17 March 2012

Satu keluarga 4 agama

Orang tionghoa paling toleran dalam urusan agama atau keyakinan. Benar2 memberi ruang kebebasan kepada istri, suami, anak2 untuk memeluk agama tertentu. Contohnya sangat banyak.

Saya kenal seorang pengusaha tionghoa di surabaya, sebuat saja han jian. Mr han ini islam, bahkan sudah dianggap sebagai tokoh muslim tionghoa. Istrinya, mrs han, beragama khonghucu alias konfusianisme.

Pasutri kaya ini punya dua anak: yang sulung katolik, sedangkan adiknya kristen pentakosta. "Keluarga saya memang bhinneka tunggal ika. Berbeda-beda tapi tetap satu," kata mr han.

Awalnya saya heran mengetahui sebuah keluarga yang empat anggotanya berbeda-beda agama. Satu rumah, satu keluarga, empat agama. Maka, ritual atau ibadah menjadi urusan masing2.

Beberapa waktu lalu si sulung yang katolik menikah di gereja katedral surabaya. Saya yang ikut diundang tentu saja hadir, apalagi saya memang hampir tiap minggu misa di gereja itu. Mr han dan istri mengantar putri tercinta ke altar untuk menerima pemberkatan alias sakramen perkawinan. Kebetulan suaminya sama2 katolik.

Mr han yang muslim dan mrs han yang konfusius tampak terharu mengikuti pemberkatan nikah anak mereka. Sementara si bungsu yang pentakosta tentu lebih akrab dengan liturgi gereja karena bagaimanapun juga katolik dan pentakosta punya kesamaan dalam banyak hal.

"Yah, anak2 saya kan sudah dewasa, bisa menentukan pilihan sendiri. Yang penting konsekuen melaksanakan ajaran agama masing2," kata mrs han ketika saya menyatakan heran dengan banyaknya agama di keluarga mereka.

Saya pun hanya geleng2 kepala. Salut dengan kedewasaan dan kelapangan hati orang Tionghoa. Sikap macam ini akan sulit kita temukan di kalangan kita yang mengaku pribumi. Perbedaan agama justru sering jadi masalah besar.

Di Flores, NTT, hampir tidak ada keluarga seperti mr han. Di Flores ada semacam tradisi satu keluarga satu agama. Dan agamanya pun harus ikut agamanya sang suami. Kalau suami katolik, istri dan anak2 pasti katolik. Tidak mungkin protestan atau pentakosta, apalagi buddha.

3 comments:

  1. kami juga begitu pak, ku uraikan:
    saya Budha,istri kongfuchu,anak Katolik.
    ibu saya kristen,papa konfuchu/tao.
    mertua saya cowok konfuchu,cewek islam.
    saudara saya: cece kristen,koko katolik.
    anak saya kalo pulang kampung juga di suruh ngaji ma neneknya.
    anakku tanya aku, agama nya apa?
    aku jawab apapun yg kau pelajari saat ini adalah pilihan akan datang tapi selama blom berumur 17 thn agamamu adalah budha.
    itu kata ortu saya saat masih kecil,dan saya terapkan ke anak saya.

    ReplyDelete
  2. om hurek... di keluarga kami orang Batak, pada keturunan kakek nenek semuanya beragama Kristen Protestan... naik ke atas dikit, baru agak beragam... abangnya kakek saya, 2 orang anaknya memeluk Islam karena nikah dgn lelaki Muslim... kakaknya nenek (ibunya ibu) saya, anaknya ada yg Katolik...

    kalo acara keluarga besar seperti "bona taon" (kumpul2 awal tahun) atau arisan bulanan, selalu diawali dgn ibadah ala Protestan, terutama HKBP karena itu yg paling dominan... kecuali di keluarga kakek-neneknya ibu saya, mulai mengarah ke kebaktian ala "aliran Haleluya"... hampir gak ada yg Katolik, Islam, atau agama lain...

    kecuali mungkin marga2 dari Samosir (contohnya Sinaga, Situmorang, Simbolon, Nainggolan, Pakpahan, Manurung, dll) mungkin banyak yg Katolik, karena di Samosir persentase Katolik dan Protestan hampir 50:50... di kampung saya (Pahae, Tapanuli Utara), HKBP masih sangat dominan... cuma di Samosir yg agak beda...

    ReplyDelete
  3. Di lingkungan keluarga Tionghoa-Indonesia adalah hal yang lumrah, jika didalam satu famili menganut ber-macam2 kepercayaan. Tidak ada yang aneh. Biasanya tidak ada yang saling menghujat satu sama lainnya. Kecuali satu, yaitu seorang nyonya dari Marga Han yang bernama Irena Handono.
    Nyonya Handono, wajahnya welas asih bak Dewi Kuan-im, namun sayangnya yang keluar dari mulutnya, adalah cacian, kebohongan belaka terhadap agama katolik.
    Si nyonya berkata, bahwa orang Jerman menyembah dewa pohon cemara. Mungkin dia terinspirasi oleh lagu jerman, O Tannenbaum, yang sering kita lantunkan pada hari Natal. Tidak ada satu kata pun dalam Lyrik lagu O Tannenbaum yang tertera kata Tuhan atau Jesus. Itu adalah lagu kanak2 bangsa Jerman diwaktu musim dingin. Nyonya Handono juga berkata, bahwa orang Jerman percaya Jesus lahir dibawah pohon cemara, Tannenbaum. Absurd ! Demokrasi macam apa yang dianut oleh masyarakat Indonesia, setiap orang boleh berbohong, menghujat, mencaci-maki orang lain. Kalau yang dicaci adalah koruptor, tidak ada masalah, memang sepatutnya mereka dicaci, itu adalah bentuk hukuman sosial, biar malu dan kapok.
    Maaf Bung Hurek, orang China sama sekali tidak lebih tolerant daripada orang Jawa.
    Engkoh saya terkenal di Bumi Blambangan, semua penduduk tahu, bahwa dia penganut Tridarma, tetapi dia selalu diundang oleh penduduk muslim untuk ikut Yasinan dan Tahlilan, saya hanya bisa mengulum senyum, jika engkoh-ku itu, hafal mengucapkan Syahadat, Al Fateha dan Al Ikhlas.
    Itulah gambaran Toleransi warga pribumi muslim di Bumi Blambangan. Sayangnya Toleransi telah punah, sejak pemerintahan presiden Suharto.
    Kalau mau menceritakan kehidupan masa lalu, terlalu muluk untuk disebut sejarah, maka tak terlepas harus menyinggung soal SARA. Tetapi itu Tabu bagi masyarakat kita. Lebih baik diam.

    ReplyDelete