26 April 2012

MPS Kunjungi Grha Wismilak



Sekitar 50 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia (MPS) mengunjungi Grha Wismilak di Jalan dr Soetomo 27 Surabaya. Yang menarik, rombongan pelancong dari berbagai kota ini menumpang mobil jenazah milik Ario Memorial Services yang kebetulan Ahad (22/4/2012) pagi itu nganggur.

Anton Teguh, general training Wismilak (PT Gelora Djaja dan PT Gawih Djaja), rupanya sudah menunggu kedatangan para turis lokal yang ingin menggali jejak orang Tionghoa di surabaya itu. Sebagian peserta terkesan dengan gedung tua buatan tahun 1920 yang kini menjadi Grha Wismilak itu.

"Kalau semua gedung tua di Surabaya dirawat seperti ini, wah, kita akan punya banyak objek wisata menarik," kata Benny Sitinjak, orang Batak yang sudah lama jadi warga Kota Surabaya.

Setelah kata pengantar dari Paulina Mayasari, koordinator Jejak Petjinan, Anton Teguh menjelaskan secara singkat perkembangan pabrik rokok kretek yang didirikan pada 1962 itu. Ada dua pendiri, yakni Lie Koen Lie dan Oei Bian Kok. Kedua pengusaha Tionghoa ini, menurut Anton, bertekad memproduksi rokok kretek kelas premium.

"Ibaratnya bikin mobil mewah yang walaupun pasarnya sedikit, tapi harganya tinggi dan pasti dicari orang," papar Anton.

Komitmen ini diwujudkan dengan membuat sigaret kretek tangan, sigaret kretek mesin, hingga beberapa varian baru. Anton kemudian memperlihatkan produk generasi awal yang ternyata punya pasar sendiri.

"Visi kami ke depan harus masuk jajaran pabrik rokok besar di indonesia ini," kata Anton seraya tersenyum.

Saat ini Wismilak bahkan sudah digandeng pihak Jepang untuk mendistribusikan sebuah produk rokok putih kelas dunia. Wismilak pun tercatat sebagai perusahaan rokok yang punya laboratorium sendiri. Lab ini sering dipakai untuk analisis kandungan tar dan nikotin dari sejumlah pabrik rokok lain di Indonesia.

Yang juga menarik perhatian peserta MPS adalah logo Wismilak yang mirip tokoh Tiongkok kuno. Anton menjelaskan bahwa sosok dalam logo itu tak lain dewa panjang umur. Sembilan bintang menunjukkan angka sempurna. Kemudian ada tongkat dan buah simbol reward and punishment.

"Wismilak itu juga semacam mantra atau doa pendek dalam bahasa Inggris: Wish me luck! Wish me luck!" papar Anton lantas menyenandungkan lagu Wish Me Luck yang ngetop pada Perang Dunia II.

Peserta kian antusias ketika Anton menjelaskan sejarah bangunan cagar budaya yang kini menjadi Grha Wismilak. Didirikan pada 1920, bangunan ini tempo doeloe merupakan Toko Jan, cabang Toko Piet di Jalan Tunjungan. Karyawan kedua toko milik orang Belanda itu tinggal di situ. Salah satu karyawan Toko Jan adalah Oei Hian Hwa yang kini berusia 96 tahun.

"Belum lama ini Pak Oei datang ke sini untuk bernostalgia setelah 60 tahun," tutur Anton.

Nah, dari mulut Oei Hian Hwa inilah pihak Wismilak mendapat banyak informasi berharga seputar bangunan cagar budaya di samping eks konjen as itu. Pada zaman Jepang, 1942, Toko Jan tutup dan barang-barangnya diobral ke orang Belanda yang tinggal di kawasan Raya Darmo. Sebagian lagi diberikan kepada para pegawai toko yang tinggal di situ. Gedung itu juga pernah dijadikan markas polisi pada awal kemerdekaan, 1945, hingga 1993 itu.

Rombongan MPS cukup lama menikmati bangunan tua nan antik itu. Termasuk menjajal tangga kayu hingga ke loteng yang menurut Oei Hian Hwa dulu ditempati 22 pegawai toko. "Gedung ini sebagian besar masih asli. Mulai dipakai Wismilak sejak 1993 dan dipugar tahun 2003. Sebagai cagar budaya, gedung ini tidak bisa diubah sembarangan," katanya.

1 comment:

  1. gan ijin copy beberapa kalimat dalam artikel agan untuk melengkapi blog saya...
    terimakasih...

    ReplyDelete