30 April 2012

Mengunjungi Ario Memorial Services



Minggu (22/4/2012), sekitar pukul 08.00, peserta Melantjong Petjinan Soerabaian (MPS) berkumpul di aula Ario Memorial Services Jalan Dinoyo 94-96 Surabaya. Ario Karjanto, sang pemilik, bersama putrinya Yohana dan menantunya Richard Wu menyambut para tamu dengan ramah. Seperti biasa melontarkan joke-joke segar yang membuat peserta MPS tertawa kecil.

"Bisnis peti mati itu sebetulnya sama dengan bisnis hiburan. Jadi, kerjaan saya sebenarnya sama dengan event organizer," kata Ario. "Lha, tugas kami itu kan bagaimana membuat keluarga yang berduka bisa terhibur dan tidak larut dalam kesedihan setelah anggota keluarganya meninggal."

Perusahaan jasa pemakaman yang sudah 7 generasi ini melayani berbagai keperluan pemakaman jenazah. Mulai dari memandikan jenazah, mencari tempat persemayaman, hingga mencarikan pastor atau rohaniwan untuk memimpin sembahyang. Bahkan, Ario punya sistem komputer untuk menentukan fengshui kapan sebaiknya jenazah dimakamkan atau dikremasi.

"Dan kami selalu menganggap customer sebagai keluarga sendiri. Kuncinya adalah melayani dengan hati," tegas Ario.

Untuk meningkatkan kualitas layanan itu, Ario bahkan menyekolahkan putri semata wayangnya, Yohana, ke Amerika Serikat di fakultas khusus yang membahas jasa pemakaman. Pulang ke Surabaya, Yohana menggaet Richard Wu asal Taiwan yang kini menjadi suaminya untuk bersama-sama memajukan bisnis yang sudah berkembang pesat itu.

Yohana mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan ISO 9001 untuk standar pelayanan. Dengan begitu, semua jenis layanan di Ario harus mengacu pada standar internasional. "Semua karyawan dididik secara khusus di hotel bintang lima yang memang punya pelayanan bagus," katanya.

Dalam berbisnis, menurut Yohana, Ario tak melupakan tanggung jawab sosial untuk warga tidak mampu. Karena itu, perusahaan ini juga menyediakan sekitar 1.500 peti jenazah untuk warga yang tidak mampu. Keluarga atau ahliwaris cukup memberikan surat keterangan dari RT atau kelurahan, kemudian pihak Ario mengantar peti yang layak.

"Kami juga sudah menggunakan lampu hemat energi di perusahaan ini," kata Yohana didampingi sang suami Richard Wu.

Usai persentasi, peserta MPS diajak meninjau gudang penyimpanan peti jenazah. Aneka jenis peti dari yang supermahal, sedang, hingga yang murah tersimpan rapi. Kayu jati berkualitas tinggi dengan ukiran yang indah. Sebagian besar peserta MPS, yang baru kali pertama ke Ario, pun terkagum-kagum melihat gudang yang tak lazim itu.

"Saya sering lewat di depan Ario, tapi baru kali ini dapat kesempatan melihat dari dekat," kata Benny Sitinjak, salah satu pelancong asal Batak Toba, Sumatera Utara.

Suparto Brata (80), sastrawan senior yang juga peserta MPS tertua, mengaku mendapat banyak inspirasi dari acara melancong ke pusat bisnis peti mati dan siupan terkemuka ini.

MPS ke Kelenteng Hong San Ko Tee

Paulina Mayasari bersama Juliani Pudjiastuti, pengurus Kelenteng Cokro.

Setelah menikmati lontong capgomeh yang lezat di sebuah depot di Jalan Anwari Surabaya, sekitar 50 peserta Melantjong Petjinan Soerabaian (MPS) bergeser ke Tempat Ibadah Tridharma (TITD) Hong San Ko Tee di Jl Cokroaminoto 12 Surabaya. Komunitas penggemar sejarah tentang peranakan Tionghoa ini ingin mengenal lebih dekat kelenteng yang punya pemujaan terhadap Dewi Sri itu.

Para pengurus TITD Hong San Ko Tee (populer disebut Kelenteng Cokro) terkejut ketika dua mobil jenazah Ario berhenti persis di depan kelenteng. Ada apa gerangan? Kekagetan pengurus kelenteng baru berakhir setelah peserta MPS turun dan menyalami pengurus kelenteng.

"Kami jadi serba salah. Kok wisatawan naik mobil jenazah," ujar Budi, aktivis TITD Cokro yang ikut menyambut kedatangan para pelancong dari berbagai kota itu.

Rombongan kemudian melihat-lihat dan mengambil gambar kelenteng di tengah kota Surabaya itu. Sementara belasan umat terlihat bersembahyang di 9 altar yang ada di tempat ibadat Tridarma itu. "Saya baru tahu kalau di sini ada kelenteng yang cukup besar," ujar seorang warga Tionghoa asal Mojokerto.

Beberapa saat kemudian Juliani Pudjiastuti, pengurus dan penanggung jawab kelenteng yang ditunggu-tunggu, tiba. Maka, Paulina Mayasari selaku koordinator MPS mulai memandu diskusi informal. Menurut Juliani, TITD Hong San Ko Tee ini didirikan pada era kolonial Belanda.

Sebelum menempati lahan di Jalan Cokroaminoto 12, kelenteng ini berada di Pandegiling kemudian pindah ke Keputran. "Jadi, di sini lokasi yang ketiga. Izin bangunan di Jl Cokroaminoto keluar tanggal 24 September 1919," Juliani menjelaskan.

Pada awal abad ke-19 itu kawasan Cokroaminoto dikenl sebagai kompleks pemakaman. Makam-makam itu kemudian direlokasi untuk dibangun kelenteng dan sejumlah bangunan lain karena kota Surabaya saat itu mulai berkembang ke arah selatan. Nah, saat relokasi ke Cokro, pengurus kelenteng menemukan sebuah arca pemujaan dari batu yang belakangan diketahui sebagai Dewi Sri, dewi padi dan kesuburan.

Masyarakat kejawen saat itu pun kerap melakukan pemujaan atau semadi di lokasi arva Dewi Sri. Para pengurus kelenteng akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah altar khusus untuk menghormati Dewi Sri. Arca yang dulu berada di kompleks kuburan pun diletakkan di altar. Ini merupakan sinkretisme yang menarik karena tak lazim mengingat kelenteng merupakan rumah ibadat Tionghoa.

"Bagaimanapun juga kami-kami ini kan lahir di tanah Jawa, sehingga perlu menghayati tradisi dan budaya Jawa," papar Juliani menanggapi pertanyaan peserta MPS.

Bukan itu saja. Setiap tanggal 1 Sura umat Kelenteng Cokro juga menggelar ritual khas kejawen lengkap dengan sajian tumpeng. Sedikitnya 300 tumpeng disiapkan umat untuk didoakan, kemudian dinikmati oleh warga yang kurang mampu.

"Acara suroan di sini selalu menarik perhatian masyarakat dan teman-teman media," kata Juliani seraya tersenyum.

Tak sekadar sembahyang, menurut Juliani, pengurus dan umat kelenteng ini juga aktif mengadakan bakti sosial (baksos). Setiap minggu digelar baksos pengobatan alternatif untuk masyarakat umum. Pihak kelenteng bahkan membuat ruang praktik khusus di halaman untuk baksos pengobatan. "Dulu dua kali seminggu, tapi sekarang hanya satu kali saja karena Pak Suharto diminta melayani pasien di Bali," katanya.

Sejak era reformasi pengurus kelenteng berkomitmen menjadikan TITD Hong San Ko Tee sebagai kelenteng yang terbuka dan ramah pada masyarakat. Caranya antara lain dengan aktif menggelar buka puasa bersama setiap Jumat pada bulan Ramadan. Ratusan warga kurang mampu rame-rame datang untuk mencicipi takjil dan berbuka di halaman.

 "Selama ini orang-orang non-Tionghoa cenderung alergi masuk ke halaman atau kompleks kelenteng. Nah, saya dan pengurus lain berusaha mencairkan kebekuan itu," kata Juliani.

Usai dialog, peserta MPS dijamu dengan aneka makanan khas Jawa Timur, termasuk nasi goreng yang lezat.

28 April 2012

Soal pindah agama Angelina Sondakh


Pindah agama sebetulnya hal biasa dan sudah sering terjadi. Paling banyak karena alasan pernikahan. Dan itu karena undang-undang di Indonesia tidak memberi ruang untuk nikah beda agama. Pasal 29 UUD 1945 juga memberi kebebasan menganut agama apa pun.

Maka, saya heran masalah konversi agama, urusan pribadi, masih dipersoalkan di tanah air. Masih banyak penganut agama A tidak rela seseorang pindah ke agama B atau C. Sebaliknya, penganut agama B sangat senang karena seseorang bergabung dengan agamanya.

Saya risau dan risi mendengar beberapa penelepon di Bedah Editorial Metro TV Sabtu pagi, 28 April 2012, yang membahas penahanan Angelina Sondakh. Pak Fidel di Tangerang (kalau tidak salah) menilai kasus dugaan korupsi Angie ini sebagai kutukan. "Dulu Angie itu ANAK TUHAN tapi kemudian pindah agama. Jadinya ya seperti ini," kata Fidel.

Orang kristiani, khususnya aliran/denominasi tertentu, memang biasa menyebut umat kristiani dengan istilah anak Tuhan. Lantas, umat agama-agama lain yang juga menyembah dan memuji Tuhan itu anaknya siapa? Hehehe... Begitu saya sering guyon dengan orang-orang gereja yang kadang suka menyebut diri dan komunitasnya sebagai 'anak Tuhan'.

Kembali ke Angie. Setelah telepon Fidel, muncul telepon lain di Metro TV. Penelepon itu (saya lupa namanya) menilai Angie sebagai mualaf yang ulahnya bikin malu orang Islam. Wah wah wah, masalah korupsi yang sejatinya urusan pribadi kok ditarik begitu jauh ke ranah agama seperti ini?

Negara bisa kacau dan ruwet kalau orang-orang Indonesia masih punya pikiran yang picik seperti Fidel atau beberapa penelepon di televisi itu. Dan ini juga menunjukkan bahwa masih banyak orang Indonesia yang belum mengerti human rights atau hak asasi manusia. Human rights itu sebetulnya mengandung hak untuk bebas menganut agama yang dia yakini.

Kalau si Angie tidak yakin lagi dengan agama lama, yang diwariskan orangtua, kemudian pindah agama suami, mengapa Fidel dkk harus marah-marah? Biasa-biasa sajalah. Tidak ada urusan dengan anak Tuhan, anak terang, atau anak setan.

26 April 2012

Madrid pantas kalah dari Bayern




Barcelona dan Realmadrid gagal ke final Liga Champion 2012. Skenario final ideal el clasico pun meleset. Barca duluan tumbang dari Chelsea, disusul Madrid yang keok adu penalti.

Terlepas dari faktor hoki adu penalti, permainan Bayern memang jauh lebih bagus. Akurasi, penguasaan bola, pertahanan Bayern sangat bagus. Pemain-pemainnya pun lebih punya fighting spirit. Ini yang tidak dipunyai Madrid.

Sejak ditinggal pensiun Zidane, saya tidak melihat Madrid punya pemain-pemain super di lini tengah. Kelemahan itu sangat terasa ketika pasukan Mourinho itu melawan tim-tim kuat macam Bayern atau Barcelona.

Bola dari belakang tidak bisa diolah di tengah, buka space, kemudian dialirkan ke depan. Sebaliknya, bola dari lawan pun tidak bisa dicegat di tengah tapi langsung masuk ke lini pertahanan Madrid. Sangat mengerikan!

Karena itu, Bayern bisa dengan leluasa mengacak-acak pertahanan Madrid yang disebut-sebut salah satu tim terbaik dunia itu. Bek macam Pepe terpaksa melakukan pelangggaran yang berbuah penalti.

Kalau mau jujur, Realmadrid sebetulnya hanya punya 3 pemain super: Ronaldo, Oziel, Cassilas. Beda dengan Barcelona yang punya 7-8 pemain super dan sangat perkasa di lini tengah. Itulah yang membuat Barca sangat lama menguasai bola dan bisa dengan cepat mendapatkan bola kembali.

Saya tidak tahu apakah Jose Mourinho tahu kelemahan paling menonjol di timnya. Padahal, ketika melatih Chelsea dan Inter Milan, Mou justru sangat kokoh di lini tengah dan belakang.

Di Madrid hanya pemain-pemain depan saja yang dahsyat, sementara tengah dan belakangnya kacau. Saat lawan Bayern untung masih ada umpan manis dari Oziel yang melahirkan gol kedua. Setelah itu Madrid benar-benar ditekan habis.

Sutaman tokoh TITD Jatim berpulang


Warga Tionghoa di Jawa Timur kehilangan salah satu tokohnya. Bapak Sutaman, ketua Perkumpulan Tempat Ibadat Tridharma (TITD) Provinsi Jawa Timur, meninggal dunia usai menjalani operasi jantung di Malaysia pada 13 april 2012.

