13 March 2012

Bensin sudah lama naik di NTT



Apa jadinya kalau harga bensin dinaikkan? Rakyat di pelosok NTT seperti Lembata makin sengsara. Sebab, sejak dulu harga bensin alias BBM di pelosok NTT selalu (jauh) di atas ketentuan pemerintah.

Ketika cuti di Lembata awal 2012 saya kaget saat membeli bensin seharga Rp 10.000 untuk 1 liter lebih sedikit. Bensin di SPBU yang hanya satu (kalau tidak salah) pun bukan Rp 4500 tapi di atas Rp 6000. Jadi, sebelum ribut2 menaikkan harga bensin sebetulnya di Lembata, Adonara, Alor, Flores.. bensin sudah naik.

Bensin yang mahal, 2 kali harga resmi, membuat ongkos angkutan umum (yang sangat jelek) itu sangat tidak rasional. Ojek motor dari Bandara Lewoleba ke kampung saya di Bungamuda harus bayar Rp 20-25 ribu. Tapi saya dipaksa bayar 50 ribu hanya karena logat saya sudah seperti orang Jawa. Kalau orang Jawa tulen bisa ditarget 75 ribu. Padahal jarak bandara ke kampung saya hanya 22 km.

Bagaimana kondisi jalan Lewoleba-Ileape? Jelas sangat buruk untuk standar Jawa, tapi dianggap sangat bagus untuk ukuran Lembata. Aspal hanya sekitar 10 km, itu pun sudah rusak, sisanya hanya pengerasan. Juga sudah rusak berat.

Karena itu, kenaikan harga bensin resmi ke 6000 akan menjadi neraka bagi orang Lembata alias NTT. Wong belum dinaikkan saja sudah di atas 6000! Ongkos angdes dan ojek sudah pasti naik banyak, apalagi untuk orang Jawa atau bule yang kebetulan berkunjung ke Lembata.

Katanya subsidi dipakai untuk bangun infrastruktur seperti jalan raya. Tapi nyatanya sejak Indonesia merdeka jalan raya di Lembata tidak disentuh. Lebih buruk daripada jalan2 terburuk di Jawa Timur.

Para perantau yang 10-15 tahun bekerja di Jawa atau Malaysia ketika pulang kampung menikmati jalan yang kondisinya sama bahkan lebih parah. Maka ketika menteri2 di Jakarta bilang subsidi yang dihemat akan dipakai untuk memperbaiki jalan, buka jalan baru... saya dan orang2 kampung di Lembata hanya bisa tertawa di dalam hati.

Mungkin ada benarnya di Jakarta atau Bandung atau Surabaya. Tapi Papua? Maluku? NTT? Yah.. menteri2 kan tidak pernah ke Lembata!

4 comments:

  1. Membaca artikel diatas, saya bak terguyur air dingin. Sebelumnya saya melamun mendirikan PT. Alibaba di Flores dan Lomblen, bidang penyewaan mobil ( taxi ),
    berkongsi dengan anda. Kita beli 150 unit mobil mini-van Wuling bikinan China, yang harganya tergantung Type antara 40.000 sampai 65.000 RMB per unit. Mobil China produksi tahun 2014 tidak kalah dibandingkan Daihatsu Xenia.
    Xenia buatan RRT tahun 2014 pun harganya cuma rata2 50.000 RMB.
    Melamun Hurek dan Encek Cungkuo jadi konglomerat taxi kelas kabupaten, tidak perlu setenar Blue Bird.
    Lacurnya kalau tidak ada pasokan bensin, apakah Xenia mau minum kencing ?
    Seharusnya harga BBM dari Sabang sampai Merauke sama. Urusan logistik dan transportasi adalah tanggungjawab ( hutang ) pemerintah kepada rakyatnya.
    Saya sejak zaman Presiden Soekarno sudah mensinyalir ada KKN antara oknum Pertamina, calo dan aparat keamanan. Jatah BBM yang seharusnya di-distribusi ke Nusa Tenggara, disunat, dijual dipulau Jawa. Saya kira setelah 50 tahun keadaan sudah berubah, ternyata sami mawon.

    ReplyDelete
  2. Penduduk Provinsi Kepulauan Sunda Ketjil bukan pengemis BBM, mereka hanya menuntut hak-nya, kesetaraan, sebagai warga negara ! Mengapa orang2 kaya dan konglomerat2 di Surabaya dan Jakarta bisa membeli bensin lebih murah daripada rakyat jelata di Lomblen ? Bahkan harganya dua kali lipat. Logikanya dimana ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kamsia Xiangshen atas komentarnya yg sangat tajam. Jenengan sangat memahami kesulitan wong2 kampung di Indonesia Timur yg sudah miskin tambah sengsara. Itulah indonesia. Oh ya, memang benar nama Lembata itu tempo doeloe disebut LOMBLEN. Provinsi Nusa Tenggara Timur dulu bernama Sunda Ketjil atau kerennya Little Island. Tapi banyak orang Lembata atau NTT malah tidak tahu sejarah nama kampung halamannya sendiri. Jarang membaca sih.

      Delete
    2. Bung Hurek, kita seyogianya berasal dari satu provinsi, beribu kota Singaraja, gubernurnya kolonel Minggu, Kodam Wirabuana. Begitulah yang saya diajarkan di SR.

      Delete