29 March 2012

Mengapa tak ada demo BBM di Singapura dan Tiongkok

Karena disubsidi pemerintah, harga bbm di indonesia jauh lebih murah ketimbang negara2 lain. Kalau tidak salah bensin di Singapura rp8000, sementara di tiongkok sekitar rp10000-12000.

Lantas mengapa tidak ada kehebohan seperti di sini? Beberapa bloger dan diskusi di jejaring sosial mencoba menggunakan argumentasi ini untuk mengkritik gerakan demo bbm.

Ya, memang benar harga bensin di tiongkok dan singapura jauh lebih mahal. Tapi kita lupa kalau warga di kedua negara itu tidak pakai kendaraan pribadi. Tidak ada sepeda motor yang seliweran di jalan.

"Orang tiongkok yang baru tiba di surabaya heran melihat begitu banyak motor di jalan. Mereka itu tidak bisa naik motor," kata mr su, guru mandarin yang tinggal 14 tahun di guangzhou, tiongkok.

Begitu nyaman dan hebatnya angkutan masal di tiongkok. tinggal pilih, kapan saja, jurusan mana saja ada. Begitu pula di tetangga kita singapura. Hampir semua orang pakai kendaraan umum.

Di indonesia sebaliknya. Hampir semua orang menggunakan kendaraan pribadi. Angkutan masal sangat buruk karena tidak diurus pemerintah. Warga pun berlomba memiliki kendaraan pribadi yang fasilitas kreditnya sangat mudah. Maka jangan heran satu rumah bisa punya 5 atau 8 mobil pribadi.

Karena itu, kenaikan harga bbm menjadi masalah besar di indonesia yang warganya konsumen bensin atau solar. Dan ujung2nya ikut menaikkan harga barang2 di pasar.

Kalau memang susah menghentikan kendaraan pribadi, usulan menteri dahlan iskan patut disimak. Bikinlah kendaraan2 bermotor tanpa bbm. Bisa pakai listrik, panas matahari, atau apa saja. Mulai dari sekarang!

Selama motor atau mobil orang indonesia masih makan bbm ya, selama itu pula akan terus ada masalah. Energi kita habis untuk demo dan memaki2 pemerintah yang akhirnya juga menaikkan harga bbm juga.

Demo 1000 kali tidak ada gunanya karena kita sudah kadung masuk perangkap bbm. BBM: benar-benar mabok!

2 comments:

  1. oh begitu ya om?? cukup informatif tulisannya.. mantap!

    ReplyDelete
  2. Tahun 2000 di Tiongkok hampir tidak ada mobil pribadi, yang naik sedan cuma para pejabat.
    Sepeda motor pun jarang. Harga bensin per liter 3,40 Yuan, Cakue 0,50 Yuan, 1 porsi Bakmie 2,50 Yuan, 1/2 Kg kangkung 0,30 Yuan.
    Tahun 2012 di Tiongkok mobil pribadi keleleran,
    yang sugih naik BMW, Mercedes, Porsche, Lexus, Toyota Crown, Audi 6. Yang kelas menengah naik Peugeot, Hyundai, Toyota, VW Passat, dll.
    Yang miskin naik mobil Made in China, yang Merek-nya ada 40 macam. Sepeda motor keleleran, Honda, Suzuki, Yamaha, dan puluhan Merek Made in China. Bensin 93 Oktan sekarang harganya 8,27 Yuan per liter, Solar 7,22 Yuan. 1 porsi Bakmie 5 - 7 Yuan, Cakue 1,5 Yuan, 1/2 Kg kangkung 3 Yuan. Sepuluh tahun lalu 1/2 Kg daging babi 8 Yuan, sekarang 22 Yuan.
    Jalan2 yang sangat lebar sekarang macet karena kebanyakan Scooter yang pakai mesin listrik.
    Scooter listrik ini bisa lari sampai 50 Km/jam,
    dan jarak tempuhnya rata2 50-60 Km. Aki-nya rata 48 Volt. Scooter ini boleh dikemudi tanpa SIM dan tanpa Nomor polisi, bebas pajak.
    Inflasi di Tiongkok sangat tinggi, namun gaji karyawan juga naik 3 kali lipat.
    Harga pangan sangat mahal bagi penduduk, rakyat mengeluh, namun tak berdaya. Peking jaraknya 3000 Km, apakah pejabat kerungu ? Ada baiknya kaum petani mulai kaya dibandingkan kuli. Harga pakaian masih relatif murah.
    Yang demo soal BBM di Indonesia hanyalah orang Jakarta, apakah di Lembata, Ruteng atau Larantuka, ada yang demo ? Mereka juga cuma bisa mengeluh, karena semuanya serba mahal. Mereka rela menjadi kuli dan babu ke Malaysia atau Arab. Masalah di Indonesia adalah pejabat dan politikus yang rakus korupsi. Dan juga para
    pengusaha, pedagang yang tidak mau membayar pajak secara jujur, sebab mereka beralasan, percuma bayar pajak, toh dikorupsi. Indonesia perlu pemimpin yang tangan besi dan jujur.
    Orang Indonesia paling rajin ke Church, tapi khotbah-nya gembala cuma bla-bla-bla. Tidak ada yang berani menyinggung korupsi dan kejujuran membayar pajak. Semuanya munafik.

    ReplyDelete