16 April 2012

Orang pantai jadi petani


Mengapa Flores Timur, khususnya Lembata, sulit maju? Sebagian besar penduduknya merantau ke Malaysia Timur? Artikel Daoed Joesoef di Kompas 16/4/2012 rupanya memberi inspirasi sekaligus jawaban kepada saya.

Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, mengkritik konsep pembangunan kita yang mengabaikan budaya maritim. Terlalu berorientasi ke darat dan Jawa. Padahal indonesia itu nusantara, negara kepulauan dominan laut.

Flores timur dan Lembata itu daerah pantai. Pinggir laut. Rumah saya di Ileape, Kabupaten Lembata, hanya 60 METER dari bibir pantai. Suara ombak, angin laut, badai menjadi hiburan kami di kampung. Singkatnya, semua orang senang mandi di laut tak peduli kulitnya akan jadi hitam (karena memang sudah gelap dari sononya).

Tapi, anehnya, sejak dulu sangat jarang orang Lembata bekerja sebagai nelayan. Di Ileape, para pencari ikan bisa dihitung dengan jari. Hanya kampung Lamalera yang jadi pemburu ikan paus koteklema.

Maka, orang-orang Lembata di pesisir Laut Flores itu pun bekerja sebagai petani di ladang jagung. Hujan kurang. Irigasi tak ada. Tanah berbatu. Humus kurang. Bagaimana bisa menghasilkan?

Jangan heran orang Lembata, khususnya laki-laki, memilih merantau di Malaysia Timur, khususnya Sabah. Karena itu, Sabah sering diguyoni sebagai 'kampung kedua' orang Flores Timur.

Budaya merantau ini sudah dimulai sejak 1950an ketika Malaysia belum merdeka. Orang Lembata mau tak mau harus merantau ke Malaysia supaya bisa bekerja. Sulit bertahan di kampung kalau tidak jadi pegawai negeri sipil, bidan, polisi, tentara, suster, frater, bruder, atau pastor.

Sayang, sejak dulu pemerintah tidak pernah mengubah orientasi darat menjadi orientasi laut di flores timur. Tak ada pelatihan bagaimana mengeksploitasi hasil laut yang melimpah ruah itu. Tak ada industri perikanan di Lembata.

Memang sudah mulai dicoba budaya rumput laut sejak 10 tahun terakhir, tapi belum optimal. Maka, Laut Flores yang luas, bebas polusi, dan punya ikan yang enak-enak itu pun dibiarkan liar... sampai sekarang.

Mungkinkah mengubah kultur darat menjadi kultur laut di Lembata? Tentu tidak mudah. Tapi perlu dilakukan. Kalau tidak orang-orang Lembata, yang jumlahnya kurang dari 200 ribu, itu terus jadi perantau sampai kiamat.

2 comments:

  1. Seharusnya menteri pendidikan dankebudayaan indonesia, mengadakan kunjungan kerja ke daerah flores timur. tujuan untuk melestarikan kebudayaan yg ada di daerah tersebut. sebagai contoh saja pariwisatanya.

    ReplyDelete
  2. saya wong jowo yang pernah tinggal di Flores (Maumere) selama hampir 4 tahun dan melihat betapa kayanya alam NTT khususnya kekayaan lautnya. Amat disayangkan kekayaan laut yang berlimpah itu tidak dimanfaatkan secara maksimal .Masyarakat NTT (saya meminjam istilah Pak Gubernur Frans Lebu Raya) malah 'membelakangi laut' dan menjadi petani dan pekebun.semoga kekayaan laut NTT dapat mensejahterakan rakyat banyak.Viva NTT, appanggawang kak L.Hurek.

    ReplyDelete