16 March 2012

SBY ragu, bensin ditimbun

SBY adalah tentara yang cerdas. Banyak membaca, diskusi, menulis lagu, dengar macam2 pertimbangan. Karena itu, beliau tida bisa cepat bikin keputusan meski sudah jadi presiden.

Mengapa pemerintah ragu2 menaikkan harga bensin alias bbm? Karena sang presiden, SBY, ragu2. Begitu banyak suara yang didengar. Minta nasihat menteri2, koalisi partai, tentara, polisi dsb. Padahal, menteri perekonomian dan mayoritas wakil rakyat sudah lama oke.

Maka bensin pun ditimbun orang2 yang punya fasilitas penyimpanan bensin atau solar. Siapa sih yang tidak tergiur keuntungan? Margin 1500 per liter jelas sangat besar. Hitung saja kalau kita bisa menyimpan sekian ribu liter.

Ribut2 kenaikan harga bensin ini tidak terjadi pada era Presiden Suharto. Tak ada ribut2 atau wacana yang berkepanjangan. Diam2 pemerintah orde baru melakukan persiapan.. dan tiba2 bensin sudah naik.

Tidak ada ruang sedikit pun bagi spekulan untuk menimbun bensin dan solar. Kalau ketahuan pasti kena undang2 subversi dengan ancaman hukuman mati. Polisi dan tentara waktu itu tak kenal kompromi.

Pak Harto, apa pun kekurangannya, termasuk pemimpin yang sangat efektif. Berani bertindak dengan risiko yang sudah diperhitungkan. Ketegasan Pak Harto membuat petugas keamanan di lapangan tidak ragu2 menindak aksi unjuk rasa anarkistis.

Sekarang kita lihat di mana2 muncul keraguan. Ketika ada massa yang hendak merusak bangunan, kafe, atau kantor.. petugas tak bisa berbuat banyak. Terkesan membiarkan atau melindungi perusuh.

Jangan heran akhir2 ini orang mulai merindukan sosok Jusuf Kalla yang dinilai paling punya leadership. JK itu berani, bukan peragu, tegas, rasional, berani ambil risiko. Dan... sudah kaya-raya sehingga tidak perlu korupsi atau cari proyek lagi.

Tapi, sayang, Pak JK bukan orang Jawa!

1 comment:

  1. Pak Harto memang pemimpin yang efektif, di awal Orde Baru. Tetapi jangan lupa banyak sekali pelanggaran HAM yang beliau lakukan, yang membawa korban berjuta orang mati dan tertindas. Dan di akhir Orde Baru, beliau tidak efektif lagi karena terlalu melindungi kepentingan bisnis anak2nya, yang tidak seperti dia, bukan pekerja keras dan pelajar yang rajin.

    Demokrasi memang membawa dampak pengambilan keputusan yang makan waktu lebih lama. Terutama kalau presidennya seperti Pak BY yang ragu2 ini, takut salah mulu ...

    ReplyDelete