18 March 2012

Zhong Ruiming diplomasi foto


Di mata diplomat Tiongkok, Zhong Ruiming (49), Indonesia memiliki seni budaya dan alam yang sangat kaya dan indah. Tak heran, wakil duta besar Tiongkok untuk Indonesia ini 'ketagihan' memotret berbagai objek menarik di sela-sela kesibukannya sebagai diplomat di tanah air. Dan sebagian hasil jepretan Mr Zhong dipamerkan di Ciputra World Surabaya pada 4-11 Maret 2012.

Berikut petikan percakapan LAMBERTUS HUREK dari Radar Surabaya dengan Zhong Ruiming sembari menikmati foto-foto human interest karya pria yang fasih berbahasa Indonesia itu.


Sejak kapan Anda menekuni hobi fotografi?


Sebetulnya sudah lama, tapi mulai serius sejak saya ditugaskan di Indonesia, tepatnya Surabaya, di konsulat jenderal Tiongkok. Sejak itu saya mendapat banyak kesempatan untuk mengunjungi berbagai daerah di wilayah kerja konjen Tiongkok (meliputi kawasan Jatim dan Indonesia bagian timur). Lalu, saya mulai mencoba memotret objek-objek yang saya anggap menarik sejak tahun 2006.

Objek apa saja yang Anda anggap menarik?


Hampir semua yang saya lihat di Indonesia itu menarik. Mulai dari pemandangan alamnya, seni budaya, ritual agama, hingga orang-orangnya. Hampir semua orang yang saya temui memberikan sambutan yang hangat.

Apakah Anda membuat perencanaan sebelum hunting foto?


Tidak ada, karena fotografi ini hanya sekadar hobi. Saya memotret di sela-sela tugas saya sebagai diplomat yang sedang berkunjung ke daerah-daerah di Indonesia. Kalau ada waktu luang, saya usahakan untuk lebih mengenal alam, seni budaya, dan masyarakat setempat. Saya juga mengunjungi tempat-tempat wisata yang sangat indah dan khas. Tentu saja saya langsung memotret objek-objek itu.

Berarti ke mana-mana Anda selalu membawa kamera?


Hehehe... Saya bawa kamera yang sebetulnya tidak terlalu canggih, Cannon biasa. Dengan kamera itulah saya memotret objek-objek yang saya sukai.

Anda juga banyak memotret masyarakat di berbagai daerah seperti penumpang kereta api, pengamen, atau orang yang sedang berwisata. Apakah orang-orang itu tahu kalau mereka sedang dipotret?


Ada yang tahu, ada yang tidak tahu. Biasanya saya ajak mereka bicara, dan mereka senang. Saya juga senang melihat orang-orang Indonesia itu ramah dan murah senyum. Itu yang membuat saya semakin tertarik membuat foto-foto di Indonesia.

Salah satu daerah yang banyak Anda eksplorasi adalah Kalimantan. Mengapa?


Kalimantan itu punya budaya dan alam yang sangat menarik. Di sana ada Sungai Kapuas yang saya kira merupakan salah satu sungai terpanjang di dunia. Saya melihat masyarakat ada pasar di sungai. Itu merupakan pemandangan yang sangat menarik.

(Foto pasar terapung itu diminati banyak kolektor di Surabaya. Bahkan, sebelum pameran dibuka sudah ada kolektor yang membubuhkan nama, tanda jadi, di bawah foto itu.)


Saya juga melihat masyarakat Dayak di Kalimantan itu punya tradisi dan budaya yang unik dan menarik. Sebetulnya bukan hanya Kalimantan, semua daerah di Indonesia itu punya keindahan tersendiri. Seperti Bali, suasana Lebaran di Teluk Jakarta, pencari belerang di Gunung Ijen, abdi dalem keraton, hingga pedagang kaki lima. Bagi saya, semua itu sangat berkesan.

Apa sebetulnya misi Anda dengan rajin melakukan hunting foto ke berbagai wilayah di Indonesia?


Sebagai diplomat, salah satu tugas saya adalah mempererat hubungan antara rakyat Indonesia dan rakyat Tiongkok. Untuk itu, masyarakat Tiongkok perlu mengenal keindahan alam, seni budaya, serta kehidupan orang Indonesia yang beraneka warna. Karena itu, foto-foto saya ini juga akan dipamerkan di Tiongkok agar Indonesia semakin dikenal di negara saya.

Kabarnya, Anda juga sudah menerbitkan buku kumpulan foto-foto Anda?


Ya, buku itu diterbitkan tahun 2010 dengan judul yang sama dengan tema pameran saya di Surabaya, yakni Indonesia di Mata Seorang Diplomat Tiongkok. Saya sering memberikan buku itu sebagai kenang-kenangan untuk teman-teman di Tiongkok maupun Indonesia.

Jadi, kegiatan fotografi tidak mengganggu tugas Anda sebagai diplomat?


Tidak. Justru mendukung kegiatan saya sebagai diplomat yang harus mendorong hubungan yang erat antara kedua negara. Saya senang karena pameran saya di Surabaya ini mendapat sambutan yang meriah dari masyarakat dan pemerintah provinsi. Wakil Gubernur (Syaifullah Yusuf) juga datang dan memberikan apresiasi untuk karya saya.

Ngomong-ngomong, apakah foto-foto Anda ini juga dijual untuk kolektor?

Kalau soal itu sih urusan panitia yang menyelenggarakan pameran ini. Hehehe... Tapi bisa saja hasilnya dipakai untuk kegiatan-kegiatan sosial. Saya sendiri tidak menjual foto. (*)

Dimuat RADAR SURABAYA edisi 18 Maret 2012

No comments:

Post a Comment