Setelah disemayamkan di Adijasa, Jalan Demak Surabaya, jenazah pria yang sangat aktif di berbagai kegiatan sosial ini dimakamkan di Sukorejo, Pasuruan, Sabtu (21/4/2012). Begitu banyak pelayat yang memberikan penghormatan terakhir kepada pria yang murah senyum ini. "Selama hidupnya beliau sudah banyak berbuat kebajikan untuk sesama," kata Yayuk, staf Yayasan Sahabat Sinoman, kepada saya.

Selama hidupnya Pak Sutaman aktif mengurus yayasan rukun kematian di Jalan Kalisari III/22 Surabaya itu. Di kompleks itu juga ada sebuah kelenteng yang dikelola Pak Sutaman.

Almarhum juga aktif di Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa, Persatuan Olahraga dan Seni Barongsai Indonesia, serta perkumpulan-perkumpulan sosial budaya lain di Surabaya.

"Beliau itu benar-benar bekerja untuk orang lain. Orangnya selalu terlihat sehat dan semangat meskipun sudah dua kali operasi jantung. Nah, saat operasi ketiga ini rupanya Tuhan berkehendak lain," kata Yayuk.

Sebagai ketua perkumpulan kelenteng di Jatim, Pak Sutaman tentu saja selalu hadir dalam hajatan-hajatan yang diadakan TITD-TITD di 38 kabupaten/kota. Selepas reformasi kegiatan-kegiatan kelenteng makin padat dan meriah. Acara-acara yang dulu hanya diadakan di kompleks kelenteng kinh bisa diadakan di jalan raya atau tempat umum.

"Ini semua merupakan berkah dari reformasi yang diperjuangkan mahasiswa. Kita harus isi reformasi ini untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat," kata Pak Sutaman suatu ketika.

Pak Sutaman juga aktif dalam kegiatan lintas budaya dan lintas agama. Dia sering hadir di acara-acara yang diadakan Persatuan Islam Tionghoa Indonesia dan Masjid Cheng Hoo Surabaya. "Lha, pengurus PITI dan Cheng Hoo itu kan teman-teman saya semua. Kita ini bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu," katanya.

Selamat jalan Pak Sutaman!

MPS Kunjungi Grha Wismilak



Sekitar 50 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia (MPS) mengunjungi Grha Wismilak di Jalan dr Soetomo 27 Surabaya. Yang menarik, rombongan pelancong dari berbagai kota ini menumpang mobil jenazah milik Ario Memorial Services yang kebetulan Ahad (22/4/2012) pagi itu nganggur.

Anton Teguh, general training Wismilak (PT Gelora Djaja dan PT Gawih Djaja), rupanya sudah menunggu kedatangan para turis lokal yang ingin menggali jejak orang Tionghoa di surabaya itu. Sebagian peserta terkesan dengan gedung tua buatan tahun 1920 yang kini menjadi Grha Wismilak itu.

"Kalau semua gedung tua di Surabaya dirawat seperti ini, wah, kita akan punya banyak objek wisata menarik," kata Benny Sitinjak, orang Batak yang sudah lama jadi warga Kota Surabaya.

Setelah kata pengantar dari Paulina Mayasari, koordinator Jejak Petjinan, Anton Teguh menjelaskan secara singkat perkembangan pabrik rokok kretek yang didirikan pada 1962 itu. Ada dua pendiri, yakni Lie Koen Lie dan Oei Bian Kok. Kedua pengusaha Tionghoa ini, menurut Anton, bertekad memproduksi rokok kretek kelas premium.

"Ibaratnya bikin mobil mewah yang walaupun pasarnya sedikit, tapi harganya tinggi dan pasti dicari orang," papar Anton.

Komitmen ini diwujudkan dengan membuat sigaret kretek tangan, sigaret kretek mesin, hingga beberapa varian baru. Anton kemudian memperlihatkan produk generasi awal yang ternyata punya pasar sendiri.

"Visi kami ke depan harus masuk jajaran pabrik rokok besar di indonesia ini," kata Anton seraya tersenyum.

Saat ini Wismilak bahkan sudah digandeng pihak Jepang untuk mendistribusikan sebuah produk rokok putih kelas dunia. Wismilak pun tercatat sebagai perusahaan rokok yang punya laboratorium sendiri. Lab ini sering dipakai untuk analisis kandungan tar dan nikotin dari sejumlah pabrik rokok lain di Indonesia.

Yang juga menarik perhatian peserta MPS adalah logo Wismilak yang mirip tokoh Tiongkok kuno. Anton menjelaskan bahwa sosok dalam logo itu tak lain dewa panjang umur. Sembilan bintang menunjukkan angka sempurna. Kemudian ada tongkat dan buah simbol reward and punishment.

"Wismilak itu juga semacam mantra atau doa pendek dalam bahasa Inggris: Wish me luck! Wish me luck!" papar Anton lantas menyenandungkan lagu Wish Me Luck yang ngetop pada Perang Dunia II.

Peserta kian antusias ketika Anton menjelaskan sejarah bangunan cagar budaya yang kini menjadi Grha Wismilak. Didirikan pada 1920, bangunan ini tempo doeloe merupakan Toko Jan, cabang Toko Piet di Jalan Tunjungan. Karyawan kedua toko milik orang Belanda itu tinggal di situ. Salah satu karyawan Toko Jan adalah Oei Hian Hwa yang kini berusia 96 tahun.

"Belum lama ini Pak Oei datang ke sini untuk bernostalgia setelah 60 tahun," tutur Anton.

Nah, dari mulut Oei Hian Hwa inilah pihak Wismilak mendapat banyak informasi berharga seputar bangunan cagar budaya di samping eks konjen as itu. Pada zaman Jepang, 1942, Toko Jan tutup dan barang-barangnya diobral ke orang Belanda yang tinggal di kawasan Raya Darmo. Sebagian lagi diberikan kepada para pegawai toko yang tinggal di situ. Gedung itu juga pernah dijadikan markas polisi pada awal kemerdekaan, 1945, hingga 1993 itu.

Rombongan MPS cukup lama menikmati bangunan tua nan antik itu. Termasuk menjajal tangga kayu hingga ke loteng yang menurut Oei Hian Hwa dulu ditempati 22 pegawai toko. "Gedung ini sebagian besar masih asli. Mulai dipakai Wismilak sejak 1993 dan dipugar tahun 2003. Sebagai cagar budaya, gedung ini tidak bisa diubah sembarangan," katanya.

Sekar Laut bermula dari pabrik kerupuk 1966



Dari Grha Wismilak di Jalan dr Seotomo 27 Surabaya, sekitar 50 peserta Melantjong Petjinan Soerabaia (MPS) jalan kaki ke Finna Gift Shop di Raya Darmo 23-25 Surabaya. Rombongan ingin mengetahui metamorfosa sebuah pabrik kerupuk rumahan (home industry) menjadi perusahaan besar yang produk-produknya sudah menyebar ke mancanegara.

Teriknya cuaca Surabaya Minggu siang itu (22/4/2012) kontan hilang ketika peserta MPS, yang dipimpin Paulina Mayasari, tiba di Finna Gift Shop. Sejumlah pramuniaga menyambut kedatangan para turis lokal ini dengan ramah. Bahkan, peserta juga diberi kesempatan untuk mencicipi beberapa produk andalan Finna.

"Finna itu brand utama dari PT Sekar Laut Tbk. Masyarakat memang sudah sangat familier dengan aneka produk kami," kata Efridia Gieneroza, product development Sekar Laut, dalam presentasinya.

Seperti umumnya pengusaha-pengusaha Tionghoa tempo doeloe, Finna ini mulai dirintis pada 1966 oleh Harry Susilo dari skala yang sangat kecil. Produk yang dibuat hanyalah kerupuk udang tradisional seperti yang dibuat UKM-UKM di Sidoarjo. Pabrik PT Sekar Laut memang berlokasi di kawsaan Jenggolo, Sidoarjo.

Efridia memperlihatkan alat-alat sederhana untuk membuat kerupuk pada era 1960-an. Alat-alat yang jauh lebih sederhana ketimbang pabrik-pabrik kerupuk rumahan yang ada sekarang. Tapi berkat kerja keras, ketekunan, kepiawaan membaca pasar dan membangun jaringan, usaha kerupuk udang ini terus berkembang.

Harry Susilo kemudian menjadi pengepul hasil laut untuk diekspor ke luar negeri. Hasil laut segar dikirim dengan pesawat. Pada 1973 ketika usaha makin besar, Harry melakukan kerja sama dengan Tomen Group. Sejak itulah masyarakat mulai kenal produk-produk Fina, brand Sekar Laut yang diambil dari nama salah satu putri sang founder. Skala pabrik pun terus membesar. Saat ini Sekar Laut memiliki sedikitnya 8.000 karyawan.

"Produk kami dibuat dari bahan-bahan alami, diproses secara modern oleh tenaga terampil yang berpengalaman," jelas Efiridia menjawab pertanyaan salah satu peserta MPS.

Adapun lini produk Finna meliputi kerupuk udang, ikan, sayuran, saus tomat/sambal, aneka bumbu masak, tepung bumbu, kacang mente, roti bun (burger), dan aneka hasil alam.

"Kalau Anda melancong ke Afrika, Anda akan menemukan produk bermerek Finnna karena produk-produk Sekar Laut memang sudah diekspor ke mancanegara," kata Efridia Gieneroza seraya tersenyum.

Pria berkacamata yang akrab disapa Gino ini kemudian meminta beberapa karyawan untuk melakukan demo memasak beberapa produk Finna. Tak sampai 10 menit peserta MPS bisa mencicipi masakan ringan khas Sekar Laut. "Di sini memang sering diadakan semacam cooking class. Dan bumbu-bumbu masak kami juga sering dipakai dalam demo masak yang diadakan beberapa televisi," kata Efridia.

Dia akhir pertemuan, Efridia menyebut lima kunci sukses pendiri Finna yang membuat perusahaan ini terus maju dan berkembang. Pertama, semangat pantang menyerah dalam kondisi apa pun. Kedua, komitmen pada kualitas dan cita rasa. Ketiga, inovasi dari waktu ke waktu. Keempat, variasi produk. Kelima, sinergi divisi distribusi dan marketing.

24 April 2012

HILIRISASI versi harian Kompas


Koran Kompas edisi Selasa 24 April 2012 menurunkan judul berita utama yang aneh di halaman 17. HILIRISASI HARGA MATI. Apa saya tak salah baca ini?

Kompas merupakan salah satu dari sedikit koran yang peduli bahasa Indonesia. Ia punya kolom bahasa mingguan. Editor bahasanya pun oke. Lantas, mengapa ada HILIRISASI?

Kata bentukan HILIRISASI mengingatkan saya pada kata-kata sejenis pada era orde baru: KUNINGISASI, LAMTORONISASI, TURINISASI, SENGONISASI dan sasi-sasi lainnya. Ahli-ahli bahasa kemudian mengkritik sasi-sasi yang dianggap melanggar kaidah bahasa alias ngawur.

Saya ingat salah satu tulisan di Kompas menyebutkan bahwa bahasa kita tak mengenal akhiran -sasi, -isasi, -nisasi. Kalaupun banyak kata yang mengandung SASI, itu merupakan serapan utuh dari bahasa barat, khususnya Inggris.

Bentukan sasi-sasi yang benar antara lain STANDARDISASI, NATURALISASI, LEGALISASI, KRISTENISASI, URBANISASI, RURALISASI, REALISASI, ORGANISASI. Kata-kata itu diserap utuh dari sananya, dengan menyesuaikan sistem fonologi.

Karena itu, kata-kata dasar asli Indonesia tidak bisa di-SASI-kan begitu saja seperti kasus HILIRISASI atau KUNINGISASI yang kata dasarnya HILIR dan KUNING. Kata bentukan yang berterima adalah PENGHILIRAN atau PENGUNINGAN.

Saya tidak tahu apakah editor Kompas sudah lupa kaidah bahasa lama yang justru diperkenalkan di Kompas, atau sengaja membuat tren baru. Bahwa kini bahasa Indonesia punya akhiran -sasi, -isasi, -nisasi.

Sebagai koran besar dan berpengaruh, selayaknya Kompas bisa berperan sebagai kompas bahasa di tanah air. Bukan malah membuat aturan baru yang bertentangan dengan tuan-puan di Pusat Bahasa.

22 April 2012

Melantjong Petjinan ke Ario - Wismilak - Finna



Sempat vakum cukup lama, komunitas Jejak Petjinan kembali menggelar acara Melantjong Petjinan Soerabaia (MPS). Kali ini wisata kota yang dimotori Paulina Mayasari ini ingin menggali kiprah orang Tionghoa dalam bidang ekonomi atau bisnis.

"Kami mencoba mengikis stereotipe bahwa semua orang Tionghoa itu pedagang, dan pedagang itu sifatnya licik, tukang tipu, hanya cari untung, dan lebih mengutamakan kepentingan pribadi," jelas Maya, sapaan Paulina Mayasari, Minggu (22/4/2012).

Pukul 08.00 sekitar 50 peserta MPS berkumpul di Ario Memorial Service untuk menggali pengalaman Ario mengembangkan bisnis jasa pemakaman di Surabaya. Selain Ario Karjanto, sang owner, rombongan berdialog dengan Yohana, putri Ario, serta suaminya, Richard Wu, yang kini mengelola perusahaan di Dinoyo 94-96 itu.

