22 April 2012

Melantjong Petjinan ke Ario - Wismilak - Finna



Sempat vakum cukup lama, komunitas Jejak Petjinan kembali menggelar acara Melantjong Petjinan Soerabaia (MPS). Kali ini wisata kota yang dimotori Paulina Mayasari ini ingin menggali kiprah orang Tionghoa dalam bidang ekonomi atau bisnis.

"Kami mencoba mengikis stereotipe bahwa semua orang Tionghoa itu pedagang, dan pedagang itu sifatnya licik, tukang tipu, hanya cari untung, dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi," jelas Maya, sapaan Paulina Mayasari, Minggu (22/4/2012).

Pukul 08.00 sekitar 50 peserta MPS berkumpul di Ario Memorial Service untuk menggali pengalaman Ario mengembangkan bisnis jasa pemakaman di Surabaya. Selain Ario Karjanto, sang owner, rombongan berdialog dengan Yohana, putri Ario, serta suaminya, Richard Wu, yang kini mengelola perusahaan di Dinoyo 94-96 itu.

"Kuncinya sederhana saja, yakni melayani dengan hati. Jangan mengejar uang karena pasti tidak akan terkejar," kata Ario.

Yohana menambahkan, layanan di Ario pun menggunakan standar yang sama. Semua staf dan karyawan dilatih secara khusus agar mampu memberikan layanan ala hotel bintang lima. "Kita juga tidak boleh single fighter," tegas Yohana.

Peserta MPS yang datang dari berbagai kota ini (Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jakarta, Medan) ini kemudian diajak melihat ruang penyimpanan peti jenazah. Peti-peti berbagai jenis itu tertumpuk rapi. Mulai peti yang sangat mahal, sedang, hingga gratisan untuk warga yang kurang mampu.

"Kami menyediakan sekitar 1.500 peti jenazah untuk orang yang tidak mampu," kata Ario yang menyebut perusahaan ini sudah masuk generasi ketujuh.

Dari Ario Memorial Service, rombongan bergesar ke Grha Wismilak dan Finna Gift Shop. Kedua perusahaan itu dinilai punya brand yang kuat dan sangat sukses di pasaran. Anton Teguh, general training Wismilak, menjelaskan sejarah singkat pabrik rokok yang didirikan pada 1962 itu. Termasuk logo dewa panjang umur, 9 bintang, hingga tongkat dan buah di tangan sang dewa.

"Itu maknanya reward and punishment," ujar pria yang ramah ini.

Menurut Anton, sejak 50 tahun silam para pendiri Wismilak bertekad memproduksi rokok kretek yang berkualitas. Tradisi itu dipertahankan sampai sekarang. Ibaratnya lebih memilih membuat mobil supermewah meski laku sedikit ketimbang membuat mobil yang biasa-biasa saja meski sangat laris.

Setelah sukses merilis sejumlah varian di pasaran, kini Wismilak digandeng sebuah perusahaan Jepang untuk produksi rokok putih. "Visi kami, tahun 2015 Wismilak harus masuk 10 besar di Indonesia dengan kualitas terbaik," tegasnya.

Anton tak lupa menjelaskan sejarah Graha Wismilak di Jl dr Soetomo 27 yang merupakan bangunan cagar budaya. Gedung yang dibangun pada 1920 ini masih relatif asli dan terawat dengan baik. "Mulai ditempati Wismilak sejak 1993 dan dipugar 2003," tuturnya.

Tak ayal, peserta MPS pun menikmati gedung tua itu mulai lantai satu, naik tangga lawas, hingga lantai dua yang berlantaikan papan. Pihak Wismilak merasa bangga bisa merawat bangunan cagar budaya ini meski biaya pemugarannya sangat mahal.

Rombongan turis lokal ini kemudian jalan kaki ke Finna Jl Raya Darmo 23. Begitu masuk ke toko sekaligus showroom PT Sekar Laut Tbk ini peserta MPS disambut camilan khas Finna, khususnya kerupuk udang. Juga ada demo memasak aneka produk industri makanan yang berdiri sejak Juli 1967 ini.

"Lokasi pabrik kami berada di Jenggolo, Sidoarjo, dan sekarang karyawan kami sekitar 8.000 orang," jelas Efridia Gieneroza, product development PT Sekar Laut.

Seperti umumnya perusahaan-perusahaan Tionghoa, Sekar Laut awalnya hanyalah pabrik kerupuk tradisional yang didirikan oleh Harry Susilo pada 1966. Berkat ketekunan dan kerja keras, pabrik ini terus berkembang hingga mengespor hasil laut segar dengan pesawat. Pada 1973 perusahaan ini kian modern dan berkembang pesat sampai sekarang.

"Sekarang ini produk-produk kami sudah masuk ke pasar internasional. Kalau Anda ke Afrika, Anda akan menemukan produk Sekar Laut di sana," kata Efridia bangga.

Usai mendengar presentasi, peserta MPS diberi kesempatan mencicipi aneka produk Sekar Laut. (rek)


Komunitas Jejak Petjinan

Jalan Bibis 3 Surabaya 60161
jejakpetjinan@gmail.com
www.facebook.com/jejakpetjinan
www.sketsa.jejakpetjinan.org

8 comments:

  1. Salam Petjinan...
    Senang berada dalam komunitas seperti ini, mudah2an di lain hari kita bisa bertemu untuk melakukan kegiatan lainnya..

    www.leonard-institute.com

    ReplyDelete
  2. asyik juga lihat acara melantjong kayak ini. semoga terus dikembangkan agar generasi muda makin sadar sejarah katanya.

    ReplyDelete
  3. dulu aq kira wismilak itu pabrik rokok sejak jaman belanda, ternyata baru thn 1962. berarti pabrik rokok ini masih tergolong anyar. tapi aq salut krn wismilak mau membeli n merawat gedung tua menjadi asetnya yg sangat bernilai.

    ReplyDelete
  4. Salam Bung Lambertus,
    Hr ini smpai bsk kami ms di Surabaya, sy sdh bc tulis Blog Anda yg memuat foto bersama JejakPatjinan Soerabaya di dpn Wisma Wismilak

    Smoga kita bs ketemu lg . Izin utk dishare ke facebook sy. thanks

    Aseng Kosasih

    ReplyDelete
  5. Terima kasih Pak Leonard, Pak Kosasih, dan teman2 MPS.. semoga kita bisa melantjong lebih banyak lagi. Gak nyangka teman2 dari Jakarta ikut gabung. Salam damai.

    ReplyDelete
  6. Mas Hurek, mohon ijin share di wall JP di Fb yaaa.. terima kasih, Debby (JP)

    ReplyDelete
  7. mas Hurek, mohon ijin share ke wall Fb JP yaa.. Terima kasih :)

    ReplyDelete
  8. hehehe... Silakan saja Ning Debby. Semoga Jejak Petjinan makin diminati dan bermanfaat. Salam sukses.

    ReplyDelete