21 April 2012

Nonot Sukrasmono geluti sketsa


MAKIN sulit menemukan pelukis yang menekuni sketsa di Sidoarjo. Setelah ditinggal almarhum M Thalib Prasodjo, kini sangat sedikit pelukis generasi muda yang serius menggeluti sketsa. Salah satunya Nonot Sukrasmono.

"Dari dulu memang tidak banyak orang yang mau serius di sketsa. Sebab, sketsa itu kelihatan sederhana, tapi sebenarnya sangat sulit," ujar Nonot Sukrasmono.

Pria yang tinggal di Vila Jasmin, Suko, Sidoarjo, ini mengaku menekuni seni lukis sejak 1980-an. Berbagai aliran pernah dia geluti. Nonot juga belajar pada sejumlah perupa senior seperti Eyang Thalib (alm), Lim Keng (alm), Ipe Maruf, dan Tedja Suminar yang dikenal sebagai pendekar-pendekar sketsa tanah air. Sejak itulah Nonot mengaku jatuh cinta pada sketsa sampai sekarang.

"Boleh dikata, saya ini berguru pada banyak pelukis senior. Saya usahakan menyerap ilmu mereka, kemudian saya kembangkan kemampuan saya sendiri. Akhirnya, sampai sekarang saya terus menggeluti sketsa," kata pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur, Komite Seni Rupa, ini.

Tentang anggapan bahwa sketsa kurang diminati kolektor, Nonot menolak tegas. Hanya saja, dia mengakui sketsa memang kalah populer dibandingkan lukisan-lukisan biasa. "Kalau kita tahu pasarnya, ya, sketsa itu pasti diminati. Buktinya, karya-karya saya sudah banyak dikoleksi orang," katanya.

Pria yang telah 15 tahun memimpin Lembaga Seni Budaya Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini tak asal bicara. Belum lama ini dia mendapat pesanan membuat 200 sketsa kota tua dan pura untuk sebuah hotel di Bali.

"Sekarang saya sedang hunting membuat sketsa kota tua di Surabaya. Sebentar lagi saya ke Bali untuk bikin sketsa pura," katanya.

Bukan itu saja. Sejumlah karya sketsa Nonot pun dikoleksi pengusaha asal Jerman dan Singapura. Karena itu, Nonot optimistis dengan masa dengan karya sketsa meski sampai sekarang masih kalah populer dibandingkan lukisan jenis lain.



No comments:

Post a Comment