30 April 2012

MPS ke Kelenteng Hong San Ko Tee

Paulina Mayasari bersama Juliani Pudjiastuti, pengurus Kelenteng Cokro.

Setelah menikmati lontong capgomeh yang lezat di sebuah depot di Jalan Anwari Surabaya, sekitar 50 peserta Melantjong Petjinan Soerabaian (MPS) bergeser ke Tempat Ibadah Tridharma (TITD) Hong San Ko Tee di Jl Cokroaminoto 12 Surabaya. Komunitas penggemar sejarah tentang peranakan Tionghoa ini ingin mengenal lebih dekat kelenteng yang punya pemujaan terhadap Dewi Sri itu.

Para pengurus TITD Hong San Ko Tee (populer disebut Kelenteng Cokro) terkejut ketika dua mobil jenazah Ario berhenti persis di depan kelenteng. Ada apa gerangan? Kekagetan pengurus kelenteng baru berakhir setelah peserta MPS turun dan menyalami pengurus kelenteng.

"Kami jadi serba salah. Kok wisatawan naik mobil jenazah," ujar Budi, aktivis TITD Cokro yang ikut menyambut kedatangan para pelancong dari berbagai kota itu.

Rombongan kemudian melihat-lihat dan mengambil gambar kelenteng di tengah kota Surabaya itu. Sementara belasan umat terlihat bersembahyang di 9 altar yang ada di tempat ibadat Tridarma itu. "Saya baru tahu kalau di sini ada kelenteng yang cukup besar," ujar seorang warga Tionghoa asal Mojokerto.

Beberapa saat kemudian Juliani Pudjiastuti, pengurus dan penanggung jawab kelenteng yang ditunggu-tunggu, tiba. Maka, Paulina Mayasari selaku koordinator MPS mulai memandu diskusi informal. Menurut Juliani, TITD Hong San Ko Tee ini didirikan pada era kolonial Belanda.

Sebelum menempati lahan di Jalan Cokroaminoto 12, kelenteng ini berada di Pandegiling kemudian pindah ke Keputran. "Jadi, di sini lokasi yang ketiga. Izin bangunan di Jl Cokroaminoto keluar tanggal 24 September 1919," Juliani menjelaskan.

Pada awal abad ke-19 itu kawasan Cokroaminoto dikenl sebagai kompleks pemakaman. Makam-makam itu kemudian direlokasi untuk dibangun kelenteng dan sejumlah bangunan lain karena kota Surabaya saat itu mulai berkembang ke arah selatan. Nah, saat relokasi ke Cokro, pengurus kelenteng menemukan sebuah arca pemujaan dari batu yang belakangan diketahui sebagai Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan.

Masyarakat kejawen saat itu pun kerap melakukan pemujaan atau semadi di lokasi arva Dewi Sri. Para pengurus kelenteng akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah altar khusus untuk menghormati Dewi Sri. Arca yang dulu berada di kompleks kuburan pun diletakkan di altar. Ini merupakan sinkretisme yang menarik karena tak lazim mengingat kelenteng merupakan rumah ibadat Tionghoa.

"Bagaimanapun juga kami-kami ini kan lahir di tanah Jawa, sehingga perlu menghayati tradisi dan budaya Jawa," papar Juliani menanggapi pertanyaan peserta MPS.

Bukan itu saja. Setiap tanggal 1 Sura umat Kelenteng Cokro juga menggelar ritual khas kejawen lengkap dengan sajian tumpeng. Sedikitnya 300 tumpeng disiapkan umat untuk didoakan, kemudian dinikmati oleh warga yang kurang mampu.

"Acara suroan di sini selalu menarik perhatian masyarakat dan teman-teman media," kata Juliani seraya tersenyum.

Tak sekadar sembahyang, menurut Juliani, pengurus dan umat kelenteng ini juga aktif mengadakan bakti sosial (baksos). Setiap minggu digelar baksos pengobatan alternatif untuk masyarakat umum. Pihak kelenteng bahkan membuat ruang praktik khusus di halaman untuk baksos pengobatan. "Dulu dua kali seminggu, tapi sekarang hanya satu kali saja karena Pak Suharto diminta melayani pasien di Bali," katanya.

Sejak era reformasi pengurus kelenteng berkomitmen menjadikan TITD Hong San Ko Tee sebagai kelenteng yang terbuka dan ramah pada masyarakat. Caranya antara lain dengan aktif menggelar buka puasa bersama setiap Jumat pada bulan Ramadan. Ratusan warga kurang mampu rame-rame datang untuk mencicipi takjil dan berbuka di halaman.

 "Selama ini orang-orang non-Tionghoa cenderung alergi masuk ke halaman atau kompleks kelenteng. Nah, saya dan pengurus lain berusaha mencairkan kebekuan itu," kata Juliani.

Usai dialog, peserta MPS dijamu dengan aneka makanan khas Jawa Timur, termasuk nasi goreng yang lezat.

No comments:

Post a Comment