"Kuncinya sederhana saja, yakni melayani dengan hati. Jangan mengejar uang karena pasti tidak akan terkejar," kata Ario.

Yohana menambahkan, layanan di Ario pun menggunakan standar yang sama. Semua staf dan karyawan dilatih secara khusus agar mampu memberikan layanan ala hotel bintang lima. "Kita juga tidak boleh single fighter," tegas Yohana.

Peserta MPS yang datang dari berbagai kota ini (Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jakarta, Medan) ini kemudian diajak melihat ruang penyimpanan peti jenazah. Peti-peti berbagai jenis itu tertumpuk rapi. Mulai peti yang sangat mahal, sedang, hingga gratisan untuk warga yang kurang mampu.

"Kami menyediakan sekitar 1.500 peti jenazah untuk orang yang tidak mampu," kata Ario yang menyebut perusahaan ini sudah masuk generasi ketujuh.

Dari Ario Memorial Service, rombongan bergesar ke Grha Wismilak dan Finna Gift Shop. Kedua perusahaan itu dinilai punya brand yang kuat dan sangat sukses di pasaran. Anton Teguh, general training Wismilak, menjelaskan sejarah singkat pabrik rokok yang didirikan pada 1962 itu. Termasuk logo dewa panjang umur, 9 bintang, hingga tongkat dan buah di tangan sang dewa.

"Itu maknanya reward and punishment," ujar pria yang ramah ini.

Menurut Anton, sejak 50 tahun silam para pendiri Wismilak bertekad memproduksi rokok kretek yang berkualitas. Tradisi itu dipertahankan sampai sekarang. Ibaratnya lebih memilih membuat mobil supermewah meski laku sedikit ketimbang membuat mobil yang biasa-biasa saja meski sangat laris.

Setelah sukses merilis sejumlah varian di pasaran, kini Wismilak digandeng sebuah perusahaan Jepang untuk produksi rokok putih. "Visi kami, tahun 2015 Wismilak harus masuk 10 besar di Indonesia dengan kualitas terbaik," tegasnya.

Anton tak lupa menjelaskan sejarah Graha Wismilak di Jl dr Soetomo 27 yang merupakan bangunan cagar budaya. Gedung yang dibangun pada 1920 ini masih relatif asli dan terawat dengan baik. "Mulai ditempati Wismilak sejak 1993 dan dipugar 2003," tuturnya.

Tak ayal, peserta MPS pun menikmati gedung tua itu mulai lantai satu, naik tangga lawas, hingga lantai dua yang berlantaikan papan. Pihak Wismilak merasa bangga bisa merawat bangunan cagar budaya ini meski biaya pemugarannya sangat mahal.

Rombongan turis lokal ini kemudian jalan kaki ke Finna Jl Raya Darmo 23. Begitu masuk ke toko sekaligus showroom PT Sekar Laut Tbk ini peserta MPS disambut camilan khas Finna, khususnya kerupuk udang. Juga ada demo memasak aneka produk industri makanan yang berdiri sejak Juli 1967 ini.

"Lokasi pabrik kami berada di Jenggolo, Sidoarjo, dan sekarang karyawan kami sekitar 8.000 orang," jelas Efridia Gieneroza, product development PT Sekar Laut.

Seperti umumnya perusahaan-perusahaan Tionghoa, Sekar Laut awalnya hanyalah pabrik kerupuk tradisional yang didirikan oleh Harry Susilo pada 1966. Berkat ketekunan dan kerja keras, pabrik ini terus berkembang hingga mengespor hasil laut segar dengan pesawat. Pada 1973 perusahaan ini kian modern dan berkembang pesat sampai sekarang.

"Sekarang ini produk-produk kami sudah masuk ke pasar internasional. Kalau Anda ke Afrika, Anda akan menemukan produk Sekar Laut di sana," kata Efridia bangga.

Usai mendengar presentasi, peserta MPS diberi kesempatan mencicipi aneka produk Sekar Laut. (rek)


Komunitas Jejak Petjinan

Jalan Bibis 3 Surabaya 60161
jejakpetjinan@gmail.com
www.facebook.com/jejakpetjinan
www.sketsa.jejakpetjinan.org

21 April 2012

Senja kala ludruk di Sidoarjo


Sebelum tahun 1990 begitu banyak grup ludruk yang bertebaran di Sidoarjo. Namun, perlahan-lahan satu per satu grup kesenian tradisional ini gulung tikar. Saat ini hanya ada beberapa gelintir ludruk yang masih bertahan dalam kondisi senen-kemis.

Menurut Prof Dr Henricus Supriyanto, pengamat ludruk, bubarnya grup-grup ludruk itu tak lepas dari masuknya televisi yang menawarkan hiburan ke rumah-rumah penduduk di kawasan pinggiran. Padahal. warga pinggiran itu dulu dikenal sebagai penonton ludruk yang setia.

"Sebelum ada televisi, orang kalau tidak nonton ludruk ya lihat wayang wong, wayang kulit, atau ketoprak," katanya.

Selain itu, menurut Henri, kebijakan Orde Baru yang represif dan antikritik membuat grup ludruk kehilangan daya tariknya. Lawakan-lawakan yang mengkritik kebijakan pemerintah dan ketimpangan sosial dilarang. Yang ada hanya kidungan tentang keberhasilan pembangunan atau pentingnya P4.

"Banyolan-banyolan ludruk sudah tidak menarik lagi. Orang jadi malas lihat ludruk," kata mantan dosen Unesa ini.

Kehilangan daya kritis ini, sambung dia, terbawa sampai sekarang. Kemampuan pelawak atau peludruk mengkritik kondisi di masyarakat seperti BBM sudah tak ada karena tidak menguasai materinya.

"Maka, pelawak ludruk hanya mampu menyajikan banyolan lawas. Banyolan seperti itu sudah sering dilihat penonton sehingga bosan dan meninggalkan ludruk," kata pria yang tekun meneliti ludruk di Jatim itu.

Pelawak memang tulang punggung sebuah grup ludruk. Begitu banyak kelompok ludruk yang gulung tikar setelah ditinggal pelawak andalannya. Ketika Basman memilih bergabung dengan Kartolo di Surabaya, Ludruk Warna Jaya Sidoarjo oleng. Ludruk Bintang Jaya juga kehilangan penggemar setelah ditinggal pelawak andalannya Momon, Agus Kuprit, dan Darmaji.

Masalahnya, tidak mudah menciptakan pelawak-pelawak baru yang berkualitas dan digemari penonton. "Lawakan harus bagus dan segar. Kalau cuma banyolan lawas thok, ya, penonton gak akan tertawa karena sudah tahu," kata Marliyah (57), pengurus grup ludruk di kawasan Balongbendo.

Meski grup ludruk di Kabupaten Sidoarjo makin sedikit, Marliyah dan kawan-kawan masih mampu menjaga eksistensi Karya Baru sampai saat ini. Grup ludruk ini kerap tampil di kawasan Balongbendo, Krian, Tarik, Prambon, hingga Mojokerto. Apa rahasia sukses Karya Baru?

Pertama, lawakan yang segar dan menghibur. Kedua, kostum, tema lawakan, maupun lakon harus diubah jika lokasi pementasan di radius lima kilometer dari lokasi pertunjukan terdahulu. Ketiga, menampilkan penri-penari cewek yang muda.

"Anak-anak itu paling kritis. Kalau lawakannya sudah pernah dilihat, mereka dengan spontan akan berteriak: banyolane pancet! Apa gak malu?" tukasnya.
Meski kondisi grup ludruk saat ini sudah jauh berbeda dengan era 1980-an,

Marliyah optimistis masih banyak warga Sidoarjo yang menggemari ludruk. Sebab, ludruk merupakan kesenian rakyat yang lahir dari masyarakat bawah yang selalu tertekan beratnya beban hidup. Ludruk membuat wong cilik bisa tertawa-tawa dan sejenak melupakan penderitaan hidupnya.

Nonot Sukrasmono geluti sketsa


MAKIN sulit menemukan pelukis yang menekuni sketsa di Sidoarjo. Setelah ditinggal almarhum M Thalib Prasodjo, kini sangat sedikit pelukis generasi muda yang serius menggeluti sketsa. Salah satunya Nonot Sukrasmono.

"Dari dulu memang tidak banyak orang yang mau serius di sketsa. Sebab, sketsa itu kelihatan sederhana, tapi sebenarnya sangat sulit," ujar Nonot Sukrasmono.

Pria yang tinggal di Vila Jasmin, Suko, Sidoarjo, ini mengaku menekuni seni lukis sejak 1980-an. Berbagai aliran pernah dia geluti. Nonot juga belajar pada sejumlah perupa senior seperti Eyang Thalib (alm), Lim Keng (alm), Ipe Maruf, dan Tedja Suminar yang dikenal sebagai pendekar-pendekar sketsa tanah air. Sejak itulah Nonot mengaku jatuh cinta pada sketsa sampai sekarang.

"Boleh dikata, saya ini berguru pada banyak pelukis senior. Saya usahakan menyerap ilmu mereka, kemudian saya kembangkan kemampuan saya sendiri. Akhirnya, sampai sekarang saya terus menggeluti sketsa," kata pengurus Dewan Kesenian Jawa Timur, Komite Seni Rupa, ini.

Tentang anggapan bahwa sketsa kurang diminati kolektor, Nonot menolak tegas. Hanya saja, dia mengakui sketsa memang kalah populer dibandingkan lukisan-lukisan biasa. "Kalau kita tahu pasarnya, ya, sketsa itu pasti diminati. Buktinya, karya-karya saya sudah banyak dikoleksi orang," katanya.

Pria yang telah 15 tahun memimpin Lembaga Seni Budaya Nahdlatul Ulama Jawa Timur ini tak asal bicara. Belum lama ini dia mendapat pesanan membuat 200 sketsa kota tua dan pura untuk sebuah hotel di Bali.

"Sekarang saya sedang hunting membuat sketsa kota tua di Surabaya. Sebentar lagi saya ke Bali untuk bikin sketsa pura," katanya.

Bukan itu saja. Sejumlah karya sketsa Nonot pun dikoleksi pengusaha asal Jerman dan Singapura. Karena itu, Nonot optimistis dengan masa dengan karya sketsa meski sampai sekarang masih kalah populer dibandingkan lukisan jenis lain.



Pelukis bisa kaya-raya

Banyak pelukis di Jatim mengeluh karena karyanya tidak laku-laku. Sudah ditawarkan ke mana-mana tapi belum dikoleksi. Sudah sering dipamerkan tapi gak ada respons.

"Saya kesulitan uang untuk bayar listrik dan pajak. Kamu bisa bantu?" kata seorang pelukis senior di Surabaya. Sudah bertahun-tahun karya ahli gambar ini memang belum laku. Sementara beban hidup kian berat saja.

Pelukis lain, sudah almarhum, juga sering sambat karena karyanya sulit dipasarkan. Dia akhirnya kerja serabutan yang tak ada hubungan dengan seni rupa. "Melukis sih tetap tapi gak sesering dulu," katanya.

Sering almarhum pelukis tua ini tak punya uang sepeser pun di saku. Maka, terpaksalah dia cari sumbangan sekadar ongkos angkot atau beli rokok. "Tapi jiwa saya seniman. Saya pernah kerja kantoran tapi gak kerasan," katanya.

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah seniman yang nyentrik ini. Hidup tanpa bahagia, tetap tertawa meski tak punya uang.

"Siapa bilang pelukis itu miskin? Saya dan pelukis-pelukis lain itu kaya-raya. Anda tahu harga sebuah lukisan? Tidak terbatas, ratusan juta bahkan miliaran rupiah," kata pelukis lawas itu kepada saya.

Kaya miskin memang relatif. Pelukis yang selama ini belum pegang uang mungkin minggu depan, bulan depan, atau lima tahun lagi punya duit banyak. Atau bisa saja lukisannya laku keras setelah dia meninggal dunia. Bukankah lukisan-lukisan itu lebih dihargai setelah pelukisnya tiada?

Tapi tidak semua pelukis di Jatim nelangsa. Belum lama ini saya dengan ada pelukis yang dapat rezeki nomplok. Lukisannya diborong kolektor seharga ratusan juta rupiah. Dan bukan hanya satu tap banyak lukisan. Mungkin uangnya sudah mencapai miliaran rupiah.

Siapa bilang pelukis tidak punya uang? Yang namanya rezeki orang siapa yang tahu. Mungkin hari ini belum laku, doa-doa belum dikabulkan, tapi siapa tahu Sang Pencipta akan membukakan pintu rezeki itu.

Tiap hari saya pandangi lukisan-lukisan lama, 1970-an, yang belum laku. Kapan ya diambil kolektor?

