19 April 2012

Captain Does seniman Jawa di Suriname


Oleh ARIEF SANTOSA
Wartawan Jawa Pos


Nama Captain Does di Suriname begitu tersohor dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Terutama masyarakat keturunan Jawa yang gemar mendengarkan Radio Pertjaja atau menonton TV Garuda. Melalui acara-acara berbahasa Jawa yang dibawakan, Captain Does mampu mengobati kerinduan sekitar 100 ribu warga keturunan Jawa di Suriname tentang segala hal yang berbau tanah leluhur di Indonesia. Siapa sih Captain Does?


Dia adalah Salimin Ardjooetomo, salah seorang anggota delegasi Suriname dalam Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang, 11-14 September 2007. Pria 56 tahun itu jadi kawentar (ngetop) karena penampilannya yang selalu segar dan penuh banyolan. Celetukan-celetukannya di radio dan televisi selalu mengundang tawa penggemar.

"Lewat acara-acara sing tak pamerke, basa Jawa iso terus dieling lan digawe omongan bangsa Jawa ning Suriname. Aku mung ngajak supoyo wong Jawa ora lali karo asal-usule," ujar Salimin.

Dia mengaku nenek moyangnya dari ibu asal Banten, sedangkan nenek moyang dari ayahnya kelahiran Suriname. "Kulo niki generasi ketiga mbah-mbah kulo sing minggat saking tanah Jawa 116 tahun kepungkur," jelas Salimin yang hanya bisa bahasa Belanda dan Jawa kasar ini.

Di Radio Pertjaja, penyiar berkepala pelontos itu hadir hampir tiap hari. Dia membawakan acara berita umum berbahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Juga pilpen (pilihan pendengar), yang melayani penggemar untuk memesan lagu campursari yang kini lagi ngetren di Suriname.

"Lagu-lagu Didi Kempot di Suriname ngetop sekali. CD-nya laris. Setiap saat lagu Stasiun Balapan disiarkan di empat radio berbahasa Jawa; Pertjaja, Garuda, Bersama, dan Mustika," tuturnya.

Nah, dari acara pilpen itulah nama Captain Does disandang Salimin. Does adalah nama pemain bola legendaris yang pernah dimiliki kesebelasan nasional Suriname di era 70-an. Kebetulan Salimin memiliki postur, karakter, dan gaya permainan mirip Does bila bermain sepak bola.

"Nom-nomanku dhisik seneng bal-balan. Nah, jare wong-wong aku memper karo Does. Yo kuwi aku terus diceluk Captain Does nganti dadi penyiar saiki," jelas bapak empat anak---Poniran, Warini, Legiran, dan Legini---dari istri Roosmie Tambeng itu.

Setelah profesi penyiar melambungkan namanya, Salimin mendirikan grup kesenian Kabaret "Captain Does" pada 2000. Tapi, kabaret milik Salimin sangat berbeda dengan kabaret di Eropa yang pemainnya berkostum seksi-seksi. Kabaret Captain Does masih berhubungan dengan pemeliharaan bahasa Jawa di Suriname. Bentuknya juga bukan tari-tarian, melainkan dagelan ala Srimulat di Indonesia.

"Koyo Srimulat utowo ludruk. Pemaine kabeh lanang, ning ono sing macak wedok. Kabeh pemain kudu iso dagel, nembang, lan jogedan," papar mantan pegawai negeri yang 35 tahun mengabdi di Kementerian Kesosialan Suriname itu.

Pemunculan Kabaret Captain Does pun cepat mendapat respons penggemar setia Salimin. Pentas demi pentas memperoleh apresiasi menggembirakan. Tidak hanya di panggung-panggung formal, pentas juga dilakukan di hajatan warga. Misalnya, acara sunatan, perkawinan, ulang tahun, peresmian gedung, dan sebagainya.

"Nek pas rame, seminggu saget pamer ngantos ping tigo-sekawan," kata Salimin. "Nek rame, lare-lare seneng. Saget damel panguripan," tambahnya.

Setiap show, Kabaret Captain Does mendapat bayaran 1.000 SRD (Suriname Dolar) atau sekitar Rp 3 juta. Asumsinya, 1 USD = 2.8 SRD. Sedangkan 1 USD = Rp 9.000 (kurs sekarang). Padahal, mereka hanya tampil sekitar 30 menit sampai satu jam. Penghasilan itu dibagi 12 pemain, plus untuk kas kelompok. Mereka memperoleh honor setiap akhir pekan. Tapi, Salimin tidak bisa menyebutkan rata-rata honor yang diterima setiap pemain.

"Iki bukti nek basa Jawa saiki iso dadi penguripan. Aku karo kanca-kanca wis ngrasaake."

Tidak hanya pentas di panggung, sudah dua tahun ini Kabaret Captain Does memproduksi VCD lakon-lakon mereka. Di antaranya yang sudah beredar di pasaran berjudul Bobote Prawan Sunthi, Sopir Kembar, Sopir Taksi, Wong Seneng Orang Keno Dialang-alangi, Ojo Sujono, dan Keliru Pendelehe. Tapi, Salimin mengaku tidak mendapat apa-apa dari produksi VCD kabaretnya itu. Sebab, banyak yang membajak VCD-nya dan dijual lebih murah di pasaran.

"Saking ngetope, diplagiat. Didol murah. Ya aku ora oleh opo-opo. Wis tak laporke parlemen," tandas Salimin.

No comments:

Post a Comment