25 March 2012

Menimbun BBM salah pemerintah

Sangat wajar masyarakat, yang punya uang, tandon, atau tangki, membeli bensin atau solar dalam jumlah besar menjelang penaikan harga 1 April 2012. Bisa untuk persediaan, bisa dijual lagi, dan seterusnya.

Penimbun2 BBM jelas orang2 yang punya nyali dan naluri bisnis tinggi. Lumayan dapat margin Rp1500 per liter. Siapa pun yang punya uang, peluang, fasilitas saya kira akan membeli BBM dalam jumlah besar karena pasti tidak akan rugi. Risikonya cuma dua: kebakaran atau ditangkap polisi.

Soal timbun-menimbun ini saya teringat kebiasaan orang2 desa yang menimbun padi atau jagung di lumbung. Disimpan dalam jumlah besar untuk persediaan beberapa bulan atau setahun ke depan.

Beras, padi, jagung, ubi yang ditimbun bisa dari kebun sendiri atau memborong di toko. Dulu saya juga suka menimbun mi instan untuk dimasak mana suka. Akan sangat repot kalau pembelian mi, beras, telur, atau minyak goreng dibatasi.

Mengapa hukum dasar ekonomi ini jadi masalah dalam kasus bensin atau solar? Bukankah para penimbun BBM itu membeli solar atau bensin dengan uang sendiri? Lain soalnya kalau dia menggarong truk pengangkut solar atau bensin.

Yang bikin kisruh sebetulnya justru pemerintah karena sudah terlalu lama mengumumkan kenaikan BBM tapi tidak segera dilaksanakan. Interval waktu yang panjang jelas membei ruang bagi masyarakat untuk membeli BBM dalam jumlah besar. Dan ini sangat manusiawi dan ekonomis.. dan sebetulnya bukanlah tindak kejahatan seperti korupsi atau mencuri.

Kalau ingin tak ada penimbunan, pemerintah perlu meniru cara Pak Harto. Tanpa banyak cincong, tanpa banyak wacana, BBM dinaikkan harganya dengan alasan yang sangat rasional dan matang.

Kalau pemimpin kita masih terus ragu2, kasihan polisi dan tentara. Sebab mereka harus menangkap rakyat yang sebetulnya punya naluri bisnis tinggi. Padahal katanya jiwa dagang, wirausaha, harus ditingkatkan. Termasuk bisnis bensin, solar, minyak tanah.

2 comments:

  1. kenape di taikin bang Si be ye coba ga naek....ga tuh timbun2an

    ReplyDelete