27 March 2012

Film NEGERI 5 MENARA gak asyik


Saya baru saja selesai menonton film NEGERI 5 MENARA di Tunjungan 21 Surabaya, Senin (26/3/2012). Ini kali pertama saya menonton bioskop pada 2012. Itu karena dapat voucher gratis.

Jauh sebelum film ini dibuat, saya sudah membaca novel 5 Menara karangan A Fuadi. Karya yang sangat inspiratif, asyik, humoris, dan kaya nuansa. Bagaimana orang2 kampung dari Maninjau, Gowa, Sumatera.. akhirnya sukses setelah belajar dengan disiplin keras di Pondok Madani Ponorogo.

Membaca novel ini membuat kita jadi tahu (sedikit) sistem pendidikan pesantren serta dinamika santri. Guru2, kiai, ternyata suka musik dan bulutangkis. Mereka bahkan terpaksa 'melanggar' aturan dengan nonton bareng pertandingan Piala Thomas Indonesia vs Malaysia.

Karena sudah baca novelnya, tiga kali, saya tentu sudah paham benar cerita 5 Menara ketika melihat filmnya. Sejak awal sampai tamat. Saya rasa hampir semua penonton di Tunjungan pun demikian.

Tapi justru di sinilah masalahnya. Buku dan film adalah dua hal yang berbeda. Buku jauh lebih kaya warna, penuh detail dan bumbu2 humor, sementara filmnya begitu2 saja. Hanya sekadar potongan fragmen dari buku yang tidak utuh.

Orang yang belum baca bukunya mungkin sulit menangkap benang merah dan pesan 5 Menara. Filmnya sendiri menurut saya kurang menarik sehingga ada 5 penonton yang kabur duluan.

Hal serupa terjadi pada film LASKAR PELANGI yang juga dibuat berdasar novel laris dengan judul sama. Pembaca buku besar kemungkinan kecewa dengan filmnya.

Pelajaran moral:
Lebih baik membaca buku daripada menonton film.

2 comments:

  1. itu kan pendapat anda, belum tentu pendapat orang sama dengan anda, bisa jadi orang lebih suka menonton dari pada membaca novelnya,,,
    :P

    ReplyDelete
  2. iya bos..emang membaca buku terasa lebih mendalam.. tpi lain ceritanya bila blm baca buku langsung nonton filmnya...bisa jdi filmnya terlihat bagus. klo saya sendiri blm dua2 nya :)... baik novel dan filmnya negri lima menara

    ReplyDelete