13 March 2012

Kampung Jawa di Tiongkok



Oleh LAN FANG
Novelis, kolumnis, aktivis Perhimpunan Indonesia Tionghoa Jawa Timur



Suara Waljinah mendayu-dayu dari rumah Lie Quan Fang (55). Dengan wajah berbinar, ia memperlihatkan koleksi lagu-lagu Jawa miliknya seperti Walang Kekek, Cublak Cublak Suweng, Rujak Uleg dan lainnya.

Lie Quanfang adalah salah satu penduduk Kampung Jawa di distrik Huaqiau, Desa Xuefeng, Keresidenan Nanan, Kota Quanzhou, Provinsi Fujian, China. Sebelumnya, laki-laki kelahiran Pare, Jawa Timur, ini bersama ayah dan ibunya berada di Surabaya.

Pada tahun 1960 pemerintah Orba mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 60, yaitu sebuah peraturan presiden yang mengharuskan orang-orang asing di Indonesia menutup usaha pedagang eceran sampai tingkat kabupaten ke bawah. Peraturan presiden ini membawa imbas besar bagi nasib para orang Tionghoa di Indonesia. Sebab, sebagian besar mata pencaharian orang Tionghoa di Indonesia adalah pedagang eceran sampai ke tingkat kabupaten dan desa-desa.

Maka, terjadilah eksodus besar-besaran, sekitar 105.000 orang-orang Tionghoa di Indonesia kembali ke China karena telah kehilangan mata pencahariannya. Lie Quanfang berusia lima tahun ketika dibawa kembali ke China oleh ayahnya. Di Xuefeng, ia bersama 700 keluarga Tionghoa dari Indonesia lainnya menjadi buruh tani dengan menggarap tanah negara. “Tidak ada pilihan lain untuk bisa terus bertahan hidup,” begitu ia mengenang masa lalunya.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Wang Kwie Juan (73) yang meninggalkan tempat kelahirannya di Tuban pada usia 23 tahun, dan He Jing Shuung (75) yang meninggalkan Kediri pada saat berusia 27 tahun dengan membawa lima anak.

Walaupun di Indonesia mereka pernah mengalami masa-masa sulit, mereka menyimpan banyak kenangan manis terhadap tanah kelahiran mereka di Jawa. Sekarang mereka masih tetap suka memakai batik, memasak soto, rawon dan rujak serta di halaman rumah menanam serai, jahe, dan kunir yang bisa dipergunakan sebagai bumbu masak.

Bahkan, di ruang tamu, mereka tidak saja menyuguhkan teh sepat seperti kebiasaan orang-orang China pada umumnya tetapi mereka juga ngobrol sambil merokok dengan kepulan secangkir kopi panas seperti layaknya orang-orang di Indonesia.

Dalam berkomunikasi, bahasa Jawa menjadi lingua franca (bahasa sehari-hari) sehingga anak dan cucu mereka juga mengerti dan bisa berbahasa Jawa. Sebaliknya, mereka tidak terlalu memahami Bahasa Indonesia yang mereka sebut sebagai Bahasa Melayu tinggi.

Di Kampung Jawa ini kita akan mendengar sapaan-sapaan akrab seperti “kowe arep lungo neng endi?” (kamu mau pergi kemana?), “aku ono dayoh soko Indonesia” (aku ada tamu dari Indonesia). Juga banyak kosa kata-kosa kata Jawa yang saat ini sudah sangat jarang saya dengar tetapi mereka masih mempergunakannya, seperti : nyentrong (menyorot), gelis (cepat), kali (sungai), lecek (kusut), iyup (teduh-berteduh).

Mereka juga mengkolaborasi beberapa istilah dalam Bahasa Hokkian ke dalam bahasa Jawa seperti “kowe lihay yo, nandur sere ora nganggo lemah yo iso urip.” (kamu hebat ya, menanam serai tanpa tanah bisa juga tumbuh). Bahkan, mereka tetap memakai panggilan-panggilan yang dipergunakan saat berada di Jawa seperti cikde dari singkatan tacik gede untuk memanggil kakak perempuan terbesar, cikngah dari singkatan tacik tengah untuk memanggil kakak perempuan yang berada di urutan tengah, ciklik dari singkatan tacik cilik untuk memanggil kakak perempuan yang paling kecil.

Atau, kohde dari singkatan engkoh gede untuk memanggil kakak laki-laki terbesar, kohngah dari singkatan engkoh tengah untuk memanggil kakak laki-laki yang berada di urutan tengah, kohlik dari singkatan engkoh cilik untuk memanggil kakak laki-laki yang paling kecil.

“Kowe nyeluk aku cik ning ae (kamu memanggilku cik ning saja),” ujar He Jing Shung (77), perempuan kelahiran Kediri, ketika saya memanggilnya dengan sebutan ai, sebutan yang biasa dipakai dalam Bahasa Mandarin yang berarti tante.

Ketika saya menanyakan apa maksudnya cik ning, ia menjelaskan bahwa cik ning artinya tacik (kakak perempuan) dari Jawa, sebagaimana biasanya bila perempuan Surabaya dipanggil dengan sebutan ning. Diam-diam saya berpikir, bila ada cik ning maka seharusnya juga ada koh cak yang diambil dari singkatan engkoh cacak yang berarti engkoh (kakak laki-laki) dari Jawa, sebagaimana laki-laki Surabaya yang biasanya dipanggil dengan sebutan cacak.

“Saat ini yang tinggal di Kampung Jawa hanya tinggal sekitar 200 keluarga. Sebab, sudah banyak orang-orang tua yang meninggal dan sebagian anak-anak mudanya pergi bekerja ke Hongkong atau ke Makau,” ujar Lie Quanfang.

Penduduk Kampung Jawa memang semakin sedikit. Terlebih dengan adanya peraturan keluarga berencana dari Pemerintah China yang membatasi jumlah kelahiran. Setiap pasangan suami istri hanya diperbolehkan mempunyai dua anak dengan jarak kelahiran empat tahun. Untuk pegawai negeri, hanya diperbolehkan mempunyai anak satu. Jadi setiap rumah hanya dihuni oleh 5-6 orang saja.

Menurut Wang Kwie Juan, sejak 1978 kehidupan mereka di China mulai membaik. Pemerintah China memberikan tanah berukuran 11,7 x 8,6 meter dan bantuan sebesar 5.000 yuan (sekitar Rp 6.750.000) untuk membangun rumah tanpa dikenakan pajak. Dengan syarat, rumah yang dibangun harus sesuai dengan gambar design yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Maka, rumah-rumah yang ada di Kampung Jawa ini tampak rapi dan seragam. Mereka menghuni rumah berlantai satu dan mengisinya dengan perabotan-perabotan bagus dan modern seperti sofa, perlengkapan dapur, televisi layar lebar, DVD player dilengkapi seperangkat sound system yang baik.

Pemerintah China juga membangun jalan desa sehingga teraspal dengan baik, menyediakan kantor desa yang bertingkat, taman bermain, asrama panti wreda berlantai dua untuk menampung para lansia yang sudah tidak memiliki sanak saudara lagi.

Penduduk Kampung Jawa juga menerima uang pensiun sebesar 1.000 yuan (sekitar Rp 1.350.000) per orang setiap bulan. Uang pensiun diberikan untuk laki-laki yang telah mencapai usia 60 tahun dan perempuan yang telah berusia 55 tahun. Uang pensiun itu tidak hanya diterima oleh generasi pertama di Kampung Jawa melainkan juga diberikan untuk anak-anak dan menantu-menantu yang tetap menjadi penghuni Kampung Jawa.

Pekerjaan sehari-hari para orang muda di Kampung Jawa ada yang menjadi guru, buruh pabrik, membuka depot di pasar atau mbecak: istilah bagi mereka yang membuka usaha menyewakan mobil atau motor. Pada umumnya, mereka tidak terbebani biaya hidup tinggi karena para orang tua telah mendapatkan pensiun dan hanya menghidupi 1-2 anak saja.

Walaupun kehidupan para generasi pertama di Kampung Jawa bisa dikatakan sudah tercukupi, mereka tetap menyimpan kerinduan terhadap tanah kelahiran mereka di Jawa. Pada 2006, Wang Kwie Juan (73) menyempatkan diri untuk menengok sanak kerabatnya di Jakarta, Surabaya, dan Tuban. He Jing Shuung (77) juga sudah dua kali menenggok tempat kelahirannya di Kediri.

“Kami ini bangsa Jawa di Tiongkok. Kalau ke Tiongkok, jangan lupa mampir ke Kampung Jawa,” ujar Lie Quan Fang (55) dengan sumringah.

Hujan rintik-rintik membuat Desa Xuefeng semakin basah. Tetapi menyeruput kopi Kampung Jawa diselingi suara Waljinah rasanya hangat sekali.

E… ya ye yo…
ya ye yo...
E ya ye yo..
yae yae yae yae yo…

Manuk sriti kecemplung banyu,
bengi ngimpi awan ketemu…

6 comments:

  1. wah baru tau nih.. jd pgn kesana..hehe..
    kalau dpt kesempatan jalan2 ke tiongkok pgn mampir ah..

    ReplyDelete
  2. catatan yg menarik dr almarhumah lan fang. bukti bahwa semua org punya kerinduan akan kampung halaman. salam utk dulur2 jowo di rrt.

    ReplyDelete
  3. Pemerhati Tionghoa2:17 PM, May 15, 2012

    Ada koreksi. "Pada tahun 1960 pemerintah Orba mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 60" itu tidak tepat. Yang benar ialah, "Pada tahun 1959, pemerintah Sukarno mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10, tahun 1959". PP ini kemudian populer disebut PP 10. Dampaknya sampai 1960 terjadi eksodus tsb.

    ReplyDelete
  4. wah, unik sekali ya, jd penasaran pgn kesana :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika anda ingin ngobrol dengan Hua-qiao, mengapa harus pergi jauh ke Tiongkok. Ngobrol aja dengan tetangga anda, yang notabene juga Hua-ren.
      Generasi Hoa-kiao yang pulang ke-Tiongkok tahun 1960, sekarang sudah hampir punah, hanya orang2 yang usianya diatas 60 tahun masih mampu berbahasa Indonesia atau Melayu. Anak2- dan cucu- mereka sudah tidak mau atau tidak bisa ngomong bahasa Indonesia. Hoa-kiao Indonesia yang pulang ke-Tiongkok bukan hanya pada tahun 1960, juga ada
      setelah Gestapu/Gestok, dan setelah Mai Kelabu.
      Manusia memang aneh, Tionghoa di Tiongkok ingin dikunjungi, sedangkan Tionghoa yang tetangga sendiri
      disapa-pun tidak. Peribahasanya : Menyusui beruk dihutan.

      Delete
    2. saya akan segerake sana

      Delete