01 March 2012

Sastra Tionghoa kurang berkembang


Ibu Yan Shi, tokoh sastra Tionghoa di Surabaya.


Sastra Tionghoa di Jawa Timur mulai bergeliat lagi setelah mati suri cukup lama. Namun pemain2nya kebanyak penulis senior alumnus sekolah2 Tionghoa di Surabaya. Mereka2 inilah yang cakap menulis dalam bahasa Tionghoa dan punya rasa bahasa Tionghoa yang bagus.

Beda dengan orang2 Tionghoa Orba (lahir di atas 1970) yang sangat minim kemampuan berbahasa Tionghoa. Ini pula yang menyebabkan sastra Tionghoa sempat terputus. Tak ada kaderisasi penulis.

Yan Shi termasuk sastrawan produktif. Dia sudah merilis kumpulan puisi dwibahasa: Tionghoa dan Indonesia. Tapi sebenarnya Yan Shi menulis dalam bahasa Tionghoa, kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh rekannya.

Setelah SMA Xin Zhong ditutup, Yan Shi harus berjuang untuk hidup. Jualan, buka toko, cari uang... dan tak sempat menulis. Kalaupun menulis tak akan media yang muat karena bahasa dan aksara Tionghoa dilarang rezim orde baru.

Syukurlah, reformasi membuka kembali ruang untuk penulis2 Tionghoa berekspresi. Beberapa koran berbahasa Tionghoa macam QIANDAO RIBAO membuka rubrik puisi dan prosa berbahasa Tionghoa.

Maka penulis2 lawas ini pun kreatif lagi. Mereka bikin komunitas, saling mendukung, saling mempromosikan sesama penulis. Buku2 sajak Yan Shi pun diedarkan dengan cara ini. Tidak dijual di toko2 buku besar macam Gramedia.

Sejak 2001 dibentuk Perhimpunan Sastra Tionghoa yang punya cabang di berbagai kota. Meski berjalan lambat, dan kurang dikenal masyarakat luas, para penulis senior ini punya jaringan internasional. Mereka sering mengadakan ramah-tamah dengan sesama penulis asal Tiongkok, Taiwan, Singapura, Malaysia.

Bagaimana masa depan sastra Tionghoa (berbahasa Tionghoa)?

Bisa dipastikan sangat cerah. Sebab, bahasa Tionghoa sekarang sudah diajarkan di mana2. Tak hanya orang Tionghoa, etnis lain pun ramai2 belajar bahasa Tionghoa. Bisa dipastikan mereka akan menulis apa saja, termasuk puisi dan prosa.

Karena itu, para oma-opa ini harus ngemong cucu2 mereka agar ada yang mau melestarikan sastra Tionghoa. Sambil berdagang!

No comments:

Post a Comment