30 April 2012

Mengunjungi Ario Memorial Services



Minggu (22/4/2012), sekitar pukul 08.00, peserta Melantjong Petjinan Soerabaian (MPS) berkumpul di aula Ario Memorial Services Jalan Dinoyo 94-96 Surabaya. Ario Karjanto, sang pemilik, bersama putrinya Yohana dan menantunya Richard Wu menyambut para tamu dengan ramah. Seperti biasa melontarkan joke-joke segar yang membuat peserta MPS tertawa kecil.

"Bisnis peti mati itu sebetulnya sama dengan bisnis hiburan. Jadi, kerjaan saya sebenarnya sama dengan event organizer," kata Ario. "Lha, tugas kami itu kan bagaimana membuat keluarga yang berduka bisa terhibur dan tidak larut dalam kesedihan setelah anggota keluarganya meninggal."

Perusahaan jasa pemakaman yang sudah 7 generasi ini melayani berbagai keperluan pemakaman jenazah. Mulai dari memandikan jenazah, mencari tempat persemayaman, hingga mencarikan pastor atau rohaniwan untuk memimpin sembahyang. Bahkan, Ario punya sistem komputer untuk menentukan fengshui kapan sebaiknya jenazah dimakamkan atau dikremasi.

"Dan kami selalu menganggap customer sebagai keluarga sendiri. Kuncinya adalah melayani dengan hati," tegas Ario.

Untuk meningkatkan kualitas layanan itu, Ario bahkan menyekolahkan putri semata wayangnya, Yohana, ke Amerika Serikat di fakultas khusus yang membahas jasa pemakaman. Pulang ke Surabaya, Yohana menggaet Richard Wu asal Taiwan yang kini menjadi suaminya untuk bersama-sama memajukan bisnis yang sudah berkembang pesat itu.

Yohana mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan ISO 9001 untuk standar pelayanan. Dengan begitu, semua jenis layanan di Ario harus mengacu pada standar internasional. "Semua karyawan dididik secara khusus di hotel bintang lima yang memang punya pelayanan bagus," katanya.

Dalam berbisnis, menurut Yohana, Ario tak melupakan tanggung jawab sosial untuk warga tidak mampu. Karena itu, perusahaan ini juga menyediakan sekitar 1.500 peti jenazah untuk warga yang tidak mampu. Keluarga atau ahliwaris cukup memberikan surat keterangan dari RT atau kelurahan, kemudian pihak Ario mengantar peti yang layak.

"Kami juga sudah menggunakan lampu hemat energi di perusahaan ini," kata Yohana didampingi sang suami Richard Wu.

Usai persentasi, peserta MPS diajak meninjau gudang penyimpanan peti jenazah. Aneka jenis peti dari yang supermahal, sedang, hingga yang murah tersimpan rapi. Kayu jati berkualitas tinggi dengan ukiran yang indah. Sebagian besar peserta MPS, yang baru kali pertama ke Ario, pun terkagum-kagum melihat gudang yang tak lazim itu.

"Saya sering lewat di depan Ario, tapi baru kali ini dapat kesempatan melihat dari dekat," kata Benny Sitinjak, salah satu pelancong asal Batak Toba, Sumatera Utara.

Suparto Brata (80), sastrawan senior yang juga peserta MPS tertua, mengaku mendapat banyak inspirasi dari acara melancong ke pusat bisnis peti mati dan siupan terkemuka ini.

2 comments:

  1. Salut untuk penyelenggara acara ini, dan untuk peserta2nya. Acara2 demikian ini bagus untuk menjembatani kaum Tionghoa (kalau masih bisa disebut kaum) dengan pribumi (kalau masih bisa disebut kaum).

    ReplyDelete
  2. Saya usulkan saudara ARIO menjadi dosen atau professor diseluruh fakultas ekonomi di Indonesia dan Tiongkok. Dengan judul kuliah:
    Etika Dalam Berbisnis. Dengan etika dan kejujuran dalam berbisnis, barulah perusahaan bisa bertahan lama dan mendapat keuntungan sewajarnya, tanpa menyakiti hati para nasabah.
    Sebaliknya nasabah yang sangat berterima kasih kepada pengusaha.

    ReplyDelete