27 March 2012

Letkol Arh Wirawan Yanuartono melukis kaca




Yang namanya tentara itu jelas identik dengan berbagai senjata dan alutsista (alat utama sistem persenjataan). Namun, tak sedikit personel TNI yang menekuni kesenian di sela-sela tugas utamanya. Letkol Arh Wirawan Yanuartono, mantan komandan Batalyon Arhanudse 8 Gedangan, Sidoarjo, misalnya, sudah membuat ratusan lukisan. Wira, sapaan akrab ayah dua anak ini, bahkan dikenal sebagai salah satu pelukis kaca yang langka.

Berikut petikan percakapan dengan Letkol Arh Wirawan dengan LAMBERTUS HUREK sesaat setelah serah terima jabatan Yon Arhanudse 8 Gedangan, Sidoarjo. Selanjutnya, pria 39 tahun ini ditugaskan di Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara Kodiklat TNI AD, Cimahi, Jawa Barat.



Sejak kapan Anda belajar melukis?


Wah, itu sejak saya masih TK, umur lima tahunan, di Pontianak. Waktu itu saya suka sekali menggambar mencontoh apa yang dilakukan guru saya. Sebetulnya semua bocah TK itu diajari menggambar, tapi saya kayaknya yang paling menikmati pelajaran itu.

Apakah Anda sempat belajar di sanggar lukis?


Tidak. Saya belajar sendiri, otodidak. Makanya, saya bisa mengembangkan gaya saya sendiri dari waktu ke waktu.

Dukungan orang tua bagaimana?


Tentu saja sangat mendukung karena beliau tahu hobi saya itu gambar. Bahkan, kertas-kertas HVS yang dibawa bapak saya ke rumah saya pakai untuk menggambar. Tapi beliau mengingatkan agar saya belajar yang rajin, jangan keasyikan gambar. Pelajaran di sekolah lebih penting.

Setelah berdinas di militer, bagaimana Anda membagi waktu untuk menjalankan kegemaran menggambar Anda?

Begini. Saya biasanya melukis larut malam setelah berdinas. Saya kalau habis dinas malam tidak bisa langsung tidur setelah jam 24.00. Lantas, mau ngapain? Akhirnya, saya melakukan lagi hobi masa kecil saya, yaitu melukis. Dan kegiatan itu selalu saya lakukan kapan saja saya ada waktu dan keinginan karena tidak mengganggu tugas saya.

Bagaimana Anda mengecek pasukan ketika Anda masih melukis?


Nah, kegiatan melukis malam hari ini saya lakukan sambil mengontrol anak buah. Saya jalan keliling, kemudian melnjutkan lukisan. Jadi, saya membuat lukisan dengan cara mencicil. Setelah melukis sekitar dua jam, saya pulang ke mes untuk tidur.

Berapa lama rata-rata Anda membuat satu lukisan?


Tergantung medianya, ukurannya, tingkat kerumitannya. Kalau sketsa atau lukisan sederhana di pakai kertas, ya, cepat selesai. Tapi kalau agak rumit dan ukuran besar bisa dua minggu, bahkan ada yang sampai satu bulan. Soalnya, saya melukis itu spontan saja, tidak pakai target kapan harus selesai.

Objek-objek apa saja yang biasa Anda lukis?


Saya sudah mencoba berbagai macam objek mulai pemandangan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, bunga, figur manusia, peralatan militer, komik, hingga wayang. Kebetulan saya ini penggemar wayang kulit. Media-media yang saya pakai pun macam-macam mulai cat air, oil on canvas, oil on paper, hingga lukisan kaca.

Lukisan jenis apa yang Anda rasa paling menantang?


Lukisan kaca karena sangat unik dan belum banyak seniman yang menekuninya. Kalau melukis di atas kanvas sih sudah sangat umum. Tapi cari seniman yang melukis di atas kaca pasti sangat langka. Saya suka yang unik-unik.

Apa sebetulnya kesulitan melukis di atas kaca?


Banyak. Salah satunya adalah lukisan itu harus selesai sekali jalan. Tidak bisa dicicil atau ditunda karena pasti komposisi dan warnanya tidak akan serasi. Lukisan kaca yang tidak selesai berarti gagal dan tidak boleh diteruskan.

Contoh: warna merah yang kita goreskan di kaca hari ini, besok atau beberapa jam lagi pasti akan berbeda meskipun sama-sama merahnya. Tantangan lain adalah pelukis kaca itu harus menggambar objek-objeknya secara terbalik. Teknik ini sangat berbeda dengan teknik-teknik melukis lain yang menggambar dari depan.

Lantas, bagaimana Anda membagi waktu untuk membuat lukisan kaca?


Sangat sulit karena tidak bisa dicicil. Makanya, sejak menekun lukisan kaca saya tidak bisa produktif.

Ngomong-ngomong, siapa yang mengoleksi lukisan-lukisan Anda itu?


Ya, sebatas untuk teman-teman dan kenalan. Kalau ada yang berminat, ya, silakan. Ternyata penggemar lukisan-lukisan saya cukup banyak lho. Hehehe... (*)



Honor Komik Lebih Besar dari Gaji

KETIKA masih menjadi prajurit biasa, Wirawan Yanuartono biasa mengisi waktu senggang dengan membuat komik. Kegiatan kreatif ini membuatnya harus mengasah imajinasi serta membuat berbagai cerita menarik. Ibarat dalang, pria yang akrab disapa Wira ini harus bisa bercerita lewat gambar.


Adegan perang, perkelahian, hingga guyonan harus bisa terlihat lewat rangkaian gambar dalam karya komiknya. "Bikin komik itu membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan waktu khusus supaya ceritanya nggak terputus-putus. Tapi kalau sudah jadi, wah, rasanya puas banget," tutur Wirawan seraya tersenyum.

Selain dikoleksi sendiri, iseng-iseng Wira mengirim sejumlah komiknya ke majalah dan surat kabar. Gayung bersambut. Komik-komik goresan pria kelahiran Singkawang, tapi mengaku asli Tuban, ini biasanya dimuat alias nongol di koran.

Tentu saja, dia mendapat honorarium sekadar pengganti ongkos kertas, tinta, dan ide kreatifnya. Wira pun makin getol membuat komik dengan aneka tema sesuai isu atau ide yang muncul spontan saat itu.

"Honornya sih nggak begitu besar. Tapi karena sangat sering dimuat di koran dan majalah, kalau dikumpulkan nilainya malah lebih banyak daripada gaji saya," kenangnya lantas tertawa kecil. (rek)


CV SINGKAT WIRA

Nama : Letkol Arh Wirawan Yanuartono
Lahir : Singkawang, 26 Januari 1973
Istri : Yusanti Dina
Anak : Sangraga Rasendriya Wirawan (9) dan Bramasta Maheswara Wirawan (4)
Hobi : Melukis
Jabatan Baru : Staf Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara Kodiklat TNI AD, Cimahi, Jawa Barat.
Jabatan Lama : Komandan Batalyon Arahanudse 8 Gedangan, Sidoarjo.

Pendidikan
SD-SMA di Singkawang, Kalimantan Barat
Akademi Militer (Akmil) angkatan 1994

Alamat rumah : Candi Mendut Selatan VI/4 Malang

No comments:

Post a Comment