19 April 2012

Captain Does seniman Jawa di Suriname


Oleh ARIEF SANTOSA
Wartawan Jawa Pos


Nama Captain Does di Suriname begitu tersohor dan selalu ditunggu-tunggu kehadirannya. Terutama masyarakat keturunan Jawa yang gemar mendengarkan Radio Pertjaja atau menonton TV Garuda. Melalui acara-acara berbahasa Jawa yang dibawakan, Captain Does mampu mengobati kerinduan sekitar 100 ribu warga keturunan Jawa di Suriname tentang segala hal yang berbau tanah leluhur di Indonesia. Siapa sih Captain Does?


Dia adalah Salimin Ardjooetomo, salah seorang anggota delegasi Suriname dalam Kongres Bahasa Jawa IV di Semarang, 11-14 September 2007. Pria 56 tahun itu jadi kawentar (ngetop) karena penampilannya yang selalu segar dan penuh banyolan. Celetukan-celetukannya di radio dan televisi selalu mengundang tawa penggemar.

"Lewat acara-acara sing tak pamerke, basa Jawa iso terus dieling lan digawe omongan bangsa Jawa ning Suriname. Aku mung ngajak supoyo wong Jawa ora lali karo asal-usule," ujar Salimin.

Dia mengaku nenek moyangnya dari ibu asal Banten, sedangkan nenek moyang dari ayahnya kelahiran Suriname. "Kulo niki generasi ketiga mbah-mbah kulo sing minggat saking tanah Jawa 116 tahun kepungkur," jelas Salimin yang hanya bisa bahasa Belanda dan Jawa kasar ini.

Di Radio Pertjaja, penyiar berkepala pelontos itu hadir hampir tiap hari. Dia membawakan acara berita umum berbahasa Belanda yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Juga pilpen (pilihan pendengar), yang melayani penggemar untuk memesan lagu campursari yang kini lagi ngetren di Suriname.

"Lagu-lagu Didi Kempot di Suriname ngetop sekali. CD-nya laris. Setiap saat lagu Stasiun Balapan disiarkan di empat radio berbahasa Jawa; Pertjaja, Garuda, Bersama, dan Mustika," tuturnya.

Nah, dari acara pilpen itulah nama Captain Does disandang Salimin. Does adalah nama pemain bola legendaris yang pernah dimiliki kesebelasan nasional Suriname di era 70-an. Kebetulan Salimin memiliki postur, karakter, dan gaya permainan mirip Does bila bermain sepak bola.

"Nom-nomanku dhisik seneng bal-balan. Nah, jare wong-wong aku memper karo Does. Yo kuwi aku terus diceluk Captain Does nganti dadi penyiar saiki," jelas bapak empat anak---Poniran, Warini, Legiran, dan Legini---dari istri Roosmie Tambeng itu.

Setelah profesi penyiar melambungkan namanya, Salimin mendirikan grup kesenian Kabaret "Captain Does" pada 2000. Tapi, kabaret milik Salimin sangat berbeda dengan kabaret di Eropa yang pemainnya berkostum seksi-seksi. Kabaret Captain Does masih berhubungan dengan pemeliharaan bahasa Jawa di Suriname. Bentuknya juga bukan tari-tarian, melainkan dagelan ala Srimulat di Indonesia.

"Koyo Srimulat utowo ludruk. Pemaine kabeh lanang, ning ono sing macak wedok. Kabeh pemain kudu iso dagel, nembang, lan jogedan," papar mantan pegawai negeri yang 35 tahun mengabdi di Kementerian Kesosialan Suriname itu.

Pemunculan Kabaret Captain Does pun cepat mendapat respons penggemar setia Salimin. Pentas demi pentas memperoleh apresiasi menggembirakan. Tidak hanya di panggung-panggung formal, pentas juga dilakukan di hajatan warga. Misalnya, acara sunatan, perkawinan, ulang tahun, peresmian gedung, dan sebagainya.

"Nek pas rame, seminggu saget pamer ngantos ping tigo-sekawan," kata Salimin. "Nek rame, lare-lare seneng. Saget damel panguripan," tambahnya.

Setiap show, Kabaret Captain Does mendapat bayaran 1.000 SRD (Suriname Dolar) atau sekitar Rp 3 juta. Asumsinya, 1 USD = 2.8 SRD. Sedangkan 1 USD = Rp 9.000 (kurs sekarang). Padahal, mereka hanya tampil sekitar 30 menit sampai satu jam. Penghasilan itu dibagi 12 pemain, plus untuk kas kelompok. Mereka memperoleh honor setiap akhir pekan. Tapi, Salimin tidak bisa menyebutkan rata-rata honor yang diterima setiap pemain.

"Iki bukti nek basa Jawa saiki iso dadi penguripan. Aku karo kanca-kanca wis ngrasaake."

Tidak hanya pentas di panggung, sudah dua tahun ini Kabaret Captain Does memproduksi VCD lakon-lakon mereka. Di antaranya yang sudah beredar di pasaran berjudul Bobote Prawan Sunthi, Sopir Kembar, Sopir Taksi, Wong Seneng Orang Keno Dialang-alangi, Ojo Sujono, dan Keliru Pendelehe. Tapi, Salimin mengaku tidak mendapat apa-apa dari produksi VCD kabaretnya itu. Sebab, banyak yang membajak VCD-nya dan dijual lebih murah di pasaran.

"Saking ngetope, diplagiat. Didol murah. Ya aku ora oleh opo-opo. Wis tak laporke parlemen," tandas Salimin.

18 April 2012

Hujan di Surabaya makin sedikit

Hari ini (18/4/2011) panas sekali di Surabaya. Sudah lama tak hujan. Saya mampir ke warkop langganan di pinggir sungai di Ngagel. Saya sudah lama berdoa agar turun hujan tapi belum dikabulkan Tuhan.

Iklim di Surabaya, Indonesia umumnya, rupanya sudah lama berubah. Climate change! Kalau dulu hujan 6 bulan, sekarang saya hitung hanya 4 bulan, bahkan cuma 3 bulan lebih sedikit.

November 2011 belum hujan di Surabaya. Baru pertengahan Desember hujan tapi masih sedikit. April 2012 tak ada hujan lagi. Maka, hujan efektif hanya 3 bulan lebih sedikit.

Konsep lama yang diajarkan di sekolah-sekolah bahwa musim hujan di Indonesia Oktober sampai April sudah lama meleset. Faktanya Oktober tak ada setetes hujan pun di Surabaya. November pun no rain.

Saya tidak tahu apa jadinya jika musim hujan di Surabaya dan sekitarnya hanya berlangsung selama 3 bulan dalam setahun. Bagaimana nasib sungai? Hutan? Pepohonan?

Ada baiknya pemerintah lebih fokus memperhatikan lingkungan, cuaca, iklim, dan melakukan antisipasi secara serius. Bumi makin panas dan kerontang bila hujan semakin sedikit.

Air bunga untuk unas


Ujian nasional alias unas jadi masalah besar di tanah air. Tadi saya lihat di koran, siswa sebuah sekolah di Surabaya rendam kaki dalam air bunga saat istirahat unas hari ketiga.

Menjelang unas, sekolah-sekolah di Jawa Timur ramai-ramai bikin istigasah di masjid. Nangis-nangis, cium tangan guru, bahkan membasuk kaki guru-guru. Untuk apa? Biar lulus unas dengan nilai bagus.

Saya tidak pernah ikut unas tapi ebtanas. Waktu itu tidak ada doa bersama, istigasah, mandi kembang, dan sebagai. Juga tak ikut bimbingan tes atau les tambahan. Biasa-biasa saja. Tapi hasilnya bagus, bahkan di atas rata-rata.
Saya kurang tahu mengapa proyek unas, yang sebetulnya sama dengan ebtanas, ini menjadi sedemikian mengerikan. Isunya sangat ramai. Melibatkan begitu banyak polisi. Sampai-sampai siswa harus disuntik dengan istigasah dan mandi air kembang segala.

Saya kira pemerintah, khususnya menteri pendidikan, harus mengembalikan suasana unas seperti ebtanas zaman dulu. Ujian nasional perlu untuk memetakan mutu pendidikan, tapi dibuat asyik. Guru-guru pun harus amanah, iso digugu lan ditiru kayak guru-guru lama.

Repotnya, guru-guru sekarang ini pun banyak yang tidak amanah. Malah mengajari anak didik untuk curang dan tidak jujur seperti di Gadel, Surabaya, tahun lalu.

Repotnya lagi, bupati-bupati di Jatim pun selalu pasang target lulus 100%. Bagaimana mungkin anak didik bisa lulus semua? Logikanya di mana? Sebab, secara akademik kemampan siswa itu berbeda dari sononya.

Soal-soal unas bagi siswa cerdas atau jenis jelas sangat mudah ketimbang soal SNMPTN. Tidak sulit bagi siswa cerdas dapat nilai 10 atau 9,7 di unas. Tapi bagi siswa rata-rata unas itu sangat-sangat sulit, sehingga tidak mudah mendapat nilai 6 atau 5.

Siswa SMAN Olahraga di Sidoarjo yang juara SEA Games jelas tak bisa dipaksa agar jago matematika atau fisika. Nilai rata-rata unasnya mungkin tak sampai 5,5.

Lantas, apakah unas jadi penentu utama kelulusan siswa? Anggap saja unas itu kuis atau game yang menyenangkan. Jangan dibuat seram seperti sekarang!

17 April 2012

Tali merdeka jadi skipping


Kita makin jarang melihat anak-anak di Surabaya main permainan tradisional seperti di desa. Hampir tidak ada lagi anak-anak yang main dengan anak-anak tetangga.

Mainan anak-anak sekarang sangat modern, PS, games di komputer/ponsel, atau yang disediakan mal-mal kayak mandi bola, ketangkasan, hingga waterpark. Maka, kita yang berasal dari kampung sangat kehilangan nuansa ndeso melihat keunikan anak-anak kota masa kini.

Saya baru saja membaca telaahan orang USA yang juga resah dengan hilangnya the joy of playing. Kegembiraan bermain praktis hilang ditelan kemajuan teknologi. Semakin sedikit orang dewasa, kata ulasan itu, yang tidak lagi punya waktu bermain. Orang dewasa benar-benar kehilangan kekanak-kanakannya. Dan itu membuat orang cepat tua di usia 30an.

Saya teringat betapa anak-anak di pelosok NTT yang sebagian besar waktunya dipakai untuk bermain. Main apa saja. Sebab di NTT memang tidak ada les tambahan, kursus musik, ekskul dsb. Pulang sekolah, makan dan istirahat sebentar lalu anak-anak pergi ambil air sambil... bermain.

Awal 2012, waktu cuti ke Lembata, saya melihat anak-anak perempuan lagi gandrung TALI MERDEKA. Di mana-mana tali merdeka. Dua anak menggoyang tali (karet gelang yang dirangkai), kemudian seorang anak melompat. Gantian kalau salah.

Saya menyaksikan tali merdeka ini dengan minat besar karena memang tidak pernah saya saksikan di Surabaya dan Sidoarjo. Tali merdeka ini ada lagunya dan anak-anak terlihat sangat gembira. Melompat, tertawa lepas, saling goda teman.

Benarlah kata psikolog: orang akan bahagia kalau bisa mempertahankan keceriaan anak-anak sampai dewasa. Main-main, playing, adalah kebutuhan hidup manusia, kata pakar-pakar Amerika.

Tali merdeka atau lompat tali ini kemudian saya kaitkan dengan skipping. Orang dewasa mungkin tidak main tali merdeka seperti anak-anak di NTT, tapi bisa mulai mencoba tali merdeka solo alias skipping.

Belilah skipping rope, sangat murah, dan mulailah melompat-lompat sendiri di teras, halaman, atau bahkan jalan raya. Anggaplah kita sedang main-main tali merdeka seperti anak2 kampung yang polos itu.

Sekarang saya mau skipping dulu ah!

16 April 2012

Orang pantai jadi petani


Mengapa Flores Timur, khususnya Lembata, sulit maju? Sebagian besar penduduknya merantau ke Malaysia Timur? Artikel Daoed Joesoef di Kompas 16/4/2012 rupanya memberi inspirasi sekaligus jawaban kepada saya.

Daoed Joesoef, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan, mengkritik konsep pembangunan kita yang mengabaikan budaya maritim. Terlalu berorientasi ke darat dan Jawa. Padahal indonesia itu nusantara, negara kepulauan dominan laut.

Flores timur dan Lembata itu daerah pantai. Pinggir laut. Rumah saya di Ileape, Kabupaten Lembata, hanya 60 METER dari bibir pantai. Suara ombak, angin laut, badai menjadi hiburan kami di kampung. Singkatnya, semua orang senang mandi di laut tak peduli kulitnya akan jadi hitam (karena memang sudah gelap dari sononya).

Tapi, anehnya, sejak dulu sangat jarang orang Lembata bekerja sebagai nelayan. Di Ileape, para pencari ikan bisa dihitung dengan jari. Hanya kampung Lamalera yang jadi pemburu ikan paus koteklema.

Maka, orang-orang Lembata di pesisir Laut Flores itu pun bekerja sebagai petani di ladang jagung. Hujan kurang. Irigasi tak ada. Tanah berbatu. Humus kurang. Bagaimana bisa menghasilkan?

Jangan heran orang Lembata, khususnya laki-laki, memilih merantau di Malaysia Timur, khususnya Sabah. Karena itu, Sabah sering diguyoni sebagai 'kampung kedua' orang Flores Timur.

