03 March 2012

Tionghoa kecam religi Tionghoa



Tidak semua orang Tionghoa punya apresiasi terhadap tradisi, budaya, dan adat leluhurnya. Khususnya Tionghoa yang sudah pindah keyakinan, kemudian jadi tukang khotbah atau evangelis.

Beberapa menit lalu saya menyaksikan ceramah Pendeta Timotius Arifin di MNTV, acara Indahnya Kasih, semacam mimbar agama Kristen aliran karismatik-pentakostal. Timotius ini keturunan Tionghoa, dulu pendeta di Gereja Bethany, gereja karismatik yang hampir semua jemaatnya orang Tionghoa.

Membahas tema kematian, si Timotius menyindir tradisi orang Tionghoa menghormati orangtua atau keluarga yang meninggal. Seperti bakar uang kertas (mainan), siapkah buah ini itu dsb. Timotius bicara blak-blakan di televisi, yang pemiliknya orang Tionghoa, tanpa sadar bahwa acara itu ditonton semua kelompok masyarakat, budaya, agama, aliran.

Saya yang jelas-jelas bukan Tionghoa langsung kehilangan selera mendengar khotbah Timotius Arifin. Tidak simpati. Kok tidak sensitif dengan tradisi budaya dan religi orang lain khususnya Tionghoa? Bukankah anda, jemaat anda, keluarga, relasi... anda hampir semuanya Tionghoa?

Masih banyak metode ceramah atau khotbah yang elegan tanpa membuat pihak lain tersinggung. Saya kira tukang khotbah macam Timotius Arifin dan sejenis harus lebih sensitif ketika bicara di televisi yang diakses semua kalangan. Seharusnya bisa mengapresiasi kepercayaan lain yang pasti berbeda tata cara dan dasar teologisnya.

Saya perhatikan di Indonesia ini kritik atau kecamatan terhadap tradisi Tionghoa justru dari Tionghoa sendiri. Buku-buku yang menyerang tradisi leluhur justru ditulis oleh orang Tionghoa sendiri yang sudah konversi atau pindah agama. Ketika berkhotbah atau bicara di depan umum, kata-kata mereka cenderung sangat negatif. Seakan-akan tradisi dan religi Tionghoa itu salah semua, sementara agamanya yang baru ibarat kecap nomor satu.

Mudah-mudahan pengelola televisi kita lebih selektif memilih tukang khotbah. Tidak ada salahnya melakukan sensor diri demi kebaikan bersama. Saya duga orang lain yang tak sealiran dengan Timotius Arifin pun akan ketawa mendengar cerita Timotius mengutip temannya yang katanya sudah melihat surga.Sekali lagi: hati-hati bicara di televisi atau radio karena pemirsa/pendengar terdiri dari bermacam-macam agama, aliran, dan denominasi.


22 comments:

  1. Apakah kotbahnya Pendeta Timotius Arifin mendatangkan damai dan sejahtera bagi para pemirsa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. tergantung siapa yg dengar. kalau yg dengar jemaatnya ya bagus banget, tapi kalau org lain yg diserang, tunggu dulu...

      Delete
  2. Ya memang aneh Pendeta Timotius Arifin ini. Semua agama penuh dengan cerita2 pengalaman mistik yang bagaikan dongeng. Orang Tionghoa atau orang Papua di pedalaman yang tidak pernah terekspos terhadap agama Kristen akan tertawa jika dibawa ke Gereja Katolik dan dibilangi bahwa roti bundar dan anggur yang diterima di depan gereja itu ialah benar2 tubuh dan darah orang yang sudah mati lebih dari 2000 tahun yang lampau. Atau jika dibawa ke Gereja Pentekosta macam Bethany dan dibilangi bahwa orang2 yang lagi ngoceh bahasa yang tidak berjuntrung itu bukan sakit gila tapi sedang kerasukan roh tuhan yang tidak terlihat. Atau jika diceritain tentang perjalanan nabi Muhamad, bahwa sang nabi benar-benar naik kuda sembrani terbang antara Jerusalem, Mekkah, dan Medinah, bahkan sampai ke langit ke tujuh.

    Semua cerita2 tsb ialah pengalaman mistik dan spiritual yang tidak usah diinterpretasikan secara harafiah (kalau mau literal ya silakan).

    Setuju dengan Bung Hurek, bahwa orang2 seperti Pendeta Timotius Arifin perlu introspeksi sebelum mengkritik praktek agama atau kepercayaan lain. Kalau memang berani, coba kritik FPI.

    ReplyDelete
  3. hehe.. itu ciri khas org2 yg murtad dari agama lamanya, biasanya suka menjelek2an agama yg lama. dan itu banyak banget di semua agama ada aja...

    ReplyDelete
  4. maaf saya sangat tidak setuju dengan komentar anda anda di atas, terutama isi artikel. Kalau anda tidak tahu sama sekali tentang agama kristen dan anda bukan agama kristen, sebaiknya jangan mencela, diam saja daripada menambah dosa, karena tentunya anda tidak suka jika doktrin2 agama anda dicela oleh kalangan non kristen, terlebih lagi saya ingin bertanya bagi penganut agama2 lain, apakah tradisi nenek moyang animisme dibenarkan oleh agama anda?

