kecil tapi canggih. Pintar bercerita. Punya gudang obat. Khotbahnya terasa enak. Anak2 senang dapat permen dan diajari nyanyi, khususnya gregorian.

Sampai SMP/SMA sosok pastor yang saya kenal di Larantuka pun masih seperti kakek yang bijak dan baik hati. Kadang cerewet seperti mendiang Pater Paulus Due SVD. Romo yang satu ini juga jago nyanyi dan khotbah meski suka ngelantur.

Saat kuliah, makin banyak pastor berusia muda. Ada frater yang baru ditahbiskan. Maka, sosok pastor bukan lagi kakek2 tapi seakan kakak kelas saja. Apalagi pastor pendamping aktivis mahasiswa.

Sesaat setelah bekerja, pastor masih dipandang orang bijak, bapa rohani, orang yang lebih tahu. Ada yang baru dan menyentuh saat berkhotbah.

Tahun berganti, usiaku makin bertambah. Akhirnya datang masa yang krusial: makin banyak pastor baru yang usianya lebih muda daripada saya. Cara memandang pastor2 muda ini pun sudah berbeda dengan mas anak2, remaja, mahasiswa, atau profesional muda.

Muncul sikap yang kurang baik. Saya mulai kurang suka dikhotbahi pastor2 yang usianya lebih muda dari saya. Sebab, materi khotbah mereka rasanya terlalu gampang ditebak arahnya. Humor2nya pun sebetulnya guyonan lawas yang sudah lama saya ketahui. Tidak ada yang baru dan segar.

Mungkin inilah penyakit senior yang sok tahu, merasa lebih berpengalaman, kurang mendengar kata2 orang muda. Tapi memang saya akui kegairahan mendengarkah khotbah saya tidaklah sehebat ketika masih anak2 hingga mahasiswa. Kecuali kalau yang khotbah itu pastor senior macam Romo Tondowidjojo CM di Gereja Kristus Raja Surabaya atau Romo Heribert Balhorn SVD di Gereja Salib Suci Waru, Sidoarjo.

Tapi malam ini, saat tuguran Kamis Putih di Gereja Yohanes Pemandi Wonokromo Surabaya, saya disadarkan bahwa regenerasi harus terjadi. Termasuk regenerasi pastor. Romo2 tua yang hebat seperti pater geurtz di flores (sekarang almarhum) pun dulunya pernah muda. Dan, sebagai domba, kita memang harus siap dibimbing oleh sang gembala tak peduli berapa pun usianya. Biasanya gembala yang muda lebih lincah ketimbang gembala tua.

1 comment:

  1. Bung Hurek yang budiman, C'est la vie, kata orang Prancis. So ist das Leben, kata orang Jerman. Waktu mahasiswa, saya hormat dan kagum melihat para politisi, beliau2 generasi orang-tua saya, mereka yang ikut aktif mengalami Perang Dunia II. Sebagian besar anggota2 parlement Eropa, era tahun 60-an, adalah orang2 yang tidak pernah mengenyam pendidikan perguruan tinggi. Kebanyakan mereka adalah ahli pertukangan dan kaum petani. Alhasil Eropa maju dan tidak punya utang. Sekarang Eropa dipimpin oleh para akademisi dengan gelar ber-tele2, akibatnya Eropa bangkrut, harus minta belas kasihan kepada RRT dan Rusia. Sejak parlement dipenuhi oleh para akademisi, generasi anak2-saya, saya selalu Golput. Karena anak2 muda memang hanya pandai rhetorik, hasil kinerja nol.
    Pastor2 tua, sebelum mereka dikirim sebagai missionaris kedaerah terpencil diseluruh pelosok dunia, memang dibekali sedikit ilmu kedokteran, yang disebut Pastoral-medizin. Jadi
    pastor2 tua tersebut memang serba bisa. Mereka ya bisa jadi montir dan manteri kesehatan.

    ReplyDelete