Budaya merantau ini sudah dimulai sejak 1950an ketika Malaysia belum merdeka. Orang Lembata mau tak mau harus merantau ke Malaysia supaya bisa bekerja. Sulit bertahan di kampung kalau tidak jadi pegawai negeri sipil, bidan, polisi, tentara, suster, frater, bruder, atau pastor.

Sayang, sejak dulu pemerintah tidak pernah mengubah orientasi darat menjadi orientasi laut di flores timur. Tak ada pelatihan bagaimana mengeksploitasi hasil laut yang melimpah ruah itu. Tak ada industri perikanan di Lembata.

Memang sudah mulai dicoba budaya rumput laut sejak 10 tahun terakhir, tapi belum optimal. Maka, Laut Flores yang luas, bebas polusi, dan punya ikan yang enak-enak itu pun dibiarkan liar... sampai sekarang.

Mungkinkah mengubah kultur darat menjadi kultur laut di Lembata? Tentu tidak mudah. Tapi perlu dilakukan. Kalau tidak orang-orang Lembata, yang jumlahnya kurang dari 200 ribu, itu terus jadi perantau sampai kiamat.

14 April 2012

Nonton radioshow di televisi




Acara radio justru dilihat di televisi? Aneh. Tapi itulah yang terlihat di tvone setiap tengah malam, hingga pukul 02.00, kecuali sabtu dan minggu.

Awalnya radioshow dipandu sys ns, bekas penyiar radio yang pernah jadi anggota parlemen. Sys tampil khas dengan talkshow, kuis berhadian 100 ribu, hingga wajah yang beruntung.

Meski sudah berumur, sys ns asyik memandu acara: bicara menggebu-gebu, lancar, dan jelas kelihatan sudah kawakan. Sys benar2 menguasai panggung radioshow.

Tapi akhir2 ini saya lihat sys ns tidak muncul lagi. Penggantinya sandy, drummer band cadas. Sandy lumayan lancar, asyik bicara musik. Tapi tentu belum sekaliber sys ns yang merintis radioshow.

Kalau sandy berhalangan diganti orang lain yang kurang asyik. Seadanya. Ada pengamat musik dipaksakan jadi host sehingga radioshow jadi kacau. Untung band2 pengisi acara tampil lumayan bagus.

"Radioshow itu acara di jam mati," kata garin nugroho, sineas yang paling asyik ketika jadi bintang tamu, kepada sys ns.

Garin benar. Karena tayang pada jam mati, tak ada iklan di radioshow. Mana ada pengusaha yang merelakan iklannya tayang pada jam tidur?

Tapi, yang menarik, di radioshow kita bisa menyaksikan band2 atau artis2 yang sejak 2000 tidak mendapat tempat di televisi dan major label. Juga band2 lawas yang sudah dianggap tidak laku oleh cukong2 rekaman di jakarta.

Maka, band2 lawas yang pernah sangat terkenal sebelum tahun 2000 akhirnya muncul di radioshow seperti power metal. Lumayan untuk nostalgia. Ada juga band2 indie yang mengusung aliran di luar arus utama yang ternyata punya komunitas penggemar fanatik.

Radioshow menunjukkan kepada kita bahwa indonesia sebetulnya punya begitu banyak band/penyanyi yang sangat beragam. Dus bukan hanya artis2 dahsyat atau inbox belaka.

Dan banyak yang berprestasi di dunia internasional tapi dianggap tak layak tampil di televisi hiburan indonesia. Sayang, tvone sebagai tv berita kurang pengalaman dalam mengemas radioshow sebagai atraksi hiburan berkelas. Soundsystem pas-pasan.

13 April 2012

Tionghoa sebelum abad 19


Oleh Dr ONGHOKHAM


Ketika Belanda datang ke Indonesia, mereka tidak serta-merta menguasai Pulau Jawa. Pegawai-pegawai VOC hingga residen tidak lain adalah pegawai-pegawai VOC. Baru sesudah Perang Diponegoro sistem kolonial Belanda seperti yang kita ketahui itu disempurnakan.

Sebelum abad ke-19 golongan yang tertinggi atau elite adalah bumiputra. Jadi, bagi orang-orang Tionghoa, ada rangsangan untuk melebur ke dalam masyarakat nusantara, melebur ke dalam elite, seperti kita juga dapat melihat dari kejadian-kejadian di masa lalu.

Pada abad ke-19 elite yang memerintah bukan lagi bumiputra melainkan orang Belanda. Dan mitos sistem kolonial ini tentu juga membawa suatu prasangka bahwa orang-orang yang diperintah itu inferior, tak cakap atau belum cakap memerintah.

Selain itu, politik kolonial Belanda memang sengaja memisahkan golongan-golongan rasial, ingat saja wijkenstelsel dan passenstelsel. Jadi, bila sebelum abad ke-19 ada kemungkinan melakukan hubungan yang erat di antara Tionghoa dan bumiputra, hal itu tidak mungkin lagi sesudahnya karena politik yang memisah-misahkan golongan-golongan bangsa itu.

Maka, pada abad ke-19 orang Tionghoa tidak lagi mencoba, tidak punya suatu rangsangan, untuk melebur ke dalam masyarakat bumiputra. Mereka hanya ingin memasuki golongan elite pada waktu itu. Tetapi, karena tidak dapat diterima dalam golongan elite Belanda, dan tidak dapat menikah dalam golongan gubernur jenderal, seperti yang mereka dapat lakukan pada golongan bangsawan Indonesia, orang Tionghoa akhirnya menjadi golongan tersendiri dan menjadi minoritas.

Di daerah-daerah di mana kekuasaan Belanda berlangsung mutlak selama 300 tahun, keinginan orang Tionghoa untuk berintegrasi ke dalam masyarakat bumiputra sedikit sekali. Di Batavia tak pernah terjadi ada seorang Tionghoa menikah dengan bangsawan bumiputra. Hal itu karena di Batavia tak ada elite bumiputra pada masa itu. Tetapi di Batavia pun orang-orang Tionghoa menikah dengan perempuan bumiputra pada awalnya karena tak ada seorang pun perempuan Tionghoa totok.

Pada abad ke-17 hanya sekali terjadi seorang perempuan Tionghoa totok datang di Batavia. Kejadian tersebut menimbulkan keheranan penduduk. Perempuan totok ini menjadi tontonan penduduk. Kira-kira sama menggemparkan jika saat ini orang mars datang ke bumi.

Tedja Suminar pamer sketsa - HUT 76


Cukup lama 'menghilang' dari Surabaya, Tedja Suminar akhirnya muncul kembali dengan menggelar sketsa untuk merayakan ulang tahun ke-76 di Balai Pemuda Surabaya, Senin (16/4/2012). Tak sekadar pameran biasa, pelukis senior ini menghadirkan kesenian reog di halaman Balai Pemuda.

"Nanti ada pertunjukan reog dan saya langsung membuat skesta reog. Mudah-mudahan Ibu Wali Kota (Tri Rismaharini) berkenan datang untuk meresmikan pembukaan pameran sketsa saya. Sebab, acara ini sekaligus untuk memeriahkan hari jadi ke-719 Kota Surabaya," ujar Tedja Suminar.

Selain pertunjukan reog, menurut dia, pameran yang berlangsung selama tiga hari (16-18 April 2012) ini juga diisi dengan pemutaran film perjalanan Tedja di Bali dan Bojonegoro. Kebetulan seniman kelahiran Ngawi, 1936, ini belum lama ini melakukan hunting skesta di kedua kota itu. Bahkan, sebelumnya dia juga menggelar pameran tunggal di Pulau Dewata.

"Acara ini merupakan ide dari teman-teman untuk menghidupkan dinamika kehidupan berkesenian di Surabaya," kata pelukis yang tahun 2011 lalu menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini itu. (*)

12 April 2012

Liga Inggris dan Liga Spanyol


Sulit tidur, kebanyakan ngopi, saya nonton bola di globaltv: wigan lawan mu. Sangat seru! MU diserang terus, kalah penguasaan bola. Meski peringkat 1, hampir pasti juara, mu tidak sangat dominan.

Liga Inggris memang sangat kompetitif. Perangkat bawah bisa mengalahkan big 5, termasuk mu atau city. Cara main, penguasaan bola, skill 20 tim pun hampir sama. Karena itu, semua pertandingan premiership pasti enak ditonton.

Kontras banget dengan liga spanyol atau la liga. Barcelona terlalu sempurna, talented, superlatif, dibandingkan 19 tim lain, termasuk real madrid. Saat naskah ini dibuat madrid masih peringkat 1, tapi selisih poin cuma 1. Teknik main madrid pun kalah jauh sama barca.

Tapi syukurlah ada realmadrid yang membuat la liga ibarat pacuan 2 kuda. Kalau tidak barca akan pacuan sendiri karena lawan2 sudah kalah sebelum perang. Andai kata barca tidak apes, bisa jadi ia bisa mengoleksi poin sempurna 114 di akhir musim.

Saat ini peringkat 3 la liga, malaga, hanya mendapat poin 50 atau selisih 29 dari peringkat pertama. Mustahil malaga naik ke peringkat 2, apalagi jadi juara. Persaiangan hanya barca dan madrid meski sejatinya barca jauh lebih baik.

Anehnya, klub2 spanyol di luar kedua raksasa ini dari dulu tidak berusaha untuk memangkas gap yang menganga lebar ini. Valencia malah menjual david villa ke barca dan silva ke manchester city. Bagaimana mau bersaing dengan madrid atau barca?

Anehnya lagi, orang2 indonesia, termasuk saya, senang menonton pertandingan barcelona pada pukul 02.00 atau 03.00, padahal hasilnya sudah sangat pasti: barcelona pasti menang mudah sekaligus mempermalukan lawan2nya.

Situasinya mirip zaman dulu ketika kita sangat menikmati mike tyson membantai lawannya di atas ring.

Segera pakai HATRIK


Berita sepakbola Eropa sangat digemari pembaca koran di Jawa Timur. Maklum, masyarakat Jatim sejak dulu gila bola kelas berat. Hampir tiap malam ada acara nonton bareng di warung pinggir jalan Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan kota-kota lain.

Akhir-akhir ini semakin banyak tim yang menang besar. Mesi dan Ronaldo sudah biasa mencetak 3 gol. Dan besoknya koran-koran menulis Messi kembali menciptakan HAT-TRICK.

Ada juga koran kecil yang memakai istilah TRIGOL sebagai pengganti HAT-TRICK. Saya sendiri sebetulnya sudah lama mengusulkan kepada editor bahasa agar kata hat-trik diserap menjadi HATRIK. Toh selama ini masyarakat biasa membaca HAT-TRICK dengan HATRIK, bukan HET-TRIK.

Alasan lain: media-media di Malaysia sudah bertahun-tahun menggunakan HATRIK dalam berita-berita sukan atau olahraga. Kantor berita Bernama misalnya menulis GUARDINI CIPTA HATRIK PADA KEJOHANAN LTDL.

Mengapa kita masih pakai hat-trick? Si editor bahasa tidak berani dengan alasan koran-koran besar macam Jawa Pos dan Kompas belum menggunakan kata HATRIK. Di Indonesia media-media sedang atau kecil memang cenderung menunggu gebrakan media-media besar.

"Kalau kita mulai duluan, nanti dikira kita nggak ngerti bahasa," kata seorang mantan copy editor di Surabaya.

Anehnya, kendaraan PICKUP sudah lama diserap menjadi PIKUP. STATEMENT jadi STATEMEN.

Petahana - sangkil - mangkus




Harian Kompas berusaha memperkenalkan kata PETAHANA sebagai padanan INCUMBENT, tapi rupanya belum berterima. Saya dengan beberapa kali penyiar metrotv keseleo lidah saat membaca PETAHANA. Si penyiar malah menyebut PERTAHANAN.

Harus diakui PETAHANA kata baru yang terasa aneh dan tidak enak diucapkan. Kalau tidak keliru kata PETAHANA itu diusulkan mendiang Anton M Muliono mengingat pemakaian INCUMBENT makin banyak di era pemilihan langsung ini. Dulu, zaman orde baru, istilah INCUMBENT belum dikenal karena pemilihan kepala daerah sampai pemilihan presiden cuma sandiwara belaka.

Saya baru membaca majalah Tempo terbaru yang ternyata pakai INKUMBEN, serapan dari INCUMBENT. Meski berbau inggris, kata ini lebih akrab dan enak diucapkan. Bisa disimpulkan bahwa majalah Tempo tidak menerima PETAHANA yang diperkenalkan Kompas.

Akankah kata PETAHANA kian populer dan berterima di masyarakat? Kita lihat saja. Bukan tidak mungkin nasibnya sama dengan kata SANGKIL dan MANGKUS yang sama-sama terdengar aneh dan akhirnya dilupakan orang.

Kata-kata yang populer justru banyak ditemukan di dunia maya seperti UNDUH, UNGGAH, SALIN TEMPEL, PERAMBAH, SELANCAR.

