31 March 2012

Pak Moechtar pamit dari PANJEBAR SEMANGAT



Pak Moechtar boleh sangat fenomenal dalam dunia jurnalistik. Dialah pemimpin redaksi tertua di indonesia dalam waktu lama. Pada 22 februari 2012 tepat usia 87 tahun pak moechtar pamit mundur dari kursi pemimpin redaksi PANJEBAR SEMANGAT.

PS adalah majalah berbahasa jawa terbesar di indonesia yang punya pelanggan setia. Di saat banyak media sudah lama mundur ditelan zaman, PS tetap bertahan. Dan pak moechtar tetap setia nguri-uri bahasa dan budaya jawa bersama PS yang adresnya di bubutan 85 surabaya.

Eyang moechtar tergolong wartawan kawakan yang tangguh, ulet, dan sangat cinta profesi. Mulai jadi wartawan pada 1951 di koran ESPRES, dia kemudian pindah2 media. Geser ke HARIAN UMUM kemudian diajak pak hm said, orang kuat jatim, tokoh golkar jatim, pada 1971. Baru tahun 1978 diajak ke PS sampai lengser 2012.

Acara pamitan pak moechtar dengan keluarga besar PS berlangsung haru. Berat meninggalkan media yang telah dikelolanya selama 34 tahun. Tapi bagaimanapun juga fisik yang menjelang 90 tahun tidak kuat menghadapi dedline mingguan.

Pak moechtar cuma berpesan agar PS ini dipelihara dengan baik, tetap lestari. "Untuk nguri-uri bahasa jawa serta menjadi tuntunan masyarakat," pesan pria yang selalu disiplin waktu itu.

Bagaimana perkembangan PS pascalengsernya pak moechtar? Kita belum tahu. Tapi yang jelas media2 berbahasa daerah makin sulit bertahan di era bisnis media yang sangat ketat saat ini. Kalau tidak salah di indonesia tinggal 3 majalah bahasa jawa yang eksis.

Anak2 muda di jawa sekalipun makin lama makin kurang suka membaca buku2 atau media2 berbahasa jawa. Apalagi PS menggunakan bahasa jawa yang cukup berat untuk ukuran surabaya. Karena itu, PS dan media2 bahasa daerah kesulitan menambah pelanggan dan pembaca baru dari kalangan generasi muda.

Matur nuwun eyang moechtar! Panjenengan sudah tercatat dalam sejarah pers indonesia sebagai tiyang sepuh yang sanggup bertahan di dunia pers hingga era internet. Dan tetap sehat walafiat di usia 87, sementara begitu banyak wartawan yang mati muda.

No comments:

Post a Comment