02 March 2012

Arabisasi kata-kata Indonesia


Buku panduan sembahyang terbitan Malaysia.


Diksi atau pilihan kata juga ditentukan oleh kadar keagamaan dan lingkungan masyarakat. Saat ini orang Indonesia cenderung makin islami sehingga makin banyak kata2 Arab yang dipakai. Padahal, kita sudah punya kata2 yang maknanya sama dan telah dipakai bertahun-tahun.

Saya bongkar kamus bahasa Indonesia lama karya Sutan Mohammad Zain, 1952. Beliau pakar bahasa paling top pada era 1950-an, pun orang Minangkabau yang sangat islami. Kamus Pak Zain ini kemudian diterbitkan lagi oleh JS Badudu.

Nah, di kamus itu belum ada kata-kata macam SHALAT (baku: SALAT), MUSHALA (baku MUSALA), atau JILBAB. Apakah waktu itu orang Islam tidak salat? Wow, jangan salah, orang2 Indonesia tempo dulu sangar rajin menjalankan SEMBAHYANG. Sutan M Zain bahkan mendeskripsikan cukup detail jenis-jenis sembahyang dalam Islam berikut tata caranya.

Kata MUSHALA pun belum ada di kamus lama. Yang ada SURAU dan LANGGAR. Kata JILBAB belum dipakai, melainkan KERUDUNG. Kata-kata bahasa Indonesia lama ini sangat bersahaja dan sudah menyebar luas di tanah air.

Orang Flores, NTT, yang mayoritas Katolik juga sejak dulu menggunakan kata-kata seperti dalam kamus lama. Bibi saya, Mama Siti, muslimah taat mantan peserta MTQ tingkat kecamatan di kampung, selalu menyebut SEMBEANG untuk SALAT. SEMBEANG ini merupakan bahasa daerah Lamaholot (Flores Timur) yang diserap dari kata SEMBAHYANG.

Karena itu, ketika pertama kali pindah ke Jawa saya tidak paham SALAT atau teman yang mau ke MUSALA. Padahal, orang Islam di Flores itu terkenal sangat rajin SEMBAHYANG di LANGGAR. Bahkan, kaum perempuan seperti bibi saya pun tak pernah absen SEMBAHYANG JUMAT di MESIKIT (masjid dalam bahasa Lamaholot).

Saya teringat kata SEMBAHYANG ini setelah membaca cerpen Budi Darma di KOMPAS edisi Minggu (26/2) kemarin. Prof Budi Darma tak menggunakan kata SHALAT atau SALAT atau SHOLAT, melainkan SEMBAHYANG untuk menggambarkan ibadah tokohnya yang sangat islami.

Bisa jadi Prof Budi tergolong sastrawan dan pakar bahasa yang enggan mengikuti tren 'arabisasi' kata-kata Indonesia.

Saya juga sering menonton film kartun UPIN & IPIN yang menggunakan bahasa Melayu Malaysia. Sang datuk dan nenek pun selalu menggunakan kata SEMBAHYANG, bukan SALAT.

No comments:

Post a Comment