11 April 2012

Cinta Lewouran untuk Dunia



Oleh PUTRI AYUNINGTYAS
Wartawan Metro TV, Jakarta

TIDAK seperti perjalanan saya sebelumnya. Perjalanan kali ini terasa spesial, bahkan jauh hari sebelum saya dan rekan produser Moriza Prananda bertolak dari Jakarta. Boleh saja ada yang tak setuju dengan saya, tapi hati kecil saya terus berkata "ini luar biasa".

Adalah sebuah kampung kecil di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, yang menjadi tujuan kami kali ini. Kampung Lewouran namanya. Menempuh perjalanan darat sekitar 4 jam ke arah timur pulau Flores, kami disuguhi lukisan alam yang luar biasa.

Laut lepas di sebelah kiri dan perbukitan di kanan jalan. Tidak mudah mencapai kampung ini karena jalan yang berliku dan gelap (kami tiba malam hari dan daerah ini belum dialiri listrik). Tapi lelah yang menghinggapi kami hilang seketika, saat kami lihat ratusan warga kampung menanti dan menyambut kami dengan senyum dan tawa yang tulus. Warga telah berkumpul sejak siang hari untuk melakukan ritual penyambutan, dengan tarian Hedung (tari khusus menyambut pahlawan sepualang dari medan perang). Keikhlasan menerima kami yang bukan siapa-siapa ini, terlihat jelas di pancaran mata setiap orang, meski raut kelelahan juga tidak bisa mereka sembunyikan.

MENGAPA LEWOURAN?

Bagi kami,kampung ini merupakan bagian penting jalan cerita film dokumenter yang akan kami buat. Di sinilah tanah lahir juga kampung halaman tokoh utama dalam film kami, yaitu Romo Markus Solo Kwuta SVD (Romo Markus). Sedikit cerita saya tentang Romo Markus, ia merupakan satu-satunya orang Indonesia asli yang bekerja di lingkungan dalam Kepausan di Vatikan, di bawah pimpinan Paus Benediktus XVI. Sesuatu yang menurut kami tidak hanya membanggakan tapi juga sangat menginspirasi.

Inspirasi itupun kami lihat dan rasakan sendiri selama 3 hari masa pengambilan gambar dan wawancara. Kami melihat jelas seperti apa kehidupan mereka yang sangat sederhana, tapi penuh rasa terima kasih pada Sang Pencipta. Sebagian warga merupakan petani palawija dengan hasil yang tak seberapa, sebagian lagi mencari ikan di laut yang akhir-akhir ini kurang bersahabat. Namun, di tengah kerasnya kehidupan, masyarakat Lewouran tidak bisa menyembunyikan besarnya cinta yang mereka miliki terhadap sesama.

Dari beberapa wawancara yang kami lakukan, tampak sekali kebanggaan dan kecintaan mereka terhadap Romo Markus yang kini merantau di Vatikan. Cinta yang tidak buta (begitu yang saya lihat) karena di saat yang bersamaan, warga tetap melihat Romo Markus seperti dulu. Dari cerita yang saya dapat, Romo Markus tetap harus menimba air di sumur ketika pulang kampung atau memberi makan ternak. Tidak ada perlakuan spesial.

Dari perjalanan ini pula, saya mengerti bahwa bagi masyarakat Flores pada umumnya profesi seorang Pastor atau Imam merupakan profesi terhormat yang memiliki tempat khusus di tatanan sosial masyarakat. Masyarakat masih percaya bahwa adanya seorang Imam atau Pastor dalam keluarga, bisa meningkatkan status sosial keluarga itu.

BAHAGIA YANG SEDERHANA

Subjudul di atas sangat tepat menggambarkan hal utama yang kami rasakan di Kampung Lewouran. Ketiadaan listrik menjadi hal yang wajar, meskipun warga terus berharap suatu saat listrik bisa mereka rasakan. Kesulitan mendapat makanan layak, dirasa sebagai bagian dari ritme kehidupan yang harus mereka jalani. Keterbatasan akses pendidikan tidak mengurangi niat dan mimpi besar anak-anak Lewouran.

Lewouran mengajari saya untuk bisa tersenyum dari hal-hal sederhana. Lewouran mengajak saya untuk bisa berdamai dengan keadaan terburuk sekalipun. Lewouran juga menginspirasi saya untuk senantiasa mencintai. Cinta itulah yang membentuk sosok Romo Markus hingga bisa menjejakkan kaki di Vatikan.

Cinta Lewouran kini juga bisa dinikmati dunia, dari seorang Romo Markus yang berkarya di Vatikan.

10 April 2012

Nestapa dokter PTT di Flores



Tak sengaja saya bertemu Pak Alex di halaman kantor Kecamatan Gubeng Surabaya. Antre panjang urus KTP elektronik. Dia antusias begitu tahu saya berasal dari NTT, khususnya Flores.

"Saya baru kembali dari Manggarai Barat, Flores," katanya. Lalu beliau cerita banyak lika-liku perjalanannya ke Flores, jalan yang bobrok, hingga pelesir lihat gerombolan komodo di Pulau Rinca.

Sudah 2 tahun ini putri Pak Alex jadi dokter di Manggarai Barat. Benar2 pengabdian, katanya. Setelah dikumpulkan di Kupang, 5 dokter
muda dari Jawa (4 wanita) kemudian diterbangkan ke Flores barat. Dan pengabdian pun dimulai. Pihak kabupaten tidak siap. Rumah yang
disediakan kotor bukan main, air mampet, fasilitas jauh dari normal.

"Untung di sana ada pater2 yang bisa bantu. Saya menginap sama pater,"cerita Pak Alex seraya tersenyum. Pengusaha Tionghoa yang tinggal di Ngagel ini heran mengapa para dokter PTT yang akan berbakti di Flores itu tidak disiapkan fasilitas secara layak. Tak usah mewah, tapi bersih dan layak huni.

Ini 2012, di mana orang2 kota sudah sangat canggih dengan laptop, internet, smartphone dsb. Tapi mengapa daerah Flores barat yang punya
taman wisata komodo itu masih belum maju juga? Saya tak bisa menjawab keluhan Pak Alex karena memang belum pernah ke wilayah Manggarai.

Setelah beradaptasi dengan keterbelakangan di Flores, putri Pak Alex yang lulusan kedokteran Universitas Hang Tuah itu mulai menikmati
pengabdian di pelosok. Dia sering pesan obat lewat bapaknya pakai uang sendiri. Demi pengabdian.

Di puskesmas terpencil itu, menurut Pak Alex, putrinya sering menghadapi pasien2 aneh. Orang kampung tak sungkan membangunkan si
dokter karena sakit mendadak. Ketika saatnya membayar, si pasien mengaku lupa membawa uang.

Ini modus khas orang2 kampung, pura2 lupa agar tidak membayar jasa dokter. Hehehe... Tapi ada juga di kecamatan lain, masih di Flores, yang warganya selalu membayar lebih tinggi ketimbang tarif resmi.

"Kalau puskesmas yang ditempati anak saya ini parah," kata Pak Alex.

Pengabdian! Pengabdian!

09 April 2012

Misa Paskah Vatikan di Indosiar


Saya beruntung bisa melihat siaran langsung Misa Minggu Paskah di Indosiar, 9 April 2012. Misa dipimpin Paus Benediktus 16 yang pekan depan berusia 85 tahun. Kasihan juga beliau, di usia yang sangat sepuh masih harus mengemban tugas2 yang sangat berat.

Kalau diperhatikan sejak awal sampai akhir, misa di Vatikan ini tak banyak beda dengan misa di Indonesia. Umatnya saja yang begitu banyak dari seluruh dunia. Sedangkan tata liturgi sami mawon.

Ordinarium pakai Gregorian 1 yang juga kita kenal di Indonesia. Credo, Pater Noster, Mazmur tanggapan.. sudah jamak. Juga pakai bahasa Latin yang sekali2 dipakai dalam liturgi kita.

Yang sangat berkesan bagi saya dari misa di Vatikan itu adalah kesederhanaan. Paduan suara atau kor tidak neko2. Tidak pamer kebolehan olah vokal atau partitur yang rumit. Lagu2 yang dipakai justru gregorian 1 yang merupakan lagu umat.

Maka umat, termasuk yang melihat dari INDOSIAR, bisa melebur dalam perayaan ekaristi. Kor yang dipimpin seorang pria sepuh juga tidak overacting. Nyaman dan terkesan seperti kegiatan rutin belaka.

Ini yang saya lihat agak berbeda dengan petugas liturgi kita, khususnya kor2 hari raya, yang bermental show. Seakan-akan paduan suara itu sedang konser atau show atau pamer bahwa kornya bisa membawakan nomor2 sulit yang tidak dikenal umat.

Melihat suasana misa Paskah yang sederhana dari Vatikan, rasanya kita di Indonesia khususnya petugas2 liturgi, mau introspeksi. Melayani Tuhan dengan sederhana, tidak neko2, tapi tetap dengan persiapan matang.

Akhirnya, selamat hari paskah! Selamat ulang tahun ke-85 untuk Bapa Suci Benediktus 16!

Real Madrid tak akan juara

Saya baru saja menyaksikan pertandingan Real Madrid v villareal di tvOne. Hasilnya 0-0. Maka gap poin Madrid dengan Barca tinggal 4. Padahal sebelumnya madrid unggul 10 poin.

Melihat cara main Real Madrid yang kehilangan 6 poin, rasanya sulit bagi pasukan Jose Mourinho itu jadi juara La Liga musim 2011/12. Peluang Madrid sangat tipis. Sulit sekali bikin gol meski punya banyak peluang saat lawan Villareal.

Makin lama makin jelas kelihatan beda kualitas Barca dan Madrid. Barca punya pemain2 bertalenta, jauh di atas pemain2 tim lain di muka bumi, sementara pemain2 Madrid sebetulnya sama saja dengan klub Liga Spanyol lain macam Malaga, Bilbao, atau Villareal.

Makanya kans Madrid untuk juara sebetulnya sudah habis. Sebab saat el clasico sudah pasti Madrid kalah alias kehilangan 3 poin. Kemudian dari 6 pertandingan lain Madrid tak akan menang 100%, bahkan kalah.

Sebaliknya, Barcelona itu the winning team: tim yang selalu menang. Tak akan kalah. Semua klub yang dianggap hebat sudah dipermalukan Barca seperti AC Milan, MU, Arsenal, hingga Real Madrid.

Barca akan dengan mudah menjuarai semua kejuaraan yang diikutinya. Kecuali lawan2 Barca main dengan 13 orang.

Bagaimana pendapat Anda?

08 April 2012

Artis Flores lebih ngetop



Ary Diaz dan Felix Matarau: dua bintang musik pop Lamaholot.

Orang Flores, khususnya yang di pelosok, sejak dulu kurang mengenal artis2 terkenal yang sering muncul di televisi nasional. Itu antara lain karena televisi baru masuk desa sekitar 10 tahun lalu. Lebih tepatnya, jaringan listrik PLN baru tembus kampung saya tahun 2000an.

Masuknya PLN membuat televisi bukan lagi barang asing. Tapi selera musik orang2 Lembata belum berubah dari 1980an dan 1990an, yakni sangat gandrung artis2 lokal. Lagu2 band atau artis terkenal macam Padi, Peterpan, Dewa, Kris Dayanti, Agnes Monica, Mulan Kwok... kurang dikenal.

Ketika pulang kampung awal 2012, saya lebih sering mendengar lagu2 pop daerah Flores, NTT, Ambon, atau Manado yang diputar. Lagu manado PIGI JO DENG DIA malah jadi semacam call sign ketika ada pengumuman di desa. Begitu dengar intro PIGI JO DENG DIA sudah pasti akan ada pemberitahuan kerja bakti, acara gereja, atau berita dukacita.

Ini mengingatkan saya ketika masih anak2 di Lembata di mana artis nagi Ingrid Fernandes dan De Rosen Group sangat terkenal. Semua orang gandrung lagu2 pop NTT yang dibawakan Ingrid bersama De Rosen.

Seiring kemudahan teknologi rekaman digital, saat itu artis2 lokal Flores dan NTT begitu melimpah. Sulit dipastikan jumlahnya karena tiap daerah seakan berlomba bikin lagu2 pop daerahnya. Artis2 Larantuka, Adonara, Solor, Lembata tak ketinggalan.

Dan kita bisa dengan mudah menikmati lagu2 pop NTT via youtube. Lengkap dengan tarian dan busana adat yang khas. Kami yang berada di rantau pun terpuaskan karena punya ikatan yang makin kuat dengan lewotanah alias kampung halaman.

Sebagai putra asli Lamaholot, saya tentu saja paling suka lagu2 dan musik irama dolo2. Tarian masal khas suku Lamaholot di Flores Timur dan Lembata. Mendengar dolo2 saya sering menari sendiri, seakan berada di acara adat Lamaholot yang meriah.

Saya benar2 mengapresiasi kerja keras teman2 artis Lamaholot macam Matarau, Yance Boli, Ary Diaz yang telah membuat rekaman musik Lamaholot, khususnya dolo2. Maju terus seniman2 Lamaholot!


