05 March 2012

Toni Harsono penggerak wayang potehi



Oleh LAMBERTUS HUREK


Perkembangan wayang potehi yang pesat dalam 10 tahun terakhir di tanah air tak lepas dari peran Toni Harsono. Pengusaha emas yang tinggal di kawasan Gudo, Jombang, ini tak henti-hentinya memopulerkan wayang khas Tionghoa ke seluruh tanah air.

Belum lama ini, Toni Harsono menggelar pameran wayang potehi di Hotel Majapahit Surabaya. Dia juga aktif membina para dalang (sehu) wayang potehi di berbagai kota. Berikut petikan wawancara Radar Surabaya dengan Toni Harsono:


Mengapa Anda menghidupkan paguyuban dalang wayang potehi (sehu) Hok Ho An?


Saya ingin ada kerja sama di antara sesama dalang dan pemain musik. Sebab, kenyataannya banyak sehu yang tidak punya pemusik. Mereka harus pinjam atau menyewa dari orang lain. Dan itu tidak gampang karena sehu-sehu ini umumnya tidak punya uang.

Dalang-dalang dari mana saja yang Anda rangkul?


Jombang, Kediri, Tulungagung, Tuban, Surabaya, Semarang, dan beberapa kota lain. Semuanya sepakat untuk bekerja sama menghidupkan seni wayang potehi.

Bisa diceritakan sedikit sejarah paguyuban Hok Ho An?


Ini sebuah paguyuban yang dibentuk oleh almarhum kakek saya, Tok Su Kwie, setelah tiba di tanah Jawa. Paguyuban ini merangkul semua sehu yang sama-sama baru datang ke tanah air. Perkumpulan ini kemudian surut dan tidak aktif lagi setelah kakek saya meninggal. Nah, setelah reformasi, saya mencoba menghidupkan lagi Hok Ho An. Mudah-mudahan paguyuban ini bisa bertahan lama.

Apa manfaat para dalang itu bergabung dengan Hok Ho An?


Mereka dapat memakai properti potehi dari mulai boneka, alat musik, panggung, dan sebagainya. Mereka tidak dikenai biaya sewa sama sekali.


Bagaimana dengan para sehu di luar Hok Ho An?


Mereka juga boleh menggunakan properti yang kami miliki. Saya hanya ingin agar pertunjukan potehi ini tetap lestari di era keterbukaan setelah almarhum Presiden Gus Dur mencabut Inpres 14/1967. Kalau tidak ada pertunjukan, maka kesenian ini akan sulit berkembang.

Kabarnya, Anda juga ikut mengirim perlengkapan potehi ke lokasi pertunjukan?


Benar. Tapi kemudian saya mendata tempat-tempat yang rutin nanggap wayang potehi seperti Kelenteng Teluk Gong Jakarta. Saya menitipkan properti potehi seperti panggung, alat-alat musik, dan boneka di kelenteng tersebut. Jadi, ketika ada pertunjukan di wilayah Jakarta dan sekitarnya, sehu tinggal mengambil properti di Teluk Gong. Mereka tidak perlu capek-capek membawa properti dari Jombang ke Jakarta. Lebih hemat dan income yang diperoleh para dalang itu akan lebih banyak. Dan ini menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk ikut melestarikan potehi.

Apa lagi upaya Anda dalam membina para dalang pemula?


Saya menyediakan tempat dan fasilitas latihan di Kelenteng Gudo, Jombang. Mereka bisa berlatih mendalang, main musik, membuat boneka potehi, dan sebagainya. Kami juga menyediakan kendaraan untuk mereka.

Bagaimana Anda mengikuti perkembangan potehi di Tiongkok yang sudah begitu maju?


Biasanya, kalau ada teman atau kerabat yang kebetulan pergi ke Tiongkok saya sering titip dibelikan boneka potehi. Ini penting agar kita tidak terlalu ketinggalan zaman. Karena penasaran, akhirnya saya berkunjung langsung ke Tiongkok pada tanggal 21 Mei 2010. Syukurlah, saya bisa melihat langsung kelenteng-kelenteng tua dengan ukiran yang sangat rumit dan indah.
Saya terharu melihat langsung kampung halaman kakek saya yang zaman dulu merantau ke laut selatan (nan yang) hingga menetap dan mengembangkan wayang potehi di Gudo. Ini juga membuat tekad saya makin kuat untuk melestarikan seni potehi yang sudah dirintis oleh kakek saya.

Apa yang paling berkesan dari ayah Anda, Tok Hong Kie, yang dikenal sebagai sehu terkenal pada masanya?


Beliau termasuk sehu yang cermat dan teliti. Beliau selalu membuat ringkasan cerita yang akan dimainkan dalam sebuah buku dengan tulisan tangan. Sampai sekarang beberapa naskah tulisan tangan beliau masih ada. Sinopsis cerita itu ditulis dalam bahasa Melayu Tionghoa yang memang sangat populer di kalangan peranakan Tionghoa di tanah air. Para sehu sebelum bapak saya masih menggunakan bahasa Hokkian.
(*)



Sakit ketika Pertunjukan Akan Selesai

TINGGAL di kompleks Kelenteng Hong San Kiong di Gudo, Kabupaten Jombang, membuat Toni Harsono sangat akrab dengan tradisi dan budaya Tionghoa, khususnya wayang potehi. Apalagi sang ayah, Tok Hong Kie, selain penjaga kelenteng juga sehu potehi yang hebat.


Toni alias Hok Lay pun semakin gandrung dengan pertunjukan potehi. Dia selalu menonton pergelaran yang berlangsung cukup lama itu. "Saya biasanya sakit kalau pertunjukan potehi selesai," kenangnya.

Karena itu, menjelang usai tanggapan, Toni biasanya meninggalkan keramaian potehi untuk menyepi. Betapa wayang boneka ala Tiongkok itu begitu merasuk ke dalam hatinya.

Toni kecil juga sering bermain ke rumah Tan Sun Bing, pemain musik sekaligus penggemar potehi. Tan dikenal mahir membuat boneka potehi. Di saat senggang pria yang kemudian hari menjadi ketua kelenteng tersebut membuat boneka untuk mengganti boneka potehi yang rusak. Dan Toni memperhatikan cara Paman Tan membuat dan mengecat boneka.

Tak dinyana, pengalaman masa kecil ini membuat Toni akhirnya tumbuh sebagai pengusaha yang sangat peduli pada wayang potehi. Toni mau berkorban apa saja demi menghidupi kesenian leluhurnya itu.

***

Sempat mati suri selama tiga dekade, wayang potehi menggeliat lagi setelah reformasi 1998. Geliat wayang khas Tionghoa di tanah air ini tak lepas dari kontribusi Toni Harsono dalam menyediakan properti bagi para sehu alias dalang wayang potehi. Namun, dia mengakui bahwa kualitas pertunjukan potehi saat ini masih kalah greget dibandingkan pada era 1960-an. Karena itu, para pengelola kelenteng harus ikut terbebani untuk meningkatkan kualitas pertunjukan.

Ironisnya, menurut Toni, saat ini tidak semua menanggap wayang potehi dalam acara-acara ritualnya. Mereka malah cenderung mendatangkan artis penyanyi atau menggelar karaoke yang tak ada hubungan dengan tradisi Tionghoa. Mengapa demikian?

Menurut Toni, banyak pengurus kelenteng masa kini yang kurang paham kalau pementasan wayang potehi itu bukan tontonan semata-mata, tapi persembahan untuk para dewa. Potehi juga mengajarkan sifat dan akhlak mulia serta budi pekerti yang luhur. "Jadi, para pengurus kelenteng perlu mendapat pencerahan lagi," katanya.

Toni Harsono bersama teman-temannya juga menggagas pendirian rumah pamer atau museum mini wayang potehi. Museum ini dilengkapi pustaka tentang wayang potehi sejak era Tiongkok kuno, zaman Belanda, kemerdekaan, hingga zaman sekarang. Selain itu, museum ini juga akan menjadi ruang penyimpanan alat-alat musik, proses pembuatan boneka potehi, kostum, dan sebagainya.

"Kita lengkapi dengan ruang audio visual untuk memutar pertunjukan para sehu dari Indonesia maupun mancanegara," katanya.

Dengan demikian,jika masyarakat ingin mengetahui seluk-beluk wayang potehi, maka mereka cukup datang ke museum ini. Museum ini terbuka untuk seluruh masyarakat. (*)

Tentang Toni

Nama : TONI HARSONO
Nama Tionghoa : Tok Hok Lay
Lahir : Jombang, 6 Juli 1969
Pekerjaan : Pengusaha
Pendidikan terakhir :
SD di Gudo, Jombang
SMPN I Jombang
SMA PGRI I Jombang
SMA Kalam Kudus Malang
ITN Malang

Organisasi/Aktivitas sosial
- Pengurus TITD Hong San Kiong Gudo, Jombang
- Pendiri dan pembina paguyuban dalang wayang potehi (sehu) Hok Ho An

No comments:

Post a Comment