    ReplyDelete
  5. memang begitulah kalau evangelis lagi khotbah

    ReplyDelete
  6. memang begitulah kalau evangelis lagi khotbah

    ReplyDelete
  7. ada juga lho mantan kristen katolik, yang sudah pindah agama, kalu ceramah isinya hanya menjelek-jelekin agamanya yg lama. kebencian sama nasrani sangat luar biasa... wanita ini sangat terkenal...

    ReplyDelete
  8. dia kira dia itu siapa ?? ga sadar dia, ga lebih dari sebatang dahan busuk yg lupa pada pohon dan akarnya.

    ReplyDelete
  9. aq liat org tionghoa yg pindah agama kebanyakan gitu. gak usah heran lah.

    ReplyDelete
  10. Buat yang tidak setuju dengan isi artikel: banyak tradisi dalam agama atau kepercayaan lain yang tidak dibenarkan oleh agama2 ibrahimi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Itu bukan berarti dalam khotbah atau liturgi suatu agama, kita dengan seenaknya boleh mencela. Coba kalau berani Pak Pendeta itu tidak mencela liturgi dan teologi Konghucu, terapi mencela kebiasaan2 Islam. Maksudnya Bung Hurek kan, mentang2 Pak Pendeta itu Tionghoa dan sekarang merasa agamanya paling benar, dia enak saja mencela kepercayaan orang lain. Dia pun sudah pasti tidak mengerti maksud atau kebenaran yang ada di balik ritual yang dia kecam itu. Untuk apa mencela sana sini? Lebih baik kita dalami iman kita sendiri, dalami ajaran Yesus yang mengajarkan kita untuk tidak menghakimi orang lain. Dalam satu ceritanya Yesus mengajarkan dalam beribadat dan berdoa untuk tidak membenarkan diri sendiri dan mencela orang lain sbg berdosa.

    ReplyDelete
  11. Bung Hurek yang terhormat, wawasan, budhi-pekerti, sopan-santun, inteligenz, hati-nurani, toleranz dan raut wajah welas-asih dari Anda,
    seribu kali diatas mahluk yang menamakan dirinya
    pendeta timotius arifin. Mahluk timotius arifin ini adalah person yang congkak, prepotenz, munafik dan berjiwa kerdil. Dia itu typikal Cino Wurung, Jowo Tanggung dan Londo pun Durung.
    Yang saya tak bisa mengerti, mengapa begitu banyaknya domba-domba yang sesat memuja orang seperti timotius arifin ? Apakah di Indonesia demikian banyaknya orang2 Tionghoa yang sudah melengse otaknya. Jika ditinjau dari segi pakaian, perhiasan atau penampilan, kelihatannya domba2-nya timotius arifin itu, termasuk orang2 yang finansial berada. Mungkinkah mereka merasa sangat berdosa telah terlalu banyak menghisap darah rakyat Indonesia.
    Mungkinkah mereka terlalu kikir untuk menyumbangkan sebagian harta mereka kepada rakyat yang melarat. Gereja2 halleluja biasanya mematok iuran sebesar 10% dari penghasilan. Mengapa uang 10% itu tidak diberikan kepada babu, jongos atau sopir mereka ? Inilah sifat wong cino yang saya selalu kutuk.
    Yah apa boleh buat ! Bo-hwat-tho, kata ibu-saya selalu, ketika beliau masih hidup.

    ReplyDelete
  12. kita harus sabar dan menghargai pendapat serta keyakinan orang lain, termasuk pendapat pengkhotbah yg menyerang doktrin agama/aliran lain. itu sangat biasa dalam kehidupan karena masing2 orang menganggap alirannya paling benar.

    saya juga sering dengar khotbah bekas kristen/katolik yang kerjanya hanya menjelak2an ajaran agamanya yang lain. biarkan saja dia bicara sampai bosan. itulah kebebasan berbicara.

    ReplyDelete
  13. sesat dan munafik...
    2 kata itu yg sepertinya paling cocok untuk disebut kan kepada timotius arifin. dibalik semua ajarannya, yg dipentingkan hanyalah uang (penyembahan kepada dewa mamon) demi memuaskan hawa nafsu pribadi dan kelompoknya.
    memakai atribut agama yg dianggap paling benar (benar bila dijalankan dan diamalkan demi kesejahteraan semua org dan membawa damai sejahtera bagi sekitar).
    bukan hanya dia saja yg berprilaku seperti itu, ya... saya tahu betul pendeta macam itu, saya juga berasal dari gereja macam itu dan terlibat cukup dalam sehingga tahu banyak sekali kebusukan dan penyimpangan.
    bukan hanya mengenai hal kritik atau kecaman terhadap agama lain, yg lebih parah adalah membuat doktrin bahwa dalam gereja tersebut ada imbalan harta nan gemilang... bila... anda menginvestasikan uang ke dalam gereja itu.
    kotbah yg dikemas bak sebuah seminar pengembangan diri (anda adalah manusia kreatif dan menjadi yg no.1 dalam Tuhan, blah lah blah).
    sadarkah manusia seperti timotius arifin (dan pendeta2 sealiran), bahwa di luar sana banyak jemaat yg sudah menjadi murtad bahkan menjadi ektstrim???
    awalnya jemaat yg sudah "murtad" dr agama yg lama, "tergila2" dengan agama yg baru, lalu jatuh miskin karena uangnya diberikan semua ke gereja demi mengejar "berkat" tuhan, lalu sadar selama ini dibohongi, skr malu utk kembali ke agama yg lama, lalu... hancur lah hidupnya....
    saya percaya dan menyembah Tuhan sy, Yesus Kristus yg maha pengasih dan penyayang, saya memuji DIA tanpa mengecam agama lain, saya menghormati ritual agama lain. walau saya tidak bergereja (kapok dibohongi dan diporoti lagi), saya tetap memuji dan menyembah Tuhan bersama2 dengan keluarga saya.
    Tuhan tidak perlu uang mu !!! Tuhan perlu kelakuan mu !!!!
    jadilah berkat (disenangi org sekitar dan berinteraksi dengan sesamamu walau berbeda agama)...
    dan pesan sy kepada saudara2 sy yg keturunan tionghoa, uang memang diperlukan, oleh karena itu bekerjalah dengan giat, jangan berharap dari Tuhan untuk membalas amal mu, jangan juga ke gereja demi pamer mobil mu dan pakaian mu, beribadahlah secara pribadi di dalam kamar yg terkunci, pribadi dengan Tuhan...
    ...karena menjelang kedatangan Tuhan, akan ada banyak nabi palsu yg mengatasnamakan namaKU dan menyesatkan banyak umatNYA.

    anda beribadah mau bersekutu dengan Tuhan, atau cari duit?
    wong uedan guendeng keblinger kuabeh

    ReplyDelete
  14. Lebih daripada itu,kita harus introspeksi diri,itu lebih penting,manusia melihat apa yg nampak di luar,tapi Tuhan melihat hati kita.so,jgn menghakimi siapapun...

    ReplyDelete
  15. Jgn menghakimi orang lain

    ReplyDelete
  16. mulutmu harimaumu.. lihatlah.. hampir keseluruhan pembaca menghujat anda timotius arifin, hati2 kalo bicara, ini masalah sensitif, jangan merasa anda paling benar sempurna didunia ini,jangan katrok
    semoga anda juga baca blog ini

    ReplyDelete
  17. Saya rasa timotius arifin hanya berbicara sesuai kebenaran firman Tuhan, agar kita semua mengerti kebenaran yg memerdekakan n manyelamatkan manusia.

    ReplyDelete
  18. buat yang menghujat, apa bedanya anda dengan Timotius Arifin ?
    he..he..he..

    ReplyDelete
  19. Izinkan saya memberi sedikit komentar.

    Ada dua macam orang Kristen yang 'kelewatan':
    1. Kelewat kendor. Yaitu orang yang sebenarnya sudah tau kalau itu salah tapi masih dilakukan.
    2. Kelewat kenceng. Yaitu orang yang merasa sudah tau firman tapi terlalu menjaga toleransi daripada kebenaran firman itu sendiri.

    Nah, anda pemilik blog ini dan komentator² yang punya pendapat sama, adalah tipe orang yang kedua.

    Terlalu menjaga sikap atau perkataan untuk tidak menegur yang salah karena alasan toleransi itu adalah kebodohan.
    Yesus tidak pernah menjaga toleransi terhadap tradisi² kolot orang Yahudi, Farisi, dan Saduki. Malahan ditegur dengan sangat keras, sampai berulang kali ada percobaan pembunuhan terhadap Yesus. Padahal Yesus itu dari kaum apa sih? Yahudi, saudara-saudara.

    Semua tradisi dari berbagai etnis sedikit banyak sudah teracampur baur dengan kesesatan. Karena itu salah, ya pasti harus ditegur secara Alkitabiah bukan? Tapi risikonya, yang menegur harus rela menanggung celaan dan sumpah serapah seperti yang dialami oleh Yesus, dan tentu saja oleh Pdt. Timotius Arifin di blog ini. Kalau tidak mau ditegur, ya monggo, 'ndak papa. Gampang kan? Tidak ada paksaan. Karena firman sifatnya tidak memaksa, tapi menegur, menasihati, mengajar.

    Tidak usah jauh² menyoroti tradisi Tionghoa, tradisi jawa sendiri juga banyak yang konyol dan sesat (saya orang Jawa asli).
    Salah satu contohnya: Plasenta bayi harus dikubur bersama pulpen dan buku supaya anak tersebut jadi pinter. Lalu harus diberi lampu diatasnya supaya tidak kesepian. Coba cari di Alkitab, itu benar atau tidak? Harus ditegur dengan keras atau tidak?

    Komentator² di post ini bisanya cuma Anonymous, tidak berani mempertanggungjawabkan tulisannya.
    Saya berkata benar dan saya siap menanggung risikonya.

    ReplyDelete
  20. Ini mah takut kehilangan umat/jemaat

    ReplyDelete
  21. Dah jangan dipikirin

    ReplyDelete