TEGAL NONA MASIH KECIL
TATA GANTO CINTA...
SAMPE SAMPE NONA BESAR

KALAU NONA SUDAH BESAR
TATA BAWA CINTA
SAMPE SAMPE SAMBONG DAGING DARAH

Malam Paskah di Wonokromo

Misa kedua malam Paskah di Gereja Yohanes Pemandi Wonokromo Surabaya baru selesai. Dimulai pukul 21.00 selesai 23.15. Dua jam lebih tapi tidak terasa karena liturginya asyik dan kaya.

Dipimpin Romo Silas Wayan Eka SVD, suasana misa tidak semeriah misa pertama pukul 18.00 yang penuh sesak. Misa kedua ini terasa longgar, banyak bangku kosong karena umat memang tidak mau melekan. Apalagi harus membawa anak2 kecil.

Tapi bagi saya justru asyik ikut misa yang tidak berdesak-desakkan. Kita lebih konsentrasi dan tidak sumpek.

Romo Silas Wayan Eka memimpin misa tirakatan Paskah dengan lugas. Meski suaranya kurang enak kalau nyanyi, beliau membawakan prefasi dan upacara lilin dengan lancar.

Yang agak mengganggu di Exultet. Penyanyinya kurang latihan sehingga nada2nya sering keseleo. Padahal, orang Flores macam saya menunggu-nunggu Exultet yang hanya diperdengarkan setahun sekali itu.

Ordinarium pakai misa te deum. Paduan suara yang bertugas lumayan enak. Kostumnya bagus, intonasi dan harmonisasi good lah. Cuma ada beberapa pilihan lagu yang menurut saya kurang enak saja. Toh umat memberikan aplaus panjang untuk kor Wonokromo.

Misa yang lama dan selesai tengah malam membuat umat terlihat cepat2 pulang. Hampir tidak ada acara salaman selamat paskah satu sama lain kecuali beberapa umat yang memang sudah saling kenal.

Syukurlah, Romo Silas berdiri di depan gereja dan menyalami umat satu per satu. Saya kira tradisi lama bersalam-salaman usai misa natal atau misa paskah dihidupkan lagi di gereja. Bila perlu disediakan jajan atau minuman ringan sekadar ramah-tamah sesama umat.

Saya khawatir umat di kota yang terlalu sibuk kerja lama2 semakin tidak saling mengenal satu sama lain. Orang lebih kenal online friends di dunia maya, tapi cuek dengan sesama umat di sampingnya.

Selamat Paskah 2012!
Alleluia!

07 April 2012

Exultet Paskah di Flores

Saya ingat guru2 SD saya di pelosok Lembata NTT. Apalagi jelang malam Paskah ini. Guru2 di kampung yang sederhana itu sangat jago menyanyikan Exultet atau pujian pada malam Paskah.

Kemampuan guru2 di pelosok Flores sebelum 1990 itu, maaf, melebihi kebanyakan pastor di Jawa kalau nyanyi gregorian, khususnya Exultet. Dan itu bisa dimengerti karena Exultet ini biasa disenandungkan, dilatih, kapan saja layaknya anak2 muda gandrung lagu pop.

Berbekal SKB atau JUBILATE, buku nyanyian liturgi yang sangat populer di Flores, guru2 desa itu berlatih notasi, kata2, frasering dan seterusnya. Persis pastor beneran! Padahal, Exultet itu sebenarnya hanya dibawakan pastor dalam upacara lilin pada malam Paskah.

Saya ingat Pak Tinus, guru kelas 6 SD saya, juga tetangga, yang selalu menyanyikan Exultet sebelum tidur siang. Suaranya lantang dan bening. Dan memang gregorian itu paling cocok dibawakan orang2 bersuara tenor yang halus, tajam, tidak pecah.

Mendengar suara Pak Tinus, saya pun ambil buku SKB dan mencoba menyanyikan Exultate pelan2. Lama2 kelamaan bisa juga meskipun saya belum fasih membaca not. Guru2 SD yang lain seperti Pak Piet, Pak Lopi, atau Pak Yan pun punya kebiasaan menyanyi Exultet kapan saja.

Karena itu, Exultet yang versi Indonesianya BERSORAKLAH BALA MALAIKAT DI SURGA... itu benar2 nancap di kepala saya. Tiap malam Paskah saya selalu menunggu momen candlelight yang diiringi lagu Exultet oleh sang romo selama 15-20 menit itu.

Di gereja2 katolik di Jawa jawaban umat ini berbeda redaksinya. Di Flores saya tidak akan pernah lupa: BERSORAKLAH SEGENAP GEREJA KUDUS - GEMBIRA SEBAB PESTA PASKAH!

Tapi, sayang, tidak semua pastor di Jawa bisa membawakan Exultet sebaik guru2 desa di pelosok Flores. Mengapa? Kurang latihan. Sulit menandingi Pak Tinus, guru SD saya di kampung, yang berlatih hampir setiap hari.

Untung ada youtube! Saya menemukan Exultet bahasa Latin dan Inggris yang jauh lebih bagus dari di Indonesia. Saya unduh dan simpan di ponsel untuk mengenang guru2 SD di kampung.

06 April 2012

Pastor tua dan pastor muda


BERWIBAWA: Romo Heribert Balhorn SVD (asal Jerman) di Gereja Salib Suci Waru, Sidoarjo.


Ketika masih anak2 di pelosok Lembata, Flores Timur, NTT, saya melihat Pater Geurtz SVD dan Pater Willem Van de Leur SVD sebagai dua kakek yang hebat. Pastor asal Belanda yang luar biasa dan serbabisa.

Punya motor antik yang tak dipunyai orang kampung. Punya radio kecil tapi canggih. Pintar bercerita. Punya gudang obat. Khotbahnya terasa enak. Anak2 senang dapat permen dan diajari nyanyi, khususnya gregorian.

Sampai SMP/SMA sosok pastor yang saya kenal di Larantuka pun masih seperti kakek yang bijak dan baik hati. Kadang cerewet seperti mendiang Pater Paulus Due SVD. Romo yang satu ini juga jago nyanyi dan khotbah meski suka ngelantur.

Saat kuliah, makin banyak pastor berusia muda. Ada frater yang baru ditahbiskan. Maka, sosok pastor bukan lagi kakek2 tapi seakan kakak kelas saja. Apalagi pastor pendamping aktivis mahasiswa.

Sesaat setelah bekerja, pastor masih dipandang orang bijak, bapa rohani, orang yang lebih tahu. Ada yang baru dan menyentuh saat berkhotbah.

Tahun berganti, usiaku makin bertambah. Akhirnya datang masa yang krusial: makin banyak pastor baru yang usianya lebih muda daripada saya. Cara memandang pastor2 muda ini pun sudah berbeda dengan mas anak2, remaja, mahasiswa, atau profesional muda.

Muncul sikap yang kurang baik. Saya mulai kurang suka dikhotbahi pastor2 yang usianya lebih muda dari saya. Sebab, materi khotbah mereka rasanya terlalu gampang ditebak arahnya. Humor2nya pun sebetulnya guyonan lawas yang sudah lama saya ketahui. Tidak ada yang baru dan segar.

Mungkin inilah penyakit senior yang sok tahu, merasa lebih berpengalaman, kurang mendengar kata2 orang muda. Tapi memang saya akui kegairahan mendengarkah khotbah saya tidaklah sehebat ketika masih anak2 hingga mahasiswa. Kecuali kalau yang khotbah itu pastor senior macam Romo Tondowidjojo CM di Gereja Kristus Raja Surabaya atau Romo Heribert Balhorn SVD di Gereja Salib Suci Waru, Sidoarjo.

Tapi malam ini, saat tuguran Kamis Putih di Gereja Yohanes Pemandi Wonokromo Surabaya, saya disadarkan bahwa regenerasi harus terjadi. Termasuk regenerasi pastor. Romo2 tua yang hebat seperti pater geurtz di flores (sekarang almarhum) pun dulunya pernah muda. Dan, sebagai domba, kita memang harus siap dibimbing oleh sang gembala tak peduli berapa pun usianya. Biasanya gembala yang muda lebih lincah ketimbang gembala tua.

04 April 2012

Menikmati lagu dan tarian dolo-dolo



Iseng-iseng saya mencari lagu LUI E di youtube. Lagu daerah Larantuka ini sangat terkenal di tanah Lamaholot, khususnya Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, NTT. Sejak dulu lagu ini selalu direkam berbagai band lokal atau grup vokal yang bikin rekaman.

Wow, ternyata LUI E memang ada di youtube. Dibawakan grup vokal asal Solor Barat, lagu ini terasa menyentuh buat perantau asal Flores Timur alias Lamaholot meski kualitas rekamannya kurang baik. Makum, direkam sendiri di studio yang sederhana.

Saya pun mengunduh dan menyimpan file LUI E di ponsel. Lalu saya putar dan sesekali dipakai untuk senam pagi bersama lagu POCO-POCO yang jauh lebih terkenal.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengunduh LUI E di youtube.

Tak hanya LUI E, masih ada sejumlah lagu dolo-dolo dan lagu pop daerah Flores lain bisa diakses dengan mudah di internet. Saya paling suka Felix Matarau karena mengingatkan saya pada kampung halaman di Ileape, Lembata. Syair-syair Matarau sangat kental dengan bahasa Lamaholot versi Ileape.


Dulu, ketika internet belum ada, kita sangat sulit mencari kaset atau CD/VCD lagu-lagu daerah Flores Timur atau NTT. Sebab kaset/CD/VCD yang diproduksi sangat terbatas. Cari di toko-toko kaset dijamin tidak ada karena rekaman musik pop Flores memang tak pernah masuk label mayor. Cuma sekadar iseng-iseng orang Flores yang ingin berbagi kegembiraan kepada saudara-saudaranya dengan melestarikan lagu daerah.

Saya memang punya kenangan khusus dengan LUI E. Sejak sekolah dasar di pelosok Lembata saya sudah dengar lagu ini. Maklum, camat kami dulu orang Nagi, Pak Martinus, sehingga influence bahasa dan lagu-lagu Nagi sangat terasa di kampung. Ah, jadi ingat lagu DENDERO O... DENDERO dan LARANTUKA PASE PANJANG UJONG TANJONG.

Terima kasih untuk guru-guru di kampung yang sudah mengajari saya banyak lagu bagus ketika saya belum genap 10 tahun! Khususnya Pak Paulus Lopi Blawa, guru kelas 3 SD, yang sudah dipanggil Bapa di surga.

Kemudian saat jadi anak asrama di SMP San Pankratio (sore) Larantuka, tepatnya San Dominggo, saya lihat ada band lokal, namanya Diana dan Floreta kalau tak salah, bikin rekaman dan sering diputar di salah satu toko kaset di Jalan Niaga Larantuka. Salah satu pemain band yang terkenal adalah Pak Valens Fernandez, guru saya.

Saya sering mampir di toko kaset itu (dulu hanya dua toko kaset di Larantuka) demi menikmati lagu LUI E. Dan tidak hanya saya. Banyak juga pelajar lain yang sama-sama menikmati lagu tradisional berbahasa Melayu Larantuka alias bahasa Nagi ini.


Oh ya, saya dan teman-teman di San Dominggo dulu juga punya kebiasaan mandi AE KONGGA persis di belokan San Dominggo-Pante Besar. Airnya memang layak minum dan segar. Anak-anak asrama dulu memang sering terserang malaria, tapi kami sama sekali tidak takut mandi ae kongga. Apa hubungan ae kongga dan malaria? Hehehe...

Kini, setelah teknologi makin canggih, makin banyak anak-anak muda Flores yang bikin rekaman indie label, kemudian diunggah di youtube. Ini sebuah langkah yang sangat positif karena orang Lamaholot di berbagai belahan dunia bisa mengakses dengan mudah.

Maka, lagu dan tarian dolo-dolo membuat kita tak akan lupa kampung halaman.


Ulangan (Refren):

LUI E.... LUI E.... BENEDITA SEPIA LENGGANG TANGAN
LUI E.... LUI E.... BENEDITA SEPIA LENGGANG TANGAN
OA OA E.. LE LE... MARI MARI BETA ENDO
OA OA E.. LE LE... MARI MARI BETA ENDO

Solo:

1. KATA IKAN IKAN MATA KENA
KATA GANTO GANTO UJONG BALE
KATA NO MATA SO TEKENA
KATA HATI HATI BULU BALE

2. KATA PADI PADI HATU BLE
KATA REGA REGA TIGA SUKU
ANTA OA MASO DALAM BILE
UNTUK SEREWI SEREWI BAPA SUKU

3. KATA MANDI MANDI AE KONGGA
KATA TAKO TAKO MALARIA
KATA NO ORANG PUNYA SOBA
KATA JANGAN JANGAN JEMBERIA

4. KATA AE AE KEBO KEBO
KATA TURON TURON RABA KETANG
KATA OA JANGAN SEBO SEBO
KATA TUNGGU TUNGGU ESO PETANG

03 April 2012

Artis idola itu tak cantik lagi


Saya perhatikan artis lawas di koran. Dulu bintang film top ini idola saya, saya anggap sangat cantik ketika usianya 20an. Kini wajahnya lesu, saya, tak bercahaya.

Si aktris mengadu ke polisi karena disakiti kekasih gelapnya. Wow, rasanya saya tidak melihat lagi sisa2 kecantikan si artis lawas itu. Mukanya sangat biasa, tak beda dengan ibu2 anggota senam di kampung. Kasihan banget!

Kali lain saya bertemu muka, salaman, ngobrol.. dengan 2 penyanyi yang top banget era 90an. Dulu saya lihat di televisi, wow, cantik dan keren banget. Kayak bidadari yang bukan dari dunia ini.

Sayang, ketika saya punya kesempatan untuk bersalaman dan ngobrol, si artis sudah tidak populer. Dan tidak cantik lagi. Hanya rambutnya yang cantik karena dicat cokelat kayak rambut jagung.

Tak hanya artis2 lama yang pudar kecantikannya. Artis2 baru pun kalau dilihat dari dekat, apalagi belum makeup, sebetulnya sama dengan wanita2 biasa di kampung. Dia baru kelihatan wah, bikin orang mabuk kepayang, ketika tampil dengan kostum artis, makeover, serta bertabur spotlight di panggung.

Maka, saya tidak heran kalau si artis cantik lawas tadi dicampakkan begitu saja setelah masa emasnya lewat. Begitulah, kecantikan fisik memang tidak pernah bertahan lama.

Kwik Kian Gie makin kesepian


Kwik Kian Gie masih sempat muncul di televisi berita seperti metrotv.
Tapi analisis kwik yang kritis dan berani sudah lama tidak muncul di
koran2 utama. Padahal dulu, masa orde baru, analisis2 kwik begitu
sering diturunkan.

Pada 90an ketika orba makin kuat dan ngawur para mahasiswa dan aktivis
menjadikan analisis kwik kian gie sebagai rujukan. Jadi bahan untuk
mengkritik kebijakan ekonomi pemerintah yang berbau kolusi dan
nepotisme seperti tata niaga cengkeh. mobnas, cukai miras.

Kwik kemudian diangkat Gus Dur sebagai menteri perekonomian. Posisi
sangat tinggi. Transformasi dari pengamat oposan ke pembuat kebijakan.
Apakah kwik berhasil sebagai menteri?

Yang jelas, kwik tidak dipakai Presiden Megawati yang notabene sesama
PDI Perjuangan. Rupanya bu mega tidak sreg dengan kemampuan kwik.
Pintar teriak2 sebagai pengamat tidak otomatis pintar sebagai menteri.
Presiden megawati justru lebih percaya dorojatun sebagai menteri
perekonomian.

Sejak itu kwik eksht dari PDIP. Analisis2nya di koran pun jarang
muncul. Redaksi koran biasanya malas kasih tempat kepada bekas pejabat
yang dinilai kurang sukses. Popularitas kwik sebagai analis ekonomi
jelas merosot setelah jadi pejabat.

Kini, saat ribut2 kenaikan harga minyak, kwik pun kurang muncul di
media utama. Lebih banyak di internet atau televisi yang angle-nya
memang antipemerintah. Kalau mau menghantam pemerintah, silakan undang
pengamat2 macam kwik kian gie atau Rizal Ramli atau Ichsanuddin Norsi.

Kwik tetap konsisten sebagai tukang kritik. Kalau dulu memblejeti
rezim orde baru, kini terus menguliti rezim SBY yang beda mazhab
ekonomi dengan dirinya. Kalau kita cemati analisis kwik, rasanya
kebijakan SBY dan kabinetnya salah melulu.

Maka, orang pun sering menganalogikan pengamat ekonomi dengan
pengamat/penonton sepakbola di indonesia. Pemain2 bintang di eropa pun
dianggap goblog, tidak becus, main bola. Coba si pengamat atau
penonton itu disuruh turun ke lapangan. Bisa main bola gak?

02 April 2012

Sama-sama ngaku bela rakyat

Presiden SBY ngotot ingin menaikkan harga minyak (bbm). Kalau subsidi minyak dikurangi, bahkan dihapus total, maka pemerintah punya uang untuk bikin infrastruktur macam2. Rakyat miskin di desa, begitu asumsi pemerintah, pelan2 tidak miskin lagi kalau minyak dinaikkan.

SBY: Makin tinggi harga minyak dinaikkan makin bagus. Cadangan anggaran lebih banyak.

Logika ini kontras total dengan cara berpikir para pengunjuk rasa yang menolak kenaikan harga minyak. Termasuk PDIP, Hanura, Gerindra yang diikuti belakangan oleh PKS.

Kata barisan oposisi ini: Harga minyak dinaikkan, rakyat makin sengsara. Harga bahan2 kebutuhan pokok dan semuanya ikut naik, sementara penghasilan tidak naik.

Kalau subsidi minyak dikurangi, kemudian dihapus, rakyat Indonesia yang sudah miskin tambah sengsara, kata PDIP dkk. Mereka seolah tak pusing dengan subsidi minyak yang sebetulnya hanya dinikmati orang2 kaya bermobil itu.

Dua logika ini tidak akan pernah ketemu: satu ke utara satunya ke selatan. Sama2 ngotot paling membela rakyat. Bagaimana bisa menyamakan persepi tentang membangun bangsa yang makmur sejahtera? Taktahulah awak!

Pertanyaanya: apakah nanti ketika PDI Perjuangan, Gerindra, PKS, Hanura di posisi SBY tidak akan menaikkan harga minyak meski ada kenaikan di pasar dunia? Adakah cara lain untuk menghapus kemiskinan, bangun infrastruktur desa, tanpa menaikkan harga minyak?

Yang pasti, unjuk rasa buruh, mahasiswa, LSM, politisi, seniman, dan rakyat miskin jumat lalu itu berhasil menunda kenaikan harga minyak. Dan yan untung justru orang2 kaya pemilik mobil yang kerjanya memaki2 demonstran lewat radio, twitter, fb, dan jejaring sosial lainnya.

Orang kaya atau kelas menengah-atas sejak dulu memang hanya mau enaknya saja, tapi tidak mau capek2 ikut gerakan yang sebenarnya sangat menguntungkan dirinya. Menurut hitungan Menteri Dahlan Iskan, pemilik mobil altis selama ini menikmati subsidi bbm Rp5 juta setahun.

Rakyat miskin yang turun ke jalan tetap saja melarat. Kalau ingin mengubah nasib, jadilah ia TKI di Malaysia.

SEPAKBOLA atau SEPAK BOLA

Sejak 5 tahun terakhir ini saya melihat ada perubahan cara penulisan kata majemuk di media cetak. Beberapa kata majemuk dalam dunia olahraga (atau olah raga?) dipisahkan, tak lagi disatukan.

Tema ini sebetulnya sudah dibahas sejak 1970-an oleh ahli-ahli bahasa, khususnya Prof Sutan Takdir Alisjabana. STA konsisten menulis kata majemuk sebagai satu kata alias dirangkai. Prof Gorys Keraf punya dua versi. Kata majemuk yang sudah benar-benar bersenyawa harus ditulis serangkai. Contoh: MATAHARI.

Bagaimana dengan kat majemuk di dunia sukan alias sport? STA, Keraf, dan pakar-pakar lama yang sudah almarhum sepakat menjadikan satu kata: dirangkaikan!

Karena itu, kita sangat mengenal OLAHRAGA, SEPAKBOLA, atau BULUTANGKIS. Kita kenal PSSI sebagai kependekan PERSATUAN SEPAKBOLA SELURUH INDONESIA. PBSI: PERSATUAN BULUTANGKIS SELURUH INDONESIA. KONI: KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA. PON: PEKAN OLAHRAGA NASIONAL.

Kata-kata benda di dunia sport itu ditulis serangkai karena merupakan satu kesatuan. Sama dengan BATUBARA bukan BATUBARA. Dan kalau kita rajin membaca media-media berbahasa Inggris penulis nama cabang olahraga memang selalu dirangkai, tidak terpisah.

Media-media berbahasa Inggris sejak ratusan tahun lalu sampai sekarang menulis FOOTBALL, BASKETBALL, VOLLEYBALL, dan seterusnya. Merujuk ke sini seharusnya kita di Indonesia pun menulis SEPAKBOLA, BULUTANGKIS, BOLAVOLI (atau VOLI saja), BOLABASKET (atau BASKET saja), TENISMEJA, BOLATANGAN, SEPAKTAKRAW, dan seterusnya.

Kata OLAH RAGA baru ditulis terpisah di luar konteks sport seperti kalimat khas para budayawan: OLAH PIKIR, OLAH RASA, OLAH RAGA.

Kalau koran-koran utama di Indonesia tetap memaksakan kata majemuk sport ditulis terpisah, konsekuensinya akronim induk olahraga kita banyak yang berubah. PSSI akan menjadi PSBSI. PBSI (badminton) menjadi PBTSI. KONI menjadi KORNI. KOI menjadi KORI.

Yang selamat justru basketball karena sejak dulu pakai akronim Perbasi: Persatuan Basket Seluruh Indonesia.

Real Madrid masih bisa dikejar


Saya masih antusias mengikuti persaingan real madrid dengan barcelona. Dua tim yang kualitasnya jauh di atas tim2 lain di spanyol. Akankah madrid merebut takhta juara dari barca?

Rasanya sulit. Sempat memimpin 10 poin, sekarang tinggal 6. Ahad pagi keduanya sama2 menang mudah. Gap tetap terjaga. Tapi masih ada 8 laga yang bisa mengubah keadaan.

Dilihat dari skema main, dominasi, kerja tim, skill.. saya lihat barca masih menang atas madrid. Barca lebih tenang, manis, dan sangat mengancam gawang lawan. Juga stabil.

Madrid sering menang besar tapi mati kutu saat ditahan malaga dan villareal. Sementara barca makin sulit dicari kelemahannya. Dominasi 80% dan gol hanya tinggal menunggu waktu.

Yang pasti barca akan mengalahkan madrid dengan mudah pada laga el clasico. Gap jadi turun 3 poin atau satu laga. Berarti realmadrid hanya akan juara kalau tidak pernah kalah dalam laga2 terakhir. Bisa?

Di sisi lain barcelona pasti akan menang mudah dalam sisa laganya. Kalau madrid ditahan seri, apalagi kalah, selesailah la liga.

Sejak dulu saya melihat liga spanyol ini sangat aneh dibandingkan liga inggris dan liga2 lain. Jangan bandingkan dengan liga indonesia yang pecah tak karuan itu. Dari 20 tim la liga, barca dan realmadrid punya level yang jauh di atas yang lain. Beda dengan inggris yang peta kekuatannya hampir seimbang.

Klub2 lain di spanyol, selain realmadrid, hanya setara dengan barcelona c atau realmadrid b. Kualitas permainan madrid (bukan kualitas individu) sebetulnya setara dengan barcelona b.

Sementara barcelona a yang diperkuat xavi, iniesta, messi, puyol, alves, tello, fabregas.. punya level di atas yang lain2. Pantas saja barcelona saat ini disebut-sebut sebagai tim sepakbola terbaik di kolong jagat ini.

01 April 2012

Saatnya ganti daun palem



Saya ikut misa Minggu Palem (Palma) di Gereja Katolik Santo Yohanes Pemandi Wonokromo Surabaya. Minggu pagi (1/4/12) ramai sekali karena ada perarakan dari halaman gereja. Tentu saja tidak semeriah perarakan di Flores, NTT, yang bisa mencapai 1-2 km.

Di Jawa Timur perarakan cukup dari halaman sampai ke dalam gereja. Hanya 20-50 meter saja. Bahkan, banyak gereja yang hanya perarakan di dalam gereja. Cuma berdiri di tempat lalu pastor keliling memerciki daun palem yang diangkat umat.

Minggu Palem sangat penting karena mengawali perayaan pekan suci. Rangkaian liturgi Paskah yang sangat meriah di Flores, sehingga ada libur panjang. Di Jawa juga ramai tapi sebatas di lingkungan gereja. Jangankan orang Islam, orang Kristen Protestan atau Pentakosta di Jawa gak tahu tradisi Minggu Palem di lingkungan Katolik.

Okelah, yang penting pekan suci perlu diisi dan dimaknai secara istimewa. Iman toh pada dasarnya urusan individu masing2. Justru setelah berada jauh dari kampung halaman, jadi minoritas, orang Flores justru semakin tertarik menggali tradisi liturgi yang di Flores sudah jadi bagian dari budaya masyarakat.

Apa lagi makna penting Minggu Palem?

Inilah saatnya mengganti palem yang ditempelkan di salib yang dipasang di rumah2 orang Katolik. Daun palem sih ada di mana2, tapi yang sudah diberkati dalam prosesi dan misa pekan suci cuma ada di gereja setahun sekali. Kalau absen ke gereja ya kita tidak akan dapat daun palem baru.

Tadi saya lupa membawa daun palem dari rumah. Untung di Gereja Yopen Wonokromo disediakan daun palem meski terbatas. Apa boleh buat, saya hanya dapat sisa2 daun palem yang sudah jelek.

Ehm... gak apa2, yang penting kan sudah diberkati oleh romo. Buat mengganti daun palem lama yang sudah berusia setahun yang sudah kering kerontang. Sulit membayangkan orang flores memasang salib di rumah tanpa dilengkapi daun palem!

Selamat memasuki pekan suci!

Ubi caritas est vera, Deus ibi est!