18 April 2012

Air bunga untuk unas


Ujian nasional alias unas jadi masalah besar di tanah air. Tadi saya lihat di koran, siswa sebuah sekolah di Surabaya rendam kaki dalam air bunga saat istirahat unas hari ketiga.

Menjelang unas, sekolah-sekolah di Jawa Timur ramai-ramai bikin istigasah di masjid. Nangis-nangis, cium tangan guru, bahkan membasuk kaki guru-guru. Untuk apa? Biar lulus unas dengan nilai bagus.

Saya tidak pernah ikut unas tapi ebtanas. Waktu itu tidak ada doa bersama, istigasah, mandi kembang, dan sebagai. Juga tak ikut bimbingan tes atau les tambahan. Biasa-biasa saja. Tapi hasilnya bagus, bahkan di atas rata-rata.
Saya kurang tahu mengapa proyek unas, yang sebetulnya sama dengan ebtanas, ini menjadi sedemikian mengerikan. Isunya sangat ramai. Melibatkan begitu banyak polisi. Sampai-sampai siswa harus disuntik dengan istigasah dan mandi air kembang segala.

Saya kira pemerintah, khususnya menteri pendidikan, harus mengembalikan suasana unas seperti ebtanas zaman dulu. Ujian nasional perlu untuk memetakan mutu pendidikan, tapi dibuat asyik. Guru-guru pun harus amanah, iso digugu lan ditiru kayak guru-guru lama.

Repotnya, guru-guru sekarang ini pun banyak yang tidak amanah. Malah mengajari anak didik untuk curang dan tidak jujur seperti di Gadel, Surabaya, tahun lalu.

Repotnya lagi, bupati-bupati di Jatim pun selalu pasang target lulus 100%. Bagaimana mungkin anak didik bisa lulus semua? Logikanya di mana? Sebab, secara akademik kemampan siswa itu berbeda dari sononya.

Soal-soal unas bagi siswa cerdas atau jenis jelas sangat mudah ketimbang soal SNMPTN. Tidak sulit bagi siswa cerdas dapat nilai 10 atau 9,7 di unas. Tapi bagi siswa rata-rata unas itu sangat-sangat sulit, sehingga tidak mudah mendapat nilai 6 atau 5.

Siswa SMAN Olahraga di Sidoarjo yang juara SEA Games jelas tak bisa dipaksa agar jago matematika atau fisika. Nilai rata-rata unasnya mungkin tak sampai 5,5.

Lantas, apakah unas jadi penentu utama kelulusan siswa? Anggap saja unas itu kuis atau game yang menyenangkan. Jangan dibuat seram seperti sekarang!

No comments:

Post a Comment