08 March 2012

Indon - Indonesia dan Cina - Tionghoa


Surat kabar BERITA HARIAN di Kuala Lumpur paling senang menggunakan INDON untuk memberitakan hal2 buruk tentang Indonesia.

Nelly Martin menulis artikel berjudul WHY INDON IS NOT PREFERABLE di The Jakarta Post 7 Maret 2012. Tak ada yang baru sebetulnya, selain menyegarkan ingatan kita saja. Bahwa kata INDON kurang sopan untuk menyebut INDONESIA.

INDON ini biasa dipakai koran2 atau media Malaysa untuk menggambarkan pekerja asal Indonesia yang tak terdidik, kuli kasar, sering terlibat jenayah alias kasus kejahatan. INDON sengaja dipakai untuk memojokkan dan menjelek-jelekkan orang Indonesia. Meskipun banyak orang Indonesia biasa2 saja, menganggap INDON hanyalah singkatan dari INDONESIA.

Yang pasti, gara2 INDON ini kedutaan kita di Kualalumpur protes kepada pemerintah dan media2 di Malaysia. Kita di Indonesia, yang belum pernah jadi TKI di Malaysia, umumnya tidak bisa membedakan nuansa INDON dan INDONESIA.

Bicara soal INDON, saya langsung ingat kata CINA. Bagi sebagian besar orang Tionghoa, kata CINA (tanpa H) sangat kasar, bernada pelecehan, menyinggung perasaan, tidak patut. Anda jangan sekali2 menggunakan kata CINA saat bicara dengan anggota paguyuban masyarakat Tionghoa di Jawa Timur. Atau pengurus muslim Tionghoa atau Masjid Cheng Hoo di Surabaya. Pasti Anda akan dikuliahi panjang lebar soal etimologi, sejarah, nuansa, hingga rasa bahasa.

"Anda sebaiknya pakai kata TIONGHOA karena lebih sopan," kata Pak Jono, pengurus paguyuban masyarakat Tionghoa di Surabaya. Kata CHINA (pakai H) yang dibaca CHAINA ala Inggris masih bisa diterima dan dianggap sopan.

Maka, sekitar 80 perkumpulan masyarakat Tionghoa di Surabaya tak ada satu pun yang menyebut nama perkumpulannya dengan CINA. Contoh: Perhimpunan Indonesia Tionghoa. Komunitas Peranakan Tionghoa (bukan peranakan Cina). Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa.

Tapi harus diakui banyak juga orang Tionghoa yang justru tidak peduli istilah CINA, CHINA, TIONGHOA, CHINESE. Jaya Suprana yang jelas2 Tionghoa selalu pakai CINA (tanpa H).

Sastrawan Lan Fang (RIP) yang juga Tionghoa -- seorang penulis terkenal dan pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa Jawa Timur -- selalu menggunakan kata CINA (tanpa H) dalam tulisan2nya. Justru saya yang bukan Tionghoa yang bingung dengan diksi si Lan Fang ini.

Lantas, bagaimana?


Dahlan Iskan, wong Jowo, punya solusi jitu: pakai saja TIONGHOA dan TIONGKOK.

Mengapa? Semua orang Tionghoa pasti senang dengan istilah TIONGHOA. Tapi tidak semua orang Tionghoa suka disebut CINA.

Hal yang sama tentu berlaku untuk MYANMAR dan BURMA. Pemerintah dan rakyat Myanmar meminta dunia internasional menggunakan kata MYANMAR sebagai nama negara, bukan BURMA. Tapi media2 Barat, khususnya Inggris, masih juga memaksakan kata BURMA dalam berbagai pemberitaannya. Tak ambil pusing dengan permintaan pemerintah Myanmar yang dianggap rezim diktator dan antidemokrasi.

6 comments:

  1. Lan Fang itu dari Kalimantan / Banjarmasin. Tante saya ada yang kawin dengan Cina Banjar, dan tinggal di sana. Di luar Jawa, kata Cina tidak membawa konotasi negatif seperti di Jawa. Awalnya kata Cina itu netral, karena itu kan kata serapan dari bahasa lain (kata Wikipedia sih sudah ribuan tahun dipakai oleh orang Persia / Iran jaman kuno). Cuma, di Jawa kata netral ini sering dipakai untuk memaki: "Cino mangan babi", "Cino sipit", "Cino pelit", "Dasar Cino mindring". Anak2 Tionghoa yang tinggal di kampung seperti aku pasti sudah pernah bahkan sering mendengar makian itu oleh anak2 kampung lain, bahkan oleh pak guru. Ya, sama dengan "Indon", karena awalnya netral, tapi kemudian digunakan untuk melaporkan berita2 kriminal di koran Malaysia: "Indon rogol" "Indon pencuri" dll. sampai dalam percakapan se-hari2 orang2 Malaysia menggunakan "Indon sial" bila marah thd pendatang asal Indonesia. Nah, orang2 Indonesia yang bukan TKI dan berpendidikan tinggi, lebih kaya -- bahkan lebih tinggi dan kaya drpd orang Malaysia -- tentunya tidak suka.

    ReplyDelete
  2. kamsia bung... sudah kasih tambahan informasi dan masukan berharga. sama dengan di daerah saya, flores timur, orang2 Tionghoa itu disebut SINA, tentu dari kata CINA. dan sama sekali tak ada konotasi negatif dari SINA ini. bahkan SINA ini image-nya sangat2 positif karena menunjukkan status sosial yang tinggi: kaya, terpelajar, makmur, tinggal di kota, selalu makan enak, rumah bagus, dan seterusnya.

    lain padang lain belalang bung!

    ReplyDelete
  3. akhirny org indo merasakan apa rasany dipanggil dgn istilah diskriminatif....itu namany hukum karma.....slng menghargai itu yg utama....

    ReplyDelete
  4. Mengapa harus tersinggung jika disebut Cina ?
    Ada pepatah: Irama yang membuat lagu.
    Jika kata Cina diucapkan dengan irama yang wajar, dimanakah letak kesalahannya ?
    Bukan hanya di Jawa Cina disebut Cino, di Italy juga Cina disebut Cino.

    ReplyDelete
  5. kalau dah indon, indon la juga.. :D

    ReplyDelete
  6. Mau kata cina, china, chinis, tionghoa, tiongkok, indon, indonesia bagi sy tdk ada masalah mahhh.................yg penting hidup senang... :)

    